Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Pertarungan Dua Raksasa


__ADS_3

Ling Yun berdiri tegap dengan dua tangan terkembang dan kaki membentuk kuda - kuda kokoh untuk mendukung pengerahan jurus cakar api langit. Pandangannya lurus ke depan ke arah Liu Tong dan dua raksasa pengawalnya yang telah berdiri membentuk barisan teratur di tiga titik yang tampak seperti segi tiga dengan Liu Tong di barisan bagian depan.


Dua manusia raksasa menempelkan masing - masing satu telapak tangan mereka di punggung Liu Tong. Urat - urat lengan kedua raksasa itu tampak menonjol dan seperti bergerak ke telapak tangan yang menempel di punggung Liu Tong.


Gelapnya malam tak dapat menghalangi pandangan Ling Yun yang tajam. Sebelah alisnya terangkat melihat tubuh Liu Tong perlahan - lahan mengembang hingga menyerupai tubuh raksasa pengawalnya.


Ling Yun terus melihat tubuh Liu Tong yang terus membesar dengan kening berkerut. Tubuh Liu Tong akhirnya berhenti membesar setelah besarnya mencapai dua kali lipat lebih besar dari pada raksasa pengawalnya tadi. Bersamaan dengan berhenti membengkaknya tubuh Liu Tong kedua raksasa itupun ambruk.


"Ilmu penyaluran kekuatan" desis Argadana pelan.


"Itu ilmu yang hanya dimiliki oleh para penasihat tinggi Kerajaan Siluman Darah dan hanya digunakan pada saat - saat kritis di mana pasukan telah melemah dan hampir kalah dalam perang. Bagaimana manusia raksasa itu bisa mengetahuinya?" begitu Argadana membatin keheranan.


"Bummm...." Liu Tong menghentakkan kakinya ke tanah menimbulkan gempa kecil di sekitar tempat itu.


"Hahaha....!!! Ayo adikku. Aku sudah siap. Kita lanjutkan pertarungan" Liu Tong tertawa bergelak.


"Baik...!!! Kita lanjutkan penentuan hidup dan mati kita. Huppp...!!!"


Seperti biasa Ling Yun tidak mau kehilangan momentum. Ia bergerak menyerang lebih dulu. Dengan jurus cakar api langitnya ia berusaha mendaratkan serangan di lutut Liu Tong yang kini telah berubah ukuran tubuhnya menjadi tiga kali lebih tinggi darinya.


Di sisi lain Liu Tong meskipun ukuran tubuhnya telah berubah sama sekali kecepatan dan kelincahannya tidaklah berkurang. Akibatnya Ling Yun merasa cukup kesulitan untuk menyarangkan serangan di tubuh Liu Tong.


"Ayolah, adikku... Apa hanya ini saja kemampuan yang telah kau kembangkan selama tujuh tahun ini? Kalau hanya begitu saja kau sungguh mengecewakanku dan juga... harapan guru" ejek Liu Tong memancing kemarahan Ling Yun.


"Puih... Aku masih tidak perlu nasihatmu. Dan juga jangan bawa - bawa nama guruku. Murid yang telah murtad akan mengotori nama baiknya kalau namanya disebutkan!!!" balas Ling Yun ketus. Ia membatin:


"Jurus ini saja tidak akan bekerja kalau kelincahannya seperti itu. Mau beradu tenaga pun justru aku yang akan dirugikan. Sepertinya hanya bisa menggunakan jurus itu"

__ADS_1


Ling Yun mengambil kembali tombak pendek yang tadi telah disimpannya.


"Dengan jurus tombak raja hantu di tangan kanan dan jurus cakar api langit di tangan kiri. Aku memanggilmu datang, wahai Raja Arwah. Dengarkan panggilanku!!!"


***


Argadana masih dalam persembunyiannya mengintai pertarungan antara Liu Tong dan Ling Yun. Ia berdecak kagum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Mataku sungguh terbuka lebar hari ini. Ilmu orang - orang di negeri sebrang juga banyak yang aneh - aneh. Selain ilmu penyaluran kekuatan ada juga ilmu lain yang tak kalah aneh"


Di sana terlihat mata tombak Ling Yun bergetar hebat dan mengeluarkan asap tebal yang menutupi seluruh bagian tombak. Warna biru di kuku jarinya semakin terang sampai asap putih tebal ikut membungkusnya juga.


Liu Tong yang tadi mengejek Ling Yun mau tak mau mengerutkan dahinya juga melihat keanehan yang terjadi pada Ling Yun setelah mengucapkan mantra yang tak pernah dia dengar sebelumnya.


Asap perlahan - lahan menutupi sosok tubuh Ling Yun juga. Setelah beberapa saat asap tersebut mulai menipis. Tetapi yang terlihat di depan Liu Tong kali ini bukanlah sosok Ling Yun, melainkan sosok tinggi besar yang ukuran tubuhnya sama persis seperti tubuhnya.


