
"Tahan dulu, pendekar muda"
Seorang pria berumur sekitar tiga puluh sembilan tahun datang dengan tergopoh - gopoh.
Argadana menoleh ke arah pria yang baru saja datang mengenakan pakaian seragam khusus seorang panglima perang Kerajaan Sampang Daru.
Pria itu bernama Guntara, salah seorang panglima perang Sampang Daru. Dia mendekati Argadana dengan terburu - buru khawatir pemuda itu meneruskan cekikannya pada leher perwira Cindera. Para prajurit tombak membuka barisan kepungan Argadana. Perwira itu terbatuk - batuk beberapa saat setelah Argadana melepaskan cekikan di lehernya.
Semua prajurit yang mengepung Argadana seketika berlutut.
"Hormat kami, Panglima Guntara"
Panglima Guntara tidak menghiraukan para prajurit, melainkan segera mendatangi Argadana.
"Tolong maafkan ketidak sopanan prajurit - prajurit kami, pendekar muda. Ada masalah apa masih bisa dibicarakan baik - baik" kata Panglima Perang Guntara.
"Maafkan saya sebelumnya, tuan. Saya datang kemari untuk menemui adik seperguruan saya juga untuk memenuhi undangan seorang saudara angkat di sini. Tetapi prajurit tuan menyerang saya. Entah apa sebabnya" kata Argadana.
Panglima Perang Guntara lalu menoleh ke arah para prajurit dengan mata mencorong dipenuhi kemarahan besar membuat para prajurit dan dua perwira tadi meringkuk ketakutan.
"Katakan, siapa yang membuat ulah ini?" kata Panglima Guntara dingin. Tampak jelas di matanya kemarahan besar, hawa pembunuh merembes keluar dari tubuhnya membuat mengkeret nyali orang - orang yang berada di sana.
"I..ini ..." para prajurit tergagap.
Dari arah belakang seorang wanita tiba - tiba mendatangi Panglima Perang Guntara. Wanita itu berpakaian serba hijau. Tubuhnya padat berisi berkulit putih. Wajahnya tampak sangat cantik dengan tonjolan di bagian dada yang tampak sekal.
"Pangeran Damar Sena yang memulainya, tuan panglima. Tadi dia sengaja menghina kisanak ini yang baru saja datang. Tapi karena tidak digubris dia lalu marah dan pengawalnya menyerang ee.... " Gadis itu menoleh ke arah Argadana dengan wajah tampak bingung dan kemerahan.
"Argadana"
Argadana seolah mengerti kebingungan gadis itu segera menyebutkan namanya.
"Ehh ... Iya, tuan. Karena hinaan Pangeran Damar Sena tidak digubris oleh saudara Argadana, dia lalu memerintah pengawal pribadinya untuk menyerang. Tapi entah kenapa semuanya seolah seperti sudah diatur" wanita cantik berbaju hijau itu berhenti sebentar.
"Tepat ketika pengawal Pangeran Damar Sena ditumbangkan saudara Argadana, prajurit itu tiba - tiba datang entah dari mana dan langsung memberi perintah mengepung. Akhirnya seperti yang tuan lihat"
__ADS_1
Mata Panglima Guntara melotot lebar menatap prajurit yang ditunjuk gadis itu tadi, sedangkan yang ditatap tubuhnya gemetar ketakutan.
Plak. . . Plak. . . Plak. . .
Tiga kali suara tamparan beruntun melabrak prajurit itu dan dua Perwira Candi dan Perwira Cindera hingga terlempar tak sadarkan diri.
"Bawa mereka ..." perintah Panglima Guntara keras.
"Tolong maafkan keteledoran kami yang telah merugikan tuan. Kami akan menindak tegas prajurit kami yang melakukan pelanggaran" kata Panglima Guntara.
"Oh ya, tuan. Tadi tuan bilang ingin menemui adik seperguruan tuan. Kalau saya boleh tahu, siapa namanya adik seperguruan tuan itu?"
"Ningrum, namanya Ningrum. Apa ada orang bernama Ningrum di sini?" kata Argadana cepat membuat terkejut Panglima Guntara.
"Wuss . . . Ada apa ini?"
Panglima Guntara dan semua prajurit yang ada berlutut menghadap orang yang baru saja tiba. Sementara bangsawan dari daerah lain membungkukkan badan mereka.
"Pangeran ..." kata mereka bersamaan.
Alis Argadana terjingkat keheranan mengetahui yang dipanggil pangeran oleh orang - orang di sana itu adalah Handra Wiraguna, saudara angkatnya.
"Kakang, kenapa kau berurusan dengan mereka?" tanya Handra Wiraguna pada Argadana.
Kali ini justru para prajurit dan para bangsawan tersebut yang merasa heran. Seorang pangeran yang terkenal memiliki ilmu tinggi berbicara dengan seorang asing tak dikenal seolah berbicara pada saudaranya sendiri.
