
"Sial...!!!" Pangeran Kenshin membanting keramik - keramik hiasan di dalam ruangan pribadinya. Wajahnya tampak kesal bukan main.
"Beraninya kelompok kecil itu menolak tawaran baik yang mulia ini" katanya dengan kemarahan meluap - luap.
"Sabar, pangeran... Tenanglah!!! Kelompok kecil yang tidak tahu diri seperti itu tidak perlu membuat pusing pangeran" berkata pembantu Pangeran Kenshin yang bernama Origami.
"Bagaimana aku bisa tenang dan sabar saat seseorang merendahkan yang mulia ini?" teriak Pangeran Kenshin.
"Kelompok semut itu, karena tidak bisa dimanfaatkan maka sebaiknya kita hancurkan saja"
"Pikirkan bagaimanapun caranya, aku ingin perguruan itu hancur. Dan jangan lupa ketiga gadis berwajah elok itu bawa kepadaku setelah para gaijin itu mampus...!!!"
"Emm... Kita bisa meminta bantuan Perserikatan Samurai, tuan. Biar mereka yang mengurus orang - orang tidak tahu diri itu"
"Kalau begitu aku serahkan padamu. Tapi ingat, aku tidak ingin ada kegagalan lagi...!!!"
"Baik, pangeran. Pangeran tidak perlu khawatir, saya jamin mereka akan membayar karena telah menolak pangeran"
***
Markas besar Perserikatan Samurai terletak di tengah - tengah pusat Kota Hamakurawa. Di sanalah para samurai ternama berkumpul sehingga banyak orang - orang menyebutkan Perserikatan Samurai merupakan penguasa kedua setelah Kekaisaran.
Pada awalnya Perserikatan Samurai ini dibangun untuk menyaring perguruan - perguruan yang terbentuk di seluruh wilayah Kekaisaran Jepang. Sebab itu sejak dulu Perserikatan Samurai telah membuat banyak cabang di seluruh wilayah Kekaisaran hingga membentuk satu kubu kuat yang berdiri sendiri atas izin dari Kekaisaran.
Namun seperti lazimnya manusia, harta dan jabatan selalu terlihat amat menggiurkan bagi sebagian orang hanya memikirkan keduniaan dan isi perut semata.
Sakyo Jinnai yang menilai Senjuro Akechi tidak kompeten menduduki kursi ketua Perserikatan Samurai berkomplot dengan banyak pihak aliran hitam untuk menggulingkan jabatan ketua Perserikatan yang sah.
Hari itu merupakan hari yang tidak pernah dibayangkan oleh Senjuro Akechi terjadi.
"Aku tidak menyangka akan ada hari di mana orang - orang kepercayaanku mengkhianati aku. Sandiwara yang kalian susun sungguh sempurna" kata Senjuro Akechi.
Sakyo Jinnai menyeringai puas. Kini jabatan yang telah diidam - idamkannya selama bertahun - tahun dengan melakukan segala cara bahkan sampai harus bekerja sama dengan para penguasa dan para samurai jahat dari aliran hitam.
"Kau terlalu lembut untuk menjadi pemimpin orang - orang besar ini, ketua. Jadi aku membantumu dengan mengambil alih jabatanmu sebagai ketua Perserikatan Samurai. Hahahaha....!!!" tawa Sakyo Jinnai membahana.
Rasa kecewa karena merasa dikhianati oleh orang yang paling dipercayai nya membuat kemarahan perlahan berkobar di hati Senjuro Akechi.
Ketua Perserikatan Samurai itu menatap Sakyo Jinnai dengan mata berkilat. Sekejap kemudian dia meloloskan katana yang tersampir di pinggangnya.
"Wuk...!!!"
"Trang...!!!"
Dengan gerakan kilat yang sulit dilihat mata Senjuro Akechi menebaskan katana ke arah leher Sakyo Jinnai tapi niatnya tidak kesampaian karena dua batang katana yang lain bergerak dari samping kiri dan kanan memapak tebasannya hingga gagallah serangan mendadak itu.
