
"Ini adalah jurus andalanku, saudara Argadana. Jadi berhati - hatilah...!!!"
Pangeran Fujihira menarik kaki kanan ke belakang lurus dan kaki kiri tertekuk membuat kuda - kuda kokoh dengan tubuh sedikit condong ke depan sedang pandangan matanya tajam mengawasi gerak - gerik Argadana yang masih terlihat sangat tenang.
"Tidak kusangka pangeran pertama akan sangat menghargai pemuda ini sampai sebegitunya" bergumam salah seorang pengawal Pangeran Fujihira yang bernama Yamashura.
"Benar...!!! Setahuku selama pangeran mengembara memburu penjahat - penjahat yang membuat rusuh di wilayah kekaisaran tidak banyak lawan yang dapat bertahan hidup setelah terserang jurus itu" menjawab pengawal lain di sebelahnya.
"Bertahan hidup juga pastinya terluka parah. Serangan jurus itu tidak bisa ditangkis, juga sangat sulit untuk dihindari"
Di arena pertarungan Argadana tampak memasang kuda - kuda bertahan dengan mata menatap tajam. Hal ini menandakan bahwa Argadana telah memasang kewaspadaan tinggi.
Jurus pedang akhirat...!!!
Pangeran Fujihira menggunakan gerakan langkah kaki yang terlihat aneh. Kakinya melangkah ke kanan sedangkan tangannya menebas ke arah berlawanan dari atas ke bawah. Pemandangan itu membuat Argadana merasa terhimpit dari sisi kiri, kanan, dan depan.
"Serangan ini menutup semua jalan untuk menghindar. Jika ditangkis dia mendapat keuntungan karena senjatanya berada di atas. Setelah senjata beradu serangannya akan berganti dengan tebasan datar. Ini sangat berbahaya" batin Argadana takjub melihat serangan aneh lawan sempat membuatnya bingung.
"Satu - satunya jalan adalah menghindar ke belakang. Tapi langkah kaki itu tampaknya sangat aneh. Biar kucoba saja...!!!" berfikir demikian Argadana melompat mundur ke belakang.
Sayangnya justru hal itulah yang sejak tadi ditunggu - tunggu oleh Pangeran Fujihira. Saat tubuh Argadana dalam posisi di udara segera saja pangeran tertua itu mengubah gaya serangannya. Setelah menjejakkan kaki di tanah tubuhnya melenting mengejar tubuh Argadana dengan dua tebasan cepat menyilang.
Terkejut Argadana bukan main melihat dari dua tebasan katana Pangeran Fujihira mencuat dua buah energi pedang berwarna putih perak. Bersamaan dengan energi pedang itu terdengar juga dua buah angin tajam menderu ke tubuh Argadana.
__ADS_1
Dengan menggunakan jurus nafas siluman tubuh Argadana yang tadinya berada di udara bagai meminak angin kembali melompat setinggi dua batang tombak dan mendarat di tanah tanpa menimbulkan suara.
Tercengang Pangeran Fijihira dan para pengawalnya melihat Argadana berhasil menghindari serangannya yang mematikan tanpa tergores sedikitpun.
"Apa - apaan tekhnik itu? Dia seperti bisa menginjak angin melompat dalam keadaan masih berada di udara. Apa dia benar - benar manusia?" keheranan semua orang yang tengah menyaksikan pertarungan tersebut. Kecuali orang - orang yang sudah sejak lama bersama Argadana tentunya.
"Saudara sungguh hebat dapat menghindari serangan itu dengan mulus. Saya sungguh kagum. Bahkan saya sendiri tidak yakin bisa menghindari serangan itu dengan mulus" puji Pangeran Fujihira tulus tampa menyembunyikan kekagumannya.
"Ahh...!!! Itu hanya keberuntungan saja, pangeran" kata Argadana merendah.
"Hmm...! Baiklah, semua tekhnik yang sudah kukuasai dapat kau patahkan dengan baik. Jadi itu secara tidak langsung sudah membuktikan bahwa aku kalah darimu. Tapi aku ada sedikit permintaan, entah saudara Argadana bersedia menolong atau tidak..."
"Selama itu masih dalam jangkauan saya, maka saya akan berusaha membantu. Pangeran pangeran tinggal sebutkan saja...!!!" potong Argadana.
Ucapan dan tindakan pangeran tertua Kekaisaran Jepang itu bagai kilat di siang bolong menyambar di telinga mereka yang menyaksikan akhir dari pertarungan sengitnya dengan Argadana.
