Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Jurus Pedang Pemusnah


__ADS_3

Sakamoto Yajima mengepalkan tangan karena gemas melihat pengawal - pengawalnya gagal menangkap dua wanita yang diinginkannya dan malah Gozero terbunuh duluan hanya dalam satu serangan. Dua Bidadari Perenggut Sukma memicingkan mata mereka melihat gerakan cepat Argadana tadi.


"Tuan muda harus waspada terhadap pemuda itu. Dia kelihatannya memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Kecepatannya tidak bisa diikuti mata biasa. Bahkan mataku sempat berkunang - kunang tadi sebelum mengerahkan tenaga dalam ke arah mata. Tapi itu saja tidak bisa membantuku melihat gerakannya" kata Takeda Kiroro hati - hati.


"Ya.. Dan kedua wanita itu tampak biasa - biasa saja melihat tubuh Gozero terpotong begitu rupa. Seolah - olah mereka sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Bisa jadi kedua wanita itu juga memiliki kepandaian yang cukup bisa diandalkan" tambah Maruyama Akiko.


"Apa maksud kalian berkata begitu? Apa kalian takut melawan mereka? Bukankah mereka itu hanya sekelompok orang asing? Lihatlah cara berpakaian dan warna kulit mereka...!!!" Sakamoto Yajima mulai marah.


"Kita masih belum tahu latar belakang mereka, tuan muda. Jika kita bertindak gegabah, aku khawatir akan ada dukungan kuat di belakangnya" Maruyama Akiko bergumam pelan seolah berbicara pada dirinya sendiri.


"Huhh... Memangnya kenapa dengan latar belakangnya? Apa aku harus takut dengan hal semacam itu? Klanku adalah klan kedua yang terk...!!!"


Kalimat Sakamoto Yajima tertahan di tenggorokannya. Baru dia teringat kalau klan Nakamura membentuk perguruan baru yang mulai terkenal belakangan ini karena dibantu oleh orang asing berkepandaian tinggi.


"Aku dengar yang melenyapkan seluruh klan Tokugawa adalah seorang asing yang bergelar Kusir Setan. Jangan - jangan...!!!" kata Sakamoto Yajima bergumam dengan wajah pucat.


"Itu yang sejak tadi aku fikirkan" menjawab Maruyama Akiko pelan sambil menatap Jendral Thalaba yang sedang mempermainkan delapan orang pengawal setelah merampas katana milik pengawal yang paling muda dan mematahkan tangannya.


Kening Dua Bidadari Perenggut Sukma berkerut melihat gaya berpedang Jendral Thalaba.


"Paman jangan terlalu lama bermain - mainnya. Waktu kita tidak banyak. Aku akan menunggu di dalam" teriak Argadana mengingatkan sebelum memasuki pintu penginapan dengan diiringi dua pelayang cantik tadi.


"Sialan... Apa - apaan gaya bertarung orang ini? Dia memegang katana hanya dengan satu tangan. Dia meremehkan kita" umpat pengawal yang bernama Hanzo.


Delapan pengawal Sakamoto Yajima merasa dihina melihat gaya berpedang Jendral Thalaba memegang katana hanya dengan satu tangan. Mereka lalu bergerak melebar membuat lingkaran kecil dan mengurung Jendral Thalaba.


Yang dikurung bersikap biasa - biasa saja memutar - mutar badan kesana kemari memperhatikan lingkaran yang mengepungnya dari segala sisi.


"Hiattt...!!!"


Delapan orang tersebut melakukan tebasan mendatar secara bersama - sama mengincar bagian pinggang Jendral Thalaba.


"Hmm... Kalian mau memotong tubuhku menjadi dua ya? Tidak semudah itu"


Jendral Thalaba alias si Kusir Setan melompat setinggi lima batang tombak sehingga tebasan tersebut mengenai sasaran kosong. Sementara itu Jendral Thalaba dengan tubuh masih berada di udara menukik turun dengan posisi kepala di bawah melancarkan pukulan jarak jauh.

__ADS_1


Serangkum angin berkiblat menebarkan hawa dingin membongkar tanah di tengah - tengah kepungan. Praktis, tanah tersebut mengenai mata delapan orang itu yang dengan segera menggosok - gosok mata mereka dengan panik.


Jurus Pedang Pemusnah..!!!


Tubuh Kusir Setan menghilang di udara bagai tanpa jejak sementara delapan orang yang menggosok - gosok mata mereka terdiam bagai patung.


"Kalian sudah kutebas...!!!"


Bersamaan dengan suara itu sosok tubuh Jendral Thalaba muncul di depan pintu kedai. Tidak lama kemudian tubuh delapan orang itu ambruk ke tanah dalam keadaan terpotong - potong mengerikan.


Banyak yang melihat pertarungan mereka lari terbirit - birit setelah menyaksikan kekejaman Jendral Thalaba.


"Hmm... Sudah kuduga katana ini tidak mampu menahan tekanan dari penggunaan jurus tadi. Hmph... Senjata - senjata di sini kualitasnya sangat rendah. Jika tuan muda membolehkan aku membawa tombak emasku, sudah kuhancurkan batok kepala mereka sejak tadi"


Jendral Thalaba mendengus melihat katana rampasannya kini hanya tinggal gagangnya saja yang tersisa.


