
Desa Simbong termasuk daerah yang cukup makmur dengan pemandangan laut yang sangat luas membentang. Mata pencarian utama para warganya adalah sebagai nelayan. Pendapatan perhari mereka terbilang cukup tinggi karena hampir setiap hari ikan - ikan yang mereka dapatkan tidak pernah berkurang.
Pagi ini para nelayan dengan wajah riang hendak berangkat berlayar mencari ikan untuk menghidupi keluarga mereka.
"Maaf, kisanak. Boleh saya bertanya sebntar?" seorang pemuda gagah berambut kuning keemasan turun dari kudanya bertanya pada nelayan yang hendak melaut.
"Iya, kisanak. Silakan ..."
Para nelayan tersebut keheranan melihat penampilan pemuda itu yang bukan lain adalah Argadana adanya. Warna rambutnya yang berbeda dari orang pribumi membuat mereka berpikir kalau pemuda yang baru saja bertanya itu adalah orang dari luar daerah yang tidak tahu arah. Tapi yang paling aneh adalah kuda putih yang menjadi tunggangannya itu sama sekali tidak menggunakan tali kekang untuk mengendalikan lari kudanya seperti para penunggang kuda pada umumnya. Kuda itu lebih mirip kuda liar, tetapi entah mengapa begitu tunduk pada pemuda berambut emas tersebut.
"Emm ... Ke mana arah tercepat yang harus saya ambil untuk sampai di Kadipaten Gerisak?" tanya Argadana langsung.
"Ahh ... Kisanak hanya perlu mengambil jalan ini lalu nanti akan ada persimpangan. Kisanak ambil jalur kiri. Nanti kisanak tinggal menyewa perahu untuk melewati sungai yang menghubungkan desa ini dengan perbatasan Kadipaten Gerisak"
"Ehem ... Baiklah, kisanak. Terimakasih atas informasinya. Kalau begitu saya mohon pamit dulu"
Argadana kembali menunggangi kuda putih tanpa tali kekang itu dan menepuk - nepuk leher kuda tersebut.
"Ayo, putih. . . Kita jalan, nanti di sana akan ada rumput segar untuk kau makan" kuda putih melaju dengan kencang ke arah yang ditunjuk nelayan tadi.
Para nelayan itu terkejut melihat sang pemuda berbicara dengan kuda tunggangannya.
"Ternyata pemuda gila, ada - ada saja. Kuda diajak berbicara..." celetuk salah seorang nelayan.
"Hussyy. . . Hati - hati klaau bicara, Wo. Pemuda itu mungkin seorang pendekar, lihat saja dia naik kuda tanpa tali kekangnya dan kuda itu juga menuruti kata - katanya"
"Lah tapi apa mungkin pemuda itu bisa bicara bahasa kuda?"
"Dasar gobl0k. Orang - orang yang disebut pendekar itu memang semuanya aneh - aneh. Mereka bahkan bisa terbang seperti burung . Jadi bisa saja pemuda itu adalah pendekar. Kalau sampai dia tahu kamu mengatai dia gila, bisa dihajar habis - habisan kamu"
"Iiihhh ..."
***
__ADS_1
Hiiiieiikkk ...
Suara kuda meringkik terdengar nyaring mengangkat kaki depannya. Kuda itu tampak sangat angkuh dengan Argadana menunggangi tubuhnya.
"Kita istirahat di sini dulu, putih"
"Silakan masuk, tuan. Kudanya biar kami yang bantu mengurus" kata seorang pelayan kedai yang hendak dimasuki Argadana.
"Ah... Baiklah, kisanak. Tolong berikan kudaku rumput yang paling baik" kata Argadana menyodorkan sepuluh keping uang perunggu membuat mata pelayan tersebut berbinar - binar.
"Ba.. baik, tuan muda. Terimakasih ..." kata sang pelayan dengan wajah ceria.
"Sama - sama, kisanak"
"Ehh... Tapi, tuan ..."
Suara pelayan tersebut terdengar canggung. Argadana mengerutkan dahi melihat pelayan itu bertingkah aneh saat hendak membawa kudanya menuju kandang. Pemuda itu hanya tersenyum melihatnya, dia tahu pelayan itu bingung bagaimana cara membawa kudanya tanpa tali kekang. Akhirnya Argadana berkata lagi pada kuda putihnya
"Putih, kau ikuti orang itu. Dia akan membawamu ke kandang, dan kau bisa makan rumput enak sepuasmu di sana"
Kuda putih mengangguk - anggukkan kepalanya membuat pelayan kedai itu terheran - heran dan hanya dapat menggeleng pelan melihat keanehan di depannya.
"Baru sekarang aku melihat orang bisa bicara dengan kuda" batinnya dalam hati kemudian berlalu menuju kandang dengan diikuti kuda putih tunggangan Argadana.
