
"Mohon maafkan saya sebelumnya, Putri. Perguruan kami meskipun tergolong Perguruan besar, tetapi kami tidak punya barang berharga apa pun yang dapat kami hadiahkan pada Putri. Jadi sebagai permintaan maaf kami, Putri boleh memilih empat orang di antara sekian banyak murid kami untuk menjadi pengawal Tuan Putri"
"Ini.... "
Suara Ningrum tercekat di tenggorokannya. Sebuah Perguruan besar dan dirumorkan merupakan yang terkuat di Kerajaan Sampang Daru menawarkan empat orang muridnya untuk dijadikan pengawal pribadi Ningrum. Itu merupakan anugerah yang besar. Setidaknya begitulah yang ada di pikiran orang - orang saat ini.
"Tuan, apakah ini tidak berlebihan? Murid tuan menjadi pengawal saya, bukankah itu akan menurunkan pamor Perguruan Bayangan Malam nantinya?"
"Bagi orang lain, itu mungkin akan menjatuhkan harga diri Perguruan mereka. Tetapi, kami menjunjung tinggi ketegasan. Apa yang sudah kami ucapkan tidak akan ditarik kembali" kata Pancaka Sudra.
"Lagipula kami tidak melakukan ini pada semua orang, perlakuan ini hanya kami khususkan pada Tuan Putri. Dan ini sudah dengan izin ketua besar kami" sambungnya membuat bingung orang - orang di situ.
"Bukankah Pancaka Sudra adalah ketua Perguruan Bayangan Malam? Lalu kenapa dia menyebut nama ketua besar?" Pangeran Danu Kusuma dan Handra Wiraguna membatin. Demikian juga dengan orang - orang di sekitar mereka yang tidak lepas dari keheranan.
"Ketua besar? Saya masih belum mengerti, Tuan"
Ningrum kebingungan dengan perlakuan khusus yang didapat nya dari Perguruan terbesar di Sampang Daru itu.
Pancaka Sudra lalu menoleh ke arah Argadana seolah meminta persetujuan. Argadana yang mengerti arti tatapan itu hanya menjawab dengan anggukan.
"Begini, Putri. Sebenarnya Perguruan Bayangan Malam sesungguhnya adalah salah satu cabang dari perguruan utama yang bernama Perguruan Anak Naga. Dunia persilatan mungkin lebih mengenal kami dengan sebutan Perguruan Siluman. Dan perguruan kami merupakan cabangnya saja yang menyandang gelar Pecahan Kelicikan"
Kali ini bukan saja semua tamu undangan dan para hadirin yang terkejut, melainkan juga semua pihak kerajaan.
"Pantas saja... Sejak pertama perguruan ini didirikan dua puluh tahun yang lalu, kekuatan mereka bahkan sudah melampaui perguruan besar yang sudah sangat lama berdiri. Ternyata mereka berasal dari perguruan yang sudah berumur lebih tua dari perguruan - perguruan besar saat ini"
Raja Kurawa membatin
"Kami selama ini selalu berpindah - pindah tempat untuk menghindari orang memata - matai kami, sembari menunggu kedatangan pemimpin kami yang sesungguhnya. Jadi karena Putri mengenal dan dekat dengan ketua besar kami, maka dengan sendirinya kami juga memperlakukan Putri seperti kami memperlakukan ketua kami" jelas Pancaka Sudra lebih jauh
"Ehhh.... Aku bahkan tidak menyadari hal itu. Memangnya siapa ketua besar kalian?" Ningrum bertanya cepat dengan nada penasaran.
"Putri Dyah Ayu Pitaloka yang merupakan guru besar, sekaligus pendiri Anak Naga kami adalah ibu kandung saudara seperguruan Putri yang bernama Lalu Argadana. Beliaulah ketua besar kami saat ini, yang di dunia persilatan berjuluk Ksatria Lembah Neraka"
"Apaa????"
__ADS_1
Rampung sudah. Hari ini tiada cukup satu kejutan saja. Raja Kurawa, Ratu Malini dan Pangeran Danu Kusuma yang sejak awal sudah menduga sebelumnya bahwa pendekar muda yang berjuluk Ksatria Lembah Neraka itu ada kaitannya dengan Ningrum. Tetapi yang sungguh tidak disangkanya adalah pemuda itu merupakan saudara seperguruan putrinya, dan sekarang ditambah lagi pendekar muda yang telah menjatuhkan hati putrinya itu adalah ketua dari sebuah perguruan besar yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi aliran hitam.
Yang paling terkejut dari mereka semua adalah Pangeran Handra Wiraguna sebab dia sama sekali tidak menyadari bahwa selama ini orang yang dianggapnya saudara angkat itu ternyata adalah pendekar yang sangat diidolakannya sejak turun gunung.
Ningrum sendiri terdiam mematung mendengar penjelasan Pancaka Sudra.
"Banyak sekali rahasia tentang Kakang Argadana. Entah kejutan apa lagi yang esok nanti akan kau berikan padaku, Kakang" kata Ningrum dalam hati sambil menoleh ke arah Argadana yang hanya tersenyum menatapnya.
Semua orang yang duduk bersama Argadana menatapnya dengan tatapan kagum dan terkejut, terlebih Pangeran Damar Sena.
