
Perang antara Kerajaan Datu Gumi dan Kerajaan Sakra jadi tampak berbeda dari apa yang direncanakan Panglima Danang Kamba karena kemunculan para Pendekar dari aliran putih yang sudah mulai mampu mengimbangi jumlah gabungan aliran hitam.
Pasukan Kerajaan Sakra yang tadinya sangat mengandalkan bedil untuk melawan prajurit Kerajaan Datu Gumi kini harus menahan ludah melihat hujan batu yang digunakan pasukan Datu Gumi untuk menghancurkan formasi para prajurit pengguna bedil. Belum lagi kini pasukan racun sudah tidak lagi bisa diandalkan karena sibuk menghadapi para Pendekar dari aliran putih yang bergabung dalam perang aliran.
Mempertimbangkan kesulitan itu Panglima Danang Kamba akhirnya mengambil alih komando seluruh pasukan dan memimpin langsung peperangan karena sudah tidak sabar lagi dengan taktik yang dijalankan La Huda yang menurutnya terlalu lambat dan bertele - tele.
"Tampaknya Panglima Danang Kamba sudah mulai bergerak, tuanku. Apakah kita sudah boleh memulai pergerakan kita?" tanya Wiranda pada lelaki separuh baya di sampingnya yang bukan lain adalah Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya.
"Katakan pada pemegang bendera pengarah untuk mengirim dua ribu orang prajurit berpedang ke bagian tenggara. Prajurit tidak boleh dekat - dekat dengan area pertarungan orang - orang persilatan. Bisa - bisa mereka terkena serangan nyasar nanti"
"Baik, tuanku... Hamba segera laksanakan"
Wiranda segera pergi meninggalkan titah Panglima Besar Askar yang dikawal oleh Mardi Safruddin dan Abbas untuk melaksanakan instruksi dari tuannya itu.
"Dengan hilangnya bantuan dari orang - orang persilatan, maka pasukan Sakra akan jadi kacau balau. Begitu dua ribu pasukan ikut terjun dalam pertempuran, maka mereka akan terkejut karena tidak menyangka bahwa bantuan kecil itu akan menyerang dari sisi terlemah mereka. Hati pasukan lain akan terguncang melihat hal itu. Setelah mental perang mereka melemah, kita akan menggencet lagi mereka dari arah barat untuk menutup jalan mereka melarikan diri. Setelah itu kita tinggal mengeksekusi mereka jika tidak mau menyerah"
"Tuan Panglima benar - benar sesuai nama dan gelarnya sebagai panglima pamungkas" gumam Mardi Safruddin
***
Argadana masih mengepak - ngepakkan sayap indahnya di udara melihat - lihat situasi perang aliran tersebut sampai matanya menangkap sepuluh orang berpenampilan sangar dengan pakaian serba merah bersenjatakan golok tersampir di pinggang masing - masing sedang berjalan menghampirinya dengan wajah angkuh.
__ADS_1
Murid Sepasang Pendekar Naga lalu berhenti mengepakkan sayapnya dan turun secara perlahan untuk menyambut kedatangan orang - orang berwajah tak ramah itu.
"Huh.. Ternyata hanya anak ingusan. Tuan La Huda tampaknya terlalu memandang tinggi dirimu sampai - sampai harus mengirim kami untuk mengurusmu. Pergilah dari sini, bocah bagus. Di sini bukan tempatmu, nyawa bisa terbang kapan saja dalam suasana perang. Jangan sia - siakan masa mudamu" kata Taring Satu membusungkan dadanya.
"Apa kalian antek - anteknya La Huda? Jika benar begitu maka kalian akan menerima nasib yang sama dengannya, kehancuran akan menjadi bagian kalian ..."
"Bangsa*t... Kami sudah menasihatimu dengan baik, anak muda. Jangan salahkan kalau kau mati di umurmu yang masih hijau. Kami Sepuluh Pendekar Taring Maut tidak pernah gagal membunuh musuh kami. Jadi bersiaplah untuk menyerahkan nyawamu. Serang...!!!"
Sepuluh orang Pendekar Taring Maut bergerak cepat merangsek ke arah Argadana. Niat hati mereka ingin mengepung pemuda itu dari segala sisi untuk mempermudah pekerjaan mereka membunuh Argadana. Tapi tidak disangka, justru kejadian selanjutnya membuat tubuh mereka gemetar ketakutan.
"Arrgghhh....."