"Tuan muda mau pesan makan apa?" Seorang pelayan kedai bertanya pada Argadana.
"Tolong buatkan nasi ayam lalapan, airnya biar kopi panas saja" jawab Argadana.
"Baik, tuan muda silakan tunggu sebentar"
Beberapa saat setelah pelayan tersebut pergi datanglah menu yang dipesan Argadana, nasi ayam lalapan dan secangkir kopi panas.
"Hei ... Dengar tidak, Tuan Putri Ningrum hari ulang tahunnya sudah dekat. Kira - kira sekitar tiga bulan lagi"
__ADS_1
"Benarkah? Tuan Putri Ningrum itu bukankah tuan putri paling cantik di enam kerajaan?"
"Benar. Banyak pangeran dari berbagai kerajaan ingin melamarnya, tapi ditolak mentah - mentah"
"Mungkin Tuan Putri Ningrum sudah punya calon sendiri"
Terdengar suara kasak kusuk pengunjung kedai membicarakan kecantikan paras Tuan Putri Ningrum. Alis Argadana berkerut mendengar obrolan warga tentang Tuan Putri Ningrum. Bagaimana tidak, Ningrum itu juga adalah nama tunangannya yang akan segera merayakan hari ulang tahunnya sebentar lagi.
"Tidak mungkin ada kebetulan seperti itu kan?" Argadana membatin tak percaya. Pasalnya Ningrum selama ini tidak pernah bercerita kalau dia merupakan putri seorang raja, dan lagi menurut pemikirannya tidak mungkin ada seorang raja yang mau membiarkan anaknya pergi menuntut ilmu silat yang bisa dibilang termasuk sebuah pekerjaan kasar itu, apalagi dalam waktu yang sangat lama.
Tapi lamunan Argadana terhenti...
"Eh, eh ... Aku dengar Pangeran Damar Sena dari Kerajaan Sakra juga menyukai Tuan Putri Ningrum dari kerajaan kita. Kudengar juga sih katanya dia ingin melamarnya di depan semua orang nanti saat perayaan acara ulang tahun Tuan Putri Ningrum tiba. Kira - kira Tuan Putri Ningrum akan menerimanya atau tidak ya?"
"Waahhh ... Mungkin saja pangeran itu yang sudah ditunggu - tunggu oleh Tuan Putri. Lagipula pangeran Damar Sena itu juga kan tampan, dan dia juga pandai ilmu silat"
"Jangan ngaco, To. Pangeran yang satu itu menurut rumor orangnya sombong dan kejam, juga suka mempermainkan wanita. Kau pikir Tuan Putri Ningrum akan Sudi menerima lamaran pangeran bejat begitu?"
"Husssyy ... Jaga mulutmu, kalau di sini ada mata - matanya pangeran itu bisa - bisa mampus kamu"
Raut wajah Argadana berubah kelam mendengar nama percakapan terakhir para pengunjung kedai itu. Dia sebisa mungkin menahan kemarahannya.
"Kerajaan Sakra. Kalian sudah mengincar ayahku, kalian akan membayarnya dengan harga mahal ..." kata Argadana dalam hati.
Suasana kedai makan masih saja ramai. Sedang asyik - asyiknya para pengunjung kedai makan dan minum sambil mengobrol ria tiba - tiba dari arah depan pintu kedai dalam jarak sekitar enam puluh batang tombak tampaklah sepuluh orang menunggang kuda hitam sedang melaju dengan kecepatan tinggi hingga debu - debu dari jalanan yang mereka lewati beterbangan ke segala arah terbawa angin kencang.
Setelah sepuluh orang itu berhenti tepat di depan kedai, terlihatlah tampang sangar mereka. Wajah dipenuhi cambang yang lebat dan gigi - gigi mereka kuning tak terurus, rambut mereka awut - awutan. Di pinggang masing - masing orang tergantung sebuah golok lengkap dengan sarungnya yang berukiran indah dengan gagang berkepala burung.
Para pengunjung kedai yang melihat kedatangan sepuluh orang itu seketika menghentikan makan mereka dan berbondong - bondong keluar kedai dengan wajah pucat pasi.
Hanya tersisa dua orang yang masih tetap melanjutkan makannya tanpa merasa terganggu sedikitpun seolah mengacuhkan sepuluh orang yang baru saja datang. Dua orang itu adalah Argadana dan seorang lagi pemuda yang usianya sekitar delapan belas tahun berwajah cakap dengan caping lebar menutupi sebagian wajahnya. Tampak di sisi kanan meja makannya ada sebuah bambu berwarna kuning tersandar.
"Hmphh ... Rupanya ada juga orang - orang yang tidak takut mati di sini"
__ADS_1
Warok Benggala, nama ketua yang memimpin sepuluh orang tersebut menegur dengan kasar.