
Di dalam istana Kerajaan Sakra
"Bangs4t...!!! Anak muda itu benar - benar kurangajar. Sudah banyak orang - orangku yang mati di tangannya. Utus orang yang cukup kuat, aku mau dia mampu*s" maki Raja Durja dengan mimik muka merah bakal kepiting rebus. Kemarahannya bahkan sampai menimbulkan uap yang mengepul di atas kepalanya.
Hal itu tidak lain karena kabar yang dia dengar baru - baru ini bahwa dia orang pembantunya yang sangat kuat yaitu Sepasang Pendekar Sejoli Pembunuh Naga telah tewas di tangan seorang Pendekar yang bergelar Ksatria Lembah Neraka.
"Ampun, yang mulia... Hamba rasa mungkin ketua Perguruan Camar Hitam, Adi Reksa punya kemampuan yang sangat tinggi. Dia baru bergabung dengan kita selama dua pekan ini. Dunia persilatan mengenalnya dengan sebutan Pendekar Abadi karena dia menguasai ajian Perisai Semesta yang memungkinkan tubuhnya kebal terhadap berbagai macam senjata pusaka sekalipun. Hamba yakin, kali ini pendekar terkutuk itu pasti binasa. Dan hitung - hitung ini juga untuk menguji kesungguhannya kepada kita" Patih Kerajaan Sakra menenangkan gejolak amarah Raja Durja.
"Hmmm.... Semoga saja kali ini orang yang kau pilih bisa diandalkan. Aku tidak mau dengar kau gagal lagi, Patih" tegas Raja Durja.
"E.. Eh... Baik, yang mulia. Hamba akan berusaha melakukan yang terbaik" kata Sang Patih menundukkan kepalanya.
"Sekarang panggil semua jendral dan panglima, serta mentri - mentri dan para penasehat kerajaan. Kita akan membahas rencana penyerangan besok"
"Baik, yang mulia. Segera hamba laksanakan"
***
Kepulan debu dari rentakan kaki kuda tampak memenuhi jalan setapak itu. Lima ekor kuda berlari kencang membentuk barisan memanjang seolah berlomba saling menunjukkan kekuatan masing - masing. Di barisan paling depan kuda berwarna putih ditunggangi seorang pemuda berambut keemasan. Jika dilihat dari dekat, maka akan tampaklah sebuah gambar rajah pedang berwarna merah di tengah - tengah dahi antara kedua alisnya. Selain wajahnya yang tampan, penampilannya juga tampak sangat berwibawa.
Di belakang pemuda itu seorang gadis yang sangat cantik berhidung bangir. Tatapan matanya mencorong tajam pertanda memiliki tenaga dalam tinggi. Di punggung gadis itu terlihat menyembul sebuah pedang dengan gagang berbentuk kepala naga. Sarung pedang tersebut berwarna putih kebiruan.
Di belakang keduanya ada lagi dua orang pria dan seorang wanita yang juga sama - sama sedang menunggangi seekor kuda.
Dengan melihat ciri - cirinya saja kita tentu saja sudah mengetahui bahwa kelima orang penunggang kuda itu adalah Argadana, Ningrum, Surasena, Jaya Rumah dan Nila Sari.
Argadana melanjutkan kembali perjalanan mereka. Kali ini mereka sudah mendekati Kota Raja Kerajaan Datu Gumi untuk menemui ayahnya, Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya. Mereka hanya tinggal melakukan sehari perjalanan saja untuk melewati sebuah perkampungan dan sampai di tujuan mereka.
__ADS_1
Hiieeeiikkkk....
Kuda yang ditunggangi Argadana tiba - tiba mengangkat kedua kaki depannya dan mengeluarkan suara ringkikan yang membuat lari keempat kuda di belakangnya berhenti.
Argadana hampir terjungkal dari kudanya jika saja dia tidak segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk mengimbangi tenaga lompatan kudanya tadi.
"Ada apa, kakang?" tanya Ningrum seraya mendekat.