Di antara mereka yang paling terkejut adalah pengawal - pengawal Pangeran Fujihira dan Argadana sendiri.
"Pangeran bahkan sampai membungkukkan badan ingin menjadikannya guru. Anak itu sungguh hebat" bergumam pengawal Pangeran Fujihira.
"Bangunlah, pangeran...!!! Martabatmu sebagai seorang bangsawan akan runtuh jika orang luar melihat hal ini. Aku tidak pantas menjadi gurumu" kata Argadana.
"Tidak...!!! Aku tidak akan bangun sampai pendekar mau menerimaku sebagai murid" Pangeran Fujihira tetap bersikeras tidak mau berhenti membungkukkan badannya.
__ADS_1
Argadana hanya menggeleng pelan melihat putra Kaisar Shenju yang keras kepala.
"Dia tampaknya seorang pecandu dan bakatnya cukup besar. Setidaknya setingkat di bawah Yamada. Tidak buruk menjadikan dia murid, tapi..." Argadana mau saja menerima Pangeran Fujihira sebagai muridnya tapi yang menjadi pertimbangan adalah orang - orang istana kekaisaran terutama Kaisar Shenju sendiri apakah akan setuju putra nya berguru pada orang yang seusia dengan putranya.
Yang dikhawatirkan adalah nantinya akan terjadi banyak hal yang dapat membawa akibat buruk bagi perguruan yang baru saja dibangunnya karena banyak pihak yang merasa iri. Pihak - pihak yang merasa tersaingi tentu akan melakukan segala cara untuk menghancurkan citra Perguruan Elang Emas.
"Maafkan saya, pangeran. Saya bukannya menolakmu... Hanya saja saya rasa pangeran pasti paham betul kalau kami ini hanyalah sekelompok kecil. Dan lagi perguruan ini masih baru - baru ini kami bangun. Apakah pangeran sudah memikirkannya dengan matang?" tanya Argadana meyakinkan.
"Aku tahu apa maksud pendekar... Tetapi aku bukanlah orang yang memandang ketenaran sebagai sebuah tolak ukur untuk suatu kekuatan. Banyak perguruan besar yang amat terkenal sudah kudatangi dan aku hanya mendapatkan kekecewaan karena mereka hanya pandai memamerkan jumlah murid mereka. Tetapi Perguruan Elang Emas ini masih baru berdiri tapi sudah sanggup melawan badai besar yang menimpanya secara mendadak. Karena itu aku percaya, dengan berguru di Perguruan Elang Emas maka aku akan dapat menemukan jalan pedangku yang sesungguhnya"
"Lalu bagaimana dengan konsekuensinya?" pertanyaan Argadana mengejutkan Pangeran Fujihira.
Pangeran Fujihira mengerti arti pertanyaan Argadana tentang konsekuensi itu adalah mengenai ilmu pedang yang sudah dipelajarinya.
Dia adalah seorang samurai. Tentu tekhnik berpedangnya menggunakan tekhnik dua tangan, sementara Argadana hanya menggunakan tekhnik berpedang satu tangan. Maka untuk berguru padanya tentu harus memulai lagi dengan pelatihan awal karena dia tidak memiliki dasar untuk tekhnik pedang satu tangan.
Jika dia menekuni tekhnik berpedang satu tangan maka pastinya ilmu pedang dua tangan miliknya akan menjadi kurang efektif karena tidak pernah dilatih.
"Aku tidak mungkin mempelajari dua tekhnik aliran pedang sekaligus. Bisa - bisa aliran tenaga dalamku jadi kacau nantinya" batin Pangeran Fujihira gundah.
Sementara Pangeran Fujihira kebingungan itu Argadana merogoh sesuatu di balik pakaiannya. Setelah dikeluarkan tangannya menggenggam sebuah kitab tebal yang terlihat sudah lapuk saking tuanya.
Kitab itu adalah kitab ilmu silat yang terdapat di perpustakaan ilmu Kerajaan Siluman Darah. Di sampul kitab tersebut tertulis Kitab Pedang Matahari. Sengaja dibawa Argadana untuk dipelajari agar wawasannya tentang tekhnik pedang menjadi semakin terasah.
__ADS_1
"Ini adalah kitab yang memuat beberapa jurus berpedang. Pangeran bisa mempelajarinya di istana selama tiga hari. Jika pangeran sudah memikirkan dengan pertimbangan sabaik - baiknya, maka pangeran boleh kembali dan memberikan jawabannya"