
Tebasan dewa dewi maut...!!!
Surasena dan Nila Sari berdiri saling membelakangi dan melakukan dua tebasan beruntun ketika melihat kepungan menciut.
Dua orang yang paling dekat dengan sepasang pendekar dari daratan tenggara itu tidak sempat menghindar karena terhimpit rekan mereka di kiri dan kanan.
"Aaarghh.... Tanganku..."
Jurus tebasan dewa dewi maut berhasil menanggalkan dua lengan dati dua orang pengepung yang terlambat menghindar.
Konsentrasi ninja gabungan itu terpecah karena teriakan panik dua orang kawan mereka yang kehilangan sebelah lengan mereka. Kekacauan itu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh sepasang pendekar sejoli itu untuk melakukan serangan gencar.
Dari kepala Surasena dan Nila Sari muncul uap hitam berbau amis yang menyelimuti seluruh tubuh keduanya. Tetapi karena kegelapan malam uap itu tidak nampak sedikitpun. Ini adalah salah satu ilmu racun andalan mereka yang dinamakan ilmu selaput bayangan.
Dulu ilmu sewaktu melawan Argadana selaput bayangan ini saat digunakan hanya akan memunculkan uap di kepala mereka saja dan racun hanya akan menyebar saat bersentuhan langsung dengan lawan. Tapi atas petunjuk Argadana ilmu itu jadi lebih sempurna dan dapat menjadi tekhnik penyerangan maupun tekhnik pertahanan yang cukup kuat. Setelah ilmu itu diperbarui, racun yang membentuk uap hitam itu dapat tersebar melalui udara dan mengikuti kehendak penggunanya.
Kembali ke pertarungan Surasena dan Nila Sari. Salah seorang ninja dari klan Manjidani secara diam - diam coba menyerang Nila Sari dari arah belakang tetapi hal itu merupakan kesalahan besar.
Begitu tubuhnya berjarak satu batang tombak dari tubuh Nila Sari uap hitam yang menyelubungi tubuh lawan tanpa sengaja terhirup olehnya.
"Aakkkhh....!!! Ap..a.... Akkkhh...!!!" suara ninja itu tercekat bagai binatang disembelih. Begitu ambruk kulitnya telah berubah warna menjadi hitam sehitam gelap malam.
"Iblis...!!!"
"Ilmu apa itu?"
"Sepertinya Akihito terkena racun!!!"
"Tapi sejak kapan mereka melakukannya? Aku tidak melihat mereka bergerak sama sekali selain sisik - sisik aneh yang mulai bertumbuhan di beberapa bagian tubuh mereka"
Rasa penasaran terhadap apa yang dialami salah seorang kawan mereka membuat para ninja kembali mengendur kewaspasaannya.
Jurus dewa dewi pedang membelah samudra!!!
Tidak mau membuang - buang kesempatan Surasena dan Nila Sari segera membentuk susunan jurus gabungan mereka.
__ADS_1
Setelah memasang kuda - kuda kokoh keduanya berkelebat cepat menyerang ke arah satu titik disertai bentakan nyaring.
Dua orang lagi terbabat putus tubuhnya sebatas pinggang karena tidak siap dengan serangan mendadak sehingga hanya bisa menonton dua pedang membabat melewati tubuh mereka berdua.
"Jangan banyak melamun, bodo*h... !!! Kita sedang berperang. Bunuh musuh kalau tidak ingin mati!!!" teriakan pemimpin pengeroyokan itu berhasil menyadarkan para ninja lain dari keterkejutan mereka. Para ninja kembali fokus pada pertarungan tetapi terlambat sudah.
Jurus dewa dewi pedang pembelah samudra mengutamakan pada kecepatan tinggi. Jadi semakin lambat reaksi lawan akan semakin fatal daya serangnya.
Kewaspadaan para ninja tadi melonggar cukup lama karena rasa terkejut sehingga memberikan waktu yang cukup bagi sepasang pendekar dari tanah seberang itu untuk mempersiapkan jurus pembunuh.
Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam mengamuk hebat bagai banteng terluka. Karena kehebatan jurus berpasang keduanya dalam sepuluh jurus telah berhasil menumbangkan tiga orang ninja.
"Sekarang.. !!!"
Setelah pertarungan memasuki tiga puluh jurus Surasena tiba - tiba berteriak. Nila Sari yang mengerti maksud suaminya segera membuang tubuh ke samping dan menjauh sejauh mungkin bersamaan dengan Surasena yang melompat tinggi ke atas.
Tiga orang ninja yang tersisa tidak cukup cepat untuk menebak tak tik apa yang digunakan sepasang pendekar hebat itu.
Goresan semesta...!!!
Lima tarikan nafas kemudian...
"Bumm...."
Sebelum Surasena mendaratkan kakinya tanah terjadi ledakan dahsyat menerbangkan debu - debu dan dedaunan di gunung. Tubuh ketiga ninja itu tercerai berai begitu terjadi ledakan.
Ketika kaki Surasena menyentuh tanah suasana telah sedikit tenang. Akan tetapi di tempat tiga ninja terakhir berdiri terbentuk sebuah kubangan yang cukup dalam.
