Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Iblis Api


__ADS_3

"Guntur itu adalah pertanda kita untuk bergerak. Kita bagi menjadi dua pasukan dan mulai melingkari gunung ini...!!!"


Pasukan yang bertugas untuk mencegah ninja melarikan diri sudah mulai bergerak. Brajamusti bersama Soma Ardipura membawa separuh pasukan bergerak ke arah kiri dan sisanya bergerak ke arah kanan bersama Pancaka Sudra, Yudha Gerhana, dan Aksara Buana.


***


"Jaga jarak kalian dengan saudara yang lain untuk menghindari serangan jarak jauh para ninja yang memantul agar tidak mengenai saudara sendiri" Argadana memberi sedikit arahan untuk murid - murid perguruan dalam gaya bertarung yang akan mereka gunakan nantinya melawan para ninja. Sebelum penyerangan dimulai, Argadana sempat berpesan pada Ningrum dan Yalina yang telah kembali sesudah selesai memporak porandakan regu peluncur batu dari atas gunung dan bergabung lagi bersama Argadana dan yang lainnya.


"Nila Sari akan mengacaukan barisan mereka dari arah kiri dan Surasena mengambil sisi kanan musuh. Rikimaru dan adik - adik seperguruannya akan ikut Ningrum dan Yalina. Aku akan menerobos ke tengah dan menghadapi pemimpin mereka. Setelah berhasil menumbangkan para penjaga di gunung kecil itu baru kita bergerak bersama menuju puncak. Aku merasakan ada yang menarik di atas sana"


Sesuai perintah Argadana Surasena dan Nila Sari memimpin beberapa puluh murid bergerak ke arah yang telah diperintahkan Argadana untuk diisi.


Sisa nya tinggal sekitar lima puluh orang murid mengikuti Ningrum, Yalina dan kelima murid Nakamura Hayate.


"Seraaang.....!!!"


Setelah Argadana berteriak para pasukan - pasukan yang telah diaturnya segera membentuk barisan longgar sambil terus bergerak maju.


"Wuss.... Wuss...."


"Trang...!!! Trang...!!!"


Puluhan senjata rahasia meluruk deras ke arah para murid yang sedang bergerak maju. Tetapi dengan sigap mereka menggerakkan senjata masing - masing untuk menghalaunya.


"Trang...!!! Crabb...!!!"


"Aaakkhhh...!!!"


Beberapa orang murid yang terlambat bereaksi ketika shuriken dilemparkan menjadi korban kekejaman senjata rahasia beracun tersebut. Sekujur tubuh mereka membiru setelah shuriken menancap di tubuh mereka.


Kematian beberapa orang tidak lantas mengendurkan semangat juang pasukan, melainkan justru mereka semakin gigih untuk melakukan perlawanan.


Jurus tanpa bentuk...!!! Argadana menghilang dan...


"Aakkkkhhhh....!!!" Lima orang ninja berteriak menyayat mengiringi kematian mereka.

__ADS_1


"Hiiihh.... Apa - apaan ini? Hati - hati... Orang - orang ini bisa berubah jadi angin dan menyerang... Aaaakkkhh....!!!"


Serangan Argadana tidak berhenti di situ saja. Begitu berhasil membunuh sepuluh orang di barisan terdepan dia merangsek maju semantara para ninja di barisan terdepan mulai bergerak aneh.


Para ninja itu seakan dengan sengaja memancing Argadana masuk lebih jauh. Perlahan - lahan barisan mulai menutup membuat Argadana terkepung di tengah - tengah para ninja yang membentuk sebuah lingkaran kecil.


Argadana tersenyum melihat pancingannya berhasil.


"Kalian membentuk barisan secara diam - diam seolah - olah aku masuk dalam perangkap kalian. Kalian tidak menyadari bahwa kalianlah yang sebenarnya masuk dalam rencanaku"


"Huhh...!!! Gaijin bodoh. Nyawa sudah di depan hidung masih saja bisa bicara sesumbar. Rantai dia...!!!" Perintah Kawono Ruchi.


Selesai perintah diucapkan empat buah rantai besi dari empat arah kiri, kanan, depan dan belakang meluncur cepat dan melilit tubuh Argadana yang masih saja terlihat menyunggingkan senyum.


Tapi kali ini berbeda. Jika pertama tadi Argadana tersenyum manis, kali ini dia tampak tersenyum sinis. Ksatria Lembah Neraka menutup mata sejenak dan baru membukanya setelah Cambuk Raja Naga tergenggam di tangan kanan.


Para ninja terkejut bukan main, tidak terkecuali Kawono Ruchi. Mereka melihat dengan jelas tubuh Argadana yang tengah terlilit rantai tidak ada yang tahu entah bagaimana tiba - tiba tangan kanan pemuda target mangsa mereka itu telah menggenggam sebatang cambuk yang memendarkan cahaya berwarna kuning keemasan.


