Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Sang Pewaris


__ADS_3

"Paman dan bibi bersikaplah biasa. Tidak perlu banyak peradatan begitu" kata Argadana merasa tidak enak hati.


"Ti... Tidak bisa, ketua besar. Kami menjunjung tinggi peraturan perguruan. Ketua meskipun lebih muda dari kami tetaplah seorang ketua"


"Haiss.... Kalau begitu anggaplah hal itu sebagai perintah dariku ..."


Mahesa Lodra dan Wirda saling berpandangan.


"Ba.. baik, ketua besar" kata keduanya bersamaan.


"Panggil saja namaku, paman. Tidak usah pakai ketua"


"Maaf, ketua. Kami mungkin dapat bersikap biasa, tapi tidak mungkin menghilangkan panggilan ketua karena itu adalah tanda kebanggaan kami sendiri sebagai anggota Perguruan Anak Naga"


"Tu...tu... Tunggu sebentar. Argadana, tuan dan nyonya Lodra. Ada apa ini sebenarnya? Saya tidak mengerti sama sekali" kata Wisesa dengan wajah linglung.


"Tadi Argadana mengeluarkan aura pembunuh. Tapi tuan dan nyonya malah menghaturkan sembah hormat. Lalu apa itu ketua besar, pecahan Kelicikan, pecahan kelemahan, dan perguruan anak naga? Ayo cepat jelaskan padaku, Argadana"


"Itu benar, ayah. Saya dan Kinanti juga sama tidak mengertinya" sahut Asoka.


Diberondong dengan pertanyaan begitu banyaknya sekaligus Argadana jadi bingung juga mau menjawab bagaimana. Pendekar kita hanya dapat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Banyak sekali pertanyaannya, paman. Yang mana dulu yang harus kujawab?" gumam Argadana.


Akhirnya Argadana meminta sepasang suami istri Mahesa Lodra dan Wirdaniati untuk menjelaskan kepada Wisesa dan kedua anak mereka.


Perguruan Siluman sebenarnya adalah nama yang disematkan oleh orang - orang dunia persilatan, bukan nama asli perguruan itu sendiri. Perguruan tersebut sering berpindah - pindah dan tidak pernah punya tempat yang tetap, dan hanya akan memunculkan diri pada saat terjadi sebuah kejadian besar di dunia persilatan. Setiap kali ada orang yang mengetahui keberadaannya perguruan itu pasti akan berpindah tanpa ada yang menyadari pergerakannya seolah menghilang saja.


Perguruan tersebut sangat tertutup. Hanya beranggotakan lima puluh orang saja. Tetapi kekuatan gabungannya bahkan sudah cukup untuk menghancurkan sebuah kerajaan. Tidak ada yang tahu pasti kekuatan perorangan mereka, tetapi pernah sekali sepuluh orang anggota mudanya menampakkan diri di dunia persilatan yaitu ketika terjadi perang antar aliran. Yang paling lemah dari sepuluh orang tersebut kekuatannya setara dengan pendekar muda berbakat nomor satu di aliran putih maupun hitam. Tetapi kemampuan bertarungnya lebih mirip tokoh tua yang sudah terlatih dan berpengalaman dalam pertarungan hidup dan mati.


Perguruan itu sangat terkenal di dunia persilatan tetapi karena tidak ada yang mengetahui nama perguruannya, maka orang - orang dunia persilatan sepakat memberinya nama Perguruan Siluman. Bahkan Sepasang Pendekar Naga pun hanya tahu nama perguruan itu adalah Perguruan Siluman.


Ketuanya, Brajamusti yang bersahabat dengan Anung Pramana tidak pernah mempermasalahkan nama apapun yang disematkan orang - orang dunia persilatan pada perguruannya. Ketika ditanya tentang nama perguruannya pun sang ketua hanya menjawab


"Aku masih belum mempunyai hak untuk mengatakannya. Karena yang paling berhak atas hal itu adalah Sang Pewaris, sedangkan aku hanyalah orang yang dititipi warisan"


Sebenarnya nama asli Perguruan Siluman adalah Perguruan Anak Naga. Diberikan nama Anak Naga adalah untuk memberikan kesan pelambang bahwa meskipun perguruan tersebut kecil tetapi kekuatannya tidaklah rendah. Semboyannya adalah: 'Meskipun masih anak - anak, Naga tetaplah Naga'. Perguruan tersebut dipecah menjadi beberapa cabang beranggotakan sepuluh orang di tiap - tiap cabang yang tersebar di berbagai tempat di antaranya adalah.

__ADS_1



Pecahan Kelicikan


Pecahan Kesombongan


Pecahan Kelemahan


Pecahan Kegelapan



Selain itu ada juga delapan penjaga empat arah mata angin. Di tiap arah mata angin ada dua orang penjaga.


Dan dua orang lagi merupakan penjaga keagungan, yang diemban oleh ketua dan wakil ketua.


Perguruan Anak Naga didirikan ole Dyah Ayu Pitaloka, ibu Argadana. Sehingga dengan demikian Sang Pewaris yang dikatakan ketuanya pada Sepasang Pendekar Naga adalah murid mereka sendiri yaitu Argadana.


