Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Mengorek Informasi


__ADS_3

"Kakang, dari mana kau bisa mengetahui tentang ilmu aneh itu? Seingatku guru dulu tidak pernah bercerita tentang ilmu itu di lembah" tanya Ningrum penasaran.


"Yaahh. . . Karena ada yang menguasai ilmu unik itu di sini, itu artinya salah satu cabang Anak Naga berada tidak jauh dari sini" kata Argadana.


"Jadi, maksud Kakang dia adalah salah satu anggota cabang Perguruan Anak Naga?" tanya Ningrum.


"Apa? Perguruan Anak Naga?"


Sontak saja, pertanyaan Ningrum itu membuat Ranjani, Macao dan Jaya Ruma terkejut bukan main. Mereka pernah mendengar tentang Perguruan Siluman yang ternyata nama aslinya baru diketahui belakangan ini adalah Perguruan Anak Naga setelah mereka memunculkan diri pada pesta perayaan hari ulang tahun Putri Kerajaan Sampang Daru.


"Iya, benar. Perguruan Anak Naga. Kenapa memangnya?"


"Ningrum..... Kau... Kau mengenal perguruan misterius itu?" tanya Ranjani terbatas - bata.


Jaya Ruma tiba - tiba menyeletuk dari belakang mereka.


"Aku dengar perguruan itu sudah mulai memunculkan diri mereka di dunia persilatan beberapa bulan yang lalu di Sampang Daru ketika perayaan hari ulang tahun Tuan Put.. Putri... Ning...rum... " ucap Jaya Ruma terputus - putus dengan nada bergetar dan keringat dingin membasahi tengkuknya.


"Hehhh....??? Putri Ningrum? Jangan - jangan kau...."


Macao bahkan sampai berjingkrak dari tempatnya karena baru menyadari penampilan Ningrum memang mirip dengan penampilan sang Putri Sampang Daru yang di dalam istana lebih suka berpenampilan layaknya pendekar. Dengan pakaian serba hijau dan pedang berukir indah bersarung putih kebiruan di balik punggungnya.


"Dewi Pedang Guntur.... " sebut Ranjani dengan tubuh gemetar.


Dia selama ini sangat mengagumi nama harum Dewi Pedang Guntur yang identitasnya baru belakangan ini diketahui adalah Tuan Putri Kerajaan Sampang Daru. Gadis itu mengaku ingin sekali bertemu dengan pendekar wanita idolanya itu. Hari ini tanpa disangkanya, ternyata pendekar yang diidolakannya itu adalah kawan yang seperjalanan dengannya.


"Tunggu dulu..." potong Jaya Ruma.


"Jika kau adalah Dewi Pedang Guntur itu, maka itu artinya Argadana adalah ksat.....ria..."


Kali ini lengkap sudah keterkejutan Ranjani, Macao dan Jaya Ruma. Macao yang paling terkejut di antara ketiganya. Pasalnya dia yang paling lama berjalan bersama Argadana dan Ningrum, bahkan baru menyadari siapa kawannya itu setelah menyinggung Kerajaan Sampang Daru secara tidak sengaja.


Dalam perjalanannya setelah turun gunung dia sering mendengar nama Ksatria Lembah Neraka dan Dewi Pedang Guntur yang merupakan sepasang pendekar adik kakak seperguruan sangat tenar di kalangan kaum pendekar muda. Di tiap kedai, penginapan maupun jalan - jalanan di tengah pasar terdengar orang menyanjung kebaikan dan kehebatan mereka berdua.


"Benar - benar tidak menyangka kalau aku selama ini ternyata telah berkawan dengan pendekar yang namanya harum terdengar di mana - mana" batin Macao.

__ADS_1


"Haiss.... Itu tidak penting sekarang, kalian mau ikut kami tidak pergi kesana? Kalau tidak kami duluan" kata Argadana menggandeng tangan Ningrum.


"Ehh.... Ikut..." jawab ketiganya serempak.


Kelima anak muda itu berjalan ke arah Pemuda yang tengah mengerjai lawan - lawannya dengan ilmu dewa linglun pemikat nasib. Ketika berjarak sepuluh tombak lagi dari pemuda itu, Argadana tiba - tiba mengeluarkan hawa kekuatan dari Pedang Siluman Darah membuat tubuhnya diselimuti selaput kabut berwarna merah menekan semua orang yang berada di sana kecuali Ningrum yang memang terlindungi dari dampak tekanan kekuatan Raja Naga karena memiliki kekuatan sang Ratu Naga Guntur di tubuhnya yang memungkinkan dia untuk dapat menetralkan kekuatan yang menekan tersebut.


Tawa pemuda urakan itu terhenti ketika merasakan tekanan yang sangat dahsyat dari arah belakangnya.


Begitu juga dengan Sudra dan komplotannya.


"Siapa lagi ini yang datang dengan tekanan kekuatan sebesar ini? Entah kawan atau lawan" batinnya mengeluh.


Pemuda urakan itu seketika berbalik badan dan menatap ke arah Argadana lalu menekuk lutut dan menyatukan tangannya di depan dada.


"Danupaksi dari Pecahan Kelemahan memberi hormat pada ketua" kata pemuda itu dengan kepala tertunduk. Kali ini lenyaplah raut wajah urakannya tadi, berganti wajah serius.


