
Setelah tinggal selama tujuh hari di kediaman Raja Teluh Zatou Natsu akhirnya bisa terlepas dari siksaan Racun Sukma Melayang dari Ilmu Pukulan Gugur Gunung yang mengenainya sewaktu berduel melawan Argadana.
Setelah merasa sembuh sepenuhnya Zatou Natsu lalu pergi meninggalkan kediaman Raja Teluh untuk pulang ke markasnya dan menghubungi klan ninja di Gunung Koga dan Manjidani.
Di dalam gubuknya yang dipenuhi bau asap dupa yang terbakar Raja Teluh tidak bisa berkonsentrasi dalam semedinya. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang sama sekali seolah - olah ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
Karena merasa tidak mungkin lagi untuk melanjutkan Raja Teluh akhirnya membuka mata dan mengakhiri semedinya.
"Hmm...??? Agaknya pemuda itu dapat melacak keberadaanku. Persetan ... Lagu pula luka dalamku sudah pulih. Aku harus membunuhnya untuk menuntaskan dendam kekalahan guru"
Raja Teluh bangkit berdiri mengambil sebuah kotak kayu panjang yang tergantung di balik pintu ruangan semedinya. Dia kemudian meniup debu - debu yang menempel di kotak tersebut lalu meletakkan kotak itu di tempatnya biasa duduk bersemedi.
Begitu kotak tersebut dibuka cahaya kuning terang berkiblat menerangi seisi ruangan tempat di mana Raja Teluh berada. Cahaya kuning itu rupanya berasal dari benda yang berada di dalam kotak tersebut.
Bau amis menusuk hidung tercium begitu Raja Teluh mengeluarkan isi kotak tersebut yang bukan lain merupakan pedang pusaka yang diwariskan Simba Mayora padanya beberapa puluh tahun yang lalu.
Pedang itu disebut Pedang Bunga Bangkai. Senjata pusaka itu merupakan senjata pusaka kebanggaan Dewa Kutukan Simba Mayora yang diberikannya kepada Raja Teluh menjelang ajalnya. Ketika itu dia berpesan agar pedang itu jangan pernah digunakan sebelum membunuh Pendekar Cambuk Naga atau orang yang berhubungan dengannya lebih dulu.
Raja Teluh mengiyakan pesan gurunya dan menyimpan pedang itu di ruangan semedinya sembari menunggu kedatangan Pendekar Cambuk Naga ke Negeri Jepang karena menurut wangsit yang didapatkan Raja Teluh dalam semedinya Cambuk Raja Naga yang pernah melukai gurunya itu akan dibawa oleh seseorang ke negerinya.
"Aku telah menyimpanmu di sini selama puluhan tahun hanya untuk menunggu tibanya hari ini. Wangsit yang aku dapatkan dalam semediku ternyata menang benar adanya. Tidak siap - sia aku menunggu puluhan tahun"
Raja Teluh mengusap badan pedang tersebut lembut dengan jari telunjuk dan jari tengahnya seraya tersenyum menyeringai.
"Pendekar Cambuk Naga... Aku akan menebus rasa malu yang ditanggung oleh guruku dengan membunuh semua orang yang berhubungan denganmu"
__ADS_1
***
Sebuah kereta mewah yang dilapisi emas ditarik oleh kuda hitam yang tampak sangat kuat berhenti di depan sebuah penginapan yang terlihat cukup mewah dengan pelayan - pelayan yang berwajah cantik dan bersikap ramah. Di sisi kiri dan kanan kereta emas tersebut tampak sebuah batang bambu kecil yang menghadap ke arah depan kereta.
Semua orang yang melihat kereta mewah tersebut memandang kereta emas dengan wajah terpukau. Dua pelayan cantik yang bertugas menyambut pengunjung yang datang itu juga tidak bisa menyembunyikan rasa takjub mereka akan keindahan kereta mewah yang berlapis emas murni.
"Sungguh senang menjadi kaya raya. Apa saja bisa dilakukan dengan uang. Entah tuan muda dari klan mana orang yang berada di dalam kereta emas itu" kata salah satu pelayan bergumam.
"Benar juga. Tapi ngomong - ngomong aku baru kali ini melihat kereta yang seperti ini. Jika orang itu orang - orang kaya di daerah ini aku setidaknya pasti sudah pernah mendengarnya" jawab pelayan yang satunya.
"Sudah... Tugas kita hanya menyambut pengunjung dengan baik. Kita harus melayani orang di dalam kereta itu sebaik mungkin" kata salah satu dari lima pengawal yang menjaga penginapan tersebut di bagian luar.
