Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Kematian Liu Tong


__ADS_3

Malam terasa sangat panjang. Kesunyian begitu sabar mendengar cerita Liu Tong. Meskipun kejadian tidak sesuai dengan apa yang direncanakan gurunya Wu Qin Feng, tetapi Liu Tong merasa sangat senang karena Ling Yun tetap tidak padam niatnya untuk berbakti kepada guru mereka.


Liu Tong tidak mempermasalahkan Ling Yun yang tidak melakukannya demi dendam karena ia juga sudah mengerti sejak lama kalau keinginan terbesar Wu Qin Feng sebenarnya adalah melenyapkan karya terbaik yang juga merupakan karya terburuk yang ingin dihancurkannya dari dulu.


***


"Panah...!!! Bunuh !!! Jangan sisakan satu nyawapun hidup!!!"


"Siap, laksanakan...!!!"


Setelah sumpah Ling Yun diucapkan meluncurlah puluhan anak panah yang mengarah pada mereka bagai hujan. Mereka semua segera bereaksi setelah mendengar peringatan Argadana.


Semuanya terhindar dari serangan hujan anak panah terkecuali Liu Tong. Ia berhasil memukul patah sebagian anak panah yang menghujaninya. Tapi sebatang anak panah luput dan menancap di dada sebelah kanan menembus paru - parunya.


"Liu Tong!!!"


Ling Yun berteriak keras demi melihat saudara seperguruannya ambruk. Ia berusaha menangkap tubuh Liu Tong tanpa mempedulikan lagi anak panah yang mengancam dirinya.


Argadana yang melihat Ling Yun berada dalam bahaya mau tidak mau segera maju ke depan memagari Ling Yun hingga anak panah yang mengancamnya luruh di tanah dalam keadaan hancur terkena pukulan bertenaga dalam tinggi yang dikerahkan Argadana.


"Ahkk....!!! A..adikku, Li..Ling Yun!!! Kau harus tetap kuat menghadapi semua ini. Akk.. Aku... Aku akan pergi menemui guru lebih dulu darimu... Kkk...kau...hhhh!!!" ucapan Liu Tong mulai terdengar tidak jelas karena kesulitan bernafas. (Readers pasti ikutan gagap mbaca ini 😂😂)


"Kk..kau jangan mengiri... dan terlalu cepat menyusulku. Kau harus membesarkan keponakanku dan.. mme...menjadikan dia pendekar yang sangat kuat" tubuh Liu Tong terkulai di pangkuan Ling Yun.


"Liu Tong...!!! Bertahanlah. Kita baru saja bertemu dan menyelesaikan kesalahpahaman sejak tujuh tahun, apa kau mau pergi begitu saja?" Ling Yun seakan tidak percaya dengan apa yang dia alami barusan.


Ia baru saja merasakan kembali kehidupan yang lebih baik setelah terungkapnya rahasia yang selama ini dipendam saudara seperguruannya itu.


Tetapi waktu sangat cepat berlalu, sementara ajal tidak pernah menunggu kesiapan orang yang menjadi sasarannya.

__ADS_1


Dulu karena Bao Yixue guru yang juga merupakan orang tua angkatnya sejak kecil mengorbankan nyawanya demi menjadikan dia pendekar yang kuat.


Sekarang karena Bao Yixue juga orang yang sependeritaan dan sepenanggungan dengannya mati. Trauma ini perlahan - lahan membuat kemarahan Ling Yun yang tadinya mulai padam berkobar kembali.


Sebuah kekuatan yang entah dari mana datangnya tiba - tiba memasuki tubuh Ling Yun. Matanya seketika memancarkan cahaya berkilat. Inilah 'Api Kemarahan' yang sempurna yang dimaksud Wu Qin Feng dulu. Dengan demikian terbentuklah senjata rahasia yang disiapkannya untuk melawan Bao Yixue.


Setelah hujan anak panah berhenti. Bermunculan sepuluh manusia raksasa dan seorang pria berusia sekitar enam puluhan dari arah depan menggenggam katana sepanjang setengah depa di tangan kirinya. Pria tua jangkung itu tampaknya adalah pemilik suara yang tadinya memberi perintah untuk menghujani mereka dengan anak panah.


Yalina mendekati Ling Yun yang sedang memangku jasad Liu Tong dengan tangan bergetar hebat.


"Bodoh...!!! Mau sampai kapan kau mengenang kepergiannya? Dia mati dengan membawa kebanggaannya setelah menyelesaikan misi sebagai murid Pendekar Api Langit. Dan kau hanya bisa menangisi keberhasilannya tanpa melakukan apapun? Apa kau benar - benar adalah saudara seperguruannya? Apa kau bahkan benar - benar murid Pendekar Api Langit? Kau mempermalukan reputasi Pendekar Wu Qin Feng"


Kematian Liu Tong yang terbunuh oleh serangan gelap dan juga perkataan Yalina barusan telah membuat gejolak kemarahan di dada Ling Yun menggelegak.


