
Ribuan pendekar dari gabungan aliran hitam tampak ikut bergabung berpartisipasi dalam perang kerajaan tersebut membuat kesulitan anggota inti Perguruan Anak Naga. Ternyata aliansi aliran hitam itu memang telah menyusun matang rencana mereka bergerak secara diam - diam sehingga mereka lolos dari pengawasan Perguruan Anak Naga.
Akhirnya Argadana memutuskan untuk mengeluarkan semua murid - murid dari empat cabang pecahan yang jika ditotalkan semuanya berjumlah ratusan orang. Akan tetapi hal itu masih saja belum bisa menutupi kekurangan jumlah mereka yang sangat jauh. Belum lagi pendekar - pendekar dari aliansi aliran hitam itu kebanyakan merupakan tokoh tua yang sudah berpengalaman malang melintang di dunia persilatan.
Kericuhan kian bertambah ketika perang menjadi pertempuran dua sisi, yaitu perang antara Kerajaan Sakra melawan Kerajaan Datu Gumi dan perang antara para pendekar aliran hitam dan seluruh anggota Perguruan Anak Naga.
Demi melihat anggotanya yang sangat kewalahan menghadapi gelombang serbuan dari pasukan gabungan aliansi, Argadana mengepakkan sayapnya melayang di udara dengan tangan kanan menggenggam Cambuk Raja Naga. Dengan kekuatan batinnya, dipanggilnyalah Raja Naga, roh plpusaka penghuni cambuk tersebut.
Angin kencang bertiup menerbangkan dedaunan dan debu - debu di sekitar Argadana mengelilingi seluruh tubuh pemuda itu.
Setelah angin mereda tampak di atas kepalanya mulai terbentuk sebuah retakan ruang. Daru retakan ruang tersebut keluarlah seekor naga berwarna kuning keemasan menyandang mahkota yang sangat indah di atas kepalanya. Terlihat indah, namun wujud Naga itu sangat menyeramkan dengan taring - taring panjang mencuat keluar dari mulutnya.
Ya... Itu memang adalah Raja Naga.
"Arrgghh.....!!!"
Raungan dari pemimpin generasi terakhir ras naga itu terdengar sangat keras dan hampir memecahkan gendang telinga orang - orang di sana.
Suara itu juga merambah sampai pada jarak ribuan tombak jauhnya memancing rasa penasaran tiap orang yang mendengar, khususnya para pendekar. Mereka berbondong - bondong menuju ke arah asal suara raungan keras tadi.
Mereka yang berperang sama sekali tidak menyadari akan hal itu. Dan tidak ada yang tahu selain Argadana dan Ningrum bahwa raungan keras tadi juga merupakan sinyal untuk memanggil seluruh Naga yang berjumlah sembilan dan sedang tersebar di berbagai belahan dunia.
"Tugas kita adalah membasmi para durjana ini, Raja Naga. Soal perang kerajaan itu biar mereka sendiri yang mengurus"
Argadana lalu naik dan berdiri di leher belakang Raja Naga setelah sayap Naga Langitnya menangkup. Keduanya lalu melesat cepat menerjang aliansi pendekar aliran hitam tersebut. Ningrum dan Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam juga tidak mau ketinggalan. Melihat Argadana mulai bergerak, mereka bertiga pun ikut maju menyerang.
***
__ADS_1
Banyak yang tidak menyadari bahwa suara raungan Raja Naga yang memekakkan telinga tadi terdengar juga di beberapa tempat di belahan bumi yang lain. Salah satu yang mendengarnya adalah seorang gadis cantik berpakaian serba biru memiliki lesung pipit di kedua belah pipinya yang ranum menampakkan pesona yang luar biasa bagi lawan jenisnya. Wajahnya bulat telur, kulitnya tampak putih dan halus. Juga rambut panjang lurusnya digelung sebahu membuat wajahnya tampak berseri - seri.
Dia adalah Yalina, murid Sriti Kuning atau yang biasa disebut Pemanah Agung. Gadis cantik itu sedang mencari tempat berteduh dari hujan, dan dia berhenti berjalan setelah mendengar suara raungan yang seolah membuatnya terpanggil.
Tiba - tiba terbentuk sebuah retakan ruang di atas kepalanya yang dari retakan tersebut keluarlah seekor Naga berwarna ungu gelap. Taring - taring yang tajam dan panjang mencuat memperlihatkan kesan mengerikan. Naga itu tidak lain adalah Naga Racun, roh pusaka penghuni Busur Naga Racun.