__ADS_1
"Tetua Kanryu...!!! Kau sungguh tercela. Aku menurunkan banyak ilmu kepandaianku kepadamu. Dan ini balasan yang kau berikan?" teriak ketua Perserikatan Samurai itu marah.
Seketika para anggota yang telah membelot kepada Sakyo Jinnai memisahkan diri dan berbaris menodongkan senjata mereka ke arah Senjuro Akechi.
Praktisi saja, hanya tersisa lima orang yang masih setia mengikuti ketua Senjuro Akechi. Mereka adalah lima tetua teratas Perserikatan Samurai.
"Pengkhianat hina...!!!
Salah satu dari lima orang tetua bernama Kitagawa yang sejak tadi berdiri diam di belakang Senjuro Akechi akhirnya buka suara.
Tetua kedua Perserikatan Samurai itu maju dan berdiri tegak di sisi kiri Senjuro Akechi diikuti empat orang tetua tertinggi lainnya di belakang Senjuro Akechi yang juga telah siap dengan kuda - kuda bertarung andalan mereka.
" Maaf - maaf saja, ketua... Aku bukannya tipe orang yang suka berkhianat, melainkan orang yang memuja yang lebih kuat. Meskipun kau disebut sebagai samurai nomor satu, tetapi gelar itu tidak dapat menutupi kekurangan jumlah. Jika kita bertarung satu lawan satu, kau mungkin tidak terkalahkan tetapi untuk menghadapi jumlah yang perbedaannya sangat jauh kau bahkan tidak akan sanggup menggerakkan kakimu selangkahpun" kata Kanryu menengadahkan kepalanya angkuh.
"Kau...!!!"
Tetua ke tiga di sisi kanan Senjuro Akechi tampak murka mendengar jawaban mengejek Tetua Kanryu tadi. Wajahnya tampak kelam.
"Ketua pergilah dari sini. Kami akan menahan para pengkhianat ini. Tidak perlu khawatirkan kami, kalaupun hari ini akan menjadi perjuangan terakhir kami maka setidaknya ketua dapat membalaskan sakit hati ini di masa depan" kata Tetua Keempat mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.
Empat orang tetua lain yang juga berpihak pada Senjuro Akechi melakukan hal yang sama. Mereka siap mempertaruhkan nyawa demi ketua mereka.
Senjuro Akechi merasa amat terharu dengan kesetiaan lima orang tersebut. Mata lelaki berusia separuh baya itu tampak berkaca - kaca.
Mendengar ucapan Sakyo Jinnai Senjuro Akechi lalu menoleh ke arah jendela dan dilihatnya di luar bangunan memang telah dikepung oleh ratusan orang dari berbagai perguruan beraliran hitam.
"Kalian benar - benar...!!!" Senjuro Akechi mengecam keras kejahatan wakilnya itu.
"Kita sudah dikepung dari segala arah. Kita akan mati jika melawan mereka semua yang memiliki kekuatan tempur besar. Satu - satunya jalan yang bisa kita usahakan adalah menerobos kepungan luar" kata Senjuro Akechi berbisik - bisik pada lima tetua yang masih setia padanya. Hal itu tidak didengar oleh Sakyo Jinnai dan kelompoknya.
"Maju... Bunuh orang tidak berguna itu...!!!" teriak Sakyo Jinnai keras disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
Begitu pasukan Sakyo Jinnai meluruk ke depan lawan mereka tiba - tiba melompat menerobos dinding di belakang mereka hingga ambrol.
Segera keenam orang itu disambut tebasan dan tusukan dari berbagai arah. Karena kepungan yang amat padat Senjuro Akechi kesulitan untuk bergerak.
Lima tetua mengamuk bagai banteng terluka membabati kepungan yang bagai tiada habisnya. Senjuro Akechi lebih ganas lagi. Setiap kali katana diayunkan akan ada lima orang mati dengan tubuh terbelah.
Meskipun demikian, mereka tetaplah hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Lambat laun tenaga mereka berangsur - angsur melemah hingga kini setelah pertempuran berlangsung selama lima puluh jurus nampak Senjuro Akechi dan lima tetua ada puluhan luka di sekujur tubuh mereka yang mengeluarkan darah.
