
Pagi hari di kediaman Mahesa Lodra suasananya cukup ramai. Dari gapura sampai halaman rumah tampak bersih dengan bunga - bungah menghiasinya. Pagi itu tampak berseri - seri seperti tengah mengadakan pesta besar. Para pembantu wanita memasak sangat banyak makanan mewah. Sisanya bekerja melayani setiap tamu yang datang.
Ya ... Hari itu adalah hari berkumpulnya seluruh anggota Perguruan Anak Naga yang biasa disebut orang - orang persilatan sebagai Perguruan Siluman.
Berkumpulnya semua empat puluh delapan anggota lain di kediaman Mahesa Lodra adalah berkenaan dengan informasi yang mereka terima tentang keberadaan Ketua Besar mereka, sang pewaris kepemimpinan Perguruan Anak Naga.
Karena itu semua anggota meninggalkan segala kesibukannya untuk menyambut Ketua Besar. Mereka penasaran bagaimana rupanya orang yang akan memimpin mereka semua.
Memang mereka dapat menebak bahwa ketua besar mereka adalah seorang anak muda, hal itu berdasarkan informasi yang diberikan oleh ketua sementara berdasarkan wangsit yang dia terima di dalam mimpi.
Di dalam mimpi itu dia berkata bahwa pendiri perguruan, Dyah Ayu Pitaloka mengatakan padanya bahwa ketua besar yang kelak akan memimpin Perguruan Anak Naga adalah seorang pemuda berambut emas. Di tengah - tengah dahi pemuda itu ada gambar rajah pedang berwarna merah yang merupakan pelambang seorang pewaris Pedang Siluman Darah. Dan dia akan memperkenalkan diri dengan mengeluarkan hawa kekuatan dari Pedang Siluman Darah yang sangat menekan.
"Saudara - saudara dari empat cabang dan para penjaga empat arah mata angin. Saya yakin tuan - tuan semua datang ke tempat tinggal kami ini karena telah mendapatkan informasi tentang keberadaan Ketua besar kita. Biar saya jelaskan dulu, sebenarnya ini semua adalah perintah dari ketua besar sendiri yang sebenarnya ingin berkenalan dan bertemu secara langsung dengan kita semua" Mahesa Lodra memberikan sambutan singkat.
"Baiklah, kita tidak usah berbasa - basi lagi. Ketua besar, silakan masuk"
Dari arah pintu ruang pertemuan muncullah Argadana dengan pakaian kebesaran Raja Siluman Darah memperlihatkan wibawa seorang pemimpin. Wajahnya yang tampan, rambut emas serta otot - otot yang melingkar di lengannya menambah kesan gagahnya pemuda itu.
Semua anggota yang hadir merasa terpana dengan aura Pedang Siluman Darah yang memancar keluar dari tubuh Argadana membuat mereka semua seketika berlutut menghadap Argadana yang tampak sangat gagah.
"Terimalah sembah hormat kami, ketua"
Kata lima puluh orang itu serentak termasuk Mahesa Lodra dan Wirda.
"Berbahagia dan damailah kalian semua atas nama Anak Naga. Semoga kita berjaya sepanjang masa. Sekarang berdirilah" seru Argadana tegas.
"Baik, ketua"
Acara pertemuan hari itu diisi dengan perkenalan Argadana dan semua anggota dari berbagai cabang dan para penjaga. Juga beberapa informasi tentang keadaan dunia persilatan belakangan ini, terutama tentang aliran hitam yang mulai menampakkan gerak gerik mencurigakan.
***
__ADS_1
Pada saat yang sama di tempat yang sangat jauh dari tempat pertemuan para anggota Perguruan Anak Naga.
