Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Saatnya Membalas Dendam


__ADS_3

Ling Yun dengan wajah serius menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Lima helaan nafas kemudian sepuluh kuku jarinya telah berubah warna menjadi kebiru-biruan.


“Hiaatttt!!!” Ling Yun berkelebat ke depan menerjang Liu Tong dengan sebat. Liu Tong tidak sempat menghindar atau menangkis serangan berbentuk cakar adik seperguruannya. Ia berteriak memberi perintah pada tiga raksasa di belakangnya.


“Lindungi aku!!!” maka melesatlah tiga bayangan putih membentuk pagar betis di depan Liu Tong. Ketiga bayangan itu rupanya adalah raksasa yang dibawanya dari Organisasi Bao Yixue.


“Crabb!!”


Tidak seperti sebelumnya, serangan Ling Yun kali ini berhasil melukai raksasa itu, tepatnya yang berada di tengah. Cakar biru Ling Yun berhasil menusuk perut raksasa itu sedalam du arias jari membuat raksasa itu meraung kesakitan.


Dua raksasa yang lain tidak tinggal diam. Untuk menolong rekannya serangan dua arah dilancarkan ke bagian pinggang kiri dan kanan Ling Yun. Serangan ini apabila gagal dihindari maka akan menghancurkan tubuh Ling Yun.


Ling Yun bersiul nyaring mengkelebatkan tubuhnya ke belakang sejauh dua tombak dan mendarat di tanah tanpa suara.


“Matilah!!!” berbarengan dengan kakinya yang menyentuh tanah Ling Yun menjentikkan jari telunjuk dan ibu jarinya kea rah manusia raksasa. Warna biru di kuku jari telunjuk Ling Yun seperti keluar dengan sendirinya berubah menjadi cahaya sebesar batu kerikil melesat dengan kecepatan tinggi dan berhasil melabrak raksasa yang berada di tengah hingga ia terlempar tujuh tombak jauhnya.


“Dess!!!”


“Auukkhhkkk!!!” terdengar raungan kematian dari mulut raksasa yang terkena serangan Ling Yun tadi. Tubuhnya perlahan berubah warna menjadi biru yang lama kelamaan menghitam. Setelah sepuluh detik berlalu tubuh besar tersebut perlahan hancur dan berubah menjadi debu tertiup angin.


Semua orang yang menyaksikan dahsyat dan kejamnya serangan yang dikerahkan Ling Yun dalam kemarahannya tadi dibuat terkejut setengah mati.


“Jurusmu sangat dahsyat, adikku. Aku tidak ingat guru pernah menurunkan ilmu itu sebelumnya. Sepertinya itu adalah kekuatan yang kau dapatkan setelah berhasil membangkitkan api kemarahan. Kemarahan itu sendiri telah menjadi sumber kekuatanmu. Tapi sepertinya kau masih belum bisa menguasainya.” Kata Liu Tong sambil mengulas senyum mengejek melihat Ling Yun jatuh berlutut setelah menggunakan pukulan yang membunuh satu raksasa tadi.


“Kemarahanmu masih terlalu lemah untuk bisa mengalahkan pembunuh gurumu ini. Jadi, adikku. Aku akan memberimu kesempatan. Aku tidak akan membunuh kalian hari ini. Kembangkan kemarahanmu dan datanglah padaku setelah kau merasa cukup kuat untuk membunuhku. Aku akan selalu menuggumu” setelah berkata demikian Liu Tong melemparkan benda bulat berwarna hitam ke tanah di depannya. Benda itu meletup kecil lalu mengeluarkan asap tebal.


“Datanglah, tuntaskan balas dendammu setelah kemarahanmu cukup besar, adikku. Hanya dengan itulah kau baru bisa membunuhku!!!” suara Liu Tong terdengar samar-samar. Begitu asap menghilang Liu Tong dan dua raksasa yang tersisa telah menghilang dari hadapan Ling Yun.

__ADS_1


Pemuda tampan itu hanya bisa menggeretakkan rahangnya karena marah.


“Liu Tong!!! Hutang darah ini kelak pasti akan kutagih kembali. Meski ilmu kesaktianmu setinggi langit aku pastikan suatu saat aku akan adakan perhitungan”


***


"Hupp!!!" Ling Yun mendarat ringan di tanah setelah tiba di puncak Gunung Koga. Pemuda itu menyapukan pandangannya ke segala arah mencari - cari.


"Liu Tong!!! Keluar kau? Jangan bersembunyi seperti tikus pengecut!" Ling Yun berseru kencang mengerahkan tenaga dalam hingga suaranya bergema ke segala arah.


