Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Rahasia Wu Qin Feng


__ADS_3

Cahaya berwarna hijau dan merah berkiblat di kegelapan malam di puncak Gunung Koga mengeluarkan bunyi nyaring yang khas dari dua buah baja pilihan yang saling berbenturan.


Kedua cahaya berwarna hijau dan merah itu tiada lain adalah cahaya yang dipendarkan oleh dua senjata pusaka tombak milik Ling Yun dan pedang merah Liu Tong.


Kedua pendekar muda itu bertarung dengan gigih. Bunyi dentingan kedua senjata bak melodi pengiring dendam yang dibawa Ling Yun terhadap Liu Tong.


Liu Tong melayani serangan Ling Yun dengan lincah karena sadar adik seperguruannya itu kini bukan lagi orang yang bisa dia remehkan kemampuannya.


"Kemampuanmu sudah banyak berkembang, adikku. Aku turut bahagia dengan perkembanganmu" kata Liu Tong setelah tangannya terasa kesemutan setelah beberapa kali beradu senjata dengan Ling Yun.


Ling Yun menggerung marah merasa kata - kata Liu Tong seolah meremehkan dirinya. Ia lalu membentak.


"Diam!!! Mau berapa kali aku bilang, jangan panggil aku adikmu!!! Itu aib yang memalukan untukku, dan juga guruku"


Mendengar kata kasar Ling Yun Liu Tong tersenyum pahit. Pertarungan mereka terhenti sejenak, terlihat wajah Liu Tong sedikit sayu. Namun beberapa kejap kemudian tatapannya berubah beringas.


"Bersiaplah, adikku. Ini adalah ujian terakhir yang harus kau lewati. Jika kau berhasil maka usaha guru tidak lah sia - sia. Dan ak.... Eh... Kau sangat tidak sabaran, adikku" Liu Tong terpaksa tidak dapat melanjutkan perkataannya karena Ling Yun telah kembali merangsek ke arahnya dengan tusukan kilat tombak pusakanya.


Karena kecepatan dan kekuatan Ling Yun telah berkembang pesat dan berhasil melampaui dirinya, pemuda berjuluk Pendekar Pedang Merah ini harus pontang - panting menghindar dan menangkis terjangan bertenaga dalam tinggi saudara seperguruannya demi melindungi nyawa.


***


Argadana menghentikan larinya begitu ia berjarak sekitar empat puluh batang tombak dari puncak gunung. Dahinya berkerut melihat dua manusia raksasa yang tengah menonton pertarungan sengit antara dua orang pemuda yang menggunakan senjata pusaka tombak dan pedang.


"Tekanan kekuatan yang samar - samar aku rasakan dari kaki gunung tadi aku yakin betul adalah milik pendekar pedang itu. Tapi siapa yang sedang bertarung dengannya? Dan kenapa raksasa itu hanya diam saja menonton pertarungan?" Argadana membatin keheranan.

__ADS_1


Pada awalnya Argadana ingin cepat - cepat menyelesaikan masalah dengan Gungung Koga sesegera mungkin mengingat anggota yang dibawanya sudah kelelahan. Dia berfikir peperangan akan lebih cepat berakhir apabila pimpinan pihak musuh telah ditakhlukkan semuanya. Akan tetapi ia mengurungkan niatnya karena melihat musuh terakhir yang harus dihadapinya sedang berkutat melindungi selembar nyawanya.


"Pendekar tombak itu sangat gesit dan hawa tenaga dalamnya juga sedikit aneh. Tekanannya memang seperti kekuatan pendekar - pendekar kuat yang sudah kesohor namanya dalam dunia persilatan. Tapi entah kenapa aku merasa kalau tenaga dalamnya itu sudah mencapai tahap yang setara dengan Ningrum dan Yalina. Ini benar - benar aneh." Argadana bergumam pelan menyuarakan keheranan dan rasa penasarannya.


Putra Dyah Ayu Pitaloka tidak habis - habisnya dibuat keheranan dengan kekuatan aneh milik pemuda yang tengah bertarung di depannya itu. Pasalnya, pendekar muda yang memiliki ilmu olah tenaga dalam yang setara tingginya dengan kedua istrinya itu termasuk bisa dihitung dengan jari.


"Dia bukan orang sembarangan" tebaknya dalam hati sambil tatapannya tidak berpaling dari tempat pertarungan.