Dua orang wanita berbeda usia sedang duduk berhadap - hadapan. Wanita yang pertama adalah wanita tua renta berbaju serba kuning yang tubuhnya kurus hingga terlihat seperti tulang terbungkus kulit tanpa daging. Kulit - kulitnya telah mengeriput semuanya dan keseluruhan rambutnya telah beruban. Dari banyaknya kerutan di wajahnya wanita tua itu sepertinya telah berusia sekitar lima puluhan tahun. Dia bernama Sriti Kuning. Di dunia persilatan dia lebih dikenal dengan sebutan Pemanah Agung karena senjata pusakanya yang berupa sebuah busur panah. Bentuk permukaannya menyerupai sisik berwarna hijau. Keunikan senjata pusaka itu adalah tidak memerlukan anak panah untuk dapat digunakan. Cukup hanya dengan menarik tali busurnya maka anak panah akan terbentuk sendiri sesuai keinginan penggunanya. Bagian yang paling mengerikan adalah anak panah yang dihasilkan dari busur tersebut semuanya mengandung racun ganas yang sangat mematikan. Juga anak panah tersebut dapat dikendalikan dengan fikiran oleh penggunanya dari jarak jauh. Jika pengguna busur memiliki tenaga dalam cukup tinggi maka anak panah yang telah dilesatkan dapat menggandakan diri di udara hingga menjadi ratusan buah anak panah.
Yaa ... Wajar saja. Sebabnya adalah karena busur tersebut merupakan salah satu dari Sembilan Pusaka Naga, senjata pusaka yang diidam - idamkan oleh para pendekar dari berbagai daratan. Busur itu bernama Busur Naga Racun Seribu.
Di depan Sriti Kuning atau Pemanah Agung duduk seorang gadis yang sangat cantik dengan lesung Pipit terlihat di kedua belah pipi ranumnya. Wajah si gadis berbentuk bulat telur, kulitnya putih dan halus. Rambut panjang yang digelung sebahu membuat wajahnya tampak berseri - seri.
Gadis itu adalah murid Sriti Kuning bernama Yalina, seorang anak yatim piatu yang ditemukannya sedang menangis di makam kedua orang tuanya dulu ketika masih berumur lima tahun. Anak itu lalu dibawanya ke kediamannya. Karena melihat Yalina sepertinya memiliki bakat yang cukup tinggi untuk belajar ilmu silat, Kuning akhirnya mengangkatnya menjadi murid.
"Muridku, Yalina. Yang akan kau lakukan hari ini adalah merupakan bagian yang paling berat dari pelatihan Ilmu Naga Racun. Semua yang aku miliki telah kulimpahkan padamu. Kau sekarang hanya tinggal melakukan meditasi terakhir untuk menyatu dengan Busur Naga Racun. Jadi mulai hari ini pusaka Busur Naga Racun aku turunkan kepadamu"
Sriti Kuning mengangkat Busur Naga Racun dengan kedua tangan sejajar dengan kepala Yalina.
Yalina menunduk menangkupkan kedua tangan di depan dada lalu menerima busur tersebut dengan hikmad.
"Murid telah menerima berkah yang besar dari guru. Murid berjanji tidak akan mengecewakan harapan guru"
"Saya siap, guru"
"Bagus, muridku. Kau memang bersifat tegas sejak dulu. Kalau begitu bersiaplah ..."
***
"Jadi apa kita akan turun tangan mengurus Kerajaan Sakra, ketua?"
Brajamusti menanyakan pendapat Argadana tentang hal yang harus dilakukan terhadap Kerajaan Sakra.
Argadana memang menanyakan gerak gerik aliran hitam dan para anggotanya tidak sengaja menyerempet tentang Kerajaan Sakra yang berpotensi membuat perang antar aliran kembali terjadi karena bersekongkol dengan aliran hitam untuk menyerang Kerajaan Datu Gumi.
Argadana merasa sangat marah ketika Brajamusti menjelaskan bahwa ayahnya, Lalu Askar Wirajaya menjadi incaran orang - orang dunia persilatan aliran hitam yang bekerjasama dengan Kerajaan Sakra.
