
Pertarungan antara Surasena melawan Pendekar Abadi telah mencapai jurus ke lima puluh. Surasena terlihat kepayahan menghadapi permainan pisau Pendekar Abadi yang sangat lihai itu. Bukan karena tidak dapat menyarangkan serangannya di tubuh Pendekar Abadi, melainkan karena senjatanya akan membal seolah tubuh Pendekar Abadi itu seperti karet.
Karena sedikit putus asa, Surasena menebas kembali tubuh Pendekar Abadi dengan seluruh tenaga dalamnya berharap kekebalan tubuh musuh dapat tertembus olehnya. Namun hasil akhirnya juga tetap sama.
Karena besarnya tenaga dalam yang digunakan Surasena sewaktu mengayunkan Pedang Naga Hitam, pedang tersebut sampai terlepas dari genggaman tangannya dan menancap di tanah dalam jarak beberapa langkah dari Surasena.
Pendekar yang baru saja bertaubat itu terlihat memandang pedangnya dengan tatapan kosong. Dia tidak percaya sama sekali bahwa senjata yang selama ini dibangga - banggakannya ternyata tidak mampu menembus kulit seorang pendekar tua.
Tubuh nya gemetar, sementara itu keringat dingin membasai tubuhnya.
"Takut?? Aku merasa takut? Apakah ini yang namanya rasa takut?" batin Surasena.
"Ka... Kakang Surasena bisa gemetar ketakutan" desis Nila Sari tidak percaya.
"Hehehe.... Sudah kubilang, segala macam senjata tidak akan mampu melukai tubuhku" kata Pendekar Abadi disertai seringai mengejek.
"Jangan kecewa pada pedangmu. Jalan yang kau tempuh sudah benar, dia hanya memberimu pelajaran kecil sebagai hadiah pembuka taubatmu" kata Argadana terdengar nyaring di telinga Surasena.
"Rasa takut itu tidaklah buruk. Dengan kau merasa takut, kau akan tahu di mana letak kelemahanmu. Dan setelah kau mengetahui kelemahanmu, kau akan menjadi lebih kuat"
Kali ini seperti mendapat semangat baru, Surasena mencabut kembali Pedang Naga Hitamnya yang yang tadi tertancap di tanah.
Raut wajah Pendekar Abadi tampak sedikit berubah melihat hal itu namun berusaha ditutup - tutupi. Surasena memang tidak menyadari perubahan raut wajah Pendekar Abadi yang hanya sebentar tadi, tapi tidak dengan Argadana.
Pertarungan kembali dilanjutkan. Surasena menyerang dengan Pedang Naga Hitam. Tapi kali ini reaksi Pendekar Abadi sedikit berbeda.
__ADS_1
Jika pada pertarungan awal tadi dia selalu mengabaikan serangan Pedang Naga Hitam Surasena, kali ini dia tampak menangkis atau menghindar. Hal itu tidak luput dari perhatian Argadana.
'Jurus Naga Hitam Mengejar Awan'
Tubuh Surasena bergerak sangat cepat melakukan tebasan menyilang. Tidak disangkanya, serangan kali ini yang dia tidak yakin bisa menggores tubuh Pendekar Abadi justru dapat melukai dengan parah tubuh jangkung itu.
"Ughhh..... Kau... " Kata Pendekar Abadi terputus karena Surasena telah melancarkan serangan lagi.
Surasena semakin bersemangat menyerang Pendekar Abadi dengan Pedang Naga Hitam.
"Dari tadi, pedang kakang Surasena bahkan tidak mampu memberi goresan kecil di tubuh lawannya. Tapi kenapa sekarang jadi bisa?" gumam Nila Sari seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
"Bumi adalah kelemahan dari ilmu kebal yang dianut oleh orang tua itu. Tadi raut wajahnya terlihat berubah ketika Surasena mencabut pedang itu yang sempat tertancap di tanah. Kemudian tebasan yang baru saja melukainya menambah besar keyakinanku akan hal itu" kata Argadana.
Buk.. Dess...
"Uhukk... Uhukk... "
Pendekar Abadi terbatuk darah. Tampaknya ilmu kebal yang selama ini dibangga - banggakannya telah mampu ditembus oleh Surasena. Tendangan dan pukulan beruntung yang dilancarkan Surasena tadi menggedor dadanya dengan sangat keras menyebabkan luka dalam yang tidak ringan.
"Kau berhasil memecahkan rahasia ilmu kebalku, anak muda. Aku mengaku kalah. Tapi sebagai sesama pendekar, kau tentu tahu bahwa harga diri seorang pendekar itu adalah harga mati" kata Pendekar Abadi seraya menyeka darah di bibirnya.
"Jadi bagaimana?" tanya Surasena.
"Aku akan menggunakan ilmu pamungkasku. Jadi meskipun aku harus mati, setidaknya aku mati dalam keadaan terhormat"
__ADS_1
Pendekar Abadi bangkit membentuk kuda - kuda kokoh. Seluruh tenaga dalamnya dialirkan ke lengan kanan. Beberapa detik kemudian, lengan kanannya berubah warna menjadi kebiru - biruan.
Sementara itu Surasena yang melihat musuh telah menggunakan ajian pamunkasnya segera menyiapkan pula ajian pamungkasnya. Tampak dari ujung kuku hingga bagian sikunya berubah kehitaman.
"Bersiaplah,Surasena. Ini adalah ilmu andalanku, Pukulan Petala Langit. Hiahh.... "
Pendekar Abadi mendorong tangannya yang telah terkepal ke depan dengan tenaga dalam penuh.
Dari kepalan tangan itu melesat seberkas sinar berwarna kebiru - biruan ke arah Surasena.
"Pukulan Naga Hitam. Hiatt.... "
Surasena menggunakan pukulan yang sebelumnya telah dikalahkan oleh Argadana.
Cahaya hitam dari Pukulan Naga Hitam milik Surasena melesat cepat menghantam cahaya kebiruan milik Pendekar Abadi. Akibatnya...
Duar...
Sebuah ledakan keras terdengar menerbangkan dua sosok tubuh ke arah berlawanan.
Surasena jatuh terduduk dengan wajah pucat dan memuntahkan darah segar. Dia segera bersamadhi untuk memulihkan luka dalam yang diterimanya akibat benturan tadi.
Sementara Pendekar Abadi keadaannya sangatlah buruk. Tubuhnya melepuh mengeluarkan asap berbau sangit. Pendekar tua aliran hitam itu mati dalam keadaan mengenaskan.
Pada hari itu langit kembali menjadi saksi kematian seorang Pendekar tua yang sombong. Akhirnya dia terbunuh juga karena ilmu kebalnya sendiri yang menyebabkan Pedang Naga Hitam milik Surasena sampai membalas dan jatuh menancap di tanah dan membuka tabir penghalang gaib ilmu kebalnya.
__ADS_1