Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Datu Gumi vs Sakra II


__ADS_3

Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya. Hendak membuka mulut bertanya pada Wiranda namun segera mengurungkan niatnya itu setelah ingat bahwa bawahannya yang paling setia itu belum kembali dari membantu para prajuritnya. Dia kemudian bertanya pada pengawal yang baru saja tertawa di sebelahnya yang bernama Mardi Safrudin.


"Ada apa, Mardi Safrudin?"


"Hehehe. . ."


Pengawal itu hanya menjawab dengan suara tertawa menjengkelkan pengawal di sebelahnya yang bernama Abbas.


Mardi Safrudin tiba - tiba bergerak bagai kilat dan... Tuk... Tuk...


Dua totokan mendarat di tubuh kedua murid Perguruan Tengkorak Darah yang baru saja bangun dari jatuhnya. Kontan saja tubuh mereka seketika itu juga menjadi kaku tidak bisa digerakkan.


"Hei... Apa yang kau lakukan, Bedeba*h?" kejut murid Perguruan Tengkorak Darah yang bernama Basi itu.


"Hehehe.... Mardi Safrudin masih saja tertawa membuat bingung Panglima Besar Askar. Tiba - tiba saja... Plak...


Suara tepakan tangan Abbas yang mengenai belakang kepala Mardi Safrudin terdengar cukup keras sampai membuat kepalanya terdorong ke depan.


"Anak seta*n... Kenapa kau memukulku?" bentaknya kesal.


"Kau pikir tertawa nyengirmu yang mirip kuda itu bagus? Jangan bertele - tele, katakan saja langsung" balas Abbas tak kalah keras.


Dia sangat kesal melihat tingkah temannya yang ugal - ugalan seperti orang gila itu sehingga memukul kepalanya untuk melampiaskan kekesalannya itu.


"Ahh.... Dasar... Kau benar - benar tidak asik. Begitu saja marah.."

__ADS_1


"Sudah... Hentikan kalian berdua. Mardi Safrudin, katakan padaku ada apa ini? Barusan aku mendengar suara pengawal di belakang terjatuh, lalu aku merasakan angin kencang dari gerakanmu. Kemudian terdengar lagi suara totokan. Segera jelaskan... "


"Tuan Panglima... Si Bangsa*t Mardi Safrudin ini pasti adalah mata - mata. Dia menotok tubuh kami agar kami tidak bisa melindungi tuan dalam perang ini" serobot Basi cepat khawatir rencana mereka terungkap.


"Eh.. Ehh.... Kalian ini, maling teriak maling rupanya" potong Mardi Safrudin dengan nada marah. Dia lalu menoleh pada Panglima Besar Askar.


"Tuan Panglima... Saya di dunia persilatan dikenal dengan julukan Si Raja Linglung, adik seperguruan Dewa Linglung. Tuan Panglima pasti pasti pernah dengar tentang kakak seperguruan saya itu kan?" kata Mardi Safrudin menegaskan. Hal itu membuat Panglima Askar sedikit terkejut tidak menyangka bahwa pengawal yang disewanya adalah Raja Linglung yang lima tahun belakangan ini namanya mulai terkenal di dunia persilatan sebagai pembawa sial seperti kakak seperguruannya, Dewa Linglung.


"Lanjutkan... " kata Panglima Besar Askar menanggapi.


"Nah... Saya bersama si Abbas ini sebenarnya diberikan tugas oleh Dewa Linglung untuk mengawal Tuan Panglima, sekaligus untuk mencari tahu dua orang mata - mata dari Perguruan Tengkorak Darah yang telah disusupkan di Kerajaan Datu Gumi"


Mardi Safrudin lalu menunjuk ke arah Basi dan saudara seperguruannya itu tanpa dia mengingat bahwa Panglima Besar Askar tidak bisa melihat.


"Bangsa*t sialan... Ternyata itu pekerjaanmu, dasar pembawa sial. Lepaskan totokanmu, pengecut. Biar aku bertanding sampai seribu jurus denganmu" teriak kedua penyusup itu marah setelah rahasia mereka terbongkar.


"Hehehe... Kalian bahkan tidak dapat mengatasi ilmu pembawa sialku, mau gaya - gayaan menantangku bertarung seribu jurus"


"Hmm... Aku sudah semakin tua dan pikun. Sungguh tidak sangka, kalau dua orang pengawal ku ternyata adalah penyusup"


Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya menarik nafas panjang.