__ADS_1
Hal itu karena taktik dan kecerdasan panglima besar Kerajaan Datu Gumi itu membuat kewalahan Kerajaan Sakra. Raja Sakra yang sangat berambisi meminta bantuan aliran hitam untuk menyingkirkan batu sandungannya itu. Tetapi sejauh ini usaha mereka belum membuahkan hasil karena pengawal tangguh yang disewa oleh Panglima Askar senantiasa menyertai di sisinya.
"Itu masih belum perlu, kek. Kita tidak bisa mencoreng nama baik perguruan dengan ikut campur dalam masalah politik kerajaan. Fokus yang harus kita tangani saat ini adalah orang yang bergabung dengan Kerajaan Sakra"
Argadana menyapukan pandangannya pada seluruh anggota yang terlihat sangat antusias mendengarkan argumennya.
"Kita berikan peringatan pada mereka terlebih dulu. Dengan demikian jika kerajaan itu tidak mendapat bantuan kuat dari para pendekar aliran sesat maka perlawanan mereka akan berkurang"
Seluruh anggota Anak Naga manggut - manggut mendengar rencana yang disusun Argadana.
"Hanya saja, saya ingin minta pertolongan yang egois pada seluruh anggota Anak Naga" kata Argadana sebelum menundukkan badan ke arah semua hadirin yang hadir membuat mereka terkejut.
Mereka berusaha menghentikan Argadana, tetapi pemuda itu tetap bersikeras menundukkan badannya.
"Ketua tidak perlu bersikap seperti ini. Kami tidak pantas menerima hormat ketua, justru kami lah yang harus menghormati seluruh perintah ketua"
"Benar, ketua" Brajamusti mengangkat tubuh Argadana untuk berdiri dengan tegak.
"Ketua katakanlah apa yang ketua ingin minta dari kami. Kami akan senantiasa menurut selagi masih dalam lingkup kemampuan kami dan tidak menentang kebaikan, sesuai dengan sumpah setia kami sebagai anggota Perguruan Anak Naga"
Argadana akhirnya kembali duduk dengan tegak setelah mendengar kata - kata Brajamusti.
"Baiklah. Sebenarnya Panglima Besar Askar itu adalah ayah kandung saya, kakek. Jadi saya ingin agar ada orang kita yang membantu menjaga keselamatannya" kata Argadana pelan.
Semua orang terkejut mendengar penjelasan Argadana. Sebab setahu mereka Panglima Besar Kerajaan Datu Gumi itu tidak pernah menikah, jadi bagaimana tahu - tahu dia bisa mempunyai seorang anak. Setidaknya begitulah pemikiran semua anggota yang mendengar penjelasan Argadana. Mereka penasaran tetapi untuk menanyakan lebih jauh mereka tidak punya keberanian, karena segan terhadap Argadana.
"Ahh. . . Maaf, ketua. Kalau soal itu salah seorang murid dari anggota kami memang ada yang bekerja mengawal Panglima Askar. Namanya adalah Widura, dunia persilatan menjuluki dia Penyair Maut"
Argadana sangat senang mendengar ada salah seorang dari anggota Pecahan Kelicikan yang bekerja sebagai salah seorang yang mengawal ayahnya.
Pada hari itu pertemuan mereka diakhiri dengan kesepakatan seluruh anggota Anak Naga bahwa empat pecahan akan mengirimkan masing - masing satu orang anggota utama mereka menggantikan tempat Widura mengawal Panglima Askar dan lima orang murid - murid dari tiap pecahan yang akan dipimpin Widura untuk memberikan peringatan pada para pendekar aliran hitam.
__ADS_1
Sebenarnya peringatan yang dimaksud itu adalah berupa pembantaian terhadap sebagian orang - orang aliran hitam yang mengambil misi untuk melenyapkan Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya. Tujuannya adalah selain untuk mengurangi bahaya yang akan dihadapi Panglima Askar, juga untuk membuat aliran hitam berpikir dua kali untuk melanjutkan misi mereka.