
Setelah berkata demikian Argadana mengayunkan pedangnya menebas leher Tokugawa Hyakubake pelan bagai tak bertenaga.
Tokugawa Hyakubake yang merasa ngeri dengan pamor Pedang Siluman Darah ingin melompat mundur sejauh mungkin dari Argadana. Tapi naas... Tekanan Pedang Siluman Darah terlalu berat untuk diatasi olehnya. Tubuh Tokugawa Hyakubake sama sekali tidak bergerak bagai terpaku.
Akhirnya Pedang Siluman Darah yang dibebaskan Argadana melewati leher Tokugawa Hyakubake.
Des...
Argadana menendang tubuh Tokugawa Hyakubake hingga ambruk. Namun yang membuat mata semua orang tercengang adalah bentuk potongan di leher Tokugawa Hyakubake itu tampak sangat rapi, dan tidak ada terlihat setetes pun darah dari leher yang tertebas.
"Ahh... Aku rupanya salah memperhitungkan. Sepertinya aku tadi mengeluarkan seperseratus dari kekuatan penuhku" kata Argadana tanpa merasa bersalah.
Murid Sepasang Pendekar Naga lalu menatap sembilan orang klan Tokugawa yang tersisa. Matanya tampak berkilat tajam membuat mereka merasa tercekik.
"Kau... Jangan mendekat. Kami dari klan Tokugawa. Ketua klan kami tidak akan melepaskanmu klan Nakamura jika kau membunuh kami di sini"
"Kalian pergilah... Sebelum aku berubah fikiran. Jangan kira kalian akan mendapatkan nyawa rangkap hanya karena kalian berada di bawah lindungan klan Tokugawa" suara Argadana terdengar dingin.
"Kami hanyalah pengelana yang datang kemari atas perintah guru. Tuan muda kalian lebih dulu mencari masalah dengan kami. Setelah terjadi hal seperti ini kalian lalu ingin membalas dendam dengan kemarahan meluap - luap seolah - olah kamilah orang yang paling disalahkan dalam hal ini" Argadana perlahan mendekati sembilan orang tersebut yang hanya bisa main mundur saja tanpa berani melawan karena merasa jeri dengan Pedang Siluman Darah di tangan Argadana.
"Apa kalian ingin mengatakan kepada dunia bahwa klan Tokugawa boleh mengganggu orang, tapi orang lain tidak boleh mengganggu klan kalian? Katakan pada ketua klan kalian. Ini peringatan yang kedua juga merupakan yang terakhir. Jika tidak diindahkan, maka Pedang Siluman Darah di tanganku akan menghisap habis seluruh darah di tubuhnya"
Sembilan orang itu lalu beringsut mendekati mayat Tokugawa Hyakubake lalu mengangkat tubuh dan potongan kepala itu bersama - sama karena tubuh mereka masih gemetaran. Sebelum meninggalkan tempat itu Tokugawa Gray, orang terkuat dalam daftar sepuluh teratas itu sempat berkata dengan suara lantang.
"Kau jangan senang dulu, anak muda. Tiga hari yang akan datang kau bersiap - siaplah. Klan Tokugawa tidak pernah menerima penghinaan sebesar hari ini. Kami akan datang kembali bersama pasukan yang lebih besar. Saat itu tiba kau hanya perlu membersihkan lehermu untuk menjadi bahan asahan katana kami!!!"
"Aku akan menunggu hari itu tiba agar aku tidak usah mengejar klan Tokugawa terlalu jauh di kandangnya. Dan kita akan lihat batang leher siapa yang akan lebih dulu terlepas" teriak Surasena keras hingga terdengar oleh Tokugawa Gray yang hanya dapat menggerendeng marah.
__ADS_1
***
"Apa???"
Nakamura Hikone marah besar mendengar tingkah Nakamura Todo di kediaman Nakamura Hayate dari laporan yang dikirimkan oleh mata - matanya yang menyaksikan kejadian ketika Nakamura Todo disentil hingga muntah darah dan hingga kini masih belum bisa kembali ke klan diakibatkan karena luka - luka yang dideritanya.
"Bodoh...!!! Nakamura Todo... Aku suruh dia ke sana untuk menemui pemuda itu secara khusus agar klan kita bisa menjalin hubungan baik dengannya. Bagaimana dia bisa berfikir untuk mengacaukan rencanaku dengan bersikap buruk padanya" geram Nakamura Hikone.
"Maaf, ketua... Mungkin kita masih punya kesempatan untuk membujuknya agar dia mau bergabung dengan kita" kata mata - mata itu.
"Caranya?"
"Klan Tokugawa telah memberi peringatan dengan mengatakan bahwa dalam tiga hari mereka akan membawa pasukan yang besar untuk mengepung mereka di kediaman Nakamura Hayate. Jadi kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membantunya. Selanjutnya ketua pasti sudah mengetahui sendiri"
"Hmm... Benar juga usulmu"
"Tapi... Bagaimana jika Tokugawa mengerahkan pasukan ninja? Kita bukan tandingan para pembunuh bayaran itu. Jadi bagaimana baiknya menurutmu, Nakamura Arashi" kata Nakamura Hikone menoleh ke arah penasehat agung klan Nakamura.
