Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Naga Iblis


__ADS_3

"Leluhur.. Leluhur... Gawat, leluhur..."


Seorang murid Perguruan Tengkorak Darah berlari dengan tergopoh - gopoh ke hadapan La Huda yang tengah meminum arak untuk menenangkan gejolak batinnya karena rencana yang telah disusunnya selama bertahun - tahun jadi berantakan hanya karena seorang pemuda belaka.


Kedatangan murid Perguruan Tengkorak Darah itu menambah kusut wajah La Huda. Dia seketika membentak marah pada murid itu.


"Apanya lagi yang gawat, murid bodoh"


Yang dibentak hanya tertunduk dengan tubuh gemetar karena takut dengan kemarahan sang leluhur perguruan. Dia tahu benar apa konsekuensi yang harus diterimanya jika leluhur pendiri Perguruan Tengkorak Darah itu sampai terpancing kemarahannya. Ganjarannya tidak lain adalah kematian.


"Pe.. Pemuda sakti yang memimpin orang - orang Perguruan Anak Naga itu membantai puluhan orang murid - murid perguruan kita, leluhur" jawabnya gugup.


"Pemuda? Pemuda mana lagi yang kau maksud? Bukankah aku sudah memberi perintah pada Singa Maruta untuk mengurus anak itu?" kata La Huda setengah tidak percaya.


"Eh... Ke.. Ketua di hadang oleh seorang kakek berilmu tinggi. Kakek itu mengaku sebagai guru pemuda yang dihadapi ketua. Dan masalah yang baru - baru ini muncul juga beberapa ekor ular raksasa sebesar pohon kelapa. Ular - ular itu sedang dikepung oleh seratus orang pendekar tua yang seharusnya memimpin anggota - anggota aliansi aliran hitam. Akibatnya anggota aliansi sudah hampir habis terbantai oleh para pendekar berilmu tinggi dari aliran putih."


Brak...


La Huda menggebrak meja di depannya hingga hancur berantakan saking marahnya. Wajah La Huda merah padam tampak beringas.


"Siapa lagi yang usil berani mencampuri urusanku? Setahuku orang - orang yang sok suci yang mengaku dari aliran putih itu tidak ada yang mengambil profesi sebagai pawang ular. Jangan - jangan..."


Hati La Huda mulai terasa was - was.


"Bagaimana ciri - ciri ular raksasa yang ditangani oleh seratus orang itu?" tanyanya lagi.


"Emm... Ular - ular itu bermacam warnanya. Ada yang berwarna kuning, sisiknya berkilauan seperti emas. Ada juga yang berwarna hijau. Ehh... Yang paling mencolok adalah ular - ular itu bertanduk dan memiliki kumis di mon..."


Belum selesai murid itu bercerita La Huda memotong kalimatnya dengan bentakan keras.


"Bodoh...!!! Itu namanya naga. Jika benar itu adalah mereka, artinya sembilan pusaka naga akan segera terkumpul di sini" gumam La Huda dengan nada sedikit panik.

__ADS_1


"Tampaknya ini sudah saatnya dia keluar. Baiklah... Kau pergi bantu anggota perguruan kita yang lain. Untuk naga itu akan kuurus secepatnya"


La Huda lalu duduk bersila menutup matanya mengambil sikap bersemedi. Setelah hening selama sepenanakan nasi mengepul asap tebal menutupi seluruh tubuh La Huda.


Tidak lama kemudian pengkhianat dari Kerajaan Siluman Darah itu membuka matanya. Di depannya kini telah terlihat sosok seekor naga berwarna hitam belang putih yang tampak amat ganas. Matanya hitam menatap tajam La Huda.


"Ada apa kau mengganggu tidurku, La Huda?" suara naga tersebut terdengar berat.


"Ehm... De.. Dewa Naga... Tampak nya sembilan naga yang menjadi musuh bebuyutanmu sekarang telah mulai berkumpul kembali. Beberapa di antaranya sudah berada di luar sekarang. Orang - orangku sedang berusaha menahan mereka di medan peperangan"


"Hmph... Kau pikir orang - orangmu sanggup melawan para naga itu? Kau terlalu meremehkan mereka, La Huda" kata naga yang disebut Dewa Naga kepada La Huda.


Ya... Dewa Naga yang dimaksud La Huda itu tidak lain adalah si Dewa Iblis yang dulu pernah membantai ras para naga namun tumbang di tangan seorang pengawal Raja Kerajaan Siluman Darah yang bernama Kamandaka (Baca di eps. 'Masa Kelam Sembilan Naga'.


Dewa Naga alias Naga Iblis melarikan diri ke tempat yang amat jauh karena merasa ngeri dengan kekuatan orang yang dilawannya terakhir kali sampai dia terluka begitu parah, selain juga takut akan balas dendam dari sembilan Naga yang tersisa. Dia terus berlari selama berhari - hari sampai akhirnya kehabisan tenaga jatuh terperosok ke dalam jurang.


