
Jual beli jurus tendangan dan pukulan antara Argadana melawan Ki Sungsang Geni alias La Huda berjalan sengit dan telah mencapai jurus ke seratus tetapi baik Argadana maupun La Huda masih belum tampak keleleahan.
Argadana telah beberapa kali berhasil menebaskan pedangnya di beberapa bagian tubuh La Huda namun hasilnya nihil. Pedang Siluman Darah memang bisa menembus ilmu kebal yang dianut La Huda akan tetapi dengan kekuatan sihir dari ilmu Tubuh Raja Iblisnya tangan atau kaki yang berhasil terbabat kutung oleh Pedang Siluman Darah itu kembali tumbuh.
Bahkan Argadana telah dua kali berhasil menebas putus kepala La Huda akan tetapi hasilnya masih sama saja. Kepala yang baru akan tumbuh kembali begitu tertebas.
"Memang tidak mudah untuk menghadapi Ilmu Tubuh Raja Iblis yang telah sempurna. Meskipun masih setingkat di bawah kekuatan Siluman Darah, tapi dengan itu saja sudah cukup sulit untuk menaklukkannya. Akan kucoba dengan ilmu warisan Naga Sejati" batin Argadana mengubah jurusnya yang dari tadi menyerang kini jadi terfokus untuk bertahan.
La Huda yang melihat perubahan itu mengira kalau Argadana telah mulai kelelahan. Dia kembali melompat dan memberondong tubuh Argadana dengan keempat tangannya.
Argadana ketika itu terlihat seperti orang bodoh. Dia tidak menahan atau melawan balik ketika diserang oleh La Huda seolah - olah dia sengaja menerima pukulan dan tendangan La Huda dengan pasrah.
"Hmph... Hari ini langit akan menjadi saksi kematian seorang raja dari Kerajaan Siluman Darah. Kepalamu akan menjadi persembahan pertama untuk upacara penobatanku sebagai raja di raja dunia persilatan. Setelah itu barulah aku akan memulai langkahku untuk menghancurkan kerajaanmu, anak muda. Terimalah kematianmu..."
Jurus Ringkik Kuda Maut...!!!
"Iiieehhkkk...."
Terdengar suara seperti ringkikan kuda ketika La Huda menepak dada Argadana dengan tenaga dalam penuh hingga tubuhnya terlempar sejauh puluhan tombak.
La Huda yang ingin memastikan kematian musuhnya itu segera berkelebat mengejar tubuh Argadana.
Bruk...
Tubuh Argadana jatuh dalam posisi tengkurap. La Huda tersenyum menyeringai mengira Argadana telah mati begitu dia berhenti tepat di depan tubuh Argadana yang tergolek lemas di tanah. Akan tetapi senyumnya memudar begitu melihat Argadana kembali bangkit dengan tubuh sempoyongan.
"Huh... Masih belum mati juga? Kau cukup kuat, anak muda. Kalau begitu akan ku tambah lagi dengan Jurus Tinju Badai... Lihat serangan...!!!"
Empat tangan La Huda bergerak ke arah empat bagian tubuh Argadana yang mematikan. Namun...
"Tidak, tidak... Ini pasti ada yang tidak benar. Kenapa aku merasa bahwa ini terlalu mudah?"
Begitulah La Huda bertanya - tanya dalam hati sehingga tidak sadar kalau dia sedikit lengah. Terlihatlah olehnya Argadana tersenyum dan menatapnya dengan mata berkilat. Hal itu mengejutkan La Huda yang seketika itu juga berusaha melompat mundur namun terlambat...
Bruss...!!!
__ADS_1
Argadana secepat kilat menghantamkan tinju kirinya di bagian jantung La Huda hingga dadanya berlubang.
Argadana tidak hanya sampai di situ saja. Kaki kanannya dengan cepat melakukan tendangan memutar menghantam pelipis La Huda dengan keras hingga retak dan mengeluarkan darah.
"Kau... Bagaimana mungkin kau memiliki kekuatan seperti itu? Ilmu apa yang kau gunakan?"
"Ilmu Terlarang... Tubuh Naga Iblis. Aku sengaja menerima semua seranganmu dan menampungnya di lengan kanan untuk kukembalikan kepadamu sekaligus" jawab Argadana pelan.
"Hmph... Meskipun tinju itu kuat, tapi itu saja tidak akan cukup untuk membunuhku" dengus La Huda percaya diri. Terlihat lah dada yang tadi berlubang dan jantung yang telah pecah perlahan - lahan mulai membaik kembali.
"Hehehe... Tinju itu memang bukan untuk membunuhmu secara langsung" ejek Argadana.
"Hmm??? Apa maksudmu?"
"Lihat baik - baik...!!!"
Jurus Rahasia Pembunuh Naga: Penjara Giok...!!!
