
Beberapa tahun pasca dipilihnya Adipati Renggana sebagai adipati yang memerintah Kadipaten Suwela banyak rakyat yang mengeluhkan adipatinya yang bertangan besi. Kebijakan - kebijakan baru yang memberatkan rakyat, perampokan, kekerasan terjadi di mana - mana. Pajak - pajak dinaikkan dua kali lipat.
Adipati korup itu hanya sibuk berfoya - foya tanpa memperhatikan keadaan rakyat. Pada hari itu dia merasa amat geram karena baru pertama kalinya ada orang yang berani memukul putranya. Karena Danuswara memanas - manasi akhirnya emosinya pun memuncak sehingga mengutus sepuluh pengawal bayaran yang berasal dari Bukit Srigala dan seorang pembantunya yang merupakan seorang tetua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam yang terkenal sangat bengis. Namanya adalah Ki Waringin.
Setelah memasuki arena pertarungan Ki Waringin yang merasa tidak sanggup menghadapi lawannya yang merupakan seorang yang masih sangat muda segera menggunakan ajian pamungkasnya Waringin Sungsang. Tetapi naas, pemuda lawannya memiliki Ilmu Serat Darah' yang mengalahkan ilmu pamungkasnya. Tokoh sesat itu pun akhirnya tewas setelah terkena sabetan Cambuk Raja Naga milik lawannya yang tidak lain adalah Argadana, Ksatria Lembah Neraka.
Begitulah nama julukan yang diberikan warga kala itu kepadanya setelah menumbangkan Ki Waringin yang terkenal sakti mandraguna. Dan nama itu lambat laun semakin dikenal luas oleh orang dunia persilatan, seorang pemuda pemberani berambut emas dengan gambar pedang merah terukir di tengah - tengah keningnya.
"Ilmu kepandaiannya pun sama anehnya dengan orangnya. Ilmu nya aneh, rambutnya juga aneh. Baiknya kupanggil saja Pendekar Aneh" ucap Ki Barnawi pelan.
Adipati Renggana sangat percaya dengan kemampuan pembantunya itu tidak pernah menyangka berselang setengah hari setelah diutusnya sepuluh pengawal bayaran dan Ki Waringin tempatnya akan disatroni oleh dua orang pendekar muda yang telah menghajar anaknya sampai babak belur dan bahkan membunuh pembantu setianya, Ki Waringin.
Adipati Renggana yang sedang berpesta pora dengan para bawahannya ditemani wanita - wanita cantik itu wajahnya mengelam demi mendengar kekalahan orang - orang suruhannya itu. Maka begitu sampai di tempat kediaman Adipati Renggana Argadana dan Ningrum disambut oleh kepungan puluhan prajurit Kadipaten Suwela. Prajurit - prajurit itu mengepung dengan pedang terhunus siap menerima perintah sang Adipati. Danuswara yang melihat kesempatan untuk terlepas dari cengkraman murid - murid Sepasang Pendekar Naga itu menyelinap ke samping lalu melarikan diri. Argadana hanya membiarkannya saja karena berpikir sudah tidak lagi membutuhkan Danuswara.
"Apa begini sambutanmu kepada orang yang bertamu kentempat tinggalmu, Adipati?" kata Ningrum dengan lantang. Argadana di sampingnya hanya diam dan tetap menjaga ketenangannya.
"Apa pantas seorang pengacau seperti kalian disambut layaknya tamu terhormat setelah memperlakukan anakku dengan buruk dan bahkan membunuh pembantu setiaku?" balas Adipati Renggana tak kalah keras.
"Heehehe. . . Pantas saja anaknya bejat, rupanya ayahnya juga sama bejatnya" terdengar suara tawa mengekeh orang yang baru saja mencapai pintu gerbang kadipaten yang tiada lain adalah Ki Barnawi.
Pendekar berjuluk Si Tangan Seribu itu rupanya mengikuti kedua muda - mudi dunia persilatan secara diam - diam dari belakang untuk berjaga - jaga jika saja Adipati Renggana telah menyiapkan jebakan pada Argadana dan Ningrum.
__ADS_1
"Hmm. . .??? Aha. . . Bukankah kau Ki Barnawi dari Gunung Pancu? Ada keperluan apa sampai datang jauh - jauh kemari? Dan kau juga sengaja mau mengusili urusan orang, dasar Pendekar Usil" umpat Adipati Renggana.