"Terimakasih sebelumnya atas pengawalan kalian... Tapi, aku sedikit bingung. Dari mana Dewa Linglung bisa tahu kalau ada dua orang dari kelompok pembantu Kerajaan Sakra yang disusupkan kemari? Dan lagi, si Dewa Linglung itu... Meskipun aku pernah mendengar nama harumnya, tapi kerajaan tidak pernah berhubungan dengan dirinya. Bagaimana dia bisa tergerak untuk membantu persoalan kerajaan kami?"


"Ah... Kalau soal itu, kami tidak memiliki hak untuk memberitahu Tuan Panglima. Hanya saja, mungkin sebentar lagi Panglima akan segera mengetahui alasannya jika orang itu telah tiba... " jawab Abbas dengan nada sopan.

__ADS_1


Mendengar hal itu Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya hanya manggut - manggut dengan benak dipenuhi tanda tanya tentang orang misterius yang tidak mau disebut namanya oleh Abbas itu.


Di saat Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya itu sedang sibuk dengan pikirannya sendiri seorang perwira perang datang melapor..


"Lapor, Tuan Panglima... Arus peperangan telah berbalik. Hal itu karena ada dua orang laki - laki dan dua orang perempuan muda berpakaian pendekar sedang mengamuk membantai para prajurit Kerajaan Sakra yang menggunakan racun itu"


"Yang menggunakan racun itu pasti murid - murid Perguruan Tengkorak Darah, Tuan Panglima" kata Abbas yakin.


"Ya, benar Tuan Panglima. Dan empat orang itu... Ihhh.... Perasaan ini... Salah satu dari empat orang yang mengamuk itu pasti adalah orang itu..." sambung Mardi Safrudin setelah mengikat kedua kakak adik seperguruan dari Perguruan Tengkorak Darah.


"Perasaan ini... Ini memang sama seperti ketika orang itu datang. Tubuh kami pasti merinding seperti ini" kata Mardi Safrudin.


Memang, mereka semua yang berada di situ merasakan bulu kuduk mereka berdiri. Bahkan tidak terkecuali Panglima Besar Askar sendiri. Akan tetapi berbeda dengan Abbas dan Mardi Safrudin, Panglima Besar Askar tampak tidak percaya dengan perasaannya.


Bagaimana tidak... Perasaan merinding seperti itu adalah perasaan yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidupnya. Hal itu hanya dapat dia rasakan dulu ketika sewaktu mudanya di Hutan Larangan.


Benar ... Bulu kuduknya hanya pernah berdiri di saat orang terkasih berada di dekatnya. Perasaan itu membuatnya teringat kembali akan masa - masa indah di waktu mudanya.


"Perasaan ini hanya pernah kurasakan ketika Dinda Dyah Ayu Pitaloka berada di sampingku. Apakah dia datang kemari untuk menemuiku?" batin Panglima Besar itu dengan mata berkaca - kaca, tidak sadar bahwa ketegaran yang selama ini dipeliharanya setelah bertahun - tahun luntur hanya karena perasaan indah dulu kembali membayanginya.


Sementara itu... Di kancah pertempuran kini arus serangan kembali berbalik... Dari yang tadinya pasukan Kerajaan Sakra menyerang dengan gencar dibantu oleh para murid Perguruan Tengkorak Darah yang menggunakan siasat racun kini telah berusaha bertahan mati - matian melawan amukan empat orang yang baru saja memasuki area peperangan.


Dua orang pria dan wanita berpakaian kuning mengamuk dengan beringas membantai satu persatu pasukan Kerajaan Sakra. Sementara gadis cantik yang satunya lagi berpakaian serba biru bergerak lincar bagai seekor naga. Tiap kibasan tangan dan ayunan kakinya menyambar, lima orang pasti terjungkal muntah darah terkena sambaran angin bertenaga dalam tinggi. Seorang lagi pemuda berpakaian putih, rambutnya tampak berkilau diterpa sinar mentari senja waktu itu. Pemuda itu tidak sampai membunuh, melainkan hanya melumpuhkan pasukan Kerajaan Sakra dengan cara mematahkan tangan atau kaki mereka. Tidak membunuh memang, tetapi jika diteliti lagi yang dilakukan pemuda satu ini terbilang sangat kejam karena menyiksa musuh - musuhnya sehingga tiap orang yang berhadapan dengannya akan merasa lebih baik mati.


Melihat kejadian di luar perkiraan, La Huda memerintahkan empat orang murid terbaiknya untuk terjun ke dalam pertempuran menghadapi empat orang yang sedang mengamuk membantai murid - muridnya yang tengah berada di barisan paling depan.

__ADS_1


__ADS_2