Tidak lama setelah Argadana mengangkat kedua tangannya tinggi - tinggi dari bawah tanah timbullah jeruji - jeruji berwarna hijau pupus yang terlihat sangat indah. Jeruji - jeruji itu kemudian bergerak dengan sendirinya membentuk sebuah penjara yang mengurung La Huda seketika itu juga yang tidak dapat bereaksi dengan cepat karena masih harus memulihkan jantungnya yang sedang dalam penyembuhan.
Setelah penjara terbentuk Argadana menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Penjara - penjara yang terbuat dari batu giok itu menyempit dan menghimpit tubuh La Huda.
"Aaahhkkk.... Bangsa*t kau, anak muda. Anak jahanam... Aku bersumpah kalau aku lolos dari penjara sialan ini aku akan menguliti tubuhmu perlahan - lahan" teriak La Huda kesakitan karena tulang - tulang di tubuhnya mulai bersilangan.
"Tidak mudah meloloskan diri dari penjara aneh ini. Aku harus meledakkan tenaga dalamku untuk menghancurkannya"
Duarr...!!!
Begitu La Huda meledakkan tenaga dalamnya penjara giok itu pun musnah seketika.
"Sekarang saatnya..."
Argadana segera memindahkan Pedang Siluman Darah ke tangan kiri dan melompat tinggi lalu mendorongkan tinju kanannya.
Tidak terlihat cahaya apapun, tidak ada angin kencang berhembus seperti biasanya ketika tenaga dalam tinggi dikerahkan Argadana tetapi La Huda yang tadinya hendak melompat mundur tiba - tiba berdiri diam tak bergerak.
__ADS_1
"Kakang... Kakang tidak apa - apa?"
Terdengar dari jarak sekitar dua puluh batang tombak Ningrum tengah berlari ke arahnya bersama dengan para Pendekar Naga yang lainnya setelah berhasil mematahkan perlawanan gabungan aliran hitam.
Tidak lama kemudian di belakang mereka menyusul para pendekar aliran putih yang selamat bersama seluruh anggota Perguruan Anak Naga.
"Hahaha.... Para pendekar sesat itu telah mampus semuanya. Sekarang dunia persilatan akan aman untuk sementara waktu"
Argadana menoleh ke arah asal suara tadi yang ternyata merupakan suara Pendekar Cambuk Naga alias Anung Pramana, gurunya yang datang bersama Dewi Obat.
Sepasang Pendekar Naga dari Lembah Neraka itu mendekati murid mereka dengan senyum lembut.
"Guru...!!!" sapa Argadana membungkukkan tubuhnya.
Kasih Pertiwi membelai lembut rambut emas Argadana.
"Hehehe.... Hey... Kemarilah juga" panggil Kasih Pertiwi pada Ningrum yang dengan cepat berkelebat ke arah mereka.
"Hahaha... Kau benar - benar hebat, muridku. Eh... Tapi kenapa tubuh seta*n tua ini sejak tadi hanya diam saja? Dia tidak bisa dilumpuhkan dengan totokan. Kau apakan dia, nak? Apa iya dia sudah mampu*s? "
Diberondong dengan pertanyaan yang begitu banyak membuat Argadana gelagapan. Akhirnya karena kesulitan menjelaskan situasinya Argadana hanya berjalan mendekati tubuh kaku La Huda dan meniup tubuh tersebut. Terjadi sesuatu yang menakjubkan...
Begitu ditiup, kepala La Huda dari bagian ujung rambut berubah menjadi debu dan perlahan - lahan lenyap hingga keseluruhannya.
Tidak mengherankan... Gerakan terakhir yang digunakan Argadana begitu penjara giok dihancurkan La Huda tadi merupakan jurus terkuat yang diajarkan di dalam Kitab Muara Darah. Jurus itu diajarkan oleh Raja Mahardika Pradana kepada Argadana sewaktu mereka bertemu di alam semedi Argadana dalam dimensi Pedang Siluman Darah.
"Ehhh??? Ilmu apa itu?"
"Tampaknya lebih kuat dari ilmu Sepasang Pendekar Naga"
"Hiiihh.... Aku baru pertama kali ini melihat ada ilmu seaneh itu di dunia persilatan. Bahkan Sepasang Pendekar Naga sekalipun tidak pernah kudengar menguasai ilmu seperti ini. Apa mungkin murid mereka pernah berguru pada orang lain yang lebih hebat dari Sepasang Pendekar Naga?"
"Hussyyy... Hati - hati mulutmu. Bisa robek nanti kalau didengar Dewi Obat"
Terdengar kasak - kusuk antara para Pendekar aliran putih yang memperdebatkan ilmu aneh yang digunakan Argadana untuk membunuh La Huda.
__ADS_1
"Huh... Kalian hanya orang - orang bodoh, apa yang kalian tahu? Bahkan sebelum dia menjadi murid kamipun, kami tetap saja bukan lawan anak ini" batin Dewi Obat sinis mendengar bisik - bisik para pendekar.