Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Kusir Setan


__ADS_3

Tokugawa Takeshi melihat Surasena, Nila Sari dan Jendral Thalaba melesat ke arah mereka segera membagi pasukannya. Tiga puluh orang dibagi menjadi tiga mengepung ketiga orang yang melesat ke arah mereka dan hanya menyisakan dua puluh orang saja termasuk dia dan Tokugawa Denki yang masih melihat - lihat jalannya pertarungan.


"Mereka hanya mempunyai gerakan yang cukup kuat, tapi tidak ada kecepatan. Ini terlalu mudah!!!" gumam Nila Sari dalam hati sambil melompat kesana kemari menghindari serangan - serangan ganas yang dilancarkan sepuluh orang bersenjata katana yang tampak menkilat menyilaukan mata.


Jurus Naga Melingkar Bukit...!!!


Nila Sari berkelebat cepat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang telah mencapai kesempurnaan hingga tubuhnya terlihat seperti bayangan saja mendupak dan memukul sepuluh orang lawannya.


Dalam beberapa gebrakan saja lima orang telah tersingkir dari arena pertarungan diiringi teriakan kesakitan.


"Bukankah tindakan para pelayanmu itu terlalu kejam, tuan?" kata Yamada Ayame menatap Argadana dengan hati bertanya - tanya.


"Orang ini tenang sekali melihat pelayannya mematahkan - matahkan tangan dan kaki para samurai dari klan Tokugawa itu" batinnya.


"Kalian belum melihat dunia yang luas, nona. Jika kau tahu dunia persilatan itu merupakan dunia yang kejam, kau tidak akan berkata seperti itu" jawab Argadana.


"Huh... Kalian para katak dalam tempurung tahu apa tentang tindak tanduk dunia persilatan? Kalian pikir apa yang akan mereka lakukan pada kami jika kami bersikap lunak? Bahkan baru bertemu saja mereka sudah berkata sesumbar seperti itu" dengus Yalina yang masih belum hilang kekesalannya atas perlakuan yang mereka Terima dari murid - murid Nakamura Hayate.


Nakamura Takahashi Rikimaru dan empat orang adik seperguruannya terdiam mendengar kata - kata ketus Yalina tadi. Mereka kini perlahan - lahan mulai menyadari perbedaan jarak antara mereka dan Argadana. Jangankan menghadapi Argadana, bahkan kusir kudanya saja sudah sebegitu kuatnya.


Ya setidaknya begitulah yang ada di fikiran mereka saat ini. Mereka tidak tahu bahwa orang yang mereka sebut kusir kuda itu sesungguhnya adalah seorang jendral dari Kerajaan Siluman Darah, kerajaan misterius yang amat sangat kuat.


Nakamura Hayate melihat Yalina menumpahkan kekesalannya dengan kata - kata ketus itu hanya menghela nafas panjang.


"Semoga kejadian ini dapat menyadarkan mereka bahwa kemampuan mereka itu masih belum apa - apa jika harus diperlihatkan di dunia yang luas ini"


***


"Paman... Cepat lakukanlah sesuatu. Para samurai itu yang mengaku diri mereka sangat hebat ternyata hanya seperti sekumpulan anak ayam di hadapan ketiga orang pelayan anak itu" desak Tokugawa Denki panik sambil menarik - narik pakaian Tokugawa Takeshi.


"Tenanglah, Denki. Mereka tidak akan bisa lolos dari kepungan pasukan kita. Tiga puluh orang itu memang hanya untuk pancingan saja agar kita mengetahui sejauh mana kemampuan pengawalnya. Ternyata mereka juga cukup berisi" kata Tokugawa Takeshi melihat tiga puluh orang anak buahnya telah terbaring pingsan semua karena keganasan serangan Sepasang Pendekar Suci dan Jendral Thalaba.

__ADS_1


"**... Tapi, paman... Orang yang berpakaian kulit binatang itu, dia bukan pelayan. Dia itu cuma kusir kudanya saja" kata Tokugawa Denki gugup.


"Apa???" teriak Tokugawa Takeshi tanpa sadar.


"Orang macam apa sebenarnya yang sudah disinggung anak bodoh ini? Kalau orang sehebat itu tidak lebih dari seorang kusir kuda saja, lalu bagaimana dengan dua pelayannya? Aku bahkan juga tidak yakin kalau kedua perempuan itu hanyalah perempuan biasa. Mereka terlihat sangat tenang melihat kekejaman pelayan mereka. Hal itu cuma pernah terlihat pada orang yang sudah memiliki pengalaman bertarung hidup dan mati puluhan kali" batin Tokugawa Takeshi.


"Tampaknya penyerangan kali ini kita akan kesulitan untuk menang. Untuk menambah peluang kemenangan kita harus mengerahkan seluruh kekuatan" kata Tokugawa Takeshi.


"Jadi kita harus bagaimana, paman?"


