
Jurus Pedang Buta...!!!
Soma Ardipura berputar - putar bagai gasing melewati lautan musuh. Serangannya mengarah ke titik - titik terlemah di tubuh lawan - lawannya. Sejauh ini sudah ada ratusan orang ninja yang telah mati di ujung tombak trisula miliknya.
Wajahnya yang putih bersih kini terlihat merah karena banyak percikan darah para ninja yang telah dibunuhnya. Tidak jauh dari tempatnya berjarak sekitar dua puluh langkah Nakamura Hayate sedang tampak kesulitan menghadapi keroyokan para ninja sedangkan tenaganya perlahan - lahan mulai terkuras. Bukan saja karena lawannya yang sangat banyak, melainkan juga karena faktor usianya yang sudah lanjut dan tenaga dalamnya tidak setinggi lima ketua pecahan.
Saat itu Nakamura Hayate menerima sebuah tendangan telah di dadanya hingga tubuhnya melayang. Lalu Soma Ardipura berkelebat cepat menangkap tubuhnya.
"Beristirahatlah dulu sampai tenagamu pulih kembali. Mereka aku yang akan mengurusnya." kata Soma Ardipura lalu berbalik setelah mendudukkan Nakamura Hayate di depan pintu ruang pelatihan para murid.
Pukulan naga murka...!!!
"Wuss...!!!"
"Duarr...!!! Duar...!!"
Sepuluh larik sinar merah kehitaman berkelebat menyambar puluhan ninja yang tidak sempat menghindar. Hal itu bukan saja karena mereka terlambat menghindar melainkan juga karena jarak mereka terlalu dekat dengan kelima murid Nakamura Hayate yang ketika itu telah menyongsong mereka dengan pukulan naga murka. Maka dua puluh orang terdepan mati dengan tubuh hancur sementara yang lainnya puluhan orang lainnya jatuh tak sadarkan diri dalam keadaan luka parah terkena imbas dari pukulan naga murka.
"Hahhh...!!! Haaahh...!!!" terdengar suara Rikimaru terengah - engah.
"Ternyata... Memang benar... Ilmu pukulan naga murka menghabiskan banyak tenaga dalam" kata Rin Onikage terputus - putus.
"Yaa... Jika diberi kehidupan ke dua aku bersumpah tidak akan bermalas - malasan lagi dalam berlatih" timpal Sasaki Ichia.
__ADS_1
"Bruk...!!!" Kelima murid Nakamura Hayate menjatuhkan lutut mereka karena sudah tidak kuat berdiri.
"Aku pasrah bahkan jika aku harus mati setelah ini. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk bergerak. Tapi setidaknya namaku bisa diingat oleh murid - murid perguruan ini kelak sebagai salah seorang yang berjuang... Untuk perguruan tercinta kita" Kobayasi Tesshu berkata pelan.
"Anak bodoh... Apa yang kau fikirkan? Kalau kau bisa bertekad sekuat itu untuk menjaga perguruan tercinta, lalu kenapa kau harus pasrah dengan kematian? Jika kau bertekad kuat untuk melindungi perguruan, maka kau juga harus bertekad kuat untuk hidup demi perjuanganmu" Takahashi Rikimaru memotong dengan suara rendah.
"Jadi bagaimana kita akan melakukannya dengan tubuh tanpa tenaga seperti ini?"
"Peras....!!!"
"Peras???" Rin Onikage, Kobayashi Tesshu dan Sasaki Ichia berkata bersamaan.
"Ya...!!!" Jawab Rikimaru dengan suara desah nafas yang mulai teratur. Rupanya tenaganya sudah mulai pulih kembali.
"Akan kuperas...seluruh tenagaku dari masa depan...untuk kugunakan di hari ini demi hari esok, demi kita semua. Ya... Akan kuperas darah dan keringatku...untuk mempertahankan tekadku" Rikimaru perlahan mulai dapat bangkit berdiri. Entah dari mana asalnya kekuatan itu datang, tubuhnya tiba - tiba terasa sangat bertenaga.
"Ini yang dikatakan ketua tentang kekuatan perasaan. Seseorang yang menjaga perasaan sesamanya, ketika salah satu bertambah kuat maka yang lainnya juga akan mendapatkan hal yang sama. Itu adalah inti dari kekuatan sejati perguruan Anak Naga, yaitu kekuatan perasaan" kata Yamada Ayame yang telah memahami lebih dulu hakikat dari kekuatan perasaan.