"Entahlah... Putih merasakan bahaya sedang menunggu di depan sana" kata Argadana menjelaskan pada Ningrum apa yang menyebabkan kuda putih tunggangannya tiba - tiba bertingkah aneh.
Ningrum percaya pada ucapan Argadana karena dia pun tahu bahwa insting binatang itu biasanya jauh lebih tajam daripada manusia dalam hal merasakan bahaya.
"Biar kami memeriksanya, tuan.." kata Surasena
"Baik... Berhati - hatilah"
Surasena menoleh ke kiri dan kanan di depan Nila Sari yang berjalan perlahan dengan Pedang Naga Hitam di tangan yang telah terhunus dari warangkanya.
Di saat Surasena sedang memeriksa persimpangan jalan di depannya, pendengarannya yang tajam menangkap suara kesiur angin tajam dari arah samping kiri. Segera saja ia melakukan gerakan salto ke belakang menghindari serangan dua buah pisau kecil berwarna putih mengkilat.
Crabb....
Kedua buah pisau itu hanya menancap di tanah tak mengenai sasaran karena targetnya telah keburu menghindar.
"Pisau beracun..." desis Surasena melihat rumput yang tumbuh di dekat tanah yang tertancap pisau seketika menjadi layu dan kering.
"Kakang, awas... " teriak Nila Sari melihat dua buah lagi pisau serupa melesat dari samping menuju ke arahnya dan Surasena. Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam itu melompat ke arah berlawanan sehingga pisau ke dua juga gagal mengenai sasarannya.
__ADS_1
"Hahahaha... Kalian rupanya cukup berisi juga. Rupanya Pendekar Pembunuh Naga yang terkenal hebat itu rela memalsukan kematiannya demi menjadi anjing dan menjilat pada seorang anak muda yang masih bau kencur. Hehehe...." suara tawa mengejek keluar dari mulut seorang lelaki tua renta dari samping kanan Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam itu.
Lelaki itu bertubuh jangkung dan sangat kurus.
"Bangs4t... Kau .... "
Wajah Nila Sari merah padam mendengar ejekan dari orang tua itu. Wanita itu dia menggelar jurus pamungkas nya sehingga muncul uap hitam berbau amis dari ubun - ubun nya.
Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena Surasena segera menahan agar istrinya tidak bertindak semberono. Argadana yang melihat ketegangan itu berlangsung cukup lama segera turun dari punggung kudanya dan berlari menghampiri Surasena dan Nila Sari.
"Hati - hati, orang tua... Lidah yang kelewat tajam bisa melukai mulut sendiri" sindir Argadana begitu pemuda itu sampai di sisi Surasena dengan Ningrum dan Jaya Rumah mengikut di belakang.
"Hehehe.... Pengalamanku bahkan sudah jauh melampaui ayahmu, anak muda. Jadi meski lidahku tajam, tidak nantinya akan melukai diriku sendiri" balas orang tua itu disertai seringai mengejek.
"Benarkah?? Kalau begitu biar kutanya satu hal padamu" kata Argadana tersenyum. Ini pertama kalinya dia menampakkan wajah nakalnya.
"Apa itu?"
"Jika kedua kawanku yang gagah berani ini kau sebut 4njing, lalu bagaimana dengan kau yang bersifat pengecut dan hanya berani membokong? Hal itu bahkan kau lakukan secara diam - diam. Apakah kau bermaksud untuk mengatakan bahwa kau lebih buruk dari 4njing itu sendiri?"
"Kau...."
Merah padam wajah kakek tua tersebut mendengar ucapan Argadana. Harga dirinya tentu saja sangat tersinggung mendengar sindiran keras dari anak muda itu.
"Anak s3tan ini... Mulutnya pedas juga" umpat orang tua itu dalam hati.
"Ada apa, orang tua? Apa kau tidak terima orang lain merendahkanmu?" kata Argadana memanas - manasi.
__ADS_1