
Dua puluhan tahun sudah Kerajaan Datu Gumi telah berperang melawan Kerajaan Sakra yang sangat ambisius ingin merampas salah satu wilayah milik Kerajaan Datu Gumi yang berbatasan dengan wilayahnya. Hal itu dikarenakan wilayah tersebut memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah ruah, bahkan dikatakan sebagian besar pendapatan Datu Gumi adalah dari wilayah perbatasan itu.
Raja Sangkala, raja Kerajaan Datu Gumi karena tidak menyukai peperangan ingin mengalah saja kepada Kerajaan Sakra dan menyerahkan wilayah tersebut agar tidak terjadi peperangan yang dampaknya akan sangat dirasakan oleh rakyatnya. Namun Patih Subala, para panglima dan seluruh anggota perangkat Kerajaan Datu Gumi berbeda pendapat.
Menurut mereka, dengan menyerahkan begitu saja wilayah tersebut akan menyebabkan kemunduran mental para prajurit. Di sisi lain, hal itu juga akan membuat besar kepala Kerajaan Sakra. Sekarang mereka ingin merampas satu wilayah, di masa depan mungkin seluruh wilayah akan mereka kuasai. Jadi jika Kerajaan Datu Gumi tidak memberikan perlawanan, maka mereka akan menginjak - injak harga diri kerajaan tercinta mereka.
Setelah berpikir sekian lamanya, akhirnya Raja Sangkala memutuskan untuk melawan habis - habisan. Keputusan itu membuat semangat juang para prajurit bangkit kembali. Banyak pemuda dari kalangan rakyat biasa yang secara sukarela masuk dan bergabung menjadi prajurit dengan semangat juang yang membara.
Tekad baja di hati mereka tidak dapat ditembus oleh peluru baja para prajurit Kerajaan Sakra. Kekuatan perasaan membuat semangat mereka menyatu dan membentuk satu kekuatan yang sangat besar, terlebih setelah tahu bahwa yang kali ini akan melatih mereka semua adalah sosok yang sangat dikagumi semua orang. Dia tidak lain adalah Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya, yang telah berkecimpung dalam perang selama puluhan tahun dan paling terkenal taktik perangnya.
"Bagaimana perkembangan pelatihan para prajurit, Panglima?" tanya Raja Sangkala yang baru saja datang pada Panglima Besar Askar Wirajaya.
Panglima perang yang selalu menutup kedua matanya dengan kain berwarna hitam itu pun membungkukkan tubuhnya
"Para prajurit sangat antusias dalam berlatih, yang mulia. Semangat juang mereka sangat besar. Hal inilah yang harus kita pupuk dengan baik, agar mental mereka tetap senantiasa stabil meski dalam keadaan genting sekalipun" jawab Panglima Besar Askar Wirajaya.
"Kerja bagus, Panglima. Aku memang tidak salah memilihmu dulu" kata Raja Sangkala sambil menepuk bahu Panglima perang kerajaannya itu.
"Ahh.... Hal ini memang sudah kewajiban hamba, yang mulia" kata Lalu Askar Wirajaya merendah.
"Emmm.... Jadi, apa kau sudah mulai berpikir untuk menikah, Panglima?" tanya Raja Sangkala tiba - tiba.
"Uhukk.... Uhukk....." Panglima Kerajaan Datu Gumi itu tersedak ludahnya sendiri karena terkejut mendengar pertanyaan Raja Sangkala yang tiba - tiba itu.
"Ehh.... Itu... Mohon maaf, yang mulia. Seperti jawaban hamba sebelumnya, hamba sudah berjanji kepada diri hamba sendiri bahwa hamba tidak akan menikah dengan siapapun sebelum bertemu dengan anak hamba" jelasnya merasa tidak enak.
"Hamba juga mencintai Tuan Putri Mandalika, yang mulia. Hanya saja, hamba masih tidak bisa lepas dari bayangan Dinda Dyah Ayu Pitaloka. Hamba takut hal itu akan menyakiti Tuan Putri"
__ADS_1
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, kakang. Aku akan tetap menunggu kakang meluahkan sedikit hati kakang, dan aku akan menerima apapun keadaan kakang. Aku sanggup menulikan telinga atas masa lalu kakang. Tapi aku tidak membutakan hatiku" Seorang wanita berumur sekitar tiga puluhan tahun berjalan dari arah belakang Raja Sangkala. Berbagai perhiasan gelang dan Kalimantan terbuat dari berlian murni menempel di tubuhnya membuat kesan anggunnya terpampang ke segala arah. Tiada orang yang tidak akan tertarik apabila melihat wanita itu.
"Aku tidak peduli dengan cinta pertamamu, karena keinginanku hanyalah untuk menjadi bagian yang terakhir dari kisah perjalanan cintamu"
Wanita itu adalah Putri Mandalika, putri sulung Raja Sangkala. Dia sengaja mencuri dengar pembicaraan ayahnya dengan lelaki yang amat dicintainya itu.
Dia dan seluruh keluarga kerajaan memang sudah mengetahui perihal kisah asmara yang pernah terjadi antara Panglima Besar Askar dengan seorang wanita dari bangsa siluman bernama Dyah Ayu Pitaloka. Dari cerita itulah dia tahu alasan kenapa Panglima Besar Askar selalu menutup matanya dengan kain hitam selama dua puluhan tahun lebih.
