
Setelah menerima kitab pedang matahari dari Argadana Pangeran Fujihira diiringi pengawalnya pergi meninggalkan Perguruan Elang Emas dan berjanji untuk kembali setelah tiga hari.
Untuk mengatasi kejenuhan selama dalam perjalanan setengah hari itu Pangeran Fujihira berencana untuk istirahat sebentar di kedai makan yang terletak di bawah Bukit Ichio.
Kereta Pangeran Fujihira terus melaju setelah melewati Sungai Heiwa. Ketika hendak melewati perkebunan milik warga desa sekitar tiba - tiba kereta dihadang sekelompok orang yang wajahnya tertutup kain hitam sama persis dengan pakaian mereka sehingga yang terlihat dari mereka hanyalah kedua bola matanya saja.
Para pengawal mengerenyitkan dahi melihat yang