"Ilmu iblis...!!!" seru Kawono Ruchi begitu melihat api perlahan - lahan berkobar dari ujung dan menjalar hingga ke pangkal gagangnya yang digenggam Argadana.


"Hmm... Rantai ini tidak cukup untuk menangkapku" kata Argadana.


Api yang berkobar di Cambuk Raja Naga menjalar ke tubuh Argadana. Tidak berapa lama kemudian seluruh tubuh Argadana telah telah terbungkus api.


"Iblis api...!!!"


"Iblis api...!!!"


Ninja - ninja yang mengepung melompat mundur menjauhi Argadana begitu merasakan hawa panas yang amat menyengat dari pengerahan ilmu tubuh raja api.


"Celaka, ketua regu... Kita bertemu iblis api? Kita tidak akan sanggup melawannya, orang itu ternyata adalah iblis api!!!" seru beberapa orang bawahan Kawono Ruchi panik.


"Diam!!! Kalian semua pengecut. Pemuda itu hanya menggunakan ilmu sihir, bukan sesuatu yang nyata. Cincang dia!!!" teriak Kawono Ruchi marah.


"Ahh... Benar. Kenapa tidak terpikir olehku dari tadi"

__ADS_1


"Ya... Itu pasti hanya ilmu sihir...!!!"


Begitu kepanikan mereka mereda tidak lebih dari dua puluh orang bergerak gesit mendekati tubuh Argadana dan mengacungkan katana hendak membelah tubuh sasaran mereka.


Tetapi lagi - lagi Argadana memperlihatkan sesuatu yang amat mengejutkan. Rantai yang melilit tubuhnya meleleh karena terbakar api yang keluar dari tubuh Argadana.


Kawono Ruchi yang tadinya hendak memenggal leher Argadana seketika tercekat. Dia tidak bisa bereaksi dengan cepat setelah melihat tatapan Argadana yang berkilat dengan ***** membunuh yang amat pekat. Akibatnya...


"Ledakan Api Teratai Merah...!!!"


"Duarr....!!!"


"Aakkhh....!!!"


Argadana menjejakkan kaki di tanah. Begitu tubuhnya melenting setinggi lima batang tombak ledakan keras terjadi di tanah bekas pijakannya sebelumnya diiringi suara teriakan kematian Kawono Ruchi dan para bawahannya yang mengepung Argadana dalam barisan perangkap mereka.


Tanah terbongkar membentuk cekungan yang cukup dalam dan lebar. Di pinggiran cekungan tersebut nampak puing - puing api yang masih menyala membakar beberapa batang pohon yang tumbang pada saat ledakan tadi.


"Beruntung aku masih bisa mengontrol tenaga dalam. Jika tidak, pasti akan ada danau baru lagi" gumam Argadana sambil berbalik menatap ke arah anggotanya yang lain.


"Kelihatannya mereka tidak perlu bantuanku"


"Perguruan kecil seperti kalian berani macam - macam dengan klan ninja kami? Benar - benar cari mati"


Sebuah bentakan keras berkumandang seperti terdengar dari segala arah.


Beberapa kejap kemudian terlihat sekitar dua pulu orang berpakaian hitam - hitam mendarat di depan Argadana yang memang sejak tadi telah memasang wajah waspada.


Nyala api di cambuk pusakanya semakin terang seiring dengan dialirkannya tenaga dalam lebih banyak ke badan cambuk itu.


Di tempat lain tepatnya di sisi kiri dan kanan Surasena dan Nila Sari tengah menggila. Karena tidak menemukan lawan yang sebanding dengannya Sepasang Pendekar Suci itu dapat dengan mudahnya membunuh siapapun yang berada di hadapannya. Praktis... Jumlah ninja berkurang jauh berkat keduanya.


Begitu mengetahui bahwa lawan hanya menyerang satu regu saja yang merupakan daerah paling rawan, seluruh regu yang tersebar berkumpul di sudut utara.


Sejak gelombang serangan pertama dari Yalina menumbangkan hampir sepersepuluh dari jumlah keseluruhan pasukan gabungan Klan Koga dan Manjidani. Ditambah lagi dengan badai petir Ningrum sudah melenyapkan total seperempat pasukan. Hal ini membuat pemimpin tiap regu menjadi frustasi hingga sampai saat ini pemimpin regu yang masih sanggup bertahan hanya tinggal lima orang saja.

__ADS_1


"Bahkan semua pasukan dari berbagai regu bersatu di titik utara, kita masih saja kerepotan. Gaijin ini kekuatannya seperti iblis" kata salah satu pemimpin regu bernama Yuamasa Kazero.


__ADS_2