Argadana hanya tersenyum karena menyadari kode yang diberikannya. Hal itu menunjukkan kalau dugaannya tidaklah salah tentang ilmu dewa linglung pemikat nasib.


Tetapi tidak begitu halnya dengan Ranjani, Macao, dan Jaya Ruma. Kali ini jantung mereka nyaris terlepas menyaksikan adegan mengejutkan di hadapan mereka. Banyak sekali pertanyaan yang menggantung di benak mereka, namun mereka berusaha menahan diri untuk bertanya lebih jauh mengingat ada hal yang lebih penting lagi.


"Bangunlah. Ajian dewa linglung pemikat nasib memang memiliki keunikan tersendiri, kau tampaknya telah menguasainya dengan sangat sempurna" ucap Argadana.


Sudra sedikit gentar mendengar Argadana menyebut ajian yang digunakan Danupaksi tadi.


"Dewa Linglung? Apakah anak muda itu adalah Pendekar Dewa Linglung yang mengaku berasal dari dasar bumi? Pantas saja, dia terlihat seperti orang hilang ingatan. Tapi kesaktiannya sulit diukur. Tapi dia baru saja berlutut memanggil anak muda itu dengan sebutan ketua. Apa maksudnya?" pertanyaan itu hanya dapat disimpan dalam hati saja oleh Sudra.


"Melawan pemuda lingkung ini saja kita sudah kewalahan, apalagi jika pemuda satu ini ikut campur. Bisa celaka kita" batin Sudra dengan jantung ketar ketir.


Sementara itu Ranjani segera menghampiri ayahnya yang telah terduduk lemas bersama dengan Ningrum. Macao dan Jaya Ruma tidak diam saja, mereka ikut bantu memapah ayah Ranjani sedikit menjauh dari tempat itu.


"Apa yang terjadi di sini, Danupaksi?" tanya Argadana sesudah meminta Danupaksi untuk bangun dari berlututnya.


Danupaksi menceritakan hal apa yang dilihatnya sampai akhirnya memutuskan untuk menolong ayah Ranjani hingga berujung pertarungan berat sebelah antara dirinya dengan komplotan Sudra.


"Jadi begitulah kejadiannya, kami terus bertarung sampai akhirnya Ketua datang kemari" kata Danupaksi mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


"Hahh.... Baiklah, aku sudah tau penyebabnya dari Ranjani, putrinya orang tua itu. Sekarang kita hanya perlu mengorek beberapa keterangan dari para prajurit murtad ini. Mereka ingin memberontak terhadap Datu Gumi dan merencanakan pembunuhan terhadap ayahku, Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya"


Argadana sedikit meninggikan suaranya ketika mengatakan hal itu. Dari nada bicaranya, tampaknya Argadana sangat membenci pada Sudra dan komplotannya.


Ya, hal itu tidak mengherankan mengingat dia keluar dari Kerajaan selain mencari ayahnya juga untuk menjalankan misi untuk menghabisi La Huda, pemberontak kerajaan.


Argadana melangkah mendekati Sudra dan anggota nya yang tersisa. Danupaksi mengikuti Argadana Dari belakang.


"Kalian tidak akan mati jika mau menjawab pertanyaan - pertanyaan dariku dengan jujur"


Sudra hanya diam tanpa menjawab.


"Katakan padaku, apa kau tahu kadipaten mana saja yang sudah terhasud oleh orang - orang yang tamak harta kekuasaan itu?" tanya Argadana.


"Puihh.... Meski kau bunuh sekali pun, aku tidak akan menjawab pertanyaanmu" bentak Sudra membuang ludah.


Plak....


Entah dari mana datangnya Danupaksi tahu - tahu telah berada di dekat Argadana dan dengan cepat melayangkan sebuah tamparan keras hingga dua buah giginya terlepas dan mulutnya mengeluarkan darah.


"Sopan lah sedikit kalau bicara dengan Ketua. Sekarang hanya gigimu yang tanggal, mungkin besok - besok kepalamu yang bakal berpisah dari badan" sentak Danupaksi lebih keras.


Argadana mengangkat tangan kirinya memberi isyarat agar Danupaksi diam dan tidak bertindak apa - apa dulu. Pendekar kita menatap anak buah Sudra yang tersisa dan bertanya.


"Apakah ada di antara kalian semua yang bisa menjawab pertanyaanku tadi?"


Tidak ada jawaban karena mereka semua takut dengan hukuman kejam yang akan diberikan oleh Sudra pada siapapun yang menentang keputusannya.


"Baiklah. Karena kalian tidak bersedia diajak bicara dengan cara halus, aku tidak punya pilihan selain menggunakan cara kasar" kata Argadana mengulum senyum.


"Paksi, ikat mereka dan gantung dengan posisi terbalik di pohon itu"


"Baik, Ketua..."


Danupaksi lalu bergerak dengan cepat dan sangat cekatan

__ADS_1


"Hey.... Apa yang kau lakukan, anak set4n?" teriak Sudra memaki - maki Danupaksi karena kecolongan hingga tidak dapat menghindari tepat waktu ketika Danupaksi bergerak gesit menotok tubuh Sudra dan anak buahnya hingga kaku.


"Sudah, kau diam saja. Tidak usah banyak melawan....


__ADS_2