***


"Ahh... Kalian rupanya. Bagaimana keadaan di bawah" kata Argadana berbisik - bisik sambil tersenyum menyambut kedua pembantunya itu.


"Di bawah aman, tuan. Hanya tersisa beberapa kelompok kecil, nyonya berdua meminta kami untuk datang membantu tuan" Nila Sari menjelaskan.


"Hmmm... Ah iya, kalian mau berapa kali kukatakan agar tidak perlu membungkukkan badan seperti itu saat bertemu denganku. Aku merasa risih" kata Argadana.


"Ehm... Maaf, tuan. Kkk... Kami tidak merasa enak hati kalau berbuat begitu" jawab Surasena.


"Hahh... Terserah kalian saja lah" Argadana kembali memperhatikan jalannya pertarungan.

__ADS_1


"Dia sungguh hebat. Manusia biasa tidak mungkin bisa berkomunikasi langsung dengan roh di dalam senjata pusakanya, dia malah bisa menyatu dengan roh pusaka itu" kata Argadana kembali mengomentari penampilan Ling Yun.


Ling Yun dan Liu Tong kembali saling menggempur. Kali ini dengan ukuran nadan yang seimbang tentunya. Surasena dan Nila Sari keheranan melihat Argadana begitu antusias menyaksikan pertarungan tingkat tinggi itu dari jarak jauh.


"Apa yang membuat tuan antusias begitu. Bukankah ilmu pemuda itu hanya berbeda sedikit dengan tuan? Tuan malah bisa memanggil Raja Naga secara langsung tanpa perlu susah - susah kerasukan seperti dia" Surasena mengungkapkan rasa penasarannya. Nila Sari di sampingnya pun ikut mengangguk membenarkan.


"Kalian tidak mengerti. Meskipun kemampuan anak itu masih setingkat di bawah ilmu pemanggilanku, tetap saja yang namanya berkomunikasi dengan roh pusaka itu sulit. Jadi kalau dia bisa melakukannya, walaupun masih belum sempurna juga sudah termasuk hebat"


Tanpa sadar ketiga orang itu mengobrol cukup lama sambil melihat gaya bertarung dua pemuda yang kini telah menjadi raksasa itu.


Ningrum dan Yalina datang bersama kelima tetua pecahan datang di tengah - tengah obrolan mereka. Argadana menyambut kedatangan mereka dengan berbisik - bisik takut kedengaran oleh kedua orang yanh sedang bertarung.


Saat Argadana menanyakan situasi di bawah puncak gunung Ningrum menjawab mewakili rekan - rekannya yang baru saja datang bahwa pertarungan sudah selesai dan anggota yang lain sudah turun gunung untuk mengobati yang terluka dan membawa jasad - jasar para anggota yang terbunuh dalam penyerangan. Anggota klan Koga dan Manjidani telah binasa, hanya Kyokko Fukada yang sempat melarikan diri setelah mengorbankan tiga rekannya dan juga para bawahan Kyokko Sumite yang menyibukkan Yalina demi memberinya waktu untuk melarikan diri.


***


Ling Yun dan Liu Tong bertarung dengan tangan kosong karena ukuran tubuh mereka yang besar tidak cocok dengan senjata mereka yang berukuran kecil.


Kedua pendekar muda dari negeri Tiongkok itu telah bertarung selama dua puluh jurus tanpa ada satupun yang berhasil menyarangkan pukulan kepada lawan.


Liu Tong menarik kaki kiri ke belakang untuk memundurkan badan merasakan angin kencang menderu dari tinju Ling Yun. Begitu serangan Ling Yun lewat Liu Tong dengan cerdas mengangkat kaki kiri menendang ke arah perut.


Tanpa diduga Ling Yun memiringkan badan ke kiri sedikit. Lalu membungkukkan badan kedepan sambil tangan kanannya dengan cepat membentuk siku mengincar lutut kaki kiri yang tadi hendak menendangnya.


Liu Tong yang terkejut dengan serangan tak terduga lawan cepat - cepat menarik kembali kaki kirinya. Malangnya karena menarik kaki kiri sudah menyita sedetik waktunya, waktu yang sedetik itu digunakan Ling Yun untuk mengubah jalur serangan yang tadinya mengincar lutut kiri kini beralih menotok lutut kanan. Serangan tak dapat dihindari, Liu Tong berusaha mengerahkan tenaga dalamnya ke arah lutut kanan agar tidak sampai patah oleh totokan Ling Yun yang mengandung tenaga dalam tinggi. Maka...


"Tuk...!!!"

__ADS_1


"Ughhh...."


__ADS_2