Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Perguruan Belibis Putih


__ADS_3

Seminggu setelah penyerangan terhadap Adipati Renggana yang belakangan ini telah diketahui merupakan seorang ketua dari sebuah perkumpulan bernama Perkumpulan Pengemis Darah Hitam nama Dewi Pedang Guntur dan Ksatria Lembah Neraka semakin santer terdengar didengung - dengungkan di kalangan dunia persilatan.


Berbagai cerita digembar - gemborkan orang - orang. Ada yang mengatakan kedua pendekar itu adalah dewa yang tubuhnya bercahaya, dan ada juga yang mengatakan bahwa semua penjahat serta Adipati Renggana yang jahat itu terbunuh hanya dengan satu gerakan jemari Ksatria Lembah Neraka dan Dewi Pedang Guntur.


Banyak tokoh - tokoh hebat dunia persilatan memuji tindakan berani kedua pendekar itu. Bahkan tidak jarang juga ada pria atau pun wanita yang secara diam - diam maupun terang - terangan menyatakan rasa penasaran mereka terhadap kedua pendekar yang hanya terdengar nama besarnya tetapi belum pernah diketahui seperti apa orangnya.


Dari sebagian besar orang ada yang percaya, tetapi ada juga sebagian orang yang hanya menganggap kabar burung itu hanyalah bualan belaka untuk membuat ramai dunia persilatan. Salah satunya adalah Perguruan Belibis Putih.


Perguruan Belibis Putih adalah perguruan silat aliran lurus yang berdiri di tengah perkampungan bernama Desa Keredepan. Desa yang cukup makmur rakyatnya karena dipimpin oleh seorang kepala kampung yang cukup apik dalam menjalankan pemerintahan. Perguruan Belibis Putih juga berhubungan baik dengan kepala kampung Desa Keredepan, sehingga untuk keamanan rakyatnya Kepala Kampung Desa Keredepan yang bernama Rana Abang itu menyewa jasa perlindungan dari Perguruan Belibis Putih. Hal itu juga merupakan salah satu faktor penyebab desa tersebut aman dari penjahat. Meskipun memang ada yang menjadi perampok, itu pun tidak banyak karena setiap mereka beraksi murid - murid Perguruan Belibis Putih akan memburu mereka.


Namun pada hari itu Perguruan Belibis Putih kedatangan tamu dari Perguruan Tengkorak Darah, perguruan terbesar ke tiga aliran hitam di Kerajaan Giliq Rurung. Kekuatannya jelas jauh lebih besar dari Perguruan Belibis Putih.


Kedatangan mereka adalah bertujuan untuk meminta Perguruan Belibis Putih agar tunduk pada Perguruan Tengkorak Darah. Dan orang yang diutus perguruan aliran hitam itu adalah Deboq Kao, wakil ketua Perguruan Tengkorak Darah.


"Bagaimana, Wardana? Apa kau setuju untuk tunduk dan berjanji setia pada Perguruan Tengkorak Darah?" tanya Deboq Kao. Orang yang disebutnya Wardana adalah Ketua Perguruan Belibis Putih.


"Kami sudah siap menerima apapun konsekuensinya, Deboq Kao. meskipun harus runtuh di sini hari ini, kami tidak akan pernah menyerah pada tokoh - tokoh sesat seperti kalian" kata Wardana menolak dengan tegas kehendak Perguruan Tengkorak Darah.


Deboq Kao menyeringai mengerikan, wajahnya memerah menahan amarah karena keinginannya ditolak.


"Kalau begitu kuanggap kau sudah siap dengan resiko yang akan diterima perguruanmu" katanya dengan nada tinggi.


Deboq Kao lalu keluar dari Perguruan Belibis Putih dengan kemarahan terpancar jelas di wajahnya.


***


Keesokan harinya Perguruan Belibis Putih diserbu oleh Perguruan Tengkorak Darah yang mengerahkan hampir separuh dari keseluruhan anggotanya. Hal itu mereka lakukan karena tidak terima dengan penolakan Wardana untuk menjadikan Perguruan Belibis Putih tunduk di bawah kekuasaan Perguruan Tengkorak Darah.


Kedatangan sepasukan besar anggota Perguruan Tengkorak Darah ke Desa Keredepan membuat resah seluruh warga kampung itu. Setiap orang yang mereka lewati tidak peduli menyinggung mereka atau tidak akan tetap dibunuh dengan kejam. Akibatnya warga yang biasa kesehariannya berlalu lalang karena jaminan keamanan yang diberikan Perguruan Belibis Putih di hari itu mulai bersembunyi di dalam rumah masing - masing karena takut berpapasan dengan anggota Perguruan Tengkorak Darah yang sangat ganas itu.


Penyerangan terhadap Perguruan Belibis Putih dipimpin langsung oleh Deboq Kao. Pada hari itu hampir separuh murid Belibis Putih terbunuh.


Trank. . .

__ADS_1


Trank. . .


Akkkhh . . .


Ughkhh. . .


Dentingan senjata beradu di udara membawa melodi menyayat hati. Teriakan kematian dari para murid Belibis Putih maupun dari pihak Tengkorak Darah membahana di sana - sini.


Utss. . .


Wardana melompat mundur ketika tangannya terasa kesemutan karena berbentrokan dengan Deboq Kao.


"Bagaimana, Wardana? Apa kau berubah pikiran? Kau masih bisa menyelamatkan murid - murid perguruanmu yang tersisa jika kau menyerah sekarang dan tunduk pada kami" kata Deboq Kao masih menawarkan.


