Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Jurus Gabungan Sepasang Pendekar Suci


__ADS_3

"Itu mungkin adalah ilmu andalannya yang pernah disebutkan Zatou Natsu sebelumnya. Jika Zatou Natsu saja dapat menahannya dengan pukulan tinju raja, maka aku juga pasti bisa melawannya dengan ilmu terakhir yang diwariskan turun temurun dari leluhur"


Berpikir demikian Kyokko Sumite bangkit berdiri dengan sikap gagah menatap Argadana.


Kyokko Sumite memejamkan matanya. Kedua tangannya kemudian digerakkan bersama di depan dada membentuk serangkaian segel sementara mulutnya terlihat bergerak merapalkan sesuatu.


Begitu segel tangan dan mantra rahasia diselesaikan tangan kanan Kyokko Sumite yang telah berubah merah kekuningan dari ujung kuku hingga sikunya ditarik ke belakang bersiap untuk melepaskan ilmu andalannya.


"Kau mungkin dapat membunuhku malam ini, anak muda. Tapi aku ingatkan agar kau berhati - hati dengan tiga orang yang berada di puncak gunung. Mereka tidak bisa disamakan denganku" kata Kyokko Sumite.


Tinju neraka...!!!


Kyokko Sumite mengerahkan seluruh tenaga dalamnya dalam pengerahan ilmu pukulan tinju neraka. Begitu tangannya diayunkan ke depan sinar kuning sebesar ibu jari melesat cepat menyambar sinar putih pukulan gerhana bulan milik Argadana.


"Wuss...!!!! Duartrr....!!!"


Benturan dua pukulan terjadi. Sinar kuning pukulan tinju neraka terpecah begitu membentur sinar pukulan gerhana bulan sehingga kayu dan bebatuan di sekitar tempat benturan menjadi berantakan. Akan tetapi sinar putih tidak berhenti setelah terbentur sinar tinju neraka melainkan terus melaju ke depan dan mengenai dahi Kyokko Sumite hingga berlubang.


Ketua klan Koga itu ambruk tanpa nyawa. Anehnya tak ada darah yang mengalir dari dahi yang berlubang. Tidak lama setelahnya keanehan lain terjadi kembali.


Tubuh mati Kyokko Sumite perlahan - lahan membeku mengepulkan asap berhawa dingin. Beberapa helaan nafas kemudian tubuh beku itu mencair dan meleleh sebelum meresap ke dalam tanah.


Kematian Kyokko Sumite sungguh tragis. Tak ada sedikitpun yang tersisa dari tubuhnya kecuali cairan yang telah terserap tanah. Dia mati tanpa dapat diketemukan jasadnya.


"Ini yang tidak aku sukai dari sebuah peperangan. Korban nyawa yang tidak dapat dihindari"


Argadana mengela nafas berat.


"Hmm... Mereka kelihatannya tidak memerlukan bantuanku. Kalau begitu aku akan ke puncak gunung lebih dulu agar peperangan ini selesai lebih cepat"


Melihat anggota - anggota elang emas tampaknya dapat mengatasi musuh Argadana segera melesat ke puncak gunung menemui tiga musuh yang tersisa.


***

__ADS_1


Di sisi lain pada saat yang bersamaan Nila Sari bergerak lincah menghadapi empat orang lawan yang menggunakan kama. Sama seperti yang lain istri Surasena itu dikepung di empat titik. Keempat lawan yang dihadapinya memiliki kekuatan tenaga dalam yang setara dengannya sehingga posisinya sedikit terdesak. Ketika konsentrasinya terfokus pada serangan gencar lawan di depannya menderulah satu serangan dari arah punggung.


"Mati...!!!" batin pembokong itu.


Pendengaran Nila Sari yang cukup tajam menangkap adanya suara kesiur angin tajam dari arah belakang segera merundukkan tubuhnya ke depan sehingga tebasan datar lawan hanya mengenai angin kosong.


Tidak jauh dari arena pertarungan Nila Sari, Surasena juga merasakan hal serupa. Meskipun lawannya rata - rata memiliki tenaga dalam setingkat di bawahnya, tetapi para ninja itu unggul dalam jumlah dan kecepatan. Jika Nila Sari hanya menghadapi empat orang ninja saja maka Surasena melawan lima orang yang kekuatannya setara dengan Nila Sari.


Selain itu musuh yang dihadapinya memiliki senjata yang bervariasi. Tiga orang menggunakan tekko kagi dan dua orang dengan senjata jarak jauh, kusari gama (senjata berupa seutas rantai dengan kama di bagian ujungnya).


Sudah terlihat sejumlah luka di beberapa bagian tubuhnya yang terkena sabetan senjata berbentuk cakar, tekko kagi. Akan tetapi meskipun begitu tidak pernah sedikitpun dia luput dari memperhatikan istrinya, Nila Sari.


Suatu ketika Surasena menjadi lengah saat melihat Nila Sari dalam keadaan terdesak oleh lawan di sisi kirinya.


