Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Pertarungan Persahabatan


__ADS_3

"Hiaatt...!!!"


"Upss...!!!"


Hari itu kegiatan pelatihan murid - murid Perguruan Elang Emas adalah pertarungan secara langsung di mana dua orang murid akan bertarung di tengah - tengah murid lain yang membentuk lingkaran besar sebagai arena pertarungan.


Di tengah - tengah arena tampak dua orang murid tengah bertarung. Kedua murid itu yang satu berasal dari Pecahan Kelemahan dan yang dihadapinya adalah murid dari Pecahan Kekuatan.


Mereka menunjukkan gaya bertarung yang amat berlawanan namun sama - sama tidak dapat saling menjatuhkan. Terlihat murid yang berasal dari Pecahan Kekuatan beberapa kali harus pontang panting menghadapi serangan gencar murid dari Pecahan Kelemahan namun tidak lama kemudian keadaan pertarungan berbalik. Meskipun demikian keduanya cukup hebat meskipun pertarungannya tampak berimbang.


Murid Pecahan Kekuatan meskipun memiliki gaya serangan yang amat kuat tetap tidak bisa mengatasi murid Pecahan Kelemahan karena keunikan Ajian Dewa Linglung Pemikat Nasib.


Kedua murid itu bertarung sengit hingga dua puluh jurus. Tubuh mereka tampak banjir keringat.


"Plak...!!!"


Kedua telapak tangan beradu pada jurus ke dua puluh satu menyebabkan keduanya sama - sama terdorong sejauh enam langkah.


"Cukup...!!!" Argadana berteriak mengangkat tangan untuk menghentikan pertarungan kedua murid tersebut.


"Dari pertarungan tadi apa kalian sudah paham keterkaitan antara masing - masing pecahan?" tanya Argadana.


"Paham, ketua...!!!" jawab para murid bersamaan.


"Haa... Dengarkan...!!! Masing - masing pecahan Anak Naga merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan. Pecahan Kelemahan menggunakan sifat rendah hati untuk menyembunyikan kekuatan yang besar. Pecahan Kekuatan memiliki kekuatan lebih besar untuk menekan. Pecahan Kesombongan memanfaatkan sifat angkuhnya, menganggap musuh lemah untuk menumbuhkan keberanian dalam sebuah pertarungan yang merupakan kekuatan terbesar bagi Pecahan Kesombongan. Pecahan Kelicikan untuk melengkapi semua celah yang ada pada tiap pecahan. Tapi di atas semua itu ada para Penjaga Anak Naga yang akan mengatasi jika terjadi sesuatu yang membahayakan kesatuan kita semua" Argadana menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


Setelah pertarungan tersebut Argadana melanjutkan dengan mengajari jurus - jurus tingkat tinggi yang diikuti dengan antusias oleh para murid.


"Pangeran Kekaisaran Fujihira Fukiaezu telah tiba...!!!" Teriakan yang tiba - tiba itu membuat gempar seluruh perguruan termasuk Nakamura Hayate dan kelima murid lainnya. Mereka segera berkumpul membentuk barisan di depan gerbang perguruan untuk menyambut kedatangan pangeran Kekaisaran Jepang tersebut.


"Selamat datang di perguruan kecil kami, Pangeran Fujihira Fukiaezu. Sebuah kehormatan bagi perguruan kami pangeran sudi menyempatkan. Tolong dimaafkan jika penyambutan kami terasa kurang berkenan" Argadana membungkukkan tubuh memberi hormat pada pangeran tertua kekaisaran yang telah turun dari tandunya. Semua murid mengikuti tindakan Argadana.


"Ahh.... Tidak, tidak. Aku yang harus meminta maaf karena datang secara tiba - tiba tanpa pemberitahuan terlebih dahulu" Pangeran Fujihira Fukiaezu membalas dengan membungkukkan badan tetapi dicegah oleh Argadana.


Pada hari itu semua jenis kegiatan dihentikan dan dilanjutkan dengan acara perjamuan untuk Pangeran Fujihira Fukiaezu yang diatur di aula pelatihan bela diri yang merupakan tempat paling luas di Perguruan Elang Emas.


"Ahh.... Saudara pendekar. Saya sebenarnya datang kemari bermaksud ingin bertemu dan berkenalan dengan saudara Pendekar Pedang Darah" kata Pangeran Fujihira Fukiaezu ketika ditanya Argadana perihal kedatangannya yang terkesan mendadak karena tidak memberi kabar terlebih dahulu.


