Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Gugup


__ADS_3

Jurus Tanpa Bentuk...!!!


Wuss...


"Ahkk... "


"Ahhhkk.... !!!"


"Apa - apaan jurus anak muda ini? Aku tidak bisa melihat pergerakannya dan teman - teman kita telah mati dengan tubuh terbelah dua... Tolong... Aku mau pul... Akkhhhh....!!!"


Dua puluh orang pendekar tua dari aliansi aliran hitam terbunuh dalam sekejap oleh Argadana. Mereka adalah para sesepuh Perguruan Cakar Seta*n.


"Maafkan ketidak sopanan anak muda ini, para orang tua. Tiada niat di hati untuk bertindak begini kejam, tetapi peperangan yang tak ada gunanya ini harus segera dihentikan agar tidak menimbulkan korban yang lebih banyak lagi" kata Argadana bergumam sendiri.


Ketika itu telinganya mendengar suara ribut. Pendekar kita menoleh dan melihat tidak kurang dari lima puluh orang lagi dari aliansi aliran hitam sedang berlari ke arahnya sambil mengacungkan pedang dengan ***** membunuh yang sangat besar.


Mereka rupanya merupakan murid - murid dari Perguruan Cakar Seta*n yang tidak Terima dengan kematian dua puluh orang sesepuh mereka yang terbunuh di tangan Argadana.


***


Yalina yang sedang berdiri di atas kepala Naga Racun tampak anggun dan angkuh dengan pesona lesung pipit di kedua belah pipinya yang ranum.


Gadis cantik itu telah tiba di sebuah tempat yang sangat kacau balau. Di sana - sini nampak orang saling membunuh satu sama lain. Kening Yalina beerkerut melihat kejadian itu.


"Jadi Raja Naga memanggil kita untuk membantu dalam peperangan ini, Naga Racun?" tanya Yalina.


"Itu benar, Nyonya Muda. Di sinilah tempat terakhir yang saya deteksi merupakan tempat Raja Naga melakukan panggilan jiwa" jawab Naga Racun.

__ADS_1


"Jadi bagaimana aku dapat mengenali majikan para naga dalam situasi perang yang semrawut ini?"


"Lihatlah ... Di sebelah sana ada seorang pemuda berpakaian serba putih. Rambutnya berkilau seperti emas... Jiwa kami para naga seperti terpaut dengannya, jadi aku yakin dialah majikan para naga" kata Naga Racun dengan mantap.


Di depan pemuda itu Yalina melihat ada segerombolan orang berlari dan mengacungkan senjata ke arahnya dengan ***** membunuh. Yalina segera mengangkat pusaka Busur Naga Racun Seribu yang diwariskan oleh gurunya, Sriti Kuning alias si Pemanah Agung.


Tanpa anak panah, Yalina menarik tali busur dan mengalirkan sebagian kecil tenaga dalamnya ke arah Busur Naga Racun Seribu. Sebuah hal menakjubkan terjadi. Anak panah berwarna hijau lumut tiba - tiba terbentuk dari tarikan tali busur tersebut.


Anak panah tersebut memiliki hiasan rumbai - rumbai berwarna merah. Dari ujung anak panah yang tajam itu tampak mengeluarkan asap tipis.


Panah Seribu Racun...!!!


Ketika tali busur dilepaskan melesatlah anak panah itu dengan kecepatan tinggi yang sulit diikuti mata biasa.


Keanehan lain pun terjadi kembali. Setelah melesat cepat di udara anak panah yang dilepaskan Yalina itu tampak menggandakan diri hingga mencapai ratusan jumlahnya dengan bentuk dan warna yang sama. Akibatnya...


"Akhh... Panah macam apa ini? Panah ini mengejar kami kemana pun kami lari"


"Akhh.... "


Raungan kesakitan yang merupakan teriakan kematian terdengar dari lima puluh orang yang tadinya ingin menyerang Argadana namun batal karena anak panah Yalina mengejar mereka ke segala sudut manapun mereka pergi.


