
Keberhasilan Ling Yun dalam pertarungannya melawan Liu Tong tidak serta merta mengakhiri seluruh rangkaian peristiwa pada malam hari itu.
Ling Yun tidak jadi membunuh Liu Tong setelah Argadana datang melerai keduanya. Setelah didesak dan diancam Liu Tong akhirnya menceritakan persoalan yang dirahasiakannya bersama Wu Qin Feng sejak rencana yang diawali dengan kematiannya. Namun rencana tidak berjalan mulus.
Ling Yun lalu berbaikan lagi dengan Liu Tong setelah memgetahui kenyataan yang sebenarnya. Namun tiada disangka - sangka Fudo Kiyomasa ketua markas cabang Bao Yixue di Jepang yang merasa mendapatkan firasat buruk membawa sebagian besar kekuatan Bao Yixue di bawah pimpinannya pergi menyusul Liu Tong ke puncak Gunung Koga.
Kedok Liu Tong akhirnya terungkap secara tidak sengaja. Karena marah dengan pengkhianatan Liu Tong pria tua berjuluk Samurai Sesat Perak itu memerintahkan untuk menghujani semua orang dengan anak panah hingga menewaskan Liu Tong. Peperangan terjadi lagi dan kembali memecah kesunyian saat menjelang pagi di puncak Gunung Koga.
***
Sementara Ling Yun mengamuk mendesak Fudo Kiyomasa dengan jurus - jurus tombaknya yang sangat ganas dua manusia raksasa sedang berusaha menyerang Argadana dari depan dan belakang untuk membatasi gerakan dan penglihatannya.
Berfikir bahwa tipuan dan pancingan tidak berlaku pada dua raksasa yang telah kehilangan emosinya karena menelan ramuan obat yang belum sempurna itu Argadana tidak banyak basa - basi langsung mengeluarkan jurus tingkat tinggi.
"Wukkk....!!!"
Angin kencang menderu wajah Argadana saat raksasa dari arah depan mengerahkan pukulan tangan kosong bertenaga dalam tinggi.
Cepat sekali Argadana berkelit ke samping dan serangan tersebut hanya mengenai tempat kosong. Raja Siluman Darah belum sempat menghela nafas sudah datang lagi serangan ganas dari arah belakang.
Kaki kanan manusia raksasa yang ke dua dilayangkan ke arah leher sebelah kanan. Jika serangan ini mengenai sasaran tentu saja leher lawan pasti akan patah karena tendangan mengandung tenaga dalam yang sangat besar.
Tentu saja Argadana, atau pendekar mudayang di negeri asalnya berjuluk Ksatria Lembah Neraka tidak mau lehernya dibikin patah. Lututnya ditekuk sehingga tendangan lawan hanya lewat di atas kepala.
Setelah tendangan lawan luput Argadana melompat dua tombak ke atas. Tubuhya meluncur seperti kilat. Dalam keadaan melayang di udara telapak tangannya dengan jari terkatup rapat berhasil mendarat di dada manusia raksasa di sebelah depan setelah menerobos tangkisan kedua tangan makhluk besar itu.
"Dess...!!!"
__ADS_1
Tubuh raksasa itu terpental ke belakang sejauh lima tombak tapi tidak terlihat ekspresi apapun di wajah manusia raksasa seolah tidak merasakan apapun dari pukulan Argadana tadi.
"Uttsss....!!!"
Namun Argadana tidak bisa berlama - lama dengan keheranannya karena dia dapat merasakan serangan raksasa dari arah belakang. Tubuhnya melenting tinggi ke depan dan melakukan gerak salto di udara.
Argadana begitu turun kedua kakinya menjejak di bahu kiri dan kanan raksasa baru berhasil berdiri tegak setelah menerima serangan 'Jurus Tapak Darah' Argadana.
"Desss!!!"
Tubuh raksasa itu amblas ke tanah sampai sebatas lutut saking besarnya tekanan tenaga dalam yang dikeluarkan Argadana. Murid Pendekar Cambuk Naga dan Dewi Obat itu tidak mengurangi tenaga dalam yang dikerahkannya. Justru sebaliknya begitu mengetahui tubuh lawan amblas sebatas lutut kembali Argadana menambah tekanan tenaga dalamnya hingga tubuh raksasa itu amblas kembali sebatas pinggang.
Lengan kekar raksasa itu berusaha mencengkram kaki Argadana untuk dibanting tetapi apalah daya. Tubuh sedang pemuda yang sedang berdiri di kedua sisi bahunya tetap kokoh bagai gunung. Bahkan untuk mengangkat sebelah kakinya pun Raksasa itu kwsulitan.