"Tunggu sebentar... Semuanya serbu...!!! Siapa saja yang bisa membawa kepala salah satu dari mereka akan mendapatkan hadiah dariku"


Perkataan Tokugawa Takeshi itu membakar semangat sisa anak buah yang dibawanya.


"Serang...!!!"


Bukannya takut dikeroyok, Jendral Thalaba justru tersenyum senang melihat enam orang lagi datang menyerangnya.


Kali ini para penyerang memiliki kekuatan yang lebih besar dari yang sebelumnya. Surasena dan Nila Sari yang tidak mau berlama - lama segera mencabut pedang mereka dari warangkanya.


Tebasan Dewi Maut...!!!


Nila Sari mengerahkan sebagian tenaga dalamnya ke tangan kanan dan melakukan tebasan datar.


Dari tebasan itu melesatlah sebentuk energi pedang berbentuk seperti bulan sabit berwarna putih keperakan disertai deru angin tajam. Enam orang tersebut ambruk tak bernyawa dengan tubuh terpotong dua.


"Bersiaplah untuk mati...!!!"


Surasena berteriak keras sebelum melompat ke depan tinggi tepat berada di atas keenam orang lawannya.


Goresan Semesta...!!!

__ADS_1


Surasena melakukan tebasan silang ke arah enam orang di bawahnya. Hening sebentar, enam orang tersebut tidak bergerak sama sekali...


Tidak sampai lima detik...


Duar...!!!


"Aaaahhhhkkk....!!!"


Ledakan keras menggelegar membuat tanah di sekitar enam orang yang mengepung Surasena terlempar serabutan ke segala arah.


Surasena turun menapakkan kaki di tanah tanpa suara. Dia menoleh ke arah Jendral Thalaba yang telah selesai membunuhi enam orang bagiannyan dengan pedang rampasan.


Tokugawa Takeshi hanya dapat membelalakkan matanya melihat kejadian anak buahnya yang habis terbantai hanya dalam kurun waktu singkat. Mulutnya menganga lebar. Wajah dipenuhi keringat dingin. Bulu kuduknya tanpa terasa berdiri.


"Iblis macam apa yang ada di hadapanku ini? Bahkan anggota elit klan Tokugawa tidak ada yang sekuat itu. Dan anak bodoh ini sudah menyinggung orang semacam dia? Tampaknya kita kemari hanya untuk mencari mati" Tokugawa Takeshi membatin.


"Pelayannya saja sudah sangat mengerikan. Aku jadi penasaran apakah anak muda ini sudah sehebat gurunya dulu?" gumam Nakamura Hayate dalam hati.


"Tuan muda... Apa pemimpinnya juga harus dipatahkan lehernya supaya bisa menjadi pelajaran untuk yang lain juga?" tanya Jendral Thalaba dengan suara keras.


Mendengar pertanyaan Jendral Thalaba Argadana hanya tersenyum simpul kemudian menggamit tangan kedua istrinya.


"Ayo... Kita temui dulu mereka" ajak Argadana diikuti oleh Nakamura Hayate dan kelima muridnya.


Argadana berkelebat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan dan turun tidak jauh di hadapan Tokugawa Takeshi dan Tokugawa Denki yang berdirinya sudah tidak bisa tegap lagi karena lutut mereka terasa lemas tak bertenaga.


Bruk...!!!


Tokugawa Takeshi jatuh berlutut merasakan tekanan yang amat berat menimpa tubuhnya. Sementara Tokugawa Denki yang tidak sekuat pamannya tentu saja langsung jatuh pingsan. Tidak terkecuali Nakamura Hayate dan lima orang muridnya juga ikut merasakan tekanan tersebut.


Argadana sengaja mengerahkan sedikit hawa kekuatan Pedang Siluman Darah sehingga rajah pedang merah di dahinya bercahaya terang. Hal itulah yang membuat mereka tertekan. Akan tetapi karena target Argadana hanyalah Tokugawa Takeshi dan Tokugawa Denki Nakamura Hayate dan murid - muridnya tidak jatuh pingsan seperti Tokugawa Denki namun karena kekuatan tekanan Pedang Siluman Darah sangat kuat tak urung tekanan itu juga berefek pada mereka.

__ADS_1


"Apa - apaan ini? Aku terjatuh bahkan sebelum bertarung. Auranya saja sudah membuat tubuhku gemetar. Apa mungkin anak ini sudah setingkat dengan tiga orang terkuat di klan Tokugawa? " batin Tokugawa Takeshi.


"Kali ini aku masih berbaik hati melepaskan kalian meskipun kalian sempat menyinggungku dengan perkataan kasar kalian tadi. Pulanglah... Dan sampaikan pesanku pada ketua klan kalian. Jika hal ini terulang lagi... Percayalah, meskipun orang - orang dari klan Tokugawa memiliki sepuluh lembar nyawa rangkap mereka masih tidak akan lepas dari tanganku"


__ADS_2