
Sudah enam hari berlalu sejak peringatan tombak emas diluncurkan Argadana. Klan Koga dan Manjidani tampaknya memang tiada niatan untuk meminta maaf seperti yang sudah diduga oleh Argadana.
Dalam waktu enam hari itu pelatihan para murid Perguruan Elang Emas di bawah bimbingan Argadana tidak sia - sia. Bahkan beberapa murid yang cukup berbakat kini telah dapat menggunakan ilmu api salju yang memerlukan tenaga dalam cukup besar.
Mengingat besok lusa akan menjadi hari pertarungan mereka melawan Klan Koga dan Manjidani hari ini Argadana tidak lagi menerapkan latihan pada murid - murid.
Sebagai gantinya mereka harus mempersiapkan diri dan mental untuk menyerang klan ninja di Kunung Koga dan Gunung Manjidani.
Saat itu pagi telah beranjak dan bayangan matahari telah berukuran sepanjang dua tombak. Pangeran Fujihira tiba di Perguruan Elang Emas. Kali ini dia hanya membawa pengawal pribadinya dengan menunggang kuda mereka masing - masing.
Pangeran Fujihira Fukiaezu nampak gagah dengan pakaian lazimnya para samurai, tidak nampak sama sekali kalau dia adalah pangeran dari sebuah kekaisaran besar.
"Saya telah mempelajari Kitab Pedang Matahari. Setelah saya kaji lebih dalam lagi saya menemukan perbedaan yang mencolok antara ilmu pedang yang selama ini saya amalkan. Pemahaman saya terlalu dangkal, tetapi tiga hari membaca kitab pedang matahari membuat saya menyadari bahwa ilmu pedang itu bagai jurang tanpa dasar. Jadi dengan banyak pertimbangan, saya sudah memutuskan untuk beralih pada ilmu pedang tunggal. Meskipun untuk itu saya harus memulainya lebih dulu dari ilmu yang paling dasar. Tolong terimalah saya sebagai murid..." Pangeran Fujihira Fukiaezu menjatuhkan kepalanya di lantai dan bersujud di depan Argadana dengan penuh keyakinan.
"Bangunlah, pangeran...!!! Kau sudah bertindak berlebihan" Argadana mengibaskan tangannya pelan.
Pangeran Fujihira yang tengah bersujud itu merasakan seperti ada sebuah tenaga besar yang mendorong paksa tubuhnya sehingga tidak bisa di tahan lagi dia kemudian terduduk.
"Jika pangeran sudah membulatkan keputusan seperti itu maka bersiaplah. Siang nanti kita akan mengadakan ritual pengangkatan murid yang akan disaksikan langsung oleh seluruh anggota Perguruan Elang Emas agar kau mendapat pengakuan langsung dari lima ketua pecahan" kata Argadana pelan.
"Ehh.... Te... Terimakasih, guru. Murid ini akan segera bersiap" balas Pangeran Fujihira menundukkan badannya.
Siang itu matahari telah tengah bersinar dengan teriknya. Seluruh murid Perguruan Anak Naga berkumpul di depan panggung ritual. Di atas panggung terlihat para tetua bersama Argadana dan Pangeran Fujihira.
Pangeran Fujihira Fukiaezu tampak gagah dengan pakaian berwarna biru berlambangkan naga kecil di dada kirinya.
Ya... Pakaian itu merupakan seragam khas yang merupakan lambang khusus di perguruan Anak Naga. Hanya ketua dan murid - murid pribadinya yang boleh menggunakan seragam itu sebagai penanda identitas khusus mereka.
Putra tertua Kaisar Shenju duduk menekuk lutut di atas sebuah altar batu dengan kepala tertunduk. Di depannya berdiri Argadana dengan wajah dan sikap berwibawa.
Seorang murid wanita datang dengan membawa sebuah baki perak yang di atasnya terdapat sebuah benda berbentuk bulat berlapis emas. Di tengah - tengahnya nampak sebuah gambar naga. Itu adalah lencana tanda keanggotaan perguruan.
__ADS_1
Argadana mengambil lencana tersebut dan berkata dengan lantang diringi pengerahan tenaga dalam tinggi hingga suaranya dapat didengar jelas oleh semua orang yang hadir dalam acara yang sakral tersebut.
"Fujihira Fukiaezu...!!! Dengan disaksikan oleh Sang Yang Maha Kuasa pencipta seluruh semesta. Hari ini aku, Lalu Argadana mengangkatmu sebagai muridku. Lakukan sumpahmu...!!!"
"Hari ini dengan disaksikan oleh langit dan bumi aku, Fujihira Fukiaezu bersumpah untuk setia pada perguruan dan akan mengamalkan seluruh ilmu di jalan kebenaran"
Pangeran Fujihira menerima lencana naga emas tersebut. Argadana lalu mengangkat bahunya hingga murid pertamanya itu berdiri sejajar dengannya.
Setelah berdiri Pangeran Fujihira beralih ke arah murid - murid yang lain dan memandang mereka dengan senyuman. Dia lalu mengacungkan tangan dan menunjukkan lencana naga emas miliknya yang baru.