"Dinda, sebelah kiri...!!!" teriaknya keras memperingati istrinya. Namun karena itu kusari gama milik salah satu ninja klan Manjidani berhasil dengan telak merobek dadanya. Tampaklah luka melintang di dada kiri yang cukup panjang.


"Ughhh....!!!" Surasena melenguh kesakitan. Darah bercucuran dari luka yang didapatkannya dalam pertarungan.


"Kakang...!!!" Nila Sari berteriak kaget begitu melihat suaminya terkena serangan senjata jarak jauh lawan begitu dia berhasil mengelak serangan musuh di sisi kiri.


"Wuk...!!!" di saat Nila Sari terdorong ke depan itu ninja yang terdekat segera menyambut tubuhnya dengan tebasan datar kama mengincar leher.


Karena tidak sempat menghindar Nila Sari dengan cepat meloloskan pedang naga hitam dari balik punggungnya untuk menangkis.


"Trang...!!!" terdengar bunyi nyaring saat senjata Nila Sari beradu dengan ninja tersebut.


Karena tenaga dalam mereka berimbang serangan keduanya sama - sama berbalik arah. Nila Sari yang telah berpengalaman dalam pertarungan hidup dan mati memanfaatkan hal itu dengan baik.


Begitu pedangnya terpantul segera tangannya berputar arah menebas ke arah kanan. Lawannya yang tak menyangka sama sekali tidak sempat bereaksi. Ninja itu ambruk ke tanah tanpa kepala.


Nila Sari segera berkelebat cepat mendekati Surasena begitu kepungan lawan melonggar karena kematian salah seorang kawan mereka.


"Kakang tidak apa - apa?" sapa Nila Sari begitu mendarat di samping Surasena. Terlihat di wajahnya tampak rasa khawatir.

__ADS_1


"Aku tidak apa - apa, dinda. Mereka cukup tangguh, gunakan sisik naga" jawab Surasena menatap Nila Sari dengan nafas tersendat - sendat. Tampaknya dia sedikit geram melihat keadaan istrinya yang awut - awutan serta beberapa luka yang menggores tubuh montoknya.


Wajahnya kelam membesi mengiringi bibirnya yang bergerak - gerak perlahan merapalkan mantra rahasia ilmu dewa naga.


Beberapa saat kemudian mulailah terlihat sisik - sisik berwarna hitam mengkilat dan tampak tebal menyelimuti sebagian tubuh Surasena. Luka - luka di sekujur tubuhnya seketika mengering.


Nila Sari juga ikut melakukan hal yang sama begitu terlihat satu demi satu sisik mulai muncul di permukaan tubuh Surasena. Luka di tubuhnya juga berangsur - angsur pulih.


"Heii.... Mereka sedang memulihkan diri. Jangan beri mereka kesempatan" seru ninja pemegang kusari gama yang tadi memimpin pengeroyokan terhadap Surasena.


Para ninja yang menjadi lawan Nila Sari tadi ikut bergabung dengan ninja lain lawan Surasena. Kini keadaan Nila Sari dan Surasena semakin terpojok dengan lingkaran yang dibuat klan Koga dan Manjidani untuk mempersempit ruang gerak keduanya.


Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam tahu akan posisi mereka dalam pertarungan ini. Akan tetapi dengan jurus sisik naga iblis yang telah mereka yakini sejak belasan tahun lamanya mereka tidak gentar sedikitpun terlebih setelah mendapatkan beberapa petunjuk dari Argadana tentang kelebihan dan kelemahan mereka.


Dulu saat mereka sedang berlatih bersama di Perguruan Anak Naga Argadana selain menurunkan ilmu - ilmu tingkat tinggi perguruan juga memberikan beberapa masukan mengenai kekuatan terbesar dari ilmu dewa naga.


Argadana berkata


"Ilmu - ilmu yang kalian pelajari berisikan jurus - jurus yang kompleks dan diciptakan khusus sebagai jurus berpasang. Sebab itu kelemahan paling fatalnya adalah saat kalian melawan musuh berilmu tinggi secara terpisah"


Ketika itu Surasena dan Nila Sari mendengarkan perkataan Argadana tanpa ada satupun yang terlewati.


"Kalian memang akan tetap kuat jika melawan musuh - musuh yang tenaga damnya di bawah kalian. Tapi bagaimana jika lawan berjumlah banyak? Bagaimana jika lawan kalian memiliki tenaga dalam setara dengan kalian? Nah... Jika kalian menemui hari buruk itu maka satu - satunya jalan keluar adalah menyelaraskan jurus. Jadi kalian harus bertarung bersama, jangan biarkan musuh memisahkan perpaduan kalian atau kalian akan celaka. Mengerti???"


"Mengerti, tuan...!!!" jawab Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam serentak.


Surasena tersadar dari lamunannya setelah musuh mulai bersiap melepaskan serangan.


Surasena menatap Nila Sari dengan tatapan penuh kasih.


"Dinda...!!! Ini adalah hari buruk yang dimaksud tuan dulu. Jadi kita akan melakukannya sesuai dengan petunjuk tuan"


Yang ditatap balas menatap dan menjawab

__ADS_1


"Hm... Ayo, kita lakukan bersama!!!"


__ADS_2