Wajah - wajah mereka pucat karena darah terus mengalir dari luka yang mereka terima. Pada jurus ke tujuh puluh Tetua ke tiga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah tombak salah seorang pengepungan menembus tubuhnya dari belakang.
Kematian tetua ke tiga membuat Senjuro Akechi dan empat tetua merasa amat terpukul. Dendam di hati mereka semakin berkobar.
"Gunakan jurus terkuat kalian. Kita sudah hampir sampai di luar kepungan...!!!" teriak Senjuro Akechi.
__ADS_1
Mendengar teriakan itu keempat tetua tidak menyia - nyiakan waktu lagi. Mereka segera menggunakan jurus terkuat mereka dengan sisa - sisa tenaga yang ada.
Tentu saja pengeroyok yang rata - rata berkemampuan rendah dengan mudahnya terbunuh di tangan mereka berlima yang telah berpengalaman malang melintang di dunia persilatan selama bertahun - tahun.
"Sekarang lompat...!!!" perintah Senjuro Akechi.
Sejurus kemudian mereka melenting ke atas mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka berusaha meninggalkan kepungan.
Sakyo Jinnai melihat ketangkasan Senjuro Akechi dan empat tetua yang tersisa merasa takut jika mereka akan membalas dendam jika mereka sampai keluar dengan selamat dari penyerangan itu. Dia lalu berteriak memberi perintah pada pasukan pemanah.
"Panah mereka...!!!"
Sontak saja ratusan anak panah menerjang ke arah lima orang yang berusaha melarikan diri.
Empat tetua yang melihat bahaya anak panah menjadikan diri mereka sebagai tameng untuk Senjuro Akechi.
"Apa yang kalian lakukan...???" teriak Senjuro Akechi melihat bawahannya yang setia telah siap berkorban jiwa raga.
"Pergilah, Ketua...!!! Pastikan untuk mengingat kejadian hari ini. Jangan terburu - buru. Selagi nyawa masih dikandung badan, masih belum terlambat untuk membalas dendam meski usia telah ribuan abad...!!!"
Empat orang tetua itu akhirnya tewas dengan tubuh terpangganh ratusan anak panah. Ada kesamaan kondisi dalam kematian mereka, yaitu keempat tetua itu mati dalam keadaan tersenyum.
Sementara itu Senjuro Akechi berhasil lolos dari serangan anak panah dan menghilang entah kemana bagai ditelan bumi.
"Sial... Cari orang itu sampai ketemu, hidup atau mati...!!!" perintah Sakyo Jinnai gelisah.
***
Jalanan itu tampak sunyi. Hanya terdengar suara nyanyian merdu burung - burung yang beterbangan menyambut pagi.
Dari arah timur terlihat sesosok berpakaian putih mengendarai kuda hitam dengan cepat.
Orang itu adalah Hakamaru Nawa, pengawal pribadi Pangeran Fujihira Fukiaezu. Hari itu Hakamaru Nawa dalam perjalanan pulang setelah membeli kebutuhan yang dipesankan oleh majikannya.
"Hia...!!! Hia...!!!"
Kuda tunggangan itu berlari kencang meninggalkan kepulan debu di belakangnya. Setelah melewati sebuah tikungan kuda hitam tiba - tiba berhenti dan mengangkat kedua kaki depannya sehingga Hakamaru Nawa hampir terjatuh karena saking terkejutnya.
"Hmm...??? Siapa yang tidak ada kerjaan tidur di tengah jalan?" batin Hakamaru Nawa melihat sesosok tubuh tergolek lemah tidak jauh di depan kuda tunggangannya. Pakaian orang itu dipenuhi darah dan terlihat banyak luka di sekujur tubuhnya.
***
Hai...!!!
Ya... Hari ini saya muncul lagi yah setelah menyelesaikan kesibukan saya di real life. Mudah - mudahan kita semua dibarengi sehat selalu...
__ADS_1