"Bantuan dari mana lagi yang mereka dapatkan? Empat ekor naga itu saja sudah sangat sulit kita hadapi dengan keroyokan banyak orang. Sekarang datang lagi tambahan satu ekor Naga. Heiii.... Tambah lagi bantuan untuk kami, atau kami semua akan mati karena Naga bertambah seekor lagi" teriak pemimpin dari lima puluh orang yang tengah mengeroyok Raja Naga, Naga Guntur, Naga Air, dan Naga Besi.


"Tambah saja lagi jumlah kalian, manusia... Kalian tetap bukan lawan kami... Jika saja tuan tidak melarang keras kami menggunakan kekuatan kami, kami mungkin tidak akan selama ini bermain - main dengan kalian. Hahaha...." teriak Raja Naga dengan nada riang. Tawanya menggelegar menggetarkan gendang telinga lima puluh orang tersebut yang terpaksa menutup telinga mereka dengan kedua tangan untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Naga Racun menghadap tuan dan telah siap menerima perintah..." kata Naga Racun begitu Yalina turun dari atas kepalanya.

__ADS_1


Argadana mengalihkan pandangannya ke arah Naga Racun dan Yalina. Seketika itu juga pemuda sakti itu bagai terpaku diam menatap wajah ayu Yalina yang kecantikannya setara dengan Ningrum menurut pandangannya.


Yalina sendiri hatinya berguncang keras menatap wajah Argadana yang amat tampan. Rambut emasnya terlihat seperti mahkota di matanya. Yalina tertunduk dengan wajah menyemburat merah.


"Dia memang sangat tampan seperti yang dituturkan Naga Racun. Aku sih tidak keberatan walau harus jadi yang ke dua. Semoga saja wanita yang pertama tidak keberatan untuk berbagi denganku. Hihihi... "


Memikirkan hal itu membuat Yalina jadi tampak salah tingkah di depan Argadana.


"Ehmm... Tuan, mohon beri hamba perintah apa yang bisa lakukan untuk tuanku?" kata Raja Naga menyadarkan Argadana dan Yalina dari lamunan indah mereka.


"Ehh... Apa yang kupikirkan? Ini sangat memalukan" batin Yalina seraya memukul kepalanya sendiri dengan tangan kiri.


"Ahh.... Baiklah, Naga Racun. Kau bantu empat Raja Naga dan yang lainnya untuk menghambat pergerakan para pendekar aliran hitam di sana. Tapi ingat jangan keluarkan kekuatan kalian melebihi seperempatnya. Tempat ini sudah sangat kacau, seperempat kekuatanmu bisa membunuh semua orang di sini"


"Baik, tuanku... Hamba akan melaksanakan perintah tuanku" Kata Naga Racun kemudian melesat meninggalkan Yalina yang masih tertunduk malu dengan wajah merah padam.


Argadana berpesan demikian pada Raja Naga dan yang lainnya bukan tanpa alasan. Hal itu karena kekuatan para naga itu sangat besar dan bukan merupakan sesuati yang bisa ditangani oleh manusia biasa.


Sekarang tinggalah Argadana dan Yalina di tempat itu. Keduanya sama - sama bingung memikirkan bagaimana cara untuk membuka percakapan.


"Ehm... Ss.. Siapa namamu?"


Akhirnya Argadana memberanikan diri juga membuka percakapan untuk mencairkan suasana beku di antara mereka berdua.


"Sssay... Sa.. Saya Yalina, ketua. Dari Bukit Kemuning. Aa.. Ada perintah apa, ketua? Saya akan laksanakan..." jawab Yalina gugup.


"Sial... Bagaimana bisa aku jadi gugup begini? Ada apa dengan tubuhku? Aku bahkan tidak dapat mengendalikan diriku sendiri" batin Yalina memaki dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2