Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Masa Kelam Sembilan Naga


__ADS_3

Setelah menghabisi lawan mereka Widura dan tiga orang anggota yang bertugas melindungi Argadana dari jarak jauh kembali bersembunyi tanpa berbicara sepatah katapun pada Ningrum dan Jaya Ruma.


Sedangkan Argadana yang pertarungannya tengah disaksikan oleh Ningrum dan Jaya Ruma dari kejauhan telah menyiapkan Pukulan Pembalik Matahari untuk menghadapi pukulan gabungan lawannya.


Hiaaattt.....


Ketika Pendekar Tangan Hitam dan empat orang kawannya melepaskan pukulan andalan mereka masing - masing, Argadana segera saja mengibaskan tangannya mengerahkan Pukulan Pembalik Matahari yang mengeluarkan cahaya berwarna kuning keemasan.


Ketika pukulan mereka bertabrakan di udara tiba - tiba saja cahaya dari pukulan Pendekar Tangan Hitam dan empat kawannya meredup dan lenyap seperti terserap oleh cahaya kuning. Cahaya kuning tersebut lalu mengeluarkan kembali cahaya yang tadi meredup dengan kecepatan dan besar kekuatan yang lebih dahsyat dari yang sebelumnya dikeluarkan oleh Pendekar Tangan Hitam.


Akhirnya karena tidak siap mendapat serangan balik dari ilmu pamungkas mereka sendiri, serangan yang berbalik itu melabrak kelimanya tanpa dapat dihindari


Dessss....


Pendekar Tangan Hitam bersama kawannya mati dengan tubuh melepuh bagai habis direbus karena racun jahat yang terkandung di dalam ilmu pukulan mereka yang berbalik.


"Itu pasti Ilmu Pembalik Matahari yang dimaksud kakang Argadana waktu itu. Mengerikan sekali akibatnya. Pukulan mereka berbalik dan bahkan jadi lebih cepat dan kuat dari yang dilepaskan"


Ningrum berkata dalam hati.


"Waahhh..... Anak muda yang hebat. Kau bisa membunuh para bawahan ku dengan mudahnya"


Tiba - tiba terdengar suara lembut dari arah depan.

__ADS_1


Semua menoleh ke arah asal suara tersebut dan melihat ada sepasang pria dan wanita berdiri sarat dengan penampilan angkuhnya.


Yang berbicara tadi adalah sang wanita yang berpakaian kuning dengan sulaman benang biru di dada kirinya bergambar seekor naga. Wajahnya memang terlihat cukup menarik, tetapi karena dipenuhi dengan bedak dan gincu yang sangat tebal membuat penampilannya lebih terlihat menor.


Lelaki di sebelahnya memandang ketiga orang di sebelahnya dengan tatapan meremehkan. Dadanya dibusungkan dan mulutnya senantiasa mencibir penuh kesombongan.


Hal itu merupakan hal yang wajar menurut mereka berdua yang merasa lebih tinggi ilmunya daripada Argadana maupun Ningrum. Tidak heran memang. Sepasang pria dan wanita itu di dunia persilatan berjuluk Pendekar Sejoli Pembunuh Naga. Wanita nya bernama Nila Sari dan suaminya itu bernama Surasena.


Mereka mengutus bawahan mereka Pendekar Tangan Hitam dari Andalas untuk melakukan pembantaian di kampung yang dilewati Argadana dan Ningrum.


Tidak pernah mereka kira bahwa bawahan yang paling diandalkannya itu akan mengalami kesulitan sampai - sampai meminta bantuan melalui sinyal berupa ledakan di langit tadi. Mereka berdua dengan cepat menuju arah di mana sinyal itu terakhir kali mereka lihat. Namun ternyata mereka datang terlambat, mereka hanya melihat saat Argadana membunuh anak buahnya yang tersisa.


Keduanya mungkin mengira bahwa semua anak buahnya terbunuh di tangan anak muda yang bersama dua orang kawannya itu. Mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa masih ada empat orang yang langsung bersembunyi setelah menghabisi bagian mereka masing - masing.


"Ahh.... Begini saja, anak ganteng. Bagaimana kalau kalian jadi budak kami? Dengan begitu kami mendapat ganti dari anak buah kami yang sudah pada mampu*s itu? Dan kamu juga akan berhak untuk menikmati tubuhku, aku jamin kau akan senang setiap malam. Hik.. Hik... Hik..." suara tawa merdu Nila Sari terdengar sangat mengerikan menurut Jaya Ruma.


"Wanita jalan*g..."