Pengawal yang berjaga di depan kedai bergidik ngeri melihat banjir darah akibat perbuatan ganas Jendral Thalaba. Buku tengkuk mereka meremang membayangkan jika yang menghadapi kusir kuda itu adalah mereka sendiri. Lutut mereka gemetar bukan main.


Sementara itu di bagian lantai bawah penginapan yang sengaja disiapkan tempat makan untuk para pengunjung Sakamoto Yajima mengangkat gelas kopi dengan tangan bergetar keras sehingga gelas tersebut hampir tumpah jika tidak menggunakan kedua tangan untuk memegangnya.


"Tapi bukankah menurut kabar yang beredar mereka selalu berenam? Di mana dua orang pengawalnya yang berilmu tinggi itu?" kata Sakamoto Yajima dengan nada penasaran.


"Benar juga... Ada beberapa orang yang masih hidup namun mengalami kelumpuhan setelah melawan mereka. Ketika kami tanya mereka bilang tuan muda itu tidak pernah jauh dari Kusir dan dua pengawalnya. Dan juga gadis - gadisnya itu selalu menempel padanya"


"Apa mungkin dia bukan orang kuat itu?"


Obrolan Takeda Kiroro dan Maruyama Akiko terputus setelah Sakamoto Yajima bangkit dari duduknya.


"Tuan muda mau kemana?" tanya Takeda Kiroro.


"Kalian tunggulah di sini. Sebentar lagi mungkin tetua Chouji dan tetua Kanryu akan segera tiba. Aku akan menemui mereka dulu" kata Sakamoto Yajima mengepalkan tangan.


Takeda Kiroro ingin menghentikannya namun dicegah oleh Maruyama Akiko.


"Dia itu anak yang keras kepala. Kalau dia sudah tidak sabar menunggu kematiannya biarkan saja dia. Aku sudah muak dengannya"

__ADS_1


"Lalu bagaimana jika dia benar - benar terbunuh dan klan Sakamoto memburu kita untuk menuntut pertanggung jawaban?" tanya Takeda Kiroro.


"Hmph... Memangnya apa yang bisa dilakukan klan nomor dua itu? Mereka cuma bersikap sombong karena punya hubungan dekat dengan Perserikatan Samurai. Selebihnya tidak ada apapun yang bisa dibanggakan dari kalangan itu" dengus Maruyama Akiko.


Argadana tengah asik menikmati makannya dengan Ningrum dan Yalina berada di sisi kiri dan kanannya. Tidak lupa pula Jendral Thalaba.


"Aku mau cepat - cepat kembali ke Perguruan Elang Emas" kata Ningrum.


Argadana menoleh dan tersenyum lembut.


"Ada apa, dinda?"


"Aku tidak suka orang - orang di sini menatapku seperti orang rakus terlebih lagi tuan muda mata keranjang itu. Kalau tidak ditahan aku sudah membunuhnya tadi - tadi" sela Yalina dengan wajah geram namun tetap melanjutkan makannya. Ningrum membenarkan ucapan Yalina.


"Boleh aku bergabung di sini?"


Suara seseorang menyela obrolan mereka dan ternyata ketika mereka menoleh rupanya Sakamoto Yajima lah yang datang menghampiri meja makan mereka.


"Kami tidak merasa mengundang tamu. Jika tidak ada keperluan lain, silakan tinggalkan kami"


Argadana menjawab tanpa menoleh sedikitpun pada Sakamoto Yajima. Hal ini semakin menyulut kemarahan tuan muda klan Sakamoto itu.


"Kau masih diam di sana, apa kau sudah tuli? Tidak dengar apa yang dikatakan tuan mudaku?"


Melihat Jendral Thalaba menoleh ke arahnya dengan pandangan meremehkan Sakamoto Yajima merah padam wajahnya.


"Aku adalah tuan muda dari klan Sakamoto. Orang asing yang tidak dikenal seperti kalian berani menghinaku? Kedua nona ini, merupakan sebuah kehormatan bagi kalian jika berjalan bersamaku. Dan apa yang kalian lakukan ini, percaya atau tidak aku akan menghancurkan kalian" geram Sakamoto Yajima.


Yalina yang sejak tadi sudah mual melihat tingkah laku Sakamoto Yajima menatapnya dengan tajam. Jantung pemuda mata keranjang itu berdegup kencang bukan karena kecantikan Yalina tapi karena merasakan tekanan berat menghimpit dadanya sehingga ia kesulitan bernafas.


"Pergilah, tuan muda yang terhormat. Jangan terlalu memaksakan kehendakmu. Aku bukan yang maha penyaabar yang penuh belas kasih. Jika aku mulai marah akan ada orang yang tersakiti nantinya" ancam Argadana masih sambil melahap makanannya.


"Kurang ajar. Diberi hati kalian malah minta jantung"


Sakamoto Yajima menggerakkan tangannya berusaha menarik lengan Ningrum dengan paksa namun yang terjadi sungguh di luar dugaan.

__ADS_1


Ningrum memutar tangan kanannya sedemikian rupa sehingga posisinya berubah memiting kedua tangan Sakamoto Yajima lalu dengan kemarahan meluap - luap diangkatnya tubuh Sakamoto Yajima dan dibanting dengan keras hingga terdengar suara gedebukan di lantai ruang makan tersebut.


__ADS_2