"Karena saya dengar saudara Argadana memiliki ilmu tinggi. Jadi... Saya bermaksud ingin meminta petunjuk dari pendekar" sambung Pangeran Fujihira berterus terang melihat Argadana sedikit mengerutkan dahinya.


"Pangeran jangan terlalu merendah. Saya merasa tidak enak hati. Lagi pula sebenarnya kemampuan saya biasa saja, hanya orang - orang yang melebih - lebihkan" jawab Argadana merendah.


"Saudara Argadana ternyata sangat rendah hati. Tapi ini hanya untuk berkenalan dengan ilmu - ilmu daratan tenggara. Sudilah kiranya saudara Argadana mengabulkan keinginan saya ini" bujuk Pangeran Fujihira.


Akhirnya karena didesak terus menerus Argadana mengabulkan juga permintaan Pangeran Fujihira untuk melakukan pertarungan persahabatan.


Keesokan harinya semua murid berkumpul di lapangan luar aula pelatihan Perguruan Elang Emas. Terlihat para pengawal Pangeran Fujihira tampak sangat antusias memperhatikan adu jurus yang sebentar lagi akan dilakukan oleh Argadana dan Pangeran Fujihira Fukiaezu.


"Silakan mulai duluan, pangeran!!!" kata Argadana.


"Baik... Bersiaplah, saudara Argadana!!!Aku tidak akan menahan diri"

__ADS_1


Usai Pangeran Fujihira berseru demikian keduanya lalu membentuk kuda - kuda kokoh siap bertarung.


Pangeran Fujihira berkelebat ke depan dengan tangan terkembang mencengkram ke arah leher Argadana. Gerakannya cepat bagai kilat sulit diikuti mata biasa.


Argadana masih tampak biasa saja melihat jurus yang digelar Pangeran Fujihira namun di dalam hatinya dia memuji kecepatan pangeran tertua asal istana kekaisaran itu.


Sejengkal lagi cakar Pangeran Fujihira menggapai tenggorokannya tubuh Argadana yang tampak limbung bagai orang mabuk minuman keras menjatuhkan badannya ke belakang dalam keadaan telentang. Dari bawah Argadana mengirimkan serangan balik berupa tendangan tumit kaki kanan mengarah ************ lawan.


Pangeran Fujihira yang memiliki mata awas sedikit terkejut namun segera membatalkan serangan dan berkelit ke samping hingga tendangan Argadana hanya mengenai angin kosong.


Mengetahui serangan baliknya gagal tangan Argadana menggebrak tanah dan tubuhnya mencelat ke atas setinggi tiga batang tombak sebelum kakinya mendarat di tanah tanpa menimbulkan suara.


"Reaksinya cepat. Dan tenaga dalamnya sangat cukup besar" puji Argadana dalam hati.


"Dia tampak seperti orang mabuk berat. Tapi gerakannya tadi menunjukkan kalau dia sepenuhnya sadar. Ilmunya cukup hebat untuk mengecoh lawan" membatin Pangeran Fujihira.


Argadana dan Pangeran Fujihira memperbaiki kuda - kuda mereka mempersiapkan jurus baru setelah dapat memperkirakan seberapa kuat tenaga dalam dan kecepatan lawan setelah beradu jurus barusan. Argadana tidak mau memandang remeh lawan segera berseru.


"Bersiaplah, Pangeran!!! Sekarang Giliranku"


Murid Sepasang Pendekar Naga menggelar jurus umbak segara. Pada awal - awal gerakan serangan balik dan hindaran yang dilakukan Pangeran Fujihara biasa - biasa saja tapi menjelang pertengahan jurus penglihatannya tampak berkunang - kunang.


"Gawat...!!! Kalau begini terus aku bisa kalah. Harus mencari cara untuk meloloskan diri dari jurus ini. Kecepatannya sangat tidak masuk akal" kata Pangeran Fujihira dalam hati. Pada saat itu terlihat sedikit celah di bagian perut Pangeran Fujihira.


Tidak mau menyia - nyiakan peluang terbaik Argadana serlgera kirimkan tendangan ke arah ulu hati tapi itu justru ternyata gerakan Argadana itu sudah ditunggu - tunggu sejak tadi.

__ADS_1


"Dukk....!!!"


Pangeran Fujihira mengangkat kaki kanan tertekuk menggunakan lututnya untuk menahan tinjy Argadana dan menggunakan tenaga lontaran pukulan bertenaga dalam tinggi itu untuk mendorong tubuhnya ke belakang hingga doa terbebas dari pengaruh jurus umbak segara.


__ADS_2