
"Apa - apaan orang itu. Anak panah itu ujungnya terbuat dari besi. Bagaimana mungkin tidak bisa menembus tubuhnya? Dan tubuh kebal kami juga jadi tidak berguna jika diserang dengan jurus aneh itu" umpat Tokugawa Chirou
"Sial... Mereka sudah merencanakan ini semua. Mundur...!!!"
Tokugawa Chirou hendak membawa pasukannya mundur untuk melarikan diri agar kelak dapat menyusun siasat yang lebih matang. Namun kenyataan memang terkadang amat pahit.
Belum selesai dia mengatur jalan keluar untuk para pasukannya dari arah belakang pasukan klan Nakamura menggunakan kekuatan penuh mereka menggempur bagian pertahanan klan Tokugawa.
Melihat keadaan yang sudah jauh di luar perkiraannya, Tokugawa Chirou berniat melarikan diri meninggalkan anggota klannya yang sedang bertarung mati - matian.
Baru beberapa langkah dia berlari Argadana telah menghadang di depannya dengan Cambuk Raja Naga tergenggam di tangan kanan.
"Cambuk itu mengeluarkan api yang panasnya bahkan masih terasa sampai di tempatku berdiri. Tapi anehnya anak yang memegangnya tidak terbakar sedikitpun. Pasti bukan senjata sembarangan. Aku harus menggunakan Pedang Terbang warisan guruku" batin Tokugawa Chirou.
Ketua klan Tokugawa itu meloloskan sebatang pedang dari sarungnya. Pedang tersebut memancarkan cahaya hijau yang mengepulkan asap.
"Ternyata orang ini mempunyai senjata pusaka yang berasal dari daratan tenggara. Aku tidak tahu jiwa apa yang ada di dalam pedang pusakanya" batin Argadana dengan dahi berkerut.
"Baiklah... Karena kau tidak bersedia melepaskan aku, maka aku hanya bisa mengadu jiwa denganmu. Lihat pedang...!!!"
Wus...
Tokugawa Chirou berkelebat cepat mencecar Argadana dengan pedang pusakanya.
"Hmm... Yap putih yang keluar dari pedangnya itu mengandung racun" kata Argadana seolah bergumam pada dirinya sendiri.
"Utss...!!!"
Argadana melompat jauh ke samping kanan berusaha memperpanjang jarak agar bisa mengayunkan cambuknya.
"Sial...!!! Anak setan ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi. Sulit untuk mengejarnya. Karena kau sangat suka menyerang dari jarak jauh, maka aku akan meladenimu ..."
Tokugawa Chirou melemparkan pedangnya mengarah pada Argadana dengan sekuat tenaga.
"Hupp...!!!"
Argadana membuang tubuhnya ke samping kiri sehingga pedang tersebut hanya menancap di pohon beringin di belakang Argadana tadi.
Krak.. Krak...
Pohon beringin yang tertancap pedang tersebut tiba - tiba saja layu dan mengering.
"Racun Perenggut Sukma...!!!" desis Argadana tanpa sadar melihat dampak yang disebabkan oleh tancapan pedang hijau tersebut.
__ADS_1
"Kau akhirnya sadar dengan keampuhan senjataku, anak muda. Kau hanya punya dua pilihan sekarang. Mau menyerah dan bergabung dengan klan Tokugawaku, atau kau mati di tanganku?"
Duar...!!!
Begitu ancaman Tokugawa Chirou diucapkan petir menggelegar memekakkan telinga.
Rajah pedang merah menyala terang di dahi Argadana menekan seluruh makhluk yang berada di sana tidak terkecuali juga kawan - kawan Surasena dan Nila Sari.
Yang masih terlihat tenang hanya Argadana, Jendral Thalaba, Yalina, dan Ningrum. Selain mereka semuanya jatuh tengkurap di atas tanah tanpa dapat menggerakkan tubuhnya.
Argadana, Ningrum, Yalina dan Jendral Thalaba seketika berlutut dan menundukkan kepala.
Mereka yang lain baik itu dari pasukan klan Nakamura maupun Tokugawa sebagian yang bertenaga dalam rendah ada yang pingsan dan bahkan mengalirkan darah dari seluruh lubang di tubuhnya.
Dari rajah pedang merah di dahi Argadana mencuatlah dua buah sinar putih keperakan memancarkan tekanan yang bahkan dapat mengguncangkan bumi ketika itu sehingga terjadilah gempa kecil sebelum disusul dengan kehadiran dua sosok lelaki tua berambut serba putih berwajah klimis. Matanya merah tampak mengerikan.
Di samping lelaki tua itu terlihat seorang wanita cantik bakal bidadari berpakaian serba putih. Rambutnya lurus tergerai hingga paha. Ditambah lagi dengan pemandangan kulitnya yang putih bagai kapas. Sungguh penampilan yang sempurna.
"Apa - apaan tekanan ini? Orang kuat mana yang lagi yang datang kali ini?" batin Tokugawa Chirou ketakutan setengah mati.
Setelah beberapa lama tekanan tersebut secara perlahan - lahan berkurang. Sedikit - demi sedikit pasukan dari kedua belah pihak akhirnya dapat juga berdiri meski dengan lutut goyah.
"Kakek...!!! Ibu...!!!"
Serempak Argadana, Ningrum, Yalina dan Jendral Thalaba menyapa kedua orang tersebut yang bukan lain adalah Raja Mahardika Pradana dan Dyah Ayu Pitaloka, dua orang yang memimpin Kerajaan Siluman Darah sebelum Argadana.
"Kalian bangkitlah...!!!"
