
Wuss....
Rin Onikage melayangkan tendangan yang mengarah tulang rusuk kiri Jendral Thalaba yang terlihat sedikit lowong dengan gerakan kuat bertenaga dalam tinggi. Tendangannya membawa kesiur angin tajam menerpa tubuh Jendral Thalaba.
Sayangnya serangan tersebut gagal mengenai sasaran karena Jendral Thalaba segera berkelit lalu memberikan serangan balasan yang amat cepat dan tidak dapat dihindari oleh Rin Onikage.
Sembari berkelit dari tendangan Rin Onikage Jendral Thalaba mengangkat lututnya dengan cepat menghantam ulu hati hingga Rin Onikage terjengkang hampir jatuh. Pemuda itu memegang perutnya yang terasa mual.
Murid - murid Nakamura Hayate lainnya terkejut dengan serangan balasan Jendral Thalaba yang sangat cepat.
"Ini kemampuan orang yang meremehkan tuan muda? Kalian terlalu menyanjung diri kalian sendiri. Jurus - jurusmu masih mentah dan terdapat banyak celah. Kalian menjadi samurai terkenal selama ini hanyalah karena ada nama guru kalian yang menumpang di atas kepala kalian. Selebihnya, tidak ada pencapaian apapun yang bisa kalian banggakan" kata Jendral Thalaba dengan seringai mengejek.
"Banyak bicara... Keluarkan senjatamu, kusir hina" bentaknya meloloskan katana dari sarungnya yang tersampir di pinggang.
"Jangan kelewatan, Rin...!!!"
Kali ini Nakamura Hayate tidak lagi bisa menahan kemarahannya melihat sifat buruk muridnya itu dan berniat menghentikan pertarungan sebelum berlarut - larut menjadi adegan saling membunuh.
"Biarkan saja, orang tua... Karena kau kesulitan mendidik akhlak padanya, biar kusir hina ini membantumu agar murid bodohmu ini bisa lebih membuka matanya untuk memandang dunia yang lebih luas. Aku tidak perlu sampai menggunakan senjata untuk menghadapi alat jagal sapi seperti itu. Cukup aku hadapi dengan sepasang tanganku ini. Majulah...!!!" Jendral Thalaba menantang.
"Anak bodoh ini menantang Jendral Thalaba untuk menggunakan senjatanya. Memangnya sudah berapa usianya sehingga dia berani mengeluarkan kalimat seperti orang yang sudah bosan hidup itu?" rutuk Nila Sari dalam hati.
"Aku bahkan masih merinding jika duduk berdekatan dengan Jendral Thalaba. Orang ini tampaknya sudah terlalu lelah belajar ilmu pedang sampai dia jadi bodoh. Pantas saja berani menantang Jendral Thalaba" batin Surasena sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
Rin Onikage mendengus marah mendengar ucapan Jendral Thalaba yang terdengar merendahkannya.
"Sombong...!!! Aku mau lihat mau seberapa lama kau melawan ku tanpa senjata"
Jurus Tebasan Dewa Angin...!!!
Rin Onikage mengayunkan katana miliknya dengan sebat mengarah leher Jendral Thalaba. Jika orang lain yang menerima serangan itu maka mereka pasti mati dengan kepala terpisah dari badan. Namun yang dihadapi Rin Onikage kali ini adalah Jendral Thalaba, jendral perang dari Kerajaan Siluman Darah yang terkenal akan kesaktian dan kehebatannya dalam medan pertempuran.
Serangan ganas tersebut berhasil dikelit dengan mudah oleh Jendral Thalaba. Rin Onikage melihat perut Jendral Thalaba sedikit lowong segera menarik kembali katananya untuk ditusukkan ke perut.
"Bodoh...!!!" gumam Jendral Thalaba tersenyum meremehkan.
Rin Onikage tersenyum melihat Jendral Thalaba tidak menghindar. Dia berpikir serangannya akan mengenai sasaran. Nakamura Hayate juga wajahnya terlihat pucat pasi bagai tak berdarah.
"Anak bodoh ini. Dia akan membuatku dalam masalah jika kusir kuda itu sampai celaka di tangannya"
Nakamura Hayate ketika itu sudah bersiap - siap menghentikan pertarungan mereka.
__ADS_1
Trang...
Mata Nakamura Hayate melotot melihat katana yang sebentar lagi hampir menembus perut Jendral Thalaba patah setelah terjepit kedua tangannya.