"Kita sudah berada di depan sebuah penginapan yang kelihatan cukup baik, tuan muda" kata sang kusir kuda. Ternyata kusir kuda itu adalah Jendral Thalaba
"Oh... Kalau begitu kita akan beristirahat di sini dan bersantai beberapa hari. Aku sudah mulai lapar" kata orang yang dipanggil tuan muda di dalam kereta yang sudah pasti adalah Argadana.
Di belakang kereta kedua itu terlihat juga sepuluh orang dengan wajah sangar mengawal kereta. Mata mereka tampak bening namun tajam pertanda memiliki tenaga dalam tinggi.
"Bangsat... Ada orang yang ingin menyaingi kekayaan tuan muda ini rupanya" maki seorang pria di dalam kereta kedua.
Pria itu tampak masih berusia sekitar dua puluh lima tahun dan tampak pesolek. Pakaiannya terbuat dari kain sutra yang amat mahal di daerah tersebut.
Di kiri dan kanan pria itu ada dua orang wanita cantik yang berpakaian tipis mempertontonkan keindahan di tiap - tiap bagian lekukan di tubuh mereka.
"Ohh... Ayolah, tuan muda. Kenapa harus memikirkan hal remeh seperti itu? Itu hanya sebuah kereta, siapa yang tahu kalau yang melapisi kereta itu benar - benar emas asli atau bukan" kata seorang gadis yang bergelayut mesra di lengan kirinya. Gadis ini bernama Takeda Kiroro.
__ADS_1
"Itu benar, tuan muda. Lagipula di Kerajaan Naruhito ini klan Sakamoto telah meningkat menjadi klan kedua yang terkuat setelah klan Nakamura. Tidak perlu memperhatikan hal kecil seperti kereta itu" tambah wanita cantik yang satunya lagi bernama Maruyama Akiko.
Pemuda itu akhirnya terpengaruh juga dengan kata - kata kedua wanitanya itu dan tidak lagi memikirkan kereta emas.
Siapakah pemuda di dalam kereta kedua itu? Pemuda itu bernama Sakamoto Yajima. Dia adalah putra sulung ketua klan Sakamoto yang kini telah naik menjadi klan terkuat kedua di bawah klan Nakamura pasca dihancurkannya klan Tokugawa oleh Jendral Thalaba yang kini lebih dikenal dengan gelarnya si Kusir Setan.
Adapun kedua wanita yang bersamanya sebenarnya merupakan pengawal yang dibayar mahal oleh ketua klan Sakamoto. Hanya saja perangai kedua wanita ini lebih mirip wanita penggoda namun soal kemampuannya tidak diragukan lagi.
Di Kerajaan Naruhito kedua wanita kakak adik seperguruan ini menempati posisi sepuluh besar orang terkuat dengan julukan Dua Bidadari Perenggut Sukma.
"Ayo. Kita menginap semalam di penginapan ini. Perjalanan bisa kita lanjutkan besok. Lagi pula kita juga tidak terburu waktu untuk menyambangj perguruan yang baru dibentuk itu"
Dengan diiringi dua gadis berpakaian tipis dan sepuluh orang pengawalnya Sakamoto Yajima keluar dari kereta mewahnya dan kebetulan berpapasan dengan Argadana yang juga lengan kiri dan kanannya menggandeng Ningrum dan Yalina dengan Jendral Thalaba mengikuti di belakangnya.
Kecantikan kedua istri Argadana itu yang bahkan jauh melebihi kedua wanita di sampingnya membuat Sakamoto Yajima tertarik untuk mendapatkan Ningrum dan Yalina.
"Kurang ajar... Wanita milik anak itu jauh lebih cantik dari pada milikku. Aku harus mendapatkan keduanya" batin Sakamoto Yajima yang memang terkenal mata keranjang. Pemuda itu kemudian mengucapkan tangannya memanggil sepuluh pengawalnya.
"Ada apa, tuan muda?" tanya salah seorang pengawal yang bernama Gozero.
"Aku ingin dua wanita cantik itu. Bawakan mereka padaku bagaimanapun caranya. Aku ingin bersenang - senang dengan mereka dan kedua gadisku ini malam nanti" kata Sakamoto Yajima sambil membasahi bibir dengan lidahnya.
"Tuan muda... Apakah kami kurang menarik di mata tuan muda sehingga tuan muda sampai menginginkan gadis lain?" tanya Maruyama Akiko.
"Ahh... Tidak, tidak. Aku hanya ingin mencoba hal yang baru dengan bermain bersama empat orang wanita. Hehehe..." jawab Sakamoto Yajima dengan tatapan liar penuh *****.
__ADS_1
Saat itu Argadana sudah hampir memasuki pintu penginapan tersebut tetapi sepuluh orang berwajah sangar menghadang jalan mereka.