"Kalian semua mungkin terbiasa memanggilku dengan sebutan statusku sebagai pangeran kekaisaran. Tetapi hari ini aku telah menjadi bagian dari perguruan. Kalian boleh memanggilku pangeran jika aku menggunakan pakaian kebesaranku. Tapi selama aku menggunakan seragam ini maka kalian panggil saja namaku, atau kalian boleh memanggilku saudara" teriak Pangeran Fujihira.
Pidato singkatnya itu membuat para murid lain merasa senang bukan main. Dengan diterimanya Pangeran Fujihira itu artinya mereka mendapatkan salah seorang calon kaisar sebagai saudara seperguruan. Pasalnya di zaman itu berlaku yang namanya pengaruh lebih mengerikan daripada kekuatan.
Seseorang yang mempunyai pengaruh luar biasa bahkan dapat menekan seseorang yang memiliki kekuatan besar. Dengan adanya Pangeran Fujihira bergabung di perguruan mereka, tentu saja pengaruh perguruan yang belum lama terbentuk itu akan melejit di dunia persilatan.
***
Tiga hari mempelajari ilmu yang terkandung di dalam kitab pedang matahari berjalan dengan lancar sampai pada hari ke tiga Pangeran Fujihira mengalami kesulitan untuk memahami isi dari kitab pedang matahari.
Hari ini dia datang untuk mempertanyakan perihal tersebut kepada Argadana sekaligus meminta bimbingan.
"Hmm...!!! Kitab pedang matahari mengajarkan ilmu pedang mematikan. Bahkan di dalam keluargaku, siapapun yang dapat menguasai isi ilmu pedang matahari dengan sempurna dia akan menjadi pendekar pedang tanpa tanding"
Argadana lalu melompat ke sebuah pokok kayu yang cukup besar dan turun dengan tangan menggenggam sebatang ranting kecil berukuran seperti jari kelingking.
"Pada tahap akhir penguasaan ilmu pedang matahari apapun bisa dijadikan pedang"
Setelah berkata demikian Argadana menggerakkan tangan yang memegang ranting dan melakukan tebasan datar.
Ranting tersebut melewati pohon besar yang tadi. Beberapa detik kemudian pohon tersebut roboh menyisakan sisa bekas tebasan yang sangat rapi.
__ADS_1
Pangeran Fujihira membelalakkan matanya. Mulutnya menganga melihat ranting kecil yang digenggam gurunya itu sanggup memotong pohon pohon besar dengan jejak potongan yang sangat rapi.
"Jadi itu artinya seorang pendekar pedang akan tetap menjadi pendekar pedang meskipun tidak menggenggam pedang, guru?"
"Tentu tidak sepenuhnya begitu. Tahap akhir itu adalah untuk hanya untuk memperkuat batin seorang pendekar pedang agar tidak terlalu bergantung pada pedangnya sebab walau bagaimanapun pedang tidak lebih hanyalah benda mati"
Pangeran Fukiaezu manggut - manggut mendengarkan arahan Argadana.
"Baiklah... Sudah diputuskan... Murid ini akan berlatih dengan giat hingga mencapai penguasaan tahap akhir ilmu pedang matahari" serunya bersemangat.
"Hmm...??? Kau akan mempermalukan aku di hadapan dunia persilatan jika tujuanmu hanya untuk mencapai tahap akhir dari ilmu pedang matahari" kata Argadana tersenyum.
"Ehh??? Ada apa, guru?" kejut Pangeran Fujihira.
"Bukankah tahap akhir itu adalah puncaknya dari ilmu pedang matahari? Lalu apa yang membuat guru merendahkan pencapaian itu?" pangeran itu membatin dalam hati.
Sementara itu Argadana hanya menggelengkan kepalanya. Pandangannya tertuju ke depan dengan wajah serius.
"Sesungguhnya masih ada satu tahapan lagi di atas penguasaan akhir, yaitu penguasaan sempurna. Jika kelak kau mencapai tahapan ini maka kau akan dapat berkomunikasi langsung dengan matahari itu sendiri dan dapat meminjam kekuatannya dalam pertarungan berat"
"Ikhhh....!!! Semengerikan itu, guru?" tanya Pangeran Fujihira terkejut bukan kepalang.
"Untuk itulah dibuat teka - teki yang sangat rumit di kitab pedang matahari pada bab ke tiga. Jika orang luar memaksakan diri melatih ilmu pedang matahari tanpa izin maka bab ke tiga itu akan menuntunnya untuk menemui kematian karena semua tekhnik di situ akan membalik aliran darah di tubuh penggunanya"
Fujihira Fukiaezu kali ini berubah pucat pasi wajahnya. Dia baru mengerti mengapa gurunya memberi dia waktu tiga hari untuk coba mempelajari kitab ilmu pedang matahari.
Ternyata waktu yang akan dihabiskan Pangeran Fujihira untuk mempelajari kitab ilmu pedang matahari itu sudah diperhitungkan dengan baik oleh Argadana sehingga tepat di hari ke tiga itulah murid pertamanya itu mengalami hambatan dalam pemahamannya.
"Ternyata guru waktu itu telah mengujiku secara diam - diam. Sebab beliau tahu jika aku melarikan kitab itu dan tidak mengembalikannya aku akan mati karena tidak adanya pemahaman pada bab ke tiga"
Membayangkan hal itu saja membuat meremang bulu tengkuk Pangeran Fujihira.
__ADS_1