"Siapa pemuda itu sebenarnya, dia bisa sangat mengenal Pangeran Handra Wiraguna yang berilmu tinggi. Pasti bukan orang sembarangan. Kita semua bisa celaka kalau pangeran sampai mengetahui masalahnya" batin prajurit yang tadi ikut mengepung Argadana.
Semua orang terdiam menyaksikan kejadian langka itu. Yang paling merasa khawatir adalah Damar Sena, karena semua kejadian ini bermula dari dirinya. Tanpa sadar, tengkuknya terasa dingin.
"Pemuda itu saja sudah sulit dihadapi, sekarang datang lagi Pangeran Handra Wiraguna yang terkenal berilmu tinggi dan tidak segan membunuh siapapun yang berbuat salah, bisa berbahaya jika dia sampai marah" keluh Damar Sena dalam hati.
Patih Guntara kemudian bangun dan menceritakan permasalahannya pada Pangeran Handra Wiraguna. Putra bungsu Raja Kurawa itu wajahnya berubah bengis. Dia menatap tajam pada Damar Sena yang membuatnya salah tingkah sendiri.
"Heyy ... Tunggu dulu. Kau.. jadi kau ini seorang pangeran ya?" tanya Argadana.
__ADS_1
"Iya, kakang. Putra terakhir Raja Kurawa. Dan kalian semua prajurit - prajurit bodoh" suara Handra Wiraguna meninggi ketika menyebut kata prajurit bodoh.
"Dia ini adalah saudara angkatku. Dan dia datang kemari juga atas undanganku. Kalian berani menyerangnya?"
"Am... Ampuni kami, Pangeran. Kami ... Kami tidak tahu ka...kalau tuan ini adalah tamu undangan Pangeran" para prajurit semuanya tertunduk dengan rasa takut menyeruak di hati mereka masing - masing.
"Jadi kalau bukan tamuku, kalian lalu boleh bertindak sembarangan padanya? Begitu?"
"Ini...ini ... Tidak begitu, pangeran. Tolong ampuni kesalahan kami, kami siap menerima hukuman apa pun" kata para prajurit memelas.
"Hmmphhh ... Enyah dari hadapanku"
Para prajurit seketika beranjak pergi dari tempat itu.
"Maafkan sambutan mereka yang sangat buruk, kakang"
Saat itu juga pandangan semua orang bangsawan pada Argadana sedikit demi sedikit berubah. Pemuda yang tadinya dikira anak gunung karena terpengaruh oleh ucapan Damar Sena kini berbalik mengagumi Argadana. Pangeran yang sangat disegani di kerajaan itu adalah saudara angkatnya, tapi pemuda itu meski dikeroyok begitu banyak orang tetap juga tidak memberitahu jati dirinya yang ternyata merupakan undangan langsung Pangeran Handra Wiraguna.
"Hmm ... Tidak masalah. Tapi, bagaimana kau bisa jadi pangeran di sini?" kata Argadana yang masih merasa penasaran.
"Saya memang putra bungsu Raja Kurawa, kakang. Jadi tujuan kakang kemari pasti ingin mencari yunda" kata Handra menebak asal.
"Memangnya siapa yang mencari yundamu? Aku mencari adik seperguruanku, dulu sebelum berpisah dia bilang dia akan menungguku di sini"
"Ahh ... Ada tamu rupanya. Kenapa tidak diajak masuk saja, putraku?"
Semua orang yang berada di sana seketika menekuk lutut memberi hormat pada tiga orang yang baru saja datang, tak terkecuali Argadana yang dapat melihat aura seorang raja terpancar dari tubuh orang itu. Hanya Handra Wiraguna saja yang tidak ikut berlutut.
"Ayah... Ini dia saudara angkatku yang sering aku ceritakan" Handra Wiraguna lalu menjelaskan duduk permasalahan dan juga tujuan kedatangan Argadana pada Raja Kurawa yang baru saja datang bersama Ratu Malini dan juga Pangeran Danu Kusuma.
Raja Kurawa lalu memerintahkan mereka semua untuk bangun.
"Anak muda. Di kerajaanku ini hanya ada satu yang bernama Ningrum. Dia adalah putriku" kata Raja Kurawa.
"Ehh ...??? Ahh... Adik seperguruan saya memang sangat cantik jelita, yang mulia. Tapi tidak mungkin dia seorang putri sebuah kerajaan. Lagipula dulu sebelum berpisah dia hanya bilang akan menunggu saya di sini, bukan bertempat tinggal di istana ini. Mungkin memang saya yang salah alamat, yang mulia. Adik seperguruan saya mungkin tidak berada di sini. Kalau begitu saya izin pamit dulu, yang mulia dan semuanya. Tolong maafkan kesalahpahaman yang tadi" Argadana sudah berbalik badan setelah membungkukkan badan menghormat Raja Kurawa dan hendak pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi langkahnya terhenti setelah merasakan aura tekanan berkekuatan besar mendatangi tempat mereka.
__ADS_1
"Siapa yang mengizinkanmu pergi?"