Semua murid Nakamura Hayate terkejut dengan mulut menganga tidak terkecuali Rin Onikage sendiri. Senyumnya memudar berganti wajah panik. Keringat dingin mengaliri sekujur tubuhnya.
Duk...
"Ughh...!!!"
Rin Onikage terdorong mundur lima langkah terkena tendangan Jendral Thalaba.
"Ini yang kau sebut senjata?" ejek Jendral Thalaba.
"Di negeri kami benda seperti ini hanya biasa digunakan untuk menyembelih sapi. Tapi baiklah... Karena kalian menganggapnya sebagai senjata, maka akan kutunjukkan pada kalian bagaimana cara kami menyembelih sapi dengan benda ini. Lihat serangan...!!!"
Jendral Thalaba tanpa banyak bicara lagi segera membentuk kuda - kuda andalannya.
Jurus Angin Teluk Neraka...!!!
Tubuh Jendral Thalaba menghilang dari pandangan meninggalkan hawa panas yang sangat menyengat di area yang dilaluinya. Sunyi beberapa detik ketika tiba - tiba telah Jendral Thalaba muncul di belakang Rin Onikage menodongkan patahan katana dengan tatapan merendahkan.
Semua pandangan tertuju pada Rin Onikage yang sebagian pakaian bagian atasnya telah meleleh terkena hawa panas dari Jurus Angin Teluk Neraka yang digunakan Jendral Thalaba.
"Hmph... Begitulah cara kami menyembelih binatang di sana. Sehingga binatang - binatang di sana segan pada tuan muda kami"
Jendral Thalaba lalu melemparkan ujung patahan katana tersebut ke arah Sasaki Ichia yang tidak sempat bereaksi sedikitpun karena gerakan Jendral Thalaba terlalu cepat untuk bisa diimbangi olehnya.
Crab...!!!
Ujung patahan katana tersebut menembus dinding yang berjarak satu ruas jari dari leher Sasaki Ichia. Dinding yang amat tebal dan kokoh itu bahkan sampai berlubang mencetak bekas patahan katana.
Murid ketiga Nakamura Hayate itu menelan ludahnya dengan kasar. Dia kini akhirnya mengerti bahwa Jendral Thalaba sedang mengancamnya.
"Tuan muda kami masih berbaik hati padamu. Kau beruntung karena bertarung melawanku. Jika yang kau hadapi itu tuan muda kami mungkin kau tidak akan sempat menelan ludahmu barusan. Huh...!!!"
Argadana merasa tidak enak sudah mengacaukan tempat Nakamura Hayate segera membungkukkan badannya memberi hormat.
"Kita sudahi sampai di sini saja, tuan Nakamura Hayate. Guru sudah menawarkan Ilmu Pukulan Naga Murka dan murid - murid tuan menolaknya. Dengan demikian tugas kami telah selesai. Jadi kami mohon pamit, dan tolong maafkan perlakuan pelayan saya yang tidak mengenakkan tadi"
Belum sempat Naka Mura Hayate membalas hormat Argadana terdengar lah suara orang berteriak keras dari luar pekarangan rumah Nakamura Hayate.
__ADS_1
"Tuan Nakamura...!!! Cepat keluar, bawa anak - anak muda kurang ajar itu pada kami. Mereka harus memperranggung jawabkan perbuatan mereka pada ketua klan Tokugawa...!!!"
Raut wajah Nakamura Hayate seketika berubah mendengar suara teriakan di luar.
"Hmph... Orang - orang celaka itu lagi. Rupanya masih belum cukup kalau hanya membunuh tiga orang pengawalnya saja" gerutu Jendral Thalaba.
"Tu... Tunggu. Apakah kalian pernah tersandung urusan dengan klan Tokugawa?" tanya Nakamura Hayate dengan dengan tubuh berkeringat dingin. Betapa tidak, klan Tokugawa merupakan klan terbesar di Kota Shinshiro dan pengaruh mereka bahkan tersebar sampai di seluruh wilayah Kerajaan Naruhito. Meskipun klan Nakamura juga bisa disandingkan dengan klan besar seperti Tokugawa namun jika terjadi perang antar kedua klan itu bisa dipastikan klan Nakamura akan kalah karena ketua klan Tokugawa selain memiliki ilmu tinggi juga berhubungan dekat dengan para ninja yang konon merupakan organisasi yang dibentuk khusus menjadi pembunuh bayaran. Kekuatan mereka bahkan pihak kekaisaran sekalipun tidak berani mengusiknya.