"Kamu benar, nona. Aku bukanlah murid yang baik. Bahkan sampai bertahun - tahun setelah kematiannya aku hanya memikirkan nasibku sendiri yang malang melintang tanpa arah semenjak kematiannya. Aku memang berjiwa lemah, tapi aku bukan orang yang tidak tahu diri. Sumpah yang telah keluar dari lisanku tidak akan kutelan kembali kendati aku harus mati malam ini"


"Hmph... Itu kata - kata yang cukup bagus. Saudaramu akan mati sia - sia jika kau hanya menghabiskan waktumu dengan menangisi jasadnya saat hujan panah hampir memanggang tubuhmu" ketus Yalina.


"Dinda...!!!" Argadana menegur Yalina dengan gelengan kepalanya agar tidak sampai menyakiti hati Ling Yun. Yang ditegur hanya menoleh ke arjh lain dan berpura - pura tidak melihat.


"Jangan di ambil hati, tuan. Istriku yang satu ini cara menghiburnya memang sedikit aneh. Harap dimengerti" kata Argadana tidak enak.


"Tidak apa - apa, aku mengerti. Aku tidak akan membiarkan kelemahan ini menghambatku untuk meneruskan cita - cita guruku. Demi hal ini, aku akan bertarung dengan mereka...!!!"


"Baiklah. Karena hal ini secara tidak langsung juga berkaitan dengan masalahku... Mari kita bertarung bersama!!!" seru Argadana yang telah mempersiapkan 'Jurus Tapak Darah' dengan kuda - kuda kokoh dan jari tangan terkembang.


***


Di puncak Gunung Koga beberapa batang pohon sebesar pelukan orang dewasa telah ambruk terkena dampak dari pukulan - pukulan bertenaga dalam tinggi yang nyasar.

__ADS_1


Ling Yun menerjang ke depan menyerang langsung samurai tua yang memimpin manusia raksasa sedangkan sisanya dihadapi masing - masing satu lawan satu kecuali Argadana yang berhadapan dengan dua raksasa sekaligus.


Khawatir serangan menyasar ke arah teman sendiri dengan jarak yang terlalu dekat, bagaikan sehati mereka memilih lawan dan lokasi bertarung sendiri agar berjauhan dengan yang lainnya.


"Hiaa....!!!"


Ling Yun berteriak keras. Tubuhnya melayang di udara saat melesatkan dua tusukan sekaligus yang mengeluarkan bunyi mendesing tajam pertanda tenaga dalamnya sudah mendekati kesempurnaan.


Sedangkan lawannya si samurai tua yang bernama Fudo Kiyomasa bergelar Samurai Perak Sesat menggeram keras. Diputar - putarnya katana perak yang memancarkan cahaya putih terang di depan dada menangkis serangan Ling Yun.


"Trang...!!!"


Bunga api memercik mengiringi suara beradunya dua senjata pusaka di tangan Ling Yun dan Fudo Kiyomasa.


Mendapati serangan tombaknya dapat ditahan oleh katana lawan Ling Yun melanjutkan dengan serangan tapak tangan kiri yang mengarah ke wajah Fudo Kiyomasa.


"Hupp...!!!"


Fudo Kiyomasa tidak mau kalah gertak. Samurai Perak Sesat tanpa ragu menarik katana. Sebagai gantinya sarung yang tergenggam di tangan kiri digunakannya untuk membuat gerakan menusuk ke arah telapak tangan Ling Yun untuk saling menguji tenaga dalam lawan.


"Prakk...!!!"


"Ihh....!!!"


Fudo Kiyomasa terkejut melihat sarung katana yang digunakan menangkis telapak tangan Ling Yun hancur dan serangan lawan hampir menerobos pertahanan dan menggedor dadanya. Kalau hal ini terjadi maka tidak diragukan lagi Samurai Perak Sesat akan menjadi pihak yang menderita.


Beruntung pengalamannya selama bertahun - tahun malang melintang dii dunia persilatan Jepang tidak mempermalukan reputasinya sebagai seorang samurai yang bergelar. Fudo Kiyomasa melompat dan bersalto ke belakang sehingga serangan Ling Yun gagal. Angin pukulannya hanya sempat menghantam pohon besar di belakangnya hingga ambruk.


"Gila...!!! Anak muda ini tenaga dalamnya sudah setingkat dengan samurai tingkat tinggi. Dia berbahaya. Aku harus menghabisinya sebelum dia menjadi ancaman yang lebih berbahaya untuk organisasi ke depannya"

__ADS_1


__ADS_2