Perguruan Tengkorak Darah saat ini memang sedang gencar - gencarnya memperbanyak jumlah anggota mereka untuk menyerang Perguruan Gagak Hitam, perguruan nomor dua aliran hitam di Kerajaan Giliq Rurung.


Sesungguhnya Perguruan Tengkorak Darah di Kerajaan Giliq Rurung hanyalah merupakan cabang saja. Pusatnya berada di Kerajaan Sakra. Di sana Perguruan Tengkorak Merah menjadi perguruan terbesar dan terkuat aliran hitam.


Ketua cabang Perguruan Tengkorak Darah telah berusaha meminta bantuan tenaga dari perguruan pusat untuk menghadapi krisis mereka, namun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Permintaan penambahan bantuan mereka ditolak oleh perguruan pusat, sehingga mereka tidak mempunyai jalan lain selain menundukkan perguruan - perguruan lain untuk dijadikan tambahan tenaga dalam peperangan mereka nantinya.


"Hehehe. . . Kalau begitu bagaimana jika kau menyaksikan kematian mereka?" Deboq Kao menyeringai lalu menunjuk salah seorang anggotanya yang keluar membawa anak dan istrinya yang dalam keadaan terikat seluruh tubuhnya.


"Kurang ajar kau, Deboq Kao. Curang ..." teriak Wardana marah.


"Hehehe. . . Kami ini dari perguruan beraliran hitam, Wardana. Hal semacam kecurangan itu sudah merupakan hal lumrah bagi kami" kata Deboq Kao memasang senyum mengejek.


"Jadi, apa kau akan terus pada pendirianmu itu? Jika tidak, anak gadismu yang manis ini akan jadi milikku untuk menebus penolakanmu. Hahaha. . ." kata - kata Deboq Kao mulai menggoyahkan hati Wardana yang melihat Deboq Kao mengancam istrinya dengan sebilah belati yang ditodongkan ke lehernya.


Wardana mulai putus asa. Pikirannya menjadi buntu menghadapi musuh yang jumlahnya dua kali lebih banyak dari mereka dan merupakan pendekar - pendekar berilmu tinggi, ditambah lagi mereka menculik keluarganya pula. Di saat dia hampir menyerah itu secercah harapan terlihat ...


Deboq Kao tidak menyadari jika ada keanehan terjadi pada anak buahnya yang mendapat perintah menculik keluarga Wardana. Mata anak buahnya berwarna merah, dan ekspresinya seperti orang linglung tidak sadarkan diri.


Di saat Deboq Kao menodongkan belatinya di leher istri Wardana dia tidak melihat anak buahnya bergerak sangat cepat karena dia sedang menoleh ke arah Wardana.

__ADS_1


Crasss. . .


Aaaghhh. . .


"Bangs4t. . . Beraninya kau berkhianat padaku"


Deboq Kao sangat murka melihat kutungan tangan kanannya yang ditebas oleh anak buah sendiri. Dia mengira bahwa anak buahnya telah berkhianat.


"Kau sendiri yang mengatakan bahwa kita ini merupakan pendekar aliran hitam. Dan kecurang itu merupakan hal yang lumrah dalam pertarungan." kata anggota yang tadi menebas putus tangan Deboq Kao, namanya Sirdan. Ekspresi wajahnya tetap datar tanpa perasaan.


Deboq Kao dibuat bingung karena hal itu, Wardana pun sama bingungnya.


Di saat hening sebentar itu Deboq Kao tiba - tiba melompat ke belakang setelah menghentikan pendarahan dari lengannya yang buntung karena merasakan angin serangan dari arah anggotanya yang berkhianat.


Dengan murka diserangnya balik Sirdan dengan kemarahan meluap - luap penuh nafsu membunuh.


Wuss. . .


Trank. . .


Pedang Sirdan dan Deboq Kao bertemu di udara menimbulkan percikan - percikan api. Sirdan menyerang lagi Deboq Kao dengan ganas.


Deboq Kao terheran - heran karena gerakan yang dilakukan Sirdan sangat lentur. Itu bukanlah jurus yang diajarkan oleh Perguruan Tengkorak Darah.


Sementara Wardana melihat pertarugan itu dengan mulut terbuka, seolah - olah rahangnya hampir terjatuh.


"Ada apa dengan anak buahnya itu? Apakah dia mabuk, atau kesurupan sesuatu?" Wardana hanya dapat bertanya - tanya dalam hati tanpa mendapat jawaban.


Sementara di tengah - tengah halaman Perguruan Belibis Putih saat ini Sirdan tengah mencecar Deboq Kao dengan jurus - jurus pedang yang sangat mematikan. Suatu ketika tangan kiri Sirdan dalam bentuk tapak mengancam dada, Deboq Kao hanya membiarkan saja serangan itu, tetapi kesudahannya terjadilah keanehan.


Telapak Sirdan menghantam dada Deboq Kao. Yang dihantam sendiri tidak kekurangan suatu apa pun, justru telapak tangan Sirdan menempel erat di dada Deboq Kao.


Deboq Kao lalu mengarahkan tangan kirinya yang telah berubah warna menjadi kuning menyentuh bahu Sirdan. Tubuh Sirdan bergetar hebat meski ekspresi datarnya tidak berubah.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Deboq Kao melepaskan tubuh Sirdan yang telah kehabisan tenaga dalamnya karena 'racun pelumpuh tenaga dalam' yang dikerahkan Deboq Kao.


"Ilmu lintah maut" desis Wardana terdengar jelas oleh seseorang yang sejak tadi mengintai di atas pohon besar di tengah halaman Perguruan Belibis Putih yang biasa digunakan para murid Belibis Putih berlatih memperkuat fisik mereka.


__ADS_2