Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Fang Zi Jing


__ADS_3

"Tolong maafkan kecerobohan istriku, tuan. Dia sebenarnya tidak bermaksud demikian" kata Argadana seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Melihat sikap bersahabat Argadana Ling Yun akhirnya luluh juga dan menurunkan tombak pendeknya. Namun tak ayal bulu tengkuknya meremang ngeri karena jika serangan Ningrum tadi tidak sempat ditahan Argadana maka bisa dibayangkan olehnya akan sehancur apa wajahnya ketika serangan Ningrum mengenai sasaran.


"Ahh... Tidak, tidak... Aku yang minta maaf. Karena hidup di daerah terpencil selama bertahun - tahun saya masih kurang pengalaman dan tidak menyadari sikap bersahabat saudara sebelumnya" balas Ling Yun membungkukkan badan.


Argadana tidak menjawab. Hanya menggelengkan kepalanya pelan dan menoleh ke arah Liu Tong. Argadana berkata lirih


"Kau sungguh aneh"


Perkataan Argadana membuat Liu Tong mengerenyitkan dahi. Ia lalu bertanya dengan nada heran


"Apa maksudmu berkata demikian?"


Pertanyaan itu membuat Argadana tersenyum dan menjawab dengan tenang seperti orang tua yang sedang memberi wejangan pada anaknya


"Di dunia ini ada banyak orang yang mendambakan umur panjang, bahkan orang - orang yang telah fana sekalipun seandainya bisa mereka ingin dihidupkan kembali. Ini pertama kalinya aku menjumpai orang yang sampai mengemis untuk minta dibunuh"


"Nyawa hanya selembar mau kau habiskan sia - sia setelah melakukan banyak kejahatan. Kau fikir semua urusan yang kau tinggalkan akan selesai begitu kau merat ke neraka?" Ningrum berkata dengan nada gemas. Tetapi perkataan Ningrum hanya dibalas dengan dengusan kasar oleh Liu Tong.


"Huhh....!!! Kalian tahu apa? Aku sudah melakukan semuanya sesuai dengan perintah guru..."


Liu Tong menghentikan ceritanya. Ia memandang Argadana. Tampak jelas dari tatapannya pada Argadana mengandung kebencian yang dalam.


"Tapi semuanya jadi berantakan karena kalian" sambungnya dengan mata melotot. Dada Liu Tong kembang kempis karena nafas yang tak beraturan penuh amarah.


"Kau yang bodoh menyusun rencana, mengapa mau melimpahkan semua kesalahan pada orang lain?" balas Ningrum tak kalah keras.


Argadana yang mengkhawatirkan emosi istrinya yang meledak - ledak segera meraih jemari tangan Ningrum. Kuku - kuku Ningrum yang tadinya telah berwarna merah kehitaman pertanda siap mengerahkan Pukulan Naga Murka akhirnya kembali normal karena tenaga dalamnya telah ditarik kembali.

__ADS_1


Wajah Liu Tong sudah terlihat sedikit tenang setelah berhasil mengatur nafasnya. Ia menjawab Ningrum dengan suara rendah


"Apa lagi yang mau aku katakan. Memang semuanya terjadi karena kalian. Seandainya kalian tidak membunuh La Huda aku tidak akan dipindahkan ke markas cabang di tempat ini. Dan aku juga tidak perlu mengubah rencana yang telah kususun bersama guru sejak lama. Kalau bukan kalian, lalu siapa yang harus aku salahkan?"


Ling Yun yang sejak awal memang memiliki sikap lugu dan tak mengerti apa yang dibicarakan Liu Tong menyela


"Tunggu dulu...!!! Liu Tong, jelaskan semuanya padaku. Jangan ada yang kau sembunyikan!!! Aku tidak berfikir kalau rencana yang kalian susun akan berdampak sangat meluas seperti ini"


"Tidak, adikku. Kau harus membunuhku. Ini perintah guru!!! Bukankah kau sangat mencintai guru? Kalau iya, kau bunuhlah aku. Sekarang!!!" Liu Tong berbicara seperti orang yang sudah kehilangan akalnya.


"Hmmm....!!! Kau sepertinya sangat melindungi rencana yang dirahasiakan gurumu itu. Aku jadi penasaran" setelah berkata demikian Argadana melambaikan tangan kanannya. Seketika dari arah belakangnya datanglah Yalina, Jendral Thalaba, Sepasang Pendekar Suci, dan lima ketua cabang yang sejak tadi hanya menonton saja.


"Boleh aku tanya apa yang direncanakan gurumu sehingga pertarunganku dengan pengkhianat La Huda itu mempengaruhi keberhasilan kalian?"


"Jangan mimpi!!! Meskipun kalian bunuh aku di sini tak nanti aku mengkhianati wasiat guruku" Jawab Liu Tong berapi - api.


Mendengar jawaban yang tak sesuai harapan Argadana bukannya marah. Pemuda sakti itu hanya tersenyum meremehkan.


Tubuh Jendral Thalaba tiba - tiba lenyap dari pandangan semua orang dan mendadak muncul di belakang Ling Yun.


Ling Yun hendak melakukan perlawanan melihat Jendral Thalaba bergerak menyerangnya tapi...


"Tukk!!!" sebuah totokan mendarat dengan telak di urat saraf Ling Yun membuat tubuhnya kaku. Seketika itu juga Liu Tong berteriak kaget.


"Lepaskan dia!!! Jika kau berani melukai dia barang sedikitpun aku pastikan akan membalasmu sampai ke liang lahat sekalipun!!!" teriak Liu Tong histeris.


