Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Jurus Rahasia Pembunuh Naga


__ADS_3

"Kakang tidak apa - apa?" tanya Ningrum meneliti dengan cermat tubuh Argadana.


"Aku tidak apa - apa, dinda" Argadana berusaha menenangkan kekasihnya.


Ningrum tidak terkejut sama sekali dengan fenomena yang terjadi tadi karena Naga Guntur telah memberitahu penyebab rengkahnya tanah di tempat pertarungan Argadana dan Surasena adalah akibat dari pengerahan Jurus Naga Bersujud yang dikerahkan Argadana.


Sementara itu Surasena dan Nila Sari sedang sibuk melamunkan bagaimana jadinya apabila mereka sampai tersedot oleh jurang dari retakan tanah itu. Kedua pendekar yang terbiasa bersikap sombong itu kini akhirnya sadar bahwa kekuatan lawan bukanlah tandingan mereka. Meskipun demikian, untuk melarikan diri juga mereka merasa enggan karena hal itu bertentangan dengan jiwa pantang menyerah mereka.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengadu jiwa untuk mempertahankan gelar kependekarannya.


"Kuakui kau memang hebat, anak muda. Tapi kami Pendekar Sejoli Pembunuh Naga pantang lari meski musuh sekokoh gunung karang. Hari ini meski kami berdua harus mati di tanganmu, kami juga tidak menyesal karena dapat membawa kebanggaan kami ke akhirat. Bisa mati di tangan seorang pendekar berilmu tinggi seperti kalian merupakan kehormatan tertinggi bagi kami" kata Surasena sebelum dia dan istrinya menyiapkan ilmu pamungkas mereka yang bernama Pukulan Dewa Naga Penghancur Jagad.


Argadana merasa tersentuh hatinya mendengar perkataan Surasena. Dia merasa kagum akan keteguhan hati kedua Pendekar itu. Akhirnya timbullah rasa hormatnya pada Surasena dan Nila Sari.


Melihat musuh hendak mengadu nyawa Argadana memberi isyarat kepada Ningrum untuk mundur.


"Biar aku yang menghadapi pukulan gabungan mereka" katanya sambil mempersiapkan ilmu pamungkas Raja Naga miliknya untuk menghargai Surasena dan Nila Sari.


Tangan Pendekar Sejoli Pembunuh Naga terkepal diangkat setingi mungkin, wajah mereka menengadah mendongak langit. Kaki kanan di tarik lurus ke belakang sementara kaki kiri ditekuk membentuk kuda - kuda kokoh. Beberapa detik setelah itu tangan mereka dari ujung kuku hingga siku berubah warna menjadi ke hitam - hitaman.


Hiaahhhh.....


Teriakan nyaring Pendekar Sejoli Pembunuh Naga terdengar keras mengiringi dorongan tangan keduanya yang melesatkan seberkas cahaya biru kehitaman ke arah Argadana.


Api Raja Naga yang berkobar di tubuh Argadana padam sejenak sebelum kembali membara di lengan kiri dan kanan sampai bahu. Ningrum yang merasakan panas membara mundur menjauh bersama Widura dan yang lainnya.


Setelah pukulan Surasena dan Nila Sari mencapai pertengahan jarak di antara mereka Argadana segera memfokuskan api Raja Naga ke telapak tangan kiri dan kanan.

__ADS_1


Jurus Rahasia Pembunuh Naga: Ledakan Api Teratai Merah.


Duaarr......


Ledakan dahsyat mengguncang seisi perkampungan yang telah porak poranda itu. Dampak yang ditimbulkan ledakan tersebut sangat mengerikan.


Tubuh Pendekar Sejoli Pembunuh Naga terpental sejauh belasan tombak dan baru berhenti setelah membentur pohon beringin sebesar pelukan orang dewasa. Tubuh mereka jatuh lunglai. Sepasang pendekar aliran hitam itu memuntahkan darah kehitam - hitaman pertanda telah menderita luka dalam yang sangat parah. Sisik Naga Hitam yang melindungi tubuh mereka hancur terkena hantaman Jurus Rahasia Pembunuh Naga yang dilancarkan Argadana.


Sementara itu di tempat beradunya kedua pukulan tadi terbentuk kawah sedalam dua batang tombak. Di sana terlihat tanahnya masih berwarna merah dan sebagian malah tampak meleleh sehingga pemandangan di dalam kawah kecil tersebut bagai berada dalam kawah gunung berapi.


"Aku sering melihat pertarungan orang - orang kuat. Tapi tidak pernah melihat dampak yang semengerikan ini" kata Bargawa, anggota Pecahan Kelemahan yang merupakan salah satu dari empat pelindung yang turut serta bersama Widura.


"Iya... Bahkan Guru Besar Brajamusti sekalipun, kekuatannya mungkin tidak sebesar ini" kata pemuda di sampingnya yang bernama Pranajaya dari Pecahan Kekuatan.


