Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Bertarung Bersama Si Tangan Seribu 2


__ADS_3

'Jurus bulan darah'


Argadana terlihat memasang kuda - kuda yang tampak aneh namun terlihat sangat kokoh. Tiba - tiba saja kelima orang lawannya membelalak melihat keadaan sekeliling mereka menjadi berwarna merah, dan pandangan kelima orang itu sedikit kabur karena tidak terbiasa dengan cahaya matahari yang terlihat berwarna merah.


Ketika kelima orang itu menyerang Argadana mereka terkejut bukan kepalang menyadari tubuh mereka terasa sangat berat dan kaku. Jurus - jurus gabungan mereka kehilangan kekuatannya. Argadana tersenyum tipis melihat keterkejutan lawan - lawannya.


Pemuda berambut emas itu kemudian bergerak lincah menyerang ke arah seorang yang terlihat paling lemah dari lima orang yang dihadapinya. 'Jurus bulan darah' dikombinasikan dengan 'jurus tanpa bentuk' menjadikan lawan kebingungan karena pola pergerakannya yang tidak dapat dibaca arahnya. Ada kalanya terlihat menyerang ke kanan tetapi ketika musuh menangkis ke kanan serangan sebenarnya justru datang dari arah kiri.


Buk. . .


Seseorang terlempar jauh menabrak dinding pagar beton yang sangat keras setelah tinju Ningrum bersarang tepat di ulu hatinya membuat teman lainnya yang sedang mengeroyok Ningrum membelalakkan matanya. Orang itu memuntahkan darah segar dan kemudian tidak bergerak lagi, mati.


Empat orang yang tersisa mengeroyok Ningrum jadi terpengaruh mentalnya. Mereka menyerang dengan rasa was - was. Ningrum yang sudah tidak sabar lagi ingin segera mengakhiri pertarungan segera saja meloloskan pedang naga guntur.


Duarr. . .!!!


Guruh gemuruh mengguncang tempat itu seketika setelah pedang pusaka naga guntur diloloskan dari sarungnya.


Tap. . .


Dess. . .


Ughkhh. . .


Terdengar suara lenguhan Adipati Renggana yang terpental sejauh sepuluh tombak setelah tangannya dalam pengerahan 'jurus ular menyambar mangsa' ditangkap oleh Barnawi dengan 'jurus capit kala' dan di kombinasi dengan 'tendangan pemasung hati'. Akibatnya Adipati Renggana merasakan sesak di dadanya. Dia lalu memuntahkan darah kental kehitaman pertanda terkena luka dalam yang cukup parah. Barnawi tetap dengan senyuman khasnya.


"Kurang ajar kau, Barnawi. Kubunuh kau. . ." teriak Adipati Renggana dengan kemarahan meluap - luap.


'Jurus Derik selaksa'


Adipati Renggana mulai menggunakan jurus andalannya yang mengandung racun sangat ganas. Barnawi menyadari hal itu, segera menutup jalan pernapasannya dan berusaha menghindari bersentuhan dengan kedua telapak tangan adipati korup itu.


Ketika pertarungan memasuki jurus ke tujuh puluh, Barnawi tidak sempat lagi menghindari serangan tapak beracun dari 'jurus derik selaksa' milik Adipati Renggana. Wajah tuanya memucat, dia ambil keputusan nekad untuk mati bersama gembong tokoh sesat aliran hitam itu dengan menggunakan kekuatan penuhnya mengerahkan 'jurus tangan dewa'.


Duar. . .


"Aakkhhh. . ."


Setelah benturan serangan berkekuatan tenaga dalam tinggi terjadi antara Barnawi dan Adipati Renggana, terdengar bunyi ledakan dahsyat disusul suara jeritan menyayat hati yang ternyata bukan berasal dari Ki Barnawi seperti yang diperkirakan oleh Adipati Renggana.


Ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu terbelalak melihat tubuh yang tergeletak tanpa nyawa dengan kulit membiru itu bukanlah Ki Barnawi, melainkan salah satu dari sepuluh orang anggotanya yang diperintah untuk menyerang Argadana dan Ningrum.

__ADS_1


Ki Barnawi pin sama terkejutnya dengan hal itu. Dia lalu menoleh ke arah dimana sedang terjadi pertarungan antara Argadana dan Ningrum yang sama - sama sedang menghadapi lawan yang tinggal empat orang pengeroyok.