Nila Sari setelah melihat musuh mereka berhasil dihabisi segera mendekati suaminya.
"Bagian kita sudah beres, kakang" kata Nila Sari menggandeng tangan Surasena dengan perasaan cinta yang dalam.
"Benar, dinda. Tapi teman - teman lain masih ada yang sedang berjuang. Untuk sekarang kita pulihkan dulu kekuatan kita dan membantu mereka agar pekerjaan lebih cepat selesai" balas Surasena membelai lembut rambut lurus istrinya.
"Baik, kakang... "
__ADS_1
***
Sesosok bayangan berwarna merah berkelebat bagai hantu saking cepatnya pertanda bayangan itu menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Gelapnya malam seolah tidak menghalangi pergerakannya menuju puncak Gunung Koga.
Jika di lihat dari dekat bayangan tersebut ternyata merupakan seorang pemuda berusia dua puluhan tahun. Wajahnya tampan dengan mata sipit khas tiongkok. Rambutnya yang cukup panjang sebahu terkuncir rapi.
Di tangan kanannya tergenggam sebuah tombak pendek yang tampaknya terbuat dari besi pilihan. Bagian ujung tombak terdapat mata pisau dihiasi rumbai - rumbai merah halus.
"Letak persembunyian mereka dirahasiakan dengan sangat rapi. Setelah menyelidiki selama beberapa tahun aku masih belum juga mendapatkan informasi yang akurat tentang keberadaannya" kata pemuda itu berbicara pada dirinya sendiri.
Pada saat berbicara itu
Larinya tidak juga mengendur meskipun jalan menuju puncak Gunung Koga sangat terjal dan berbatu.
Pemuda itu tadi sempat melewati tempat pertarungan berlangsung antara para ninja yang tampak kewalahan melawan sekelompok orang berilmu tinggi. Namun karena fokus tujuannya adalah orang di puncak gunung dia tidak begitu memikirkannya terlebih lagi dia tahu betul reputasi buruk para ninja di Gunung Koga. Menurutnya wajar - wajar saja jika suatu saat ada sekelompok orang yang dendam datang menyerang mereka.
"Para ninja itu sudah terlalu lama berpijak di atas genangan darah orang lain dengan alasan menjalankan pekerjaan. Biarkan saja mereka dihancurkan, aku hanya ada keperluan dengan murid murtad itu" gumam si pemuda dengan tatapan geram.
Saat menyebut murid murtad tadi itu teringatlah sang pemuda itu akan pengalaman pahit yang pernah dialaminya dulu yang hingga saat ini masih menjadi bibit dendam yang telah mengakat kuat di hatinya.
Tujuh tahun yang lalu tepatnya ketika pemuda itu berusia lima belas tahun berada dalam bimbingan seorang ketua perguruan terkenal di tiongkok bersama dengan dua orang saudara seperguruannya.
Kakak seperguruannya adalah seorang lelaki bernama Liu Tong, adik seperguruannya adalah perempuan bernama Chen Xiang, dan pemuda itu sendiri adalah murid kedua yang bernama Ling Yun.
Ketiganya merupakan murid sekaligus anak angkat pendekar yang amat tersohor bernama Wu Qin Feng, ketua Perguruan Api Langit. Jurus andalannya yang paling hebat adalah jurus api langit. Dengan itu dunia persilatan negeri tiongkok menjuluki dia dengan sebutan Pendekar Api Langit.
Mereka bertiga tumbuh bersama dibesarkan sejak kecil dengan kasih sayang dan dididik ilmu tingkat tinggi. Celakanya kedua murid laki - laki itu terlibat cinta dengan wanita yang sama. Begitu beranjak dewasa Chen Xiang menjelma menjadi wanita yang cantik menawan bak tuan putri.
Dari kedua pemuda saudara seperguruannya yang sama - sama menjatuhkan hati padanya Chen Xiang hatinya lebih condong kepada Liu Tong. Akhirnya Ling Yun dengan perasaan kecewa menyerah atas pilihan yang telah dibuat Chen Xiang.
Hari demi hari, tahun demi tahun terlampaui. Tidak ada kejadian aneh yang menimpa ketiga murid Wu Qin Feng. Mereka tidak bermalas - malasan dalam berlatih.
Liu Tong yang terobsesi dengan kekuatan mendapatkan pencapaian yang lebih tinggi dibanding dua orang adik seperguruannya. Bakat dan kemampuan itu lama kelamaan membuat dia menjadi sombong.
Pada suatu hari sang guru mengumumkan bahwa pewaris selanjutnya dari takhta Perguruan Api Langit adalah Ling Yun. Dengan rasa tidak percaya Liu Tong mencoba menanyakan pada gurunya tentang keputusan yang dianggapnga keliru itu akan tetapi sang guru tidak memberikan jawaban yang memuaskan.
__ADS_1
Akhirnya karena tidak terima dengan perlakuan sang guru Liu Tong pergi meninggalkan Perguruan Api Langit tanpa pamit. Selang beberapa bulan kemudian Liu Tong kembali dengan membawa bencana mengejutkan.