Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Pendekar Abadi 2


__ADS_3

"Kau berani bicara sembarangan, anak muda. Apa kau buta, tidak melihat Gunung Rinjani di depan mata? Aku adalah Pendekar Abadi, ketua Perguruan Camar Hitam. Orang yang terkenal tidak bisa mati. Dan kau berani menghina diriku?" teriak orang tua itu dengan nada marah seraya membusungkan dadanya. Sengaja dia menyebutkan nama gelarannya untuk menakut - nakuti anak muda di depannya. Tetapi rupanya harapan ketua Perguruan Camar Hitam itu tidak kesampaian.


Bukannya ketakutan, justru jawaban Argadana membuat kemarahannya tak terbendung lagi.


"Apa gunanya Gunung Rinjani kalau pada akhirnya akan meletus juga? Lagipula di tempat asal ku nama julukan itu hanya bisa digunakan untuk mengusir tikus - tikus di sawah dan ladang. Sama sekali tidak ada keistimewaannya"


Argadana menoleh ke arah Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam tanpa melihat wajah Camar Hitam yang telah mengelam.


"Dan kalian... Manusia boleh dibunuh, tapi sekali - kali tidak boleh direndahkan harga dirinya. Ada saatnya sabar, dan ada saat di mana kemarahan boleh dilepaskan. Kalian berdua ini manusia, jangan hanya diam saja kalau dihina orang. Apalagi kalau yang menghina itu hanyalah tikus tua bau tanah"


Murkalah Camar Hitam mendengar ucapan Argadana tadi.


"Kata - katamu semakin tidak enak didengar, anak muda. Kemarahan ini tidak akan mereda sampai terjadi pertumpahan darah di antara kita. Sekarang siapa yang mau maju melawan ku? Kalau kalian merasa takut, bisa maju bersamaan. Meski dikeroyok sekelompok anak muda yang belum berpengalaman, aku Camar Hitam tidak akan mengerutkan dahi sedikitpun" kata Camar Hitam dengan nada pongah.


"Biar aku menghadapinya" kata Surasena.


"Aku akan membantumu, kakang"


"Tidak, dinda. Biar aku menghadapinya sendiri. Nanti jika kau lihat aku tidak sanggup melawannya, barulah kau bantu aku" kata Surasena menolak dibantu oleh istrinya"

__ADS_1


Tidak ingin terlalu lama menunda perjalanan tuannya, Surasena mengeluarkan jurus pamungkasnya untuk mengawali serangan. Uap hitam berbau amis keluar dari sekujur tubuhnya.


Di iringi bentakan nyaring, Surasena menerjang ke arah Pendekar Abadi dengan jurus tangan kosong miliknya.


"Ughh.... Anak ini memiliki ilmu racun tingkat tinggi. Sialan... Tubuhku memang kebal senjata, tapi tidak dengan racun. Aku harus hati - hati menghadapi jurus - jurus racunnya" batin Pendekar Abadi seraya menutup jalan pernapasannya agar uap berbau amis yang keluar dari tubuh Surasena tidak terserap oleh tubuhnya.


Jurus Sabda Kematian: Selaput Neraka


Begitu Pendekar Abadi selesai merapalkan mantra ilmunya, sebuah kabut berwarna merah menebarkan hawa panas menyelubungi tubuhnya.


Hawa panas tersebut ternyata mampu menetralkan racun Naga Hitam yang keluar dari tubuh Surasena. Hal itu membuat pergerakan pasangan pria Pendekar Suci dari Lembah Hitam itu menjadi terhambat karena selain jurus racunnya tidak berfungsi dengan baik, hawa panas dari Selaput Neraka itu juga membuat tubuhnya seperti hendak meleleh.


Argadana mengerutkan keningnya melihat Surasena begitu kewalahan menghadapi Selaput Neraka milik Pendekar Abadi.


"Raja Naga, apa kau yakin kalau mereka adalah penyembah Naga Iblis?" kata Argadana yang hanya dapat didengar oleh Raja Naga.


"Benar, tuanku. Walau samar - samar, hamba masih bisa mengingat dengan baik kalau ilmu yang dikeluarkan mereka berdua itu bersumber dari kitab terlarang ras naga. Hanya saja, yang mereka gunakan itu cuma ilmu - ilmu dasarnya saja" kata Raja Naga pelan.


"Hamba tahu hal itu karena tiap generasi raja dari ras naga mempunyai hak untuk membaca seluruh kitab ilmu - ilmu para naga, termasuk ilmu terlarang itu. Namun ada aturan tertulis yang sudah berlaku sejak zaman nenek moyang kami yang mengatakan bahwa siapapun raja yang mempelajari atau mengamalkan ilmu terlarang tersebut akan dicabut statusnya sebagai raja dan akan diperangi oleh seluruh ras naga. Makanya hamba hanya sekedar membaca dan memahami keadaan orang yang mengamalkan ilmu itu" jelasnya lebih lanjut.

__ADS_1


Argadana mengerutkan dahi mendengar penjelasan Raja Naga.


"Seharusnya jika dia memang penyembah Naga Iblis, maka tentu saja tidak mungkin hanya mempelajari dasarnya saja" batin pemuda tampan berambut emas itu.


"Nila Sari, apakah kalian benar - benar pengikut Naga Iblis?" tanya Argadana pelan.


"Emm.... Maaf, tuan. Saya tidak mengerti maksud pertanyaan tuan. Kami memang memiliki ilmu yang berasal dari sebuah kitab yang bernama Kitab Naga Iblis. Tapi soal menyembah Naga Iblis, kami bahkan baru kali ini mendengarnya"


Argadana hanya manggut - manggut mendengar pernyataan Nila Sari.


"Hmm... Tidak apa - apa. Aku hanya asal bertanya saja tadi"


Mereka kembali menyaksikan pertarungan antara Surasena dan Pendekar Abadi yang semakin mendekati puncaknya. Surasena semakin kesulitan memberikan perlawanan karena tubuh Pendekar Abadi yang kebal akan senjata tajam. Pedang Naga Hitam nya tidak dapat menggores sedikitpun tubuh lawannya, sementara pisau kecil berwarna kekuningan milik Pendekar Abadi telah beberapa kali berhasil menggores tubuhnya.


"Hehe.... Bagaimana rasanya, Surasena? Nama Pendekar Pembunuh Naga memang memiliki ketenaran yang luar biasa, tapi di mata Pendekar Abadi ini kalian bukanlah apa - apa. Sebentar lagi majikan baru kalian itu juga akan mendapatkan bayarannya. Hahaha.... "


"Kau terlalu banyak bicara, kisanak. Kau pikir tuan kami adalah orang yang lemah? Hati - hati, kesombongan bisa mengarahkanmu pada jalur kematian"


***

__ADS_1


Maaf yah... Hari ini pendek dulu. Saya lagi sakit soalnya, ini juga maksa bgt ngetiknya... 🙏


__ADS_2