"Ehh. . . ??? Aku sengaja datang kemari jauh - jauh karena ada seorang sahabat meminta bantuan ku" Si Tangan Seribu menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Katanya ketua besar Perkumpulan Pengemis Darah Hitam telah menyusup dalam Kerajaan Sampang Daru" kata Ki Barnawi lagi.
Wajah Adipati Renggana berubah pucat mendengar kata Ki Barnawi. Dia sangat terkejut mendengar penjelasan itu tetapi berusaha menutup - nutupinya. Sementara Ki Barnawi hanya tersenyum jenaka layaknya anak belasan tahun yang masih nakal - nakalnya. Dia lalu melanjutkan
"Dan ternyata orang itu adalah kau, Adipati. Ahh. . . Atau harus kusebut kau Renggana Adi Wirya?" ucap Ki Barnawi memasang seringainya.
Adipati Renggana yang memang tidak lain adalah Renggana Adi Wirya memang merupakan ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam tertawa lebar.
Hal tersebut memicu keresahan warga sehingga pihak kerajaan mengutus prajurit - prajurit tangguh mereka untuk memburu pengemis yang tindakannya lebih mirip perampok tersebut. Jadi untuk mendanai perkumpulannya, sang ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu pun menyamar menjadi seorang prajurit.
Karirnya dalam bidang keprajuritan meroket dengan cepat karena ketinggian ilmunya. Maka setelah Adipati Suwela meninggal dunia kerajaan memilihnya sebagai Adipati yang baru menggantikan Adipati lama.
"Benar - benar tidak disangka. Setelah sekian lama aku menyamar, ada juga yang dapat mengenali diriku" kata Renggana Adi Wirya. Adipati Suwela itu menyeringai dingin.
Plok.. plok. . .
Adipati Renggana bertepuk tangan dan tidak lama kemudian keluarlah sepuluh orang berpakaian tambal - tambal yang terlihat seperti sengaja dirobek.
__ADS_1
"Karena kalian sudah datang kemari maka jangan lagi berpikir untuk pergi"
Adipati Suwela itu pun memberi isyarat pada sepuluh orang itu untuk menyerang tiga orang di depannya.
Sepuluh orang yang tidak lain adalah anggota utama Perkumpulan Pengemis Darah Hitam segera bergerak membagi kelompok. Lima orang mengepung Argadana dan lima yang lain mengepung Ningrum. Sementara Ki Barnawi dihadapi langsung oleh Adipati Renggana.
Pertarungan pun tak terelakkan lagi di tiga sisi. Ki Barnawi terkejut setengah mati setelah mendapati kemampuan lawan ternyata telah berkembang pesat dan dapat mengimbangi dirinya. Masih dengan sifat urakannya, Ki Barnawi teOtap bertarung dengan senyum dan tawa khasnya membuat panas hati Adipati Renggana.
Argadana yang dikeroyok lima orang berpakaian hitam bertambah - tambal melayani serangan ganas musuh dengan 'jurus sembilan langkah ajaib'. Tubuhnya sebentar - sebentar sempoyongan seperti orang mabuk. Tetapi mau segencar apapun musuh menyerang tetap saja Argadana mampu menghindar dengan pola pergerakan kaki dari 'jurus sembilan langkah ajaib'.
Di sisi lain Ningrum yang juga sedang melawan keroyokan lima orang bertahan dan menyerang dengan ganas. Tuan Putri Kerajaan Sampang Daru itu tidak terima jika kerajaannya disusupi oleh orang - orang jahat seperti Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Karena itu tak tanggung - tanggung lagi jurus - jurus mematikan yang dipelajari dari kedua gurunya, Sepasang Pendekar Naga segera saja dikerahkan.
'Tendangan kobra'
Wuss. . .
Adipati Renggana bergerak gesit menggunakan jurus - jurus ularnya mencecar Ki Barnawi yang masih meladeninya dengan senyuman sambil berkelit menghindar. Sebuah tinju kilat dari Adipati Renggana hampir menggedor dada Ki Barnawi. Pendekar tua itu terkejut bukan main. Karena menghindar tidak sempat lagi, maka digerakkan lah tangan kirinya untuk menangkis serangan tinju tangan kanan Adipati Renggana.
Plak. . .
Mereka sama - sama terdorong lima langkah pertanda tenaga dalam mereka berimbang.
__ADS_1