
"Guru... Rumah kita dibakar..." kata Yamada Ayame dengan nada sedih. Air mata mulai menggenang di kelopak matanya.
"Tenanglah... Rumah guru kalian itu sudah cukup tua. Sudah saatnya di bangun kembali dengan lebih megah" kata Argadana tanpa rasa bersalah.
"Apa maksudmu, Argadana?" tanya Nakamura Hayate penasaran.
"Setelah saatnya nanti kalian juga akan mengerti. Dinda Ningrum..." kata Argadana memberi kode yang dibalas anggukan oleh Ningrum.
"Kacaukan pasukan mereka yang berada di tengah. Kalau bisa buat mereka terpecah belah, itu lebih bagus"
"Baik, kakang...!!!"
Kedua mata Ningrum memancarkan ptir kecil. Putri Raja Kurawa itu mengangkat kedua tangan terkembang ke atas. Jari - jari lentiknya seolah menari.
"Beberapa hari yang lalu ada bola racun dan pedang yang muncul secara tiba - tiba. Sekarang hal aneh apa lagi yang akan didatangkan oleh perempuan ini?" batin Rin Onikage dengan dahi berkerut. Nakamura Hayate dan yang lainnya yang tidak mengerti kekuatan Ningrum juga berfikir demikian.
Namun mereka tidak perlu terlalu lama bertanya - tanya karena cuaca yang tadinya terang benderang tiba - tiba berubah mendung. Guruh menggelegar di langit menggetarkan dada.
"Pertanda buruk macam apa ini?" kata Tokugawa Chirou bertanya - tanya. Wajahnya menengadah mendongak langit yang mulai memercikkan petir ke segala arah.
Jurus Rahasia Pembunuh Naga...!!!
Badai Petir Akhirat...!!!
Begitu kedua tangan Ningrum digerakkan turun, dengan cepat...
Cress... Cress... Duar...!!!
Duar...!!!
Duar...!!!
Kilatan petir menghantam orang - orang klan Tokugawa bagai hujan membanjiri bumi. Dalam beberapa detik saja ratusan orang tewas terpanggang hangus dengan kulit hitam melepuh. Barisan pasukan klan Tokugawa tercerai berai berpencaran ke segala arah bagai anak ayam kehilangan induknya.
Bahkan Tokugawa Chirou kalang kabut berlompatan kesana kemari menghindari sambaran petir.
"Bangsa*t...!!! Petir - petir sialan ini hanya mengincar pasukanku. Tidak mungkin ada manusia yang bisa mengendalikan petir - petir ini kan..?"
"Ini gawat, ketua... Kita bahkan belum mengetahui keberadaan mereka. Dan kita sudah kehilangan ratusan orang akibat petir sialan ini. Kita harus bagaimana sekarang, ketua?" tanya para anggota klan Tokugawa yang lain dengan wajah panik.
"Iihhh.... Benar kata guru. Ternyata kekuatan orang - orang dari daratan tenggara bagaikan dewa. Kemarin pedang muncul tiba - tiba, dan sekarang ada manusia yang dapat mengendalikan guntur untuk dijadikan alat penyerangan. Jika dibandingkan dengan mereka, kemampuan kami bahkan tidak ada seujung kukunya" batin Takahashi Rikimaru tanpa menyembunyikan kekagumannya akan kehebatan Ningrum.
__ADS_1
Sementara itu Argadana yang melihat keadaan pasukan klan Tokugawa dari balik tempat persembunyian mereka masih bersikap biasa - biasa saja.
"Ketua klan Tokugawa memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Dia bisa menghindari badai petirmu" kata Argadana tersenyum menggoda Ningrum.
"Huh... Apanya yang dihindari. Aku bahkan hanya menggunakan tidak sampai seperempat tenaga dalamku. Bukankah kakang masih ingin memanfaatkan orang itu untuk memperbaiki rumah yang sudah mereka hancurkan?" kata Ningrum menggembungkan pipi karena kesal.
"Cerdas..." kata Argadana mengusap kepala Ningrum dan mengecupnya. Yalina tampak cemberut karena iri.
"Hmm...??? Ada apa, dinda Yalina?" tanya Argadana berpura - pura tidak mengerti.
"Tidak apa - apa" jawab Yalina ketus.
"Yah... Begitu saja marah. Kemarilah..." Argadana meraih tubuh Yalina dan mengecupnya juga.
"Mereka sangat tenang. Bahkan masih bisa bermesraan di depan kami. Padahal situasi saat ini masih sangat genting" gerutu Yamada Ayame pelan.
"Tapi mereka memang kuat. Bahkan pelayannya saja tidak nampak gugup sedikitpun menghadapi situasi berbahaya ini" tambah Sasaki Ichia.
"Nah... Mereka mulai kebingungan" kata Argadana seraya menoleh ke arah Yalina yang juga menoleh ke arahnya.