Adipati Renggana juga melakukan hal yang sama karena arah datangnya orang yang terlempar tadi memang dari arah Argadana dan hal itu membuatnya geram karena serangannya yang baru saja hampir membunuh Barnawi jadi gagal total. Empat orang lawan Argadana ternganga menyaksikan kejadian mengerikan tersebut. Mereka melihat sendiri bagaimana teman mereka mati mengenaskan setelah tergencet serangan bertenaga dalam tinggi dari dua adarh yang berlawanan sekaligus.


"Pemuda ini sangat kejam. Dia sengaja melepar Gundil ke sana untuk mati terbunuh karena benturan serangan ketua dan kakek gila itu" batin masing - masing empat orang lawan Argadana. Keringat dingin mulai membasahi tubuh mereka berempat.


Kali ini masih dengan tekanan dari 'jurus bulan darah', Argadana mempersiapkan kuda - kuda miring dengan tangan terkembang membentuk cakar. Jurus yang akan digunakannya kali ini adalah 'jurus cakar naga api', salah satu jurus tingkat tinggi milik Raja Naga.


"Huppp. . . "


Argadana melompat tinggi ke udara lalu menukik melakukan serangan cakar dengan jari - jemarinya yang kokoh bagai besi mengancam tubuh seorang pengeroyok yang tinggi besar dan memiliki tato ular di lengan kirinya.


Crack. . .


Batu sebesar pelukan orang dewasa berlubang akibat cakar kokoh Argadana tidak mengenai sasaran karena lawannya telah lebih dulu berkelit.


Sementara Argadana memberikan serangannya yang yang dilambari tenaga dalam tinggi, Barnawi dan Adipati Renggana juga melanjutkan kembali pertarungan mereka yang sempat terhenti karena kematian salah seorang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Tetapi kali ini mereka sama - sama mengeluarkan senjata andalan masing - masing. Barnawi dengan golok Pusakanya bernama 'golok iblis', sedangkan Adipati Renggana dengan pedang yang sudah terkenal di dunia persilatan bernama 'pedang semesta'.


"Itu yang kamu bilang namanya Ksatria Lembah Neraka, Dul?"


"Iya, betul. Anak muda itu mengalahkan sepuluh orang dalam waktu sekejap"


"Benarkah??? Huh. . . Akhirnya ketemu batunya juga Adipati serakah itu. Dia ketemu lawan berat kali ini"


"Haiiisss. . . Kalian hanya melihat dua orang tua itu saja. Lihatlah anak muda itu. Dia bahkan lebih hebat lagi. Dikeroyok banyak orang begitu, dia masih saja bisa menghajar mereka"


"Iya, benar. Dan gadis cantik itu juga tidak kalah hebat. Lihat. . . Pedangnya menyala dan bisa mengeluarkan petir"


"Ikkhhh. . . Menakutkan sekali pedangnya itu. Tapi cantiknya dia memang seperti Dewi. Jangan - jangan dia memang dewi?"


"Iya juga ya... Tapi siapa namanya, ada yang tahu?"


"Mana ada Dewi yang mau berkenalan dengan manusia? Namanya adalah Dewi itu karena dia berbeda dari manusia biasa seperti kita. Kalau kulihat dari pedangnya yang bisa mengeluarkan petir itu, mungkin namanya adalah 'Dewi Pedang Guntur"


"Ahh ... Iya, kita panggil saja dia Dewi Pedang Guntur. Semoga Dewi Pedang Guntur bisa mengalahkan semua lawannya"


Suara kasak - kusuk beberapa orang penduduk yang menyaksikan pertarungan mereka dari jarak jauh terdengar seru memperdebatkan siapa yang paling hebat di antara ketiganya.


Sementara itu di tengah halaman tempat tinggal Adipati Renggana, pertarungan telah mencapai seratusan jurus. Salakan petir menggelegar di sekitar tempat itu karena luapan kekuatan pedang naga guntur yang sejak tadi telah lepas dari selongsongnya.


Trak. . .!!!

__ADS_1


Trak. . .!!!


Suara pedang milik empat orang yang mengeroyok Ningrum berpatahan karena berbenturan dengan pedang pusaka naga Guntur milik Ningrum.