Tapi hal itu tidak menyurutkan perasaannya pada Lalu Askar Wirajaya. Putri Mandalika justru semakin mencintai pria pujaannya itu, meski sudah beberapa tahun berusaha tanpa hasil. Akan tetapi lama kelamaan, hati Lalu Askar Wirajaya luluh juga.
Perasaan cinta itu perlahan - lahan tumbuh merebak di hatinya. Tetapi karena tekadnya untuk menemukan anaknya membuat dia menunda dulu untuk melamar putri sulung Raja Sangkala itu. Putri Mandalika pun tidak memaksa, dia tetap setia menunggu. Untuk membuktikan kesungguhannya putri yang cantik jelita itu bahkan menolak lamaran banyak pangeran dari berbagai kerajaan demi untuk menunggu kesiapan lelaki yang dicintainya itu.
"Ehmmm.... Kalian mengobrollah. Aku akan pergi" kata Raja Sangkala berlalu memberikan waktu pada dua sejoli itu untuk saling berbicara.
Keduanya lalu duduk berdua. Untuk mencairkan suasana kamu, panglima besar Kerajaan Datu Gumi itu menceritakan tentang pengalaman perang yang pernah dilaluinya dan bagaimana dia mengatasi situasi saat dia berada dalam bahaya karena keadaan yang tidak terduga.
Sementara itu di Kerajaan Sakra. Seorang lelaki yang rambutnya telah dipenuhi uban sedang duduk sambil memakan buah anggur. Wajahnya di penuhi kerutan - kerutan ketuaan.
Jika dilihat dari penampilannya, lelaki itu tampak berusia sekitar tujuh puluh tahun. Tetapi tidak ada yang tahu berapa umur sebenarnya lelaki tua itu. Umur sebenarnya lelaki tua itu adalah sekitar tiga ratus tahun.
Dia adalah La Huda, leluhur pendiri Perguruan Tengkorak Darah yang juga merupakan target buruan Argadana. Pengkhianat bangsa siluman itu telah bersembunyi dari kejaran Ratu Dyah Ayu Pitaloka selama ratusan tahun. Segala cara ia lakukan untuk membalas penghinaan yang diterimanya di Kerajaan Siluman Darah karena terpaksa melarikan diri setelah upaya pemberontakannya gagal.
Akan tetapi dari sekian cara, tidak ada cara yang ditemukannya terbukti dapat menandingi kesaktian Ratu Siluman Darah tersebut sehingga ia putuskan untuk bersembunyi dan secara diam - diam mengumpulkan kekuatan untuk menghancurkan Kerajaan Siluman Darah.
"Seandainya sembilan pusaka naga itu dulu bisa aku kuasai, aku tidak perlu takut lagi pada Ratu kepar4t itu. Hmphh.... Ras naga sialan, rencanaku jadi berantakan. Aku bahkan sampai harus bersembunyi seperti tikus diburu anj1ng" umpatnya kesal.
Tok... Tok.... Tok...
__ADS_1
Tiga kali ketukan terdengat dari balik pintu. La Huda hanya menoleh ke arah pintu masuk dan mempersilakan orang yang mengetuk pintu tersebut masuk.
Krieeetttt.....
Suara pintu berderit terdengar ketika seorang lelaki separuh baya membuka pintu.
Lelaki yang baru saja masuk itu seketika berlutut di hadapan La Huda.
"Guru, saya membawa sebuah kabar buruk"
Lelaki yang baru saja datang itu adalah murid kesayangan La Huda. Namanya adalah Singa Maruta, Ketua Pusat Perguruan Tengkorak Darah.
Singa Maruta memberitahu La Huda bahwa salah seorang wakil ketua bagian cabang yang bernama Deboq Kao telah terbunuh di tangan seorang pemuda.
Pada awalnya, La Huda hanya menanggapi kabar tersebut dengan malas dan mengatakan bahwa wakilnya di cabang terlalu bodoh dan lemah sehingga bisa terbunuh oleh seorang anak muda.
Tetapi setelah Singa Maruta menceritakan dampak yang ditimbulkan oleh pukulan yang membunuh wakil ketua cabang itu, mau tidak mau La Huda menjadi serius.
"Tangan pemuda yang menewaskannya berubah warna menjadi putih dari siku sampai pergelangan tangan, dan Deboq Kao tubuhnya berubas menjadi kristal es setelah terkena pukulannya" La Huda mengelus janggutnya dengan tangan sedikit gemetar.
"Itu seperti dampak yang ditimbulkan Pukulan Api Salju" katanya lirih.
"Tapi itu tidak mungkin. Mustahil ada manusia yang berhasil menguasai ilmu pukulan itu. Ya... Itu pasti ilmu pukulan lain, yang dampaknya kebetulan hampir sama dengan pukulan api salju" hiburnya membantah pikirannya sendiri.
"Ahh.... Bagaimana persiapan murid - murid-murid, Maruta?" tanya La Huda.
"Emm..... Semua sudah siap, guru. Serbuk racun sudah disiapkan setiap murid di barisan depan jika ada prajurit Kerajaan Datu Gumi yang menggunakan perisai besi untuk melapisi tubuh mereka"
__ADS_1