"Ternyata aku dari tadi sudah mengganggu seorang ketua perguruan besar"
Tanpa sadar bulu kuduk pangeran yang sombong itu meremang. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Akan tetapi kesombongan membuatnya enggan mengakui pamor kekuatan Argadana sehingga dia beranggapan bahwa Argadana hanya bersembunyi di balik nama perguruan besarnya, bukan karena kekuatan miliknya sendiri.
***
"Hahahaha.... Dinda, murid kita sekarang ternyata sudah menjadi orang besar yang sangat terkenal"
Suara tawa keras seorang lelaki tiba - tiba memecah keheningan.
Tidak lama kemudian dari atas atap bangunan melayang turun dua sosok lelaki dan perempuan yang rambutnya sudah dipenuhi uban. Mereka turun tepat di depan Ningrum di sebelah Pancaka Sudra membuat gadis itu seketika merendahkan tubuh dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Guru... " sapa Ningrum pada dua orang tersebut yang tidak lain adalah Sepasang Pendekar Naga.
Argadana melompat dan turun di samping Ningrum dan melakukan hal yang sama dengan gadis kekasihnya itu.
"Murid memberi hormat pada kedua guru" kata Ningrum dan Argadana bersamaan.
"Hehehe. . . Bangunlah, murid - muridku" perintah Anung Pramana lalu menoleh ke arah Pancaka Sudra di sampingnya.
"Ah... Bagaimana kabarnya sahabatku, Brajamusti?" tanyanya.
"Ahh. . . kakang Brajamusti baik - baik saja, tuan" jawab Pancaka Sudra cepat.
Pada saat itu Raja Kurawa dan Ratu Malini segera bangun dari tempat mereka dan menyambut kedua pendekar ternama itu dengan hangat dan mempersilakan keduanya duduk di tempat khusus tamu kehormatan di samping Argadana. Acara perayaan tersebut berlangsung meriah dengan adanya Sepasang Pendekar Naga. Beberapa orang pendekar tua mengajak dua orang pendekar senior yang telah berumur seabad itu mengobrol tentang banyak hal. Tidak ada kejadian yang membuat gaduh lebih jauh lagi karena merasa sungkan terhadap Sepasang Pendekar Naga.
__ADS_1
***
Keesokan harinya Raja Kurawa mengundang Argadana untuk makan bersama. Awalnya Raja Kerajaan Sampang Daru itu ingin mengajak Sepasang Pendekar Naga untuk ikut serta juga, tetapi mereka berdua menolak dengan alasan karena terburu - buru harus menyelesaikan beberapa masalah.
"Maafkan kami sebelumnya, Argadana. Apa boleh kami tahu dari mana asalmu?" tanya Raja Kurawa pada Argadana setelah mereka menyelesaikan makannya.
"Ahh... Sejak lahir, saya tinggal bersama ibu kandung saya di tempat yang sangat jauh. Ibu kandung saya bernama Dyah Ayu Pitakoka. Tujuan pengembaraan saya adalah untuk mencari ayah kandung saya yang kata beliau bernama Lalu Askar Wirajaya dari Datu Gumi.
"Hmmm... Lalu Askar Wirajaya adalah Panglima Perang terkuat milik Kerajaan Datu Gumi. Jadi dia itu ayah kandungmu?"
"Benar, yang mulia"
"Heii... Kita saat ini sedang berada di dalam ruang makan, tidak usah pakai - pakai yang mulia. Aku jadi merasa sungkan" kata Raja Kurawa canggung.
"Tap.. Tapi, yang mulia.... "
Belum selesai Argadana berkata, Raja Kurawa sudah memotong ucapannya.
"Haiss. . . Kau ini. Nah, begini saja. Bagaimana kalau kau panggil aku ayah saja, seperti Ningrum memanggilku"
"Ehh...??" seru Argadana tercekat.
"Ayah... " tegur Ningrum dengan wajah merah memperingati ayahnya yang salah bicara.
Handra Wiraguna yang melihat kecanggungan kakak perempuannya tersenyum nakal.
"Hehehe... Yunda Ningrum, tidak usah malu - malu begitu. Kan Yunda juga senang kalau Kakang Argadana memanggil ayah dengan sebutan ayah, seperti... "
"Kau ingin merasakan pedang naga gunturku, Handra?"
Handra Wiraguna menciut nyalinya. Dia walaupun memang juga terkenal sebagai seorang ahli ilmu kanuragan, tetapi untuk melawan saudaranya yang satu ini dia harus berpikir - pikir dulu. Dia masih merasa gentar setelah melihat kehebatan pusaka milik Ningrum itu.
"Hey... Sudahlah, kalian jangan bertengkar lagi. Seperti anak - anak saja. Saudara Argadana, kami semua telah menganggapmu seperti keluarga sendiri. Kau bukan hanya adik seperguruan Dinda Ningrum, tetapi juga saudara angkat Dinda Handra Wiraguna. Jadi tidak masalah kalau kau memanggil ayah dengan sebutan ayah juga" kata Pangeran Danu Kusuma menengahi.
"Itu benar, Argadana. Lagipula, hubunganmu dengan putri kami juga sudah tidak lagi bisa kalian sembunyikan. Dan kami terus terang saja sangat senang, putri kami yang bengal ini mendapatkan seorang pemuda baik hati"
__ADS_1
Ratu Malini menyahut dan melihat ke arah Argadana dan Ningrum secara bergantian. Wajah kedua pasangan muda - mudi itu memerah jengah.