Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Hidup Mulia Atau Mati Syahid?


__ADS_3

"Percepat keretanya, paman. Naga Bumi mengatakan bahwa mereka membawa sejumlah besar pasukan. Sepasang Pendekar Suci dan orang - orang tua itu akan kewalahan juga kalau sudah sebanyak itu yang menyerang" desak Argadana pada Jendral Thalaba.


"Baik, yang mulia... Heyaaa...!!!"


"Apakah segawat itu keadaan di perguruan, kakang?" Yalina bertanya penasaran melihat Argadana yang tampak gelisah.


"Aku tidak akan memikirkannya jika para ninja itu bertarung dengan jujur" jawab Argadana singkat.


"Maksud kakang?" Ningrum kali ini giliran Ningrum yang bertanya.


"Para ninja itu hanya sekumpulan orang pengecut. Mereka hanya berani menyerang secara diam - diam. Dan senjata rahasia mereka itu mengandung racun yang sangat berbahaya"


"Kalau begitu bukankah lebih baik kita panggil para naga kemari?" usul Ningrum.


"Kita akan menarik perhatian yang tidak perlu lagi dengan memunculkan Naga hanya untuk menghadapi orang - orang seperti ninja itu"


Hening... Tidak ada yang berbicara lagi setelah Argadana berkata demikian. Kereta Hantu bergerak semakin cepat dan menghilang di tengah - tengah jalanan sepi berbatu.


***


"Berani - beraninya ninja kecil menyerang perguruan yang sudah dibangun oleh tuanku" geram Surasena melihat banyak murid - murid bergelimpangan tanpa nyawa dengan beberapa bagian tubuh tertusuk Shuriken.


Belum sempat Surasena dan istrinya bergerak para ninja melemparkan sesuatu benda berbentuk bulat berwarna hitam. Benda tersebut meledak begitu menyentuh tanah dan menghasilkan asap tebal menghalangi pandangan semua orang.


"Asap beracun... Mundur... !!!" teriak Surasena. Dia dan istrinya secara berbarengan mengibaskan tangan lima kali.


Sepuluh larik sinar berwarna biru kehitaman meluruk deras menyibak asap dan menghantam apa saja yang sejalur dengan lintasan lesatannya.


Terdengar sepuluh kali ledakan keras menggetarkan bumi akibat pengerahan tenaga dalam sempurna Pukulan Dewa Naga Penghancur Jagad. Kurang lebih lima puluh orang mati dalam keadaan tubuh merah matang karena panasnya racun dalam pukulan yang dikerahkan Surasena dan Nila Sari.


"Sial...!!! Senjata rahasia mereka bisa membunuh banyak orang hanya dalam sepuluh kali serang. Senjata macam apa itu?" keluh salah seorang ninja penyerangan yang sempat menyelamatkan diri dari Pukulan Dewa Naga Penghancur Jagad. Para ninja mengira yang melesat menghantam kawan - kawan mereka adalah senjata rahasia karena mereka menduga bahwa benda berbentuk sinar biru hitam itu merupakan senjata rahasia yang disembunyikan lawan di balik lengan baju seperti halnya mereka yang terbiasa melakukan hal demikian.

__ADS_1


"Bagaimana ini, Natsu? Serangan diam - diam tidak terlaksana dengan baik. Serangan jarak jauh pun kita masih kalah" tanya salah seorang ninja berpangkat garis tiga bernama Tenrou Jima.


"Tidak mungkin menarik mereka mundur" Zatou Natsu mengelus elus dagunya berfikir dengan tenang.


"Aku tidak menduga kalau orang - orang asing itu ternyata cukup kuat. Karena sudah kepalang basah, mandi saja sekalian" kata ninja berpangkat garis tiga di sebelah kiri Zatou Natsu yang bernama Tangka Uchuka.


"Baik... Kalau begitu kita serbu...!!!"


"Serang semuanya.... Bunuh sebanyak mungkin!!!"


Akhirnya pertempuran secara langsung terjadi antara para ninja klan Koga dengan para anggota Perguruan Elang Emas.


Kini terlihatlah hasil dari pelatihan berat para murid selama ini di bawah bimbingan Brajamusti dan empat orang ketua pecahan yang lainnya. Jika tadi para murid Perguruan Elang Emas banyak yang terbunuh itu karena tidak siap untuk menghadapi hujan shuriken yang datang tiba - tiba. Tapi kini adalah hal yang berbeda lagi, mereka bertarung secara langsung.


Kecepatan dan ketangkasan mereka mampu dan bahkan ada beberapa yang melebihi kekuatan para ninja. Korban berjatuhan di antara kedua belah pihak.


"Trang... Trang..."


Dulu boleh dibilang para murid ini akan gemetar jika dihadapkan dengan serangan sekelompok kecil ninja saja sebelum bergabung dengan Perguruan Elang Emas. Tapi kali ini mereka bertarung dengan gagah berani membawa kebanggaan mereka sebagai murid - murid Perguruan Elang Emas. Terlepas dari entah akhir bagi mereka adalah hidup mulia atau mati syahid mereka menyongsong maju menerjang ratusan tebasan yang mengancam nyawa demi memperjuangkan kehormatan mereka.


Para ninja yang bertarung juga ikut terkejut melihat kemampuan bertarung lawan yang beraneka ragam. Tidak pernah mereka duga sebelumnya jika misi yang mereka kira akan dapat diselesaikan dengan mudah kini justru menjadi ajang pertempuran berdarah. Meskipun korban di pihak Perguruan Elang Emas sangat banyak tapi di pihak ninja klan Koga juga tidak bisa dibilang sedikit. Dari seribu orang yang dikirim klan sudah ada dua ratusan yang gugur di tangan lawan.


"Sial...!!! Tidak kuduga kekuatan mereka juga sangat besar. Jika seperti ini terus misi bisa gagal" rutuk Zatou Natsu melihat pasukan yang mereka bawa telah banyak yang terbunuh.


"Kita habisi dulu orang - orang yang mengomandoi mereka. Setelah itu membunuh mereka tidak akan sulit" seru Tenrou Jima.


"Tampaknya kelima orang tua itu yang memimpin mereka. Tapi kenapa aku belum melihat anak muda yang tempo hari itu menyerangku?" Zatou Natsu mengerutkan dahi keheranan.


"Apa lagi memangnya yang kau fikirkan, Natsu? Kau tidak mungkin mengira kalau anak muda tidak berpengalaman akan menjadi pemimpin mereka, bukan?" timpal Tangka Uchuka.


"Hmm... Benar juga. Aku tidak peduli anak itu ada di mana. Yang jelas aku harus meratakan tempat ini dengan tanah. Ayo kita habisi orang - orang jompo itu"

__ADS_1


"Hohoo... Bilangnya orang - orang pengecut telah menampakkan diri" sinis kata Aksara Buana. Dia maju menerjang Tangka Uchuka secepat kilat.


Tangka Uchuka yang telah memilih lawan segera mencabut katana menebas pergelangan tangan Aksara Buana yang bergerak dengan tangan membentuk cakar siap mencengkram.


Melihat bahaya mengancam pergelangan tangannya Aksara Buana segera tarik pulang tangan kanannya dan mengganti dengan tendangan kaki kiri yang menebas ke arah pinggang hingga Tangka Uchuka terpaksa membuang tubuhnya ke samping kiri.


"Hmph... Bodoh!!!" batin Aksara Buana. Sebenarnya gerakan membuang tubuh Tangka Uchuka itu adalah gerakan yang paling ditunggu - tunggu oleh Aksara Buana.


Tangka Uchuka terkejutnya bukan olah - olah melihat kaki kiri Aksara Buana yang berbalik arah membentuk tendangan memutar yang mengancam dadanya. Terkejutnya itu karena lawan sanggup membalik gerakan dengan begitu cepat sedangkan saat itu tubuhnya tengah berada di udara dan belum menyentuh tanah sehingga tidak memungkinkan untuk menghindar.


Karena tendangan lawan sudah hampir mencium dadanya makan gerakan tangan kanan yang menggunakan katana jadi mati langkah. Terpaksa Tangka Uchuka hanya bisa pasrah dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada melindungi tulang rusuknya.


"Dess...!!!"


"Ughhh...!!!" Tangka Uchuka terdorong mundur sepuluh langkah dan terjengkan hampir jatuh.


"Tenaga dalamnya kuat sekali. Aku nyaris tidak sanggup bertahan. Sial, tampaknya harus menggunakan cara khusus untuk mengalahkan orang ini" batin Tangka Uchuka berfikir keras. Dia menoleh ke kiri dan kanan, terlihat kawan - kawannya juga tampak sedang kewalahan menghadapi orang - orang tua yang mereka anggap sebagai pemimpin mereka.


Zatou Natsu menggeram keras melancarkan tusukan cepat ke arah dada Brajamusti yang hanya diam tak bergerak.


Sejengkal sebelum katana menancap tubuhnya Brajamusti tiba - tiba saja menghilang dan telah muncul di belakang Zatou Natsu dengan jari tangan membentuk cakar. Brajamusti hanya menundukkan badannya sedikit dan menerjang Zatou Natsu tanpa disadari.


Zatou Natsu hanya merasakan angin lewat di sampingnya dan melihat Brajamusti telah berada di depannya dalam posisi membelakangi.


"Seranganmu tidak bisa melukaiku, orang tua. Apa hanya segitu saja kemampuanmu?" Zatou Natsu tersenyum mengejek membusungkan dada. Namun beberapa detik kemudian senyumnya lenyap ketika menyadari ada yang salah dengan pinggangnya. Dia coba memeriksa keadaan tubuhnya dan terkejut bukan main melihat pinggang kirinya telah robek mengalirkan darah.


"Apa kau benar - benar seorang ninja yang merasa paling kuat? Tubuhmu bahkan lebih rapuh dari kertas, aku tidak kesulitan untuk merobeknya" dingin suara Brajamusti.


"Kalian sungguh berani menyerang perguruan kami dengan kemampuan kalian yang rendah" mata Brajamusti berkilat menyorot tajam wajah Zatou Natsu.


"Banyaknya korban di pihak kami akan memperburuk citra kami di hadapan ketua nantinya. Jadi untuk mencuci bersih noda yang sudah kalian torehkan pada harga diri kami, aku akan meminta darahmu"

__ADS_1


__ADS_2