***


Wisesa terdiam cukup lama mendengarkan penjelasan Mahesa Lodra dan Wirdaniati tentang Perguruan Anak Naga. Saudagar kaya itu hanya manggut - manggut saja tanpa bisa berkata - kata. Menurutnya hal ini adalah hal yang sangat besar. Tanpa disadarinya dia selama ini ternyata bersama dengan ketua besar perguruan misterius yang selama ini dikaguminya.


"Pupus sudah harapanku. Ternyata kita berada dalam garis jalan yang berbeda" kata Kinanti dalam hati. Gadis cantik itu sebenarnya sejak pertama melihat Argadana sudah merasakan debaran keras di jantungnya tetapi sekarang dia merasa rendah diri karena orang yang disukainya ternyata adalah orang yang tidak akan pernah bisa digapainya.


"Penampilannya terlihat seperti orang biasa. Siapa yang sangka kalau dia ternyata adalah seorang ketua perguruan yang terkenal" Asoka berkata takjub dalam hati.


"Anak ini benar - benar. Sudah beberapa kali aku hampir jantungan karena dibuat terkejut. Dia ternyata adalah seorang ketua perguruan yang terkenal. Ternyata ini yang dia sebut warisan. Anak sialan ..." Wisesa menggerutu di dalam hatinya.


Karena saking gembiranya Mahesa Lodra mengadakan pesta dadakan untuk kedatangan ketua besar yang selama ini telah mereka nantikan, yaitu Argadana. Mereka tidak ingat waktu dan mengobrol sampai larut malam. Wisesa akhirnya bermalam di tempat Mahesa Lodra.


Selama pesta itu Mahesa Lodra banyak menceritakan keadaan perguruan saat ini. Baik anggota Pecahan Kelicikan, Pecahan Kesombongan, Pecahan Kelemahan, maupun Pecahan Kegelapan telah menjadi seperti perguruan yang berdiri sendiri namun tetap masih dalam fondasi kokoh Perguruan Anak Naga. Itu lebih mirip di tiap cabang membentuk sebuah ranting lagi yang sama sekali baru.


Argadana malam itu berpesan agar Mahesa Lodra mengumpulkan semua anggota setiap cabang.


"Maaf, ketua. Kami di setiap cabang itu terletak di tempat - tempat yang berjauhan. Jadi untuk dapat mengumpulkan semuanya tidak bisa dalam waktu sehari dua hari saja. Paling tidak dua bulan barulah dapat terkumpul semua termasuk para penjaga empat arah mata angin dan dua penjaga agung"


Begitulah keterangan yang diberikan Mahesa Lodra.

__ADS_1


***


Tidak terasa sudah hampir dua bulan Argadana tinggal di kediaman Mahesa Lodra. Selama itu Argadana banyak memberikan arahan pada pelatihan Asoka dan Kinanti. Kedua bersaudara itu sangat mengagumi sosok ketua besar mereka yang ternyata walaupun masih seumuran dengan mereka tetapi kekuatannya bahkan jauh melebihi orang tua mereka yang termasuk pendekar yang telah memiliki gelar dan cukup terkenal di dunia persilatan.


Setiap hari mereka berdua berlatih dengan dibantu oleh Argadana sehingga hanya dalam waktu singkat saja keduanya telah berkembang dengan sangat pesat terutama dalam hal penguasaan jurus dan tingkatan tenaga dalam. Setiap hari sebelum memulai latihan Argadana akan memberikan mereka masing - masing sebutir pil berwarna hitam pekat yang berfungsi untuk memperkuat tenaga dalam.


"Posisi tanganmu harus lurus dan kuda - kuda juga harus kokoh agar jurus itu dapat mengeluarkan potensi penuh dari kekuatannya" Argadana berkata sambil membenahi posisi tangan Kinanti.


"Nah, sekarang cobalah ..."


"Baik, ketua"


Wus. . . Kinanti bergerak lincah memainkan jurus - jurus mematikan. Gerakannya tampak seperti orang menari, tetapi dari gerakan itu tersembunyi bahaya yang mengancam jiwa.


Dess. . .


Krakkk. . .


Bummmm ...


Sebatang pohon berukuran sepelekan orang dewasa tumbang terkena hantaman kaki mulus Kinanti. Argadana tersenyum puas melihat hasil dari pengerahan jurus itu sangat sempurna.


"Whoaaa. . . Jurus itu jadi terlihat beberapa kali lebih hebat sekarang" seru Asoka.


"Ini.. ini sangat hebat. Terimakasih atas bimbingannya, ketua" kata Kinanti merunduk dengan wajah merah karena tak kuat melihat senyum Argadana.


"Tidak perlu berterimakasih, Kinanti. Hal itu bisa terjadi adalah karena ketekunanmu sendiri" kata Argadana merendah.


"Kalian ada di sini rupanya"


Mahesa Lodra muncul dari arah belakang mereka.


"Ayo, sarapannya sudah siap"


"Baik, ayah"


"Baik, paman"

__ADS_1


Jawab ketiganya berbarengan lalu berjalan menuju ruang makan.


__ADS_2