Cukup lama Ling Yun menunggu tapi tiada mendapatkan jawaban apapun. Ia kembali berteriak dengan suara lebih lantang dari pertama kali


"Liu Tong!!! Tunjukan dirimu. Aku datang menagih hutang darah". Setelah hening cukup lama orang yang dicarinya tak juga muncul emosi Ling Yun memuncak sudah.


"Liu Tong manusia tak berbudi!!! Jika kau tak juga mau keluar akan aku luluh lantahkan tempat ini. Dan lihat di mana lagi kau akan bersembunyi"


"Wush...!!!"


Telinga Ling Yun menangkap suara menderu dari arah belakang. Secepat kilat murid Pendekar Api Langit membuang tubuh ke samping dan...


"Bummm!!!"


Ling Yun sempat melihat dengan ekor matanya sebuah cahaya berwarna merah kehitaman hampir menyambar tubuhnya ketika ia menghindar tadi. Tidak mengenai sasaran, cahaya tersebut akhirnya melabrak tanah tempat ia berpijak sebelumnya. Hal itu menimbulkan sebuah kubangan yang cukup dalam.


Ling Yun berbalik badan dan tampaklah olehnya seorang pemuda yang sebaya dengannya. Orang yang selama ini dicari - carinya, yang menjadi tujuan dari segala tekadnya untuk menjadi kuat. Juga orang yang paling dibencinya. Dia adalah Liu Tong, kakak seperguruan sekaligus musuh bebuyutannya.


Ling Yun menatap saudara seperguruannya denn tatapan seolah ingin menelannya mentah - mentah. Yang ditatap beringas hanya tersenyum saja menunjukkan sifat jumawa. Di belakangnya terlihat dua raksasa yang masih amat sangat melekat dalam ingatannya. Dua dari tiga raksasa pengawal Liu Tong yang tersisa setelah salah satunya dia bunuh dengan jurus ciptaannya sendiri yang telah diberinya nama Cakar Api Langit. Jurus itu dinamainya demikian untuk mengenang nama kependekaran guru dan juga ayah angkat yang paling dihormatinya.

__ADS_1


"Kau sudah datang, adikku" ucap Liu Tong pelan tanpa menghilangkan senyum mengejeknya.


"Hmph...!!! Jangan sebut - sebut aku sebagai adikmu, Setan!!! Aku tidak sudi kau sebut sebagai adik. Sebutan itu akan menodai kehormatan guruku" hardik Ling Yun keras.


Liu Tong bukannya marah justru semakin memperlebar senyumnya.


"Kau masih ingat apa yang aku katakan terakhir kali sebelum pergi kan? Hari ini kau datang mencariku. Jadi kuanggap kau telah berhasil menguasai api kemarahan"


Kedua pemuda yang terikat sumpah dendam itu cukup lama saling menatap dalam keheningan.


Ling Yun menggenggam erat tombak pendek di tangannya yang seolah tak sabar lagi ingin melabrak saudara seperguruan yang dianggapnya telah murtad itu. Dia pun menjawab dengan nada sedikit rendah, namun sarat akan ancaman.


"Seperti yang kau mau. Aku telah mengendalikannya secara sempurna. Dulu kau secara licik menumpahkan darah guruku, orang yang paling aku hormati sepanjang hidupku" tangan Ling Yun bergetar mengangkat tombak di tangan kanannya.


"Ahh... Aku lupa. Bagaimana kabarnya adik Xian Xiang?"


Pertanyaan Liu Tong barusan sontak membuat amarah Ling Yun kembali memuncak.


"Diam!!! Orang yang hanya tau cara mencampakkannya tidak layak untuk menanyakan apapun perihal dia. Aku sudah mulai bosan dengan basa basi ini. Kita mulai saja sekarang juga. Malam ini kalau bukan kau maka aku yang akan meregang nyawa!!!"


Ling Yun mengangkat kaki kirinya ke depan membentuk kuda - kuda yang kokoh dengan tatapan mata tajam menusuk. Tangan kanan yang memegang tombak pendek terangkat sejajar dengan dada.


Liu Tong juga tak mau berlama - lama lagi menjawab seraya dia menyusul membentuk kuda - kuda yang serupa dengan Ling Yun setelah meloloskan pedang merah di punggungnya.


"Ayo, adikku. Kita lihat siapa yang paling baik pemahamannya tentang jurus ular melibat harimau di antara kit...!!!" Liu Tong hendak menyelesaikan kalimatnya tetapi keburu dipotong oleh Ling Yun yang berteriak karena sudah tidak bisa bersabar lebih lama lagi.


"Kubilang jangan panggil aku adikmu!!! Hiaattt!!!"

__ADS_1


__ADS_2