"Maaf, ketua... Situasi ini memang mengharuskan kita untuk berjudi. Semuanya sama - sama memiliki resiko sendiri. Yang pertama jika kita berlepas tangan tidak ikut campur dalam permasalahan mereka, menang atau kalahnya pemuda itu tetap akan mendatangkan kerugian bagi klan karena Nakamura Hayate bersikeras ingin melindungi anak itu" kata Nakamura Arashi.
Nakamura Hikone hanya mengangguk - anggukkan kepala tanda mengerti.
"Hal itu pasti akan membuat klan Tokugawa memendam dendam pada kita. Dan jika mereka sampai mengerahkan pasukan ninja, kita tidak akan bisa berbuat apa - apa. Tetapi jika kita membantu pemuda asing itu dan menang, maka kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Orang - orang dari golongan putih tidak seperti orang - orang yang pada umumnya mengambil jalan sesat. Jika kita mengulurkan satu bantuan, mereka akan membalas dengan dua bahkan tiga kali lipat dari apa yang kita berikan. Jadi pertaruhan ini dianggap sepadan. Menang atau kalah resikonya sepadan dengan keuntungannya"
"Membantu atau tidak semuanya ada resiko tersendiri. Aku khawatir jika kita tidak membantu pemuda itu, kita akan melepaskan keuntungan besar jika dia menang. Sedangkan jika dia kalah, kita akan tetap diincar oleh klan Tokugawa karena sudah terlanjur dilibatkan. Kurasa, anak itu melakukan hal ini dengan sengaja agar klan Nakamura kita ikut melakukan perlawanan terhadap klan Tokugawa. Baiklah... Kali ini aku akan berjudi dengan keberuntunganku sendiri. Kita lihat apakah keberuntungan klan Nakamuraku bisa mengalahkan keberuntungan klan Tokugawa. Sampaikan pesanku pada seluruh anggota klan kita, aku sudah mengambil keputusan untuk membantu pemuda itu..."
***
__ADS_1
"Tidak kusangka masalah ini akan jadi begini rumit" keluh Nakamura Hayate menggaruk - garuk kepalanya. Murid - murid yang duduk di sampingnya hanya bisa diam saja karena tidak tahu harus berbuat apa.
"Ahh... Tuan tenang saja. Meskipun klan Tokugawa mengerahkan kekuatan penuhnya, kecuali mereka mengikut sertakan para ninja mereka akan tetap kesulitan. Itu karena kita juga mempunyai bantuan besar nanti" kata Argadana.
"Bantuan dari mana maksudmu, Argadana. Klan Nakamura sudah tidak mungkin lagi mengulurkan bantuan karena kita telah dianggap sebagai pemberontak. Dan mungkin aku juga sudah dikeluarkan dari daftar klan" kata Nakamura Hayate dengan nada sedih.
"Tuan tidak usah memikirkan hal itu. Mereka pasti membantu" kata Argadana dengan percaya diri.
"Jika kita di sini dihancurkan klan Nakamura juga akan tetap hancur karena dendam klan Tokugawa. Mereka tidak punya pilihan selain untuk membantu" batin Argadana tersenyum.
"Untuk berjaga - jaga jika mereka melakukan pengepungan di rumah ini, kita akan membangun sebuah tempat persembunyian untuk mengintai pergerakan mereka. Jadi pada hari ketiga nanti rumah ini harus dikosongkan. Lalu... "
Argadana menyusun strategi yang akan mereka gunakan ketika berhadapan dengan pasukan besar klan Tokugawa tiga hari mendatang. Dia mengatur tempat - tempat yang akan digunakan sebagai persembunyian dan banyak hal - hal lainnya.
Keesokan harinya semua orang di kediaman Nakamura Hayate bekerja sama mengatur tata letak penempatan jebakan - jebakan. Argadana bersama Surasena dan Jendral Thalaba membuat tempat persembunyian sementara di atas pokok pohon yang amat rimbun.
Memang jika dilihat dari bawah memang tidak akan terlihat seorang pun bersembunyi karena terhalang dedaunan yang rimbun. Mereka bekerja tanpa mengenal lelah hingga hari yang dijanjikan klan Tokugawa tiba juga.
Kali ini klan Tokugawa dipimpin langsung oleh ketua klan mereka, Tokugawa Chirou.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Tokugawa Chirou pada salah satu pasukannya yang baru saja turun dari pohon tinggi besar di sudut dinding pagar rumah Nakamura Hayate untuk melihat keadaan di dalam.
"Di dalam terlihat sangat sepi, ketua. Tapi pekarangannya tampak sangat bersih dan terawat. Tapi pintu rumahnya juga tertutup bagai tak berpenghuni"
"Huh... Mereka pasti bersembunyi di dalam dan sudah mempersiapkan jebakan. Sebaiknya kita pancing mereka keluar. Gunakan panah api... Bakar rumahnya. Kita lihat apakah mereka masih akan tetap bersembunyi di dalam rumah hangus itu"
Para pasukan panah pun serentak mengambil anak panah yang telah diolesi minyak untuk dibakar. Mereka lalu bersamaan melepaskan anak panah api tersebut yang menancap di atap - atap rumah Nakamura Hayate.
__ADS_1
"Nakamura Hayate... Keluarlah sekarang juga...!!! Aku akan membiarkan nyawamu tetap utuh asalkan kau menyerahkan orang - orang asing itu padaku. Pasukan kami sudah mengepungmu. Kau tidak akan bisa lari kemana - mana. Cepat buat keputusan..."