Karena merasa tempat persembunyian teraman adalah jurang itu, maka Naga Iblis memutuskan tinggal di sana untuk memulihkan diri.


Sekitar seratus tahun kemudian La Huda yang ketika itu terluka sangat parah oleh serangan sembilan naga melarikan diri hingga ke tepi jurang tersebut dan tanpa sengaja bertemu dengan Naga Iblis yang mengaku sebagai Dewanya para naga. Setelah menceritakan kejadian yang menimpanya Naga Iblis mengerti dan akhirnya keduanya bersepakat membuat persekutuan dengan tujuan saling membantu urusan masing - masing.


"Hmm... Kau sendiri bukankah pernah juga merasakan kemampuan mereka? Atau apakah kau sudah lupa kalau kau adalah ras siluman yang memiliki ketahanan berbeda dengan manusia?"


"Eh...??? Tapi bagaimana mereka bisa menahan para naga itu sampai sekarang?" La Huda seolah berbicara pada dirinya sendiri.


"Bodoh... Itu artinya mereka hanya ingin bermain - main dengan para manusia lemah itu. Tapi sudahlah, aku juga tidak perduli. Yang penting aku akan menuntaskan dendam ku hari ini juga"


***


"Kakang... Apa kita akan ikut berperang? Dan bagaimana kita mengetahui siapa yang harus kita lawan?"


Seorang gadis cantik berkulit bak kapas bertanya dengan suara keras agar suaranya dapat terdengar oleh pemuda di depannya karena angin yang sangat kencang.

__ADS_1


"Kita harus melapor dulu pada ketua Sembilan Pendekar Naga, dinda. Jadi... Naga Bumi, kita temui ketua dulu..." kata sang pemuda itu. Dan kedua muda - mudi itu ternyata sedang berdiri di atas punggung seekor naga. Siapa mereka, tentu kita sudah tahu bahwa mereka adalah Wirayuda dan istrinya Ayu Kenanga.


"Baik, tuan..."


Naga Bumi lalu mengepakkan sayapnya dengan kencang menuju tempat Argadana.


Begitu Wirayuda sampai di tempat Argadana dan Yalina menyusul berturut - turut tiga orang Pendekar Naga lainnya yaitu Si Naga Kembar dan seorang lagi lelaki yang tampak berusia sebaya dengan mereka bernama Handan Gumara dari Curug Seribu Ular.


Pemuda ini adalah pemegang Pusaka Naga yang terakhir bernama Kipas Pelangi Salju yang dihuni oleh Naga Giok.


Akhirnya keempat orang yang baru tiba itu secara serempak melaporkan kedatangan mereka pada Argadana.


Saat Argadana hendak membuka mulutnya, tiba - tiba sebuah tekanan tenaga dalam yang sangat besar terasa mendekat membuat semua orang yang sedang berperang meningkatkan kewaspadaan mereka.


"Kekuatan dari mana lagi ini? Jangan bilang ini juga bantuan dari aliran putih"


"Lihat... Ada seekor naga berwarna hitam belang putih datang dan melawan lima ekor naga yang sangat kuat itu"


"Ahh... Ya, benar juga. Dan naga yang satu itu terlihat lebih mengerikan dari kelima naga itu"


"Ini pasti bantuan dari seorang berilmu tinggi di aliran hitam. Dengan bantuan naga yang sangat kuat itu kita pasti memenangkan perang kali ini"


Orang - orang dari golongan hitam bersorak sorai begitu melihat kekuatan Naga Iblis yang sangat besar menghajar satu - persatu kelima naga yang tadinya terlihat sangat mendominasi di depan seratus orang. Kini kelima ekor naga itu tampak seperti semut melawan gajah.


"Ahh.... Ada tiga ekor naga lagi yang datang. Kita lihat kali ini tiga naga ini merupakan kawan atau lawan"


Naga Hitam, Naga Putih dan Naga Giok ikut terjun dalam pertempuran membantu kelima naga yang tengah kerepotan menghadapi Naga Iblis.


Kesulitan para naga itu adalah karena mereka berusaha mematuhi pesan Argadana agarereka tidak mengeluarkan kekuatan lebih dari seperempat karena akan berpotensi melukai teman sendiri.


Argadana hanya menggeleng menyaksikan pertarungan aneh para naga itu.

__ADS_1


"Jika kalian hanya mematuhi perintahku secara membuta seperti itu cepat atau lambat kalian akan terbunuh" katanya tersenyum kecut.


"Tetapi memang jika kalian sampai mengeluarkan tenaga yang besar untuk melawannya kekuatan kalian bisa menghancurkan bumi ini. Ini bukanlah sesuatu yang aku kehendaki. Hahhh... Sepertinya aku harus turun tangan sendiri untuk mengatasi Naga Iblis" gumam Argadana lalu melesat cepat untuk ke arah pertarungan para naga.


__ADS_2