Ningrum segera menghampiri Argadana yang tadi sempat terpental sejauh lima batang tombak karena kerasnya ledakanledakan tadi. Pemuda sakti itu bangun sambil mengurut dadanya yang terasa sedikit sesak setelah mengeluarkan begitu besar tenaga dalamnya untuk mengimbangi pukulan maut milik sepasang pendekar Surasena dan Nila Sari.


"Bagaimana keadaanmu, kakang?" tanya Ningrum dengan nada panik.


Mereka berdua lalu berjalan menghampiri Surasena dan Nila Sari yang tangah berupaya duduk sebisa mungkin untuk mengatur nafas mereka yang telah terputus - putus.


Ningrum merogoh sesuatu di dalam kantung kulit yang selalu tergantung di sisi pakaiannya, kemudian dia membagikan kepada Surasena dan Nila Sari masing - masing satu butir pil berwarna abu - abu. Surasena dan Nila Sari menatap Ningrum dengan wajah dipenuhi pertanyaan.


"Minumlah... Obat itu akan membantu penyembuhan dan pemulihan tenaga dalam kalian dengan cepat" kata Ningrum mengulas senyum.


"Melihat tingkatan tenaga dalam kalian yang sudah begitu tinggi, mungkin tidak sampai dua hari setengah dari kekuatan kalian sudah akan pulih kembali" sambung Argadana lembut.


Kedua Pendekar yang sudah siap mati itu saling berpandangan sejenak.

__ADS_1


"Kenapa kalian tidak membunuh kami? Bukankah kejahatan yang kami lakukan hari ini sudah sepantasnya diganjar dengan kematian?"


Surasena bertanya kebingungan. Sebab biasanya tempramen orang - orang aliran putih akan sangat buruk jika bertemu dengan kejadian seperti yang dialami Argadana hari ini sehingga siapapun orang - orang dari golongan putih akan mengganjar si pelaku pembantaian dengan menjatuhkan hukuman mati.


Namun sepasang pendekar muda yang mereka temui kali ini sangat berbeda jauh dari yang biasanya dia temui. Mereka bukan hanya tidak menjatuhkan tangan maut, tetapi justru menolong mereka setelah bertarung mati - matian.


"Mereka berbeda dari orang - orang golongan putih yang lainnya" ucap Nila Sari menyembunyikan kekagumannya dalam hati.


"Kejahatan yang kalian lakukan hari ini memang merupakan perbuatan dosa yang sangat besar. Dan kami para pembela kebenaran memang punya kewajiban untuk menghalau semua perbuatan jahat. Namun demikian, nyawa bukanlah hak milik manusia. Selagi kalian mau bertaubat dan memperbaiki tabiat kalian yang lama, aku masih bisa melepaskan kalian. Tetapi jika kelak kita bertemu kembali dan kalian masih seperti ini, mungkin kejadian selanjutnya akan berbeda dari akhir pertarungan kita hari ini" kata Argadana lembut, tetapi dalam kalimat itu Surasena dan Nila Sari dapat melihat adanya ketegaaan ucapan itu.


"Apa kalian tidak takut jika seandainya suatu hari nanti kami akan menuntut balas?" tambah Nila Sari.


"Tidak ada sesuatu yang bersifat abadi di dunia ini. Semuanya akan fana. Meskipun suatu hari kami mati, Allah pasti akan mengirim lagi pendekar - pendekar pembela kebenaran yang lebih hebat dari kami untuk memberantas segala bentuk kejahatan. Selama dunia belum kiamat, maka selama itu kejahatan akan selalu ditentang dunia"


Argadana tersenyum lembut pada kedua orang di depannya.


"Kalian berdua memiliki ilmu yang sangat tinggi. Jujur, kalianlah orang pertama yang mampu memaksaku menggunakan jurus rahasia" kata Argadana tidak menyembunyikan kekagumannya terhadap bekas lawannya itu.


"Dan kami, sepasang pendekar dari Lembah Neraka sangat menghormati sifat gagah kalian. Untuk itulah kami membantu menyembuhkan kalian" kata Ningrum.


Mereka berdua lalu membungkuk hormat pada Surasena dan Nila Sari yang seketika itu juga ternganga takjub melihat kerendahan hati kedua muda - mudi dunia persilatan itu.


"Baiklah... Kulihat, keadaan kalian sudah mulai membaik. Untuk itu kami akan melanjutkan perjalanan. Semoga hati kalian tergerak dan mau membuka diri untuk menjadi orang yang lebih baik... "


Argadana lalu berbalik meninggalkan mereka berdua.


"Tunggu, anak muda...."

__ADS_1


Baru beberapa langkah Argadana berjalan, langkahnya terhenti oleh panggilan Surasena.


"Jika diperbolehkan... Aku ingin menjadi pengikutmu... "


__ADS_2