Begitu Mahardika Pradana berkata demikian dan mengangkat tangannya, semua orang yang berpihak pada Argadana terbebas dari tekanan. Yang terluka parah seketika sembuh dan dapat berdiri dengan mantap.
"Kalian telah membantu cucuku dalam misinya. Aku akan berikan nanti sedikit hadiah sebagai ucapan terimakasih ku" kata Mahardika Pradana tersenyum lembut.
Lalu tiba - tiba matanya tampak berkilat mencorong tajam memandang ke arah Tokugawa Chirou dan anggota klan Tokugawa yang lainnya.
"Kalian semua... Makhluk - makhluk fana yang lemah. Berani - beraninya kalian menghina cucuku...!!! Cucuku adalah seorang raja, dan kau berani mengancamnya agar mau bergabung dengan klan sampah kalian?" teriak Mahardika Pradana menggeledek disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Akibatnya pohon - pohon besar dan bahkan dinding pagar rumah Nakamura Hayate hancur lebur.
Tokugawa Chirou yang sudah kepayahan sejak awal bahkan sebelum bertarung melawan Argadana karena sedang terluka dalam parah kini semakin kesulitan bahkan untuk menghela nafasnya karena tekanan yang diberikan oleh Mahardika Pradana.
Hal itu juga sekaligus mengejutkan orang - orang yang berada di sana baik yang bertarung maupun yang menonton pertempuran dari tempat tersembunyi.
"Tidak kusangka, dia ternyata adalah seorang yang memiliki latar belakang luar biasa. Beruntung murid - muridku tidak terlalu jauh menyinggungnya." batin Nakamura Hayate dengan wajah pucat pasi.
"Beruntung klanku masih punya kesempatan untuk menolongnya. Aku khawatir dia akan membalas dendam karena penghinaan Nakamura Todo waktu itu" kata Nakamura Hikone dalam hati.
__ADS_1
"Jadi orang tua itu adalah kakeknya? Habis sudah. Aku tidak punya kesempatan untuk menang. Kekuatannya sangat mengerikan"
"Jendral Thalaba...!!!" panggil Mahardika Pradana.
"Saya, yang mulia"
"Binasakan mereka untukku. Agar kelak kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja yang sudah berani mengganggu cucuku. Dia akan hancur dalam genggamanku, tidak perduli berapa rangkap nyawa yang dia punya"
"Baik, yang mulia. Perintah hamba laksanakan"
Jendral Thalaba kemudian berdiri dan merentangkan kedua tangannya yang menengadah ke atas.
Jurus Kutukan Darah
Begitu Jendral Thalaba menangkup kan kedua tangan di atas kepala, matanya berubah warna merah bercahaya.
Wajahnya yang berubah merah padam mendongak ke langit. Setelah getaran tangannya semakin keras, telapak tangan kiri dihadapkan ke depan sedang tangan kanan terkepal ditarik ke belakang menyiapkan pukulan penghakiman.
Pengadilan Neraka...!!!
"Hiaaahhh....!!!"
Begitu Jendral Thalaba mengayunkan tinjunya ke depan, seberkas cahaya sebesar ibu jari berwarna hitam pekat melesat secepat kilat menyambar tubuh Tokugawa Chirou dan...
Duarr...!!!
Tubuh Tokugawa Chirou hancur berantakan setelah terhantam Pukulan Penghakiman Neraka milik Jendral Thalaba. Ketua klan Tokugawa yang sombong itu mati tanpa sempat berteriak dan bereaksi sedikitpun. Hal itu disebabkan karena kekuatan Pukulan Penghakiman Neraka memiliki efek khusus, yaitu ketika sinar pukulan dilepaskan maka waktu akan terhenti dan tidak akan berjalan sebelum pukulan tersebut mengenai sasarannya.
Hal itu tidak akan disadari oleh manusia lain kecuali orang tersebut memiliki ilmu tingkat tinggi.
"Mati... Tokugawa Chirou mati hanya dengan sekali serangan. Ternyata Kusir Setan memiliki identitas lain, yaitu seorang jendral dari sebuah kerajaan yang kuat"
"Itu artinya, anak itu memiliki kekuatan yang lebih mengerikan dari Kusir Setan itu"
Tidak berapa lama kemudian setelah Tokugawa Chirou mati, semua orang dari klan Tokugawa tubuhnya meledak satu persatu tercerai berai menjadikan tempat pertempuran tadi terlihat bagai kabut darah.
"Kakang... Apa nama ilmu yang digunakan Jendral Thalaba itu? Itu sangat hebat. Padahal yang dibunuh cuma Ketua klannya, tapi yang mati justru seluruh anggota klannya"
"Itu adalah kekuatan Ilmu Kutukan Darah. Siapapun yang memiliki hubungan darah dengannya akan mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami Tokugawa Chirou" jawab Argadana panjang lebar.
"Aku sengaja melarang paman Belang melawan Tokugawa Chirou untuk mengantisipasi dia mengeluarkan pukulan itu. Tapi aku tidak menyangka ketua klan Tokugawa yang sombong itu akan mengeluarkan kata - kata tabu yang memancing kemarahan kakek" kata Argadana menghela nafas panjang.
"Haiiss... Apa boleh buat. Hal itu juga tidak akan terjadi jika tidak kau yang memulainya lebih dulu"
__ADS_1
Pada hari itu semua orang yang menjadi anggota klan Tokugawa yang tersebar di seluruh penjuru dunia tewas tiba - tiba dengan tubuh meledak tanpa ada yang tahu penyebabnya.