Dalam keadaan terdesak seperti itu Liu Tong kembali menghunus Pedang Merahnya. Tetapi suatu keanehan terjadi. Biasanya pedang di tangan Liu Tong akan memancarkan sinar merah menyilaukan saat dikeluarkan dari sarungnya. Kali ini Pedang Merah hanya mengeluarkan sinar yang redup seolah tertekan oleh sesuatu yang tak nampak dari musuhnya.


"Bagaimana mungkin? Selama bertahun - tahun aku membawanya baru kali ini pedangku merasa tertekan. Senjata apa yang dimiliki orang ini yang bisa menakuti Pedang Merah?" kata Liu Tong dalam hati berusaha menutupi rasa gentarnya.

__ADS_1


"Tuan tenang saja. Bagaimana keadaan saudaramu nantinya itu tergantung jawabanmu. Kau beritahu aku rencana gurumu, maka dia selamat. Pertimbangkanlah!!!" kata Argadana.


"Kalau aku memberi tahu rencana guru, maka aku telah berkhianat. Tetapi jika aku tidak memberikan apa yang diminta orang ini aku takut senjata rahasia tidak akan bisa diasah"


Cukup lama Liu Tong berfikir hingga akhirnya ia menyerah juga. Ia akhirnya memilih mengkhianati wasiat gurunya demi melanjutkan rencana.


"Baiklah... Kau menang kali ini. Tapi lepaskan dulu dia, baru aku mau bicara!" seru Liu Tong.


"Ehm...!!! Tuan sepertinya masih tidak mengerti. Aku menginginkan jawaban, bukan kesepakatan untuk tawar menawar. Tenang saja. Aku selalu menepati janji, begitu kau memberitahu rencana gurumu aku akan melepaskannya"


"Setan kau...!!! Bahkan sampai hal semacam ini pun kau lakukan. Baiklah" Liu Tong kemudian menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup - tutupi.


Kejadiannya bermula pada zaman dahulu ketika Wu Qin Feng masih muda. Dia sangat terkenal di kalangan pendekar muda tiongkok karena telah menjadi sosok yang ditakuti banyak pendekar tingkat tinggi berkat ilmu kesaktiannya yang luar biasa kuat. Orang yang dapat bersaing dengannya bisa dihitung dengan jari.


Wu Qin Feng muda yang memiliki jiwa berapi - api pernah bercita - cita untuk membangun sebuah perguruan besar yang berisi para pendekar terkuat di tiongkok. Masalahnya adalah untuk menjadi pendekar yang kuat juga memerlukan bakat yang tinggi yang mana hal itu tergolong langka.


Ia memutuskan untuk memulai penelitian di bidang obat - obatan. Berkat kecerdasannya hanya dalam belasan tahun saja ia telah berhasil menciptakan ramuan obat yang dapat meningkatkan kekuatan dan daya tahan tubuh seseorang.


Akan tetapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Para penguasa setempat merasa takut Wu Qin Feng berusaha menggulingkan kekuasaan mereka. Yang merasa paling takut dalam hal ini adalah Perdana Mentri Jiang Ru.


Untuk melucuti penelitian Wu Qin Feng secara diam - diam Perdana Mentri Jiang Ru mengirimkan mata - mata untuk menyusup ke tempat penelitiannya.


Dan orang itu adalah Fang Zi Jing, pembantu Wu Qin Feng sekaligus orang yang menawarkan diri untuk dijadikan bahan percobaan pertama obat ramuannya.


Setelah obat bereaksi Fang Zi Jing memang menjadi sangat kuat, bahkan di luar kendali Wu Qin Feng. Fang Zi Jing berusaha membunuh Wu Qin Feng demi mengambil alih seluruh asetnya. Setelah terjadi pertarungan, Wu Qin Feng kalah telak dalam lima puluh jurus. Ia melarikan diri dalam keadaan terluka parah.


Sifat Fang Zi Jing saat itu telah berubah total. Setelah dia menerima kekuatan dari obat itu ia berbalik melawan Perdana Mentri Jiang Ru saat ditemui di tempat penelitian Wu Qin Feng yang kini telah berada dalam kekuasaannya.


Perdana Mentri sangat menyesali tindakannya yang menyusupkan mata - mata seorang yang tidak setia. Ia berusaha melenyapkan Fan Zi Jing tetapi semua usahanya menemui kegagalan karena Fang Zi Jing bukan hanya kuat. Segera setelah Wu Qin Feng melarikan diri sisa belasan ramuan lainnya ia minumkan pada bawahannya demi melawan Perdana Mentri Jiang Ru.

__ADS_1


Namun tak disangka ternyata ramuan yang lain masih belum sempurna sehingga belasan orang bawahan Fang Zi Jing walaupun bertambah kuat tetapi tubuh mereka berubah menjadi dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Selain itu kekkuatan dan daya tahan tubuh mereka juga masih di bawah dari Fang Zi Jing. Bisa dibilang mereka merupakan produk yang gagal.


Dengan belasan manusia raksasa yang menjadi bawahannya Fang Zi Jing melawan Perdana Mentri. Setelah menderita banyak kerugian Perdana Mentri akhirnya meminta damai kepada Fang Zi Jing. Sebagai bentuk ketulusannya untuk meminta damai Fang Zi Jing diberikan beberapa hektar tanag untuk tempat membangun lembaga penelitiannya. Lima tahun kemudian Fang Zi Jing mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Bao Yixue.


__ADS_2