Naga Racun menundukkan kepalanya di depan Yalina dengan sayap siap terkembang.
"Waktunya sudah tiba... Raja Naga telah membuat panggilan jiwa. Tampaknya majikan para naga tengah dalam kesulitan. Kita harus bergegas membantu"
"Maksudmu... Orang yang itu..." tanyanya dengan wajah merona merah. Gadis itu selama ini memang merasa penasaran dengan sosok asli pria yang dijodohkan dengan dirinya oleh Naga Racun waktu itu.
"Memangnya siapa lagi kalau bukan dia??? Ayo, jangan biarkan tunanganmu menunggu terlalu lama. Kau juga sudah tidak sabar kan ingin segera bertemu dengannya?" seloroh Naga Racun tersenyum. Akan tetapi karena dia adalah wujud sesosok naga yang merupakan binatang buas paling ganas, maka senyumnya lebih tampak seperti seringai mengerikan.
"Ahh... Sudah. Jangan banyak bicara kau. Ayo cepat, kita harus segera sampai di sana agar dia tidak menunggu terlalu lama"
"Iya, iya... Aku tahu kau sudah sangat rindu dengannya. Tidak perlu malu, akui saja..."
Naga Racun kemudian mengepakkan sayapnya dengan kencang dan dalam waktu sekejap saja mereka telah menghilang saking cepatnya Naga Racun terbang.
***
"Tidak ada waktu... Datanglah, Naga Guntur" teriak Ningrum seraya menebaskan Pedang Naga Gunturnya yang berhasil menewaskan seorang pendekar dari aliran hitam yang hendak membokongnya. Tebasan datar tersebut mengenai perut dan terus menerobos hingga ke pinggangnya. Akibatnya begitu mengerikan. Dari perut orang itu sampai pinggang samping kanannya robek mengeluarkan sebagian isi perutnya. Dia mati dalam keadaan mengenaskan oleh keganasan Pedang Naga Guntur.
Bersamaan dengan ambruknya tubuh yang tertebas itu muncullah Naga Guntur dari atas kepala Ningrum secara tiba - tiba.
"Aarrghhhh..... "
__ADS_1
Naga Guntur meraung keras sebelum mengibaskan ekornya yang berhasil melemparkan lima orang dari aliansi aliran hitam. Sementara itu Raja Naga mengamuk membantai beberapa orang pendekar tingkat tinggi yang mencoba menyerang ke arah para prajurit.
Argadana saat itu masih melayang di udara dengan sayap indahnya yang berkilau.
La Huda yang memiliki penglihatan tajam dapat melihat dengan jelas seseorang dengan sayap di punggung dan cambuk yang menyala - nyala tergenggam di tangan tengah mengamati jalannya pertarungan berkelompok itu.
Pengkhianat Kerajaan Siluman Darah itu dapat merasakan firasat bahaya darinya.
"Situasi ini di luar perkiraan kita... Tidak kusangka ternyata mereka juga telah menyiapkan balasan. Tapi tenang saja, jumlah aliran hitam lebih banyak... " ucapan Panglima Danang Kamba terputus oleh Alfonso.
"Masalahnya bukan itu, panglima. Dua ekor naga yang mengamuk di sana itu tidak mudah untuk di tangani. Dan tampaknya keduanya menerima perintah dari orang yang sedang melayang itu"
"Ih.... Orang itu seperti hantu,, Bagaimana dia bisa melawan hukum gravitasi bumi? Dia bisa terbang..." kejut Panglima Danang Kamba.
"Itulah... Sekarang perintahkan para penembak yang mahir menggunakan bedil. Bidik dan tembak jatuh orang itu" kata La Huda.
"Baik, tuan... "
Beberapa saat kemudian terlihat sepuluh orang dengan bedil di tangan membidik ke satu arah yang sama, yaitu Argadana.
Dor... Dor...
Terdengar bunyi keras ketika pelatuk bedil tersebut ditekan oleh prajurit penembak itu. Sepuluh buah peluru melesat cepat ke arah tubuh Argadana yang sedang melayang.
"Hmph... Senjata seperti ini tidak cukup untuk membunuhku.. "
Argadana kemudian menggerakkan tangan kanannya ke depan dan peluru - peluru tersebut terhenti di udara seolah terhalang oleh perisai tak terlihat...
__ADS_1
"Karena kalian sangat suka bermain - main dengan senjata, maka aku akan melayani kalian dalam bermain - main"
Argadana mengangkat kedua tangan lurus ke atas. Tiba - tiba saja sesuatu yang mengagumkan terjadi...