"Lakukan sekarang... Aku akan membuat gerakan penutup setelah pasukan mereka jadi tidak terkendali" perintah Argadana yang dibalas anggukan Yalina.
Argadana segera berkelebat cepat ke arah bangunan rumah Nakamura Hayate yang telah terbakar dan berdiri tepat di atas atap rumah yang lapuk.
Istri kedua Argadana itu kemudian menarik tali busur dan mengarahkannya ke atas.
"Ehh...? Tanpa anak panah?" batin Nakamura.
Panah Api...!!!
Sebagian tenaga dalamnya dikerahkan Yalina ke tangan kanan yang menarik tali busur. Maka terbentuklah anak panah dari tenaga dalam tersebut.
Wus...
Anak panah di tangan Yalina menggandakan diri menjadi ribuan banyaknya begitu dilepaskan dan mencapai ketinggian maksimum di udara.
Pasukan klan Tokugawa yang memang sejak tadi sudah terpecah belai kini semakin kacau lagi karena serangan panah - panah api tersebut yang telah memanggang puluhan orang anggota mereka.
"Sudah saatnya memulai pembunuhan massal...!!!" gumam Argadana berbicara pada dirinya sendiri sembari mengangkat tangan kanannya tinggi menyiapkan ilmu Pukulan Naga Murka.
Sepertiga bagian tenaga dalam berhawa panas dialirkan ke tangan kanan sembari mulutnya bergerak - gerak tanpa suara membaca mantra ilmu pukulan pamungkas Sepasang Pendekar Naga tersebut.
__ADS_1
Beberapa helaan nafas kemudian lengan Argadana dari ujung kuku hingga ke siku berubah warna menjadi merah kehitaman mengepulkan uap panas.
"Hei... Orang yang kita cari berada di atas atap itu" teriak Tokugawa Gray yang masih ingat betul dengan wajah Argadana.
"Iya benar... Itu dia. Panah... Bunuh orang itu" teriak yang lainnya. Akhirnya semua pasukan panah api yang masih tersisa segera membidik Argadana dan menembakkannya langsung.
Pukulan Naga Murka...!!!
Argadana mendorong kan tangan kanan yang telah dilambari dengan ilmu Pukulan Naga Murka sebanyak tiga kali.
Hantaman yang pertama mengenai pasukan panah yang berkumpul di satu tempat membentuk kelompok sendiri. Begitu terkena cahaya merah Ilmu Pukulan Naga Murka tubuh mereka terlemapr kesana kemari dan jatuh bergedebukan dalam kondisi mengenaskan.
Hantaman ke dua mengenai sembilan orang terkuat klan Tokugawa. Sembilan orang tersebut juga terlempar muntah darah.
Hantaman yang ke tiga melabrak tubuh Tokugawa Chirou yang tidak sempat menghindari keganasan ilmu pukulan tersebut.
Karena memiliki tenaga dalam tinggi Chirou tidak tewas namun menderita luka dalam yang amat parah.
"Dia ternyata sangat kuat. Bahkan Tokugawa Chirou tidak bisa berbuat apa - apa padanya" gumam Yamada Ayame tanpa sadar.
Yalina yang mendengar gumaman itupun menjawab dengan santainya.
"Dia tidak akan menjadi suami kami berdua jika tidak kuat. Hik.. Hik.. Hik.."
"Ilmu apa itu yang sebenarnya digunakan Argadana? Rasa panasnya bahkan sampai terasa oleh kami di sini" tanya Kobayashi Tesshu.
"Itu ilmu yang ingin diturunkan guru pada kalian. Sayangnya kalian menolak untuk mempelajarinya hanya karena yang mengajari adalah orang yang seumuran dengan kalian" kata Ningrum.
"Jurus itu sangat hebat bisa sampai menghancurkan begitu banyak orang. Kalau tahu seperti itu, aku tidak akan bicara sembarangan dulu" batin Sasaki Ichia menyesal.
"Nyonya... Tuan muda sudah memberi kode agar kita maju menyerang" perkataan Jendral Thalaba membuat sadar semua orang dan segera bergegas keluar dari tempat persembunyian mereka.
"Babat habis klan Tokugawa...!!!" teriak Argadana keras dengan dilambari tenaga dalam tinggi hingga suaranya terdengar merambah ke segala penjuru.
Teriakannya bahkan sampai terdengar oleh orang - orang klan Nakamura yang tengah bersembunyi dan mengamati di suatu tempat tersembunyi.
Nakamura Hikone melihat pasukan klan Tokugawa tercerai berai dan Nakamura Hayate telah masuk medan tempur itu mengerti bahwa serangan jarak jauh sudah tidak akan dilancarkan lagi oleh Argadana.
"Serang...!!! Ganyang habis klan Tokugawa...!!!"
"Serbuuuu....!!!"
__ADS_1
"Bunuuuhhh....!!!"