Ningrum tidak dapat mengendalikan kemarahannya mendengar kata - kata kotor Nila Sari yang menggoda Argadana itu. Di wajah ayunya tampak raut kemarahan yang sangat besar seolah ingin memakan Nila Sari hidup - hidup.


Gadis berjuluk Dewi Pedang Guntur itu hendak menghunus Pedang Naga Guntur tetapi di tahan oleh Argadana yang melintangkan tangannya di depan Ningrum.


"Hmm... Kami hanya membunuh beberapa binatang buas tadi yang membunuhi para warga yang tidak bersalah. Jika yang kalian maksud adalah binatang - binatang itu, maka apakah kalian bermaksud ingin mengakui bahwa kalian merupakan bagian dari binatang itu juga?" tanya balik Argadana tetap memamerkan senyumnya.

__ADS_1


Wajah Pendekar Sejoli Pembunuh Naga berubah kelam membesi mendengar ucapan Argadana yang sangat mengenai di hati mereka.


"Kalian anak - anak bau kencur yang tidak tahu kematian di depan mata. Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berhadapan?" bentak Surasena dengan wajah merah.


"Apa kalian punya kebiasaan berkenalan dulu sebelum bertarung?" cibir Ningrum membuat hati Nila Sari semakin geram.


Sementara itu, Surasena yang telah terlanjur marah karena merasa diremehkan rahangnya bergemeletuk. Tangannya terkepal erat bersiap menyerang Argadana.


"Kami Pendekar Sejoli Pembunuh Naga tidak pernah mengalami penghinaan seperti ini, apalagi oleh anak - anak bau kencur seperti kalian. Jika kalian memang sudah membuat keputusan, maka bersiaplah untuk mati"


Wusss.......


Tubuh dua orang Pendekar Sejoli Pembunuh Naga mengeluarkan cahaya berwarna hitam pekat.


Karena Jaya Ruma merupakan orang yang paling rendah ilmu kepandaiannya, akibatnya bisa dipastikan bahwa tekanan dari kekuatan Pendekar Sejoli Pembunuh Naga itu sangat memberatkan mentalnya membuat telik sandi Datu Gumi itu hampir pingsan.


Berbeda dengan Jaya Ruma, Argadana dan Ningrum sama sekali tidak merasakan efek dari tekanan bertenaga dalam tinggi itu.


"Tuan, tekanan ini berasal dari aura Naga Iblis. Mereka berdua pasti merupakan pengikut Naga Hitam yang mengkhianati ras Naga beberapa abad yang lalu" Raja Naga tiba - tiba bersuara di dalam fikiran Argadana. Dari nada bicaranya pemimpin rasa Naga itu tampak sangat marah mendengar julukan Pembunuh Naga yang disandang sepasang pendekar golongan sesat tersebut.


"Ada apa, Raja Naga? Kau mengenal mereka?" tanya Argadana.


"Naga Iblis adalah generasi pemimpin ras Naga sebelum hamba, tuan. Awalnya kekuatan Naga Iblis itu setingkat di atas kekuatan hamba. Tetapi dia membelot. Dia mempelajari tekhnik - tekhnik yang dilarang oleh para raja terdahulu dari ras Naga kami sehingga kekuatannya meningkat dengan pesat jauh melebihi hamba. Karena ketinggian ilmunya ia menganggap dirinya dewa dan memaksa seluruh ras Naga menyembahnya. Kami tidak berdaya dan terpaksa menuruti keinginan sesatnya itu. Hari - hari berlalu, keadaan ras Naga kami semakin terpuruk karena Naga Iblis semakin besar ambisinya. Dia ingin memperluas pengaruhnya dan berencana memulai peperangan dengan ras manusia. Kami yang sudah tidak tahan lagi dengan tingkah laku Naga Iblis lalu menggabungkan seluruh kekuatan kami untuk memberontak melawannya. Tapi Naga Iblis terlalu kuat, dari ribuan naga yang melawannya hanya tersisa kami sembilan Naga saja yang masih hidup. Itupun kami sudah dalam keadaan sekarat dan hampir saja terbunuh sampai tuan Kamandaka datang menolong kami. Tuan Kamandaka lalu melawan Naga Iblis hingga Naga jahat itu melarikan diri dalam keadaan terluka parah. Saat itulah awal pertemuan kami dengan tuan Kamandaka"

__ADS_1


"Jika dulu saja Naga Iblis sudah sekuat itu, bagaimana dengan kekuatannya yang sekarang?" kata Argadana.


__ADS_2