"Huh...!!!"
Raksasa yang tadi menyerang dari belakang melihat kawannya kesulitan memberikan perlawanan bergegas membantu. Kakinya menjejak tanah. Tubuh raksasa itu meskipun demikian besarnya namun ternyata memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Ia melayang di udara dengan kedua tangan terkembang hendak mengepruk pecah kepala Argadana dari atas.
Ya ... Argadana telah mengerahkan ilmu 'Pukulan Api Salju' yang berhasil mendarat dengan telak di dada kiri manusia raksasa.
"Dess!!!"
"Ughhh!!!"
Karena besarnya tenaga dalam yang dikerahkan Argadana tubuh raksasa itu kembali terpental ke atas. Kali ini terdengar sedikit keluhan dari mukutnya yang telah mengalirkan darah di sudut bibirnya. Tapi dampak itu masih tidak seberapa dibanding dengan tubuh raksasa yang menjadi pijakan Argadana.
Karena benturan dua kekuatan tenaga dalam tinggi tubuhnya kembali tergencet dan amblas. Kini dari bagian kaki hingga dadanya telah tertanam di tanah. Dan dari sudut bibirnya juga mengalirkan darah.
__ADS_1
"Lihat serangan...!!!"
Argadana berseru lantang sambil menggenjot tubuhnya menyusul raksasa yang tadi berhasil dipukulnya sampai terbang. Diangkatnya tinggi kaki kanannya setelah posisinya berada di atas tubuh raksasa yang berusaha menyeimbangkan posisinya.
Karena tak menyangka akan ada serangan susulan raksasa itu tidak sempat berkelit, terlebih lagi posisinya sedang berada di udara. Akhirnya raksasa hanya bisa menyilangkan kedua tangan di atas untuk melindungi kepalanya dari tumit Argadana.
"Krakk...!!!"
"Bummm!!!"
Terdengar suara berderak patah dari kedua lengan kekar manusia raksasa sebelum tubuh tinggi besar itu jatuh berdebum di tanah.
"Aaarrrggghhh...!!!"
Raksasa yang terpasak di tanah berhasil mengeluarkan tubuhnya dengan susah payah. Mulutnya menggeram marah. Cepat sekali ia menerkam tubuh Argadana yang baru saja mendarat di tanah membelakanginya.
Raksasa itu mengencangkan cengkramannya di tubuh Argadana dengan maksud untuk meremukkan tubuh lawannya. Namun keinginan itu hanyalah keinginan belaka.
Argadana yang sedang dicengkramnya tiba - tiba kelihatan memudar sebelum kemudian mengilang sepenuhnya dari hadapannya. Raksasa itu kebingungan mengira lawan yang dihadapinya adalah penyihir.
'Jurus Tanpa Bentuk'
Untuk beberapa saat raksasa itu kebingungan sampai sebuah bayangan dengan cepat melewati tubuhnya empat kali dengan gerakan menyilang. Selesai melewati tubuh raksasa tadi bayangan yang ternyata adalah bayangan Argadana itupun berhenti tepat di depan membelakangi raksasa yang mencengkramnya tadi. Setelah Argadana menghela nafasnya raksasa itu pun ambruk. Setiap persendian di tubuhnya tampak mengalirkan darah. Rupanya Argadana telah memutus seluruh urat yang menyambung setiap sendi raksasa itu sehingga walaupun tidak mati tapi tidak akan bisa lagi membahayakan orang lain.
"Akan kubantu untuk mengakhiri penderitaanmu!!!" kata Argadana mendekati raksasa yang satunya lagi yang sudah kesulitan bergerak karena menerima 'Pukulan Api Salju'. Perubahan suhu yang ekstrim terjadi berulang kali di tubuhnya sehingga menyebabkan daya tahan tubuh rakasa itu sehingga khasiat ramuan obat di tubuhnya perlahan mulai menghilang. Tubuh raksasa itu sedikit demi sedikit menyusut hingga beberapa saat kemudian kembali ke bentuk manusia normal, seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun bertubuh jangkung.
"Aaargg... Tubuhku... Argggg..." pria itu berteriak kesakitan saat efek samping dari penggunaan obat mulai bereaksi pada tubuhnya.
__ADS_1
"Bunuh...!!! Cepat.. Bbu.. Bunuh aku, tuan. Aku tidak tahan la...gi!!!" kata pria itu dengan wajah kusut menahan sakit.
Tidak menunggu lama, Argadana yang merasa iba mengerahkan ilmu 'Pukulan Gerhana Bulan' menghantam tubuh pria itu yang langsung membeku lalu mencair dan terserap ke dalan tanah.