Itu adalah Naga Besi dan Naga Air. Tentu saja dengan penunggang seorang pemuda di atas kepala mereka masing - masing yang merupakan pemilik dari dua Pusaka Naga yang lainnya yaitu Tombak Naga Besi dan Keris Naga Samudra.
Kedua ekor naga yang sangat perkasa itu meraung dengan sangat keras menggetarkan gendang telinga Sepuluh Pendekar Taring Maut. Seketika itu juga mereka ketakutan setengah mati bahkan untuk mempertahankan pijakan pun mereka sudah tidak lagi sanggup. Sepuluh orang sesat itu jatuh menekuk lutut di hadapan Argadana yang dikawal oleh dua ekor naga dan dua orang penunggangnya.
Mereka melihat moncong dan taring - taring tajam naga itu sangat menyeramkan membuat keringat dingin membanjiri sekujur tubuh mereka.
"Saya Rawa Mada dari kota Bintang Timur, pemegang Pusaka Tombak Naga Besi menghadap ketua dan siap menerima perintah"
"Saya Ridu Hastapara dari Pulau Merak, pemegang Pusaka Keris Naga Samudra datang menghadap ketua dan telah siap menerima perintah"
__ADS_1
Kedua pemuda penunggang dua ekor naga itu melompat turun dan berlutut kepada Argadana yang masih dalam posisi membelakangi mereka.
Argadana lalu berbalik badan dan tersenyum tanpa mempedulikan Sepuluh Pendekar Taring Maut. Wajahnya tampak tegas. Rambut emasnya melambai - lambai tertiup angin.
"Kalian sudah datang rupanya... Maafkan aku karena mengumpulkan kalian dalam keadaan tidak baik ini. Tapi biar bagaimanapun, ini juga merupakan tugas Sembilan Pendekar Naga untuk menumpas kebathilan di dunia persilatan yang kejam. Dan ini akan menjadi pertama kalinya kita bertarung bersama. Aku harap kalian tidak kecewa dengan sambutan yang tidak ramah ini" kata Argadana pelan.
"Kami telah bersumpah setia untuk selalu bertindak sesuai dengan instruksi ketua Sembilan Pendekar Naga. Kami tidak keberatan sama sekali"
"Baiklah... Kalau begitu, kalian lihat sepuluh orang berpakaian putih itu? Mereka sedang kewalahan menghadapi keroyokan pendekar berilmu tinggi dari aliansi aliran hitam. Kalian bantu mereka dan biarkan kedua naga membantu Raja Naga dan Naga Guntur di sana untuk mempercepat pengurangan jumlah musuh. Sepuluh orang ini biar menjadi bagianku"
"Baik, ketua... Perintah ketua akan kami laksanakan.." ucap kedua pemuda itu berbarengan sambil membungkukkan badan mereka.
Rawa Mada dan Ridu Hastapara membawa Naga Besi dan Naga Air lalu ikut terjun membantu Sepuluh Pelindung Perguruan Anak NagaNaga sedangkan Naga Besi dan Naga Air telah mulai mengamuk membubuhi anggota - anggota terlemah dari gabungan para pendekar aliran hitam.
"Nah... Sekarang kalian bangunlah, apa kalian masih ingin meneruskan melaksanakan perintah La Huda meski tahu kalian akan mati jika tetap nekad ingin melawanku?"
Taring Satu yang merupakan orang terkuat di antara Sepuluh Pendekar Taring Maut memang memiliki keberanian yang cukup tinggi. Meski dengan lutut goyah dia tetap memaksa untuk berdiri menopang tubuhnya dengan golok yang telah dikeluarkan dari sarungnya.
Golok tersebut mengeluarkan cahaya berwarna biru dan mengeluarkan asap hitam yang menebarkan bau busuk pertanda golok tersebut merupakan senjata Pusaka mengandung racun.
"Kuakui kau memang kuat karena bahkan bawahanmu mempunyai hewan peliharaan yang mampu menekan kami bersepuluh. Mungkin juga kekuatan gabungan kami Sepuluh Pendekar Taring Maut tidak tidak akan sanggup menandingimu. Tetapi jika hari ini kami membatalkan serangan bahkan sebelum kita bertarung harga diri kami sebagai pendekar senior di dunia persilatan akan tercoreng. Mau ditaruh di mana muka kami nanti jika bertemu pendekar seangkatan. Jadi hari ini meskipun kami harus mati dalam pertarungan ini, kami akan tetap melawanmu. Mati di tangan pendekar sakti mandraguna sepertimu adalah kebanggaan tersendiri buat kami"
__ADS_1