Argadana lalu menceritakan apa yang terjadi di kedai makan beberapa hari yang lalu. Nakamura Hayate mengangguk - anggukkan kepala tanda mengerti.
"Ini masalah besar. Anak muda yang kalian hadapi itu adalah anak ketiga ketua klan Tokugawa. Namanya Tokugawa Denki. Ayahnya Tokugawa Chiro adalah seorang samurai nomor satu di Kerajaan Naruhito. Karena kekuatan ayahnya anak itu jadi besar kepala dan bertindak sewenang - wenang. Dan ayahnya hanya membiarkan saja sifat anaknya itu"
Nakamura Hayate menarik nafas dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
"Anak - anak Tokugawa Chirou yang lain juga sama. Mereka sama - sama pendendam. Anak muda... Kalian adalah murid - murid saudara angkatku, aku tidak ingin terjadi apa - apa pada kalian. Jadi bagaimana kalau kalian sementara bersembunyi saja dulu? Tidak usah memikirkan keadaan kami. Biar kami sendiri menghadapi klan Tokugawa. Aku bisa meminta bantuan pada klan untuk mengatasi hal ini"
Sasaki Ichia merasa keberatan dan ingin membantah perkataan gurunya namun terhenti oleh perkataan Surasena.
"Memangnya sehebat apa mereka itu? Apa mereka pikir pengaruh itu dapat memberi mereka kekuatan untuk menutupi langit dengan sayap mereka?Tuan muda... Jika tuan muda memberi kami perintah untuk membunuh, maka Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam tidak akan ragu untuk menumpahkan darah orang - orang sombong itu"
Argadana terdiam sebentar sembari berfikir langkah apa yang akan diambilnya.
"Jika mereka memang pendendam, itu artinya jika kami tidak melawan mereka akan terus mengejar kami. Lagi pula masalah ini mereka duluan yang memulainya." batin Argadana.
"Tuan Nakamura...!!! Jangan menguji kesabaran kami. Jika kau tidak segera keluar jangan salahkan kami kalau rumah tuamu ini kami hancurkan!!!"
"Kita lihat dulu tindakan apa yang akan mereka ambil. Kita akan keluar..."
Nakamura Hayate berniat mencegah Argadana tapi tidak keburu. Argadana telah menghilang di balik pintu.
Sesampainya di luar Argadana melihat tidak kurang dari lima puluh orang telah berkumpul di halaman rumah Nakamura Hayate. Wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan keramahan.
"Itu... Itu dia, paman... Anak muda itu yang menggertakku waktu itu. Dia benar benar sombong, tidak memandang wajah klan Tokugawa" kata seorang pemuda yang bukan lain adalah Tokugawa Denki adanya, pemuda yang pernah dicekik lehernya oleh Argadana.
"Jadi itu perbuatanmu, anak muda? Aku tidak mau banyak basa - basi lagi. Serahkan ketiga gadis itu dan patahkan kakimu, maka klan Tokugawa kami akan membiarkan nyawamu melekat di badan" berkata seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun berpakaian rompi warna hitam tanpa kancing yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang bidang dengan otot - otot perut yang tampak kokoh.
Orang itu bernama Tokugawa Takeshi salah satu anggota klan Tokugawa. Dia merupakan urutan ke tiga puluh dalam daftar orang terkuat di klan Tokugawa, masih termasuk saudara misan Tokugawa Chirou.
"Orang - orang ini tidak akan pernah sadar kalau belum diberi pelajaran, tuan muda. Biar kusir ini menghabisi mereka...!!!"
"Izinkan saya ikut, tuan. Saya juga ingin menjajal kehebatan orang - orang yang dikatakan orang terkuat di kota ini" kata Surasena menawarkan diri.
__ADS_1
"Saya juga ingin ikut, tuan...!!!" celetuk Nila Sari dengan senyum manisnya.
"Hmm... Apa yang mereka ancamkan tadi kepadaku mungkin sering juga mereka lakukan kepada orang lain. Jadi lakukan hal itu kepada mereka agar mereka merasakan sendiri bagaimana rasanya dipatahkan kakinya" perintah Argadana dengan suara keras menggelegar.