"Jadi kita... Aagghh....!!!" Ucapan Yamada Ayame terputus karena seorang ninja dari arah belakang menyerangnya secara diam - diam tanpa terduga. Sebuah katana menembus tubuhnya dari belakang.
"Ayame...!!! Bangsat.... Kuhancurkan batok kepalamu...!!!" Takahashi Rikimaru berteriak marah hendak menghajar ninja pengecut itu.
"Matilah kau, gadis ******...!!!" Penyerang diam - diam itu mendengus kasar kemudian mencabut katananya tapi tanpa diduga sebelum dia sempat menghindari serangan, Yamada Ayame secepat kilat tanpa menoleh ke belakang menusukkan katananya yang menembus dada ninja itu.
__ADS_1
Rikimaru memangku Yamada Ayame jatuh dengan perut berdarah. Yang lainnya baru sadar dengan keadaan Yamada Ayame setelah tubuh gadis cantik itu terjatuh. Ketiganya kemudian berlari menghampiri saudari seperguruannya dengan wajah pucat karena khawatir. Mereka tidak lagi mempedulikan jalannya pertempuran.
"Ketua Zatou Natsu dan Ketua Tangka Uchuka telah tewas... Lari...!!! Selamatkan diri kalian...!!!" Teriakan panik terdengar begitu Zatou Natsu dan Tangka Uchuka ninja berpangkat tiga terbunuh oleh Brajamusti dan Aksara Buana. Perlawanan para ninja jadi mengendur dan mereka berusaha mencari jalan untuk melarikan diri, tapi tentu sja tidak dibiarkan oleh Surasena dan Nila Sari.
Sepasang Pendekar Suci berkelebat seperti terbang di atas kepala para ninja yang melarikan diri dan mendarat tepat di depan mereka.
"Kalian sudah datang kemari. Jadi jangan berfikir untuk bisa pulang kembali" tubuh Surasena dan Nila Sari mulai ditumbuhi banyak sisik. Uap hitam berbau amis mengepul keluar dari seluruh pori - pori kulit tubuh keduanya.
Sepasang Pendekar Suci lalu menerjang kumpulan para ninja yang sisanya tidak lebih dari sekitar tujuh puluh orang saja dari yang tadinya berjumlah sekitar seribu orang. Keduanya bertarung menggunakan jurus terkuat mereka untuk menghabisi musuh secepatnya. Maka dalam dua puluh jurus saja, semua ninja telah terbantai habis tanpa sisa.
"Yamada Ayame...!!! Kau bertahanlah, kita sudah menang. Para ninja itu sudah dibantai oleh para ketua pecahan dan tuan Sepasang Pendekar Suci. Kau harus bertahan, Ayame..." Rikimaru panik.
***
Argadana begitu terkejut dan sekaligus marah bukan main begitu dia sampai di perguruan dan melihat mayat - mayat para murid bergelimpangan tak tentu arah. Banyak bangunan perguruan yang terbakar hangus dan murid - murid yang terluka parah bahkan ada yang kehilangan sebagian anggota tubuh mereka.
Pemandangan miris ini membuat Ningrum dan Yalina menutup wajah karena merasa sedikit ngeri melihat perguruan yang baru beberapa hari mereka bentuk telah menjadi genangan darah. Jendral Thalaba hanya diam tanpa ekspresi.
"Klan Koga dan Manjidani...!!!" Aura pembunuh mulai merembes keluar dari tubuh Argadana.
"Aku tidak pernah mengusik kalian... Tapi kalian lebih dulu membuka urusan denganku. Aku tidak akan sungkan lagi untuk menumpahkan darah kalian!!!"
Pada saat itu bumi tiba - tiba terjadi gempa. Angin kencang bertiup menerbangkan beberapa batang pohon yang akarnya tak kuat menahan terpaan angin tersebut. Semua murid berteriak kalang kabut kebingungan.
__ADS_1
Kelima ketua pecahan tiba - tiba menjatuhkan lutut mereka dengan tubuh gemetar disusul juga dengan tindakan Surasena dan Nila Sari yang ikut berlutut.
"Kami kelima ketua pecahan tidak berguna sehingga banyak murid - murid kita yang menjadi korban keganasan para ninja itu. Kami bersedia menerima hukuman" ucap kelima orang itu bersamaan sedang Surasema dan Nila Sari hanya diam saja dalam posisi berlututnya.