Empat orang itu melompat mundur dengan wajah pucat. Sementara Ningrum yang tidak mau sudah segera bergerak cepat dengan pengerahan 'jurus tanpa bentuk'. Tubuhnya tiba - tiba menghilang membuat gemetar empat lawannya. Lalu tidak lama kemudian tampaklah sesosok bayangan berwarna biru membawa kesiur angin kencang saking cepatnya terlihat melewati tubuh empat orang pengawal itu beberapa kali. Enam puluh helaan nafas kemudian keempat orang itu tumbang dalam keadaan mengerikan. Di sekujur tubuh mereka yang melepuh terlihat paling sedikit enam bekas jejak tebasan pedang naga Guntur milik Ningrum.


Anak gadis Raja Kurawa itu menghela nafas dalam. Kemudian dia menoleh ke arah Argadana yang telah mendekati puncak pertarungannya melawan empat


Empat cahaya hijau kemerahan melesat bersamaan bagai kilat menghantam empat cahaya hitam pekat yang dilepaskan empat orang pengeroyok Argadana menimbulkan ledakan dan guncangan keras.


Argadana mengerahkan 'ilmu ajian gugur gunung' di akhir pertarungannya untuk melawan ajian pamungkas 'pukulan racun kala hitam' milik empat bawahan Adipati Renggana.


Kedua belah pihak sama - sama terpental sejauh sepuluh tombak. Argadana dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh berhasil mematahkan efek lontaran tubuhnya dengan bersalto sebanyak dua kali di udara dan berhasil mendarat tanpa kuran satu apapun.


Tetapi naas untuk empat orang lawannya. Mereka terjatuh tepat di hadapan para warga yang dari tadi berbisik - bisik menyaksikan pertarungan dari tempat tersembunyi. Begitu tubuh keempat orang itu menyentuh tanah, segera saja warga yang telah lama memendam dendam pada mereka menyerang dengan senjata berupa parang dan cangkul sehingga keempat orang itu mati dengan kondisi tubuh tidak dapat lagi dikenali.


"Kakang, apa tidak sebaiknya kalau kakek itu kita bantu?"


Terdengar suara lembut Ningrum yang menghampiri Argadana setelah pertarungan mereka berakhir.


"Sebaiknya jangan, dinda. Kita sebagai orang persilatan pun tahu bahwa melakukan keroyokan adalah hal yang tabu bagi golongan lurus. Dan hal itu juga khawatirnya akan membuat tersinggung kakek itu sebagai tokoh tua dunia persilatan jika pertarungannya kita campuri" jelas Argadana panjang lebar.


Mereka berdua lalu menoleh ke arah pertarungan antara Ki Barnawi dan Adipati Renggana.


Kedua tokoh tua itu tampak telah sama - sama memperoleh luka di sekujur tubuh mereka bekas goresan pedang dan golok.


"Kuakui kau memang hebat, Barnawi. Tapi dengan ilmu baruku ini kau kujamin pasti mati di tanganku" kata Adipati Renggana.


Ki Barnawi hanya mengekeh saja mendengar sesumbar Adipati sesat itu.


"Kau juga hebat, Adipati Sesat. Tapi untuk menentukan kehidupan dan kematian, kemampuanmu belum mencapai tahap itu" Ki Barnawi tersenyum mengejek.


Merahlah muka Adipati Renggana itu demi mendengar selorohan Ki Barnawi yang lebih seperti merendahkan dirinya.


"Sombong. Aku ingin lihat apa kau akan bisa meremehkanmu seperti itu setelah kau sekarat nanti?" Adipati Renggana kemudian membuat kuda - kuda rendah dengan posisi tubuh merunduk seolah menyangga bumi dengan punggungnya.


Setelah posisi tubuhnya kembali berdiri tegak, tangan kanannya di angkat ke udara lalu diturunkan setelah warnanya berubah merah membara dan asap mengepul dari ujung jari hingga ke sikunya pertanda mengandung racun yang sangat mematikan.


'Pukulan segara kala' andalan Adipati Renggana telah siap dilepaskan.


"Racun lagi rupanya. Baiklah, akan kuhadapi dengan pukulan dewa menggusur gunung" ucap Barnawi lalu menyimpangkan kedua tangannya di depan dada. Beberapa detik kemudian tangan kanan Ki Barnawi bergetar hebat, semakin lama semakin keras getarannya.

__ADS_1


"Ayo. Kita tentukan siapa yang akan mampus duluan, Renggana" seru Barnawi bersemangat lalu mengarahkan pukulan pamungkasnya pada Renggana yang juga telah melesatkan pukulan andalannya.


__ADS_2