Pertarungan Ling Yun dan Liu Tong telah berlangsung cukup lama. Puluhan jurus sudahlah berlalu. Pakaian mewah yang dikenakan Liu Tong telah tercabik - cabik di mana - mana. Darah mengalir di sudut bibirnya yang masih senantiasa menyunggingkan senyuman meskipun tadi sempat bertindak beringas.


"Dukk!!!"


"Ugghh..!!!"


Liu Tong terjajar tiga langkah ke belakang setelah tumit Ling Yun yang dialiri tenaga dalam tinggi menghajar dadanya. Ia terbatuk beberapa kali dan sempat memuntahkan darah segar.


"Kenapa?" ucap Ling Yun dingin.


"Uhuk...!!! Uhukkk!!!" Liu Tong hanya menjawab dengan suara batuknya.


Sebenarnya meskipun Ling Yun sangat dendam pada saudara seperguruannya itu jauh di dalam lubuk hatinya ia masih sangat menyayangi Liu Tong. Bukan hanya karena hubungan mereka sebagai saudara seperguruan saja, tetapi juga hubungan yang terjalin erat sejak mereka kecil dan tumbuh bersama di bawah asuhan Wu Qin Feng. Ia berharap agar Liu Tong mau bertaubat. Ia tidak tega jika harus sampai membunuh Liu Tong.


"Kenapa tidak kau gunakan kedua raksasa itu untuk membantumu? Apakah kau masih berfikir kalau aku masih lemah seperti dulu? Di mana kesombongan yang kau pamerkan waktu itu? Jawab aku Liu Tong!!!"


Ling Yun berteriak keras untuk menenangkan gejolak yang mulai membuncah di hatinya. Guru yang paling dihormatinya terbunuh di tangan saudara seperguruan. Wanita yang dicintainya seolah kehilangan gairah hidup setelah dicampakkan begitu saja oleh orang yang sama dengan orang yang telah membunuh gurunya.

__ADS_1


Rasa gundah yang kerap kali menghantui. Pertanyaan besar yang belum bisa dijawabnya bahkan setelah tujuh tahun berlalu. Yang manakah dari tindakannya yang termasuk merupakan sebuah bentuk bakti kepada guru? Apakah dengan membalaskan dendam kematiannya? Atau haruskah ia melupakan dendam itu dan mengajak saudara seperguruannya untuk bertaubat dari kejahatannya?


Ling Yun selalu merasa jadi orang yang paling bodoh di dunia ini. Teka teki tentang senjata rahasia yang ditinggalkan gurunya pasca kepergian Liu Tong dan juga kematian Wu Qin Feng itu dirasanya lebih mirip seperti sesuatu yang memang sudah direncanakan sejak awal.


"Uhuk...!!! Uhukkk!!!" Liu Tong tersenyum di sela - sela batuknya.


"Sudah kuduga. Akhirnya pasti akan seperti ini, tidak ada yang bisa disembunyikan guru darimu bahkan dengan skenario kematiannya. Uhuk...!!!" kata Liu Tong.


Karena terkejut Ling Yun secara refleks mengangkat kerah baju Liu Tong sehingga Liu Tong yang tadinya membungkuk karena batuk jadi berdiri tegak.


"Apa yang coba kau katakan, brengsek?" makinya keras.


"Ugh...!!! Ini adalah pertarungan terakhir kita, adikku. Jika kau bisa mengalahkan kombinasi serangan kami bertiga dan berhasil membunuhku maka kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan, juga termasuk rahasia yang selama ini terus disembunyikan guru darimu"


Selesai berkata demikian Liu Tong melambaikan tangannya. Maka dua raksasa yang sedari tadi hanya berdiam diri itu melompat ringan mengapit Liu Tong dari sisi kiri dan kanan.


"Baik... Akan kupenuhi keinginanmu!!!"


Ling Yun mengerti akan keinginan Liu Tong. Ia menyelipkan tombak pendek ke balik punggungnya lalu berdiri tegak menangkupkan kedua telapapk tangan di depan dada. Perlahan - lahan sepuluh kuku jarinya tampak berpijar cahaya berwarna kebiruan. Tatapannya lurus ke depan bersiap mengerahkan 'jurus cakar api langit'.


"Jurus tiga awan mengembang!!!"


"Jurus cakar api langit!!!"


"Hiaaattt!!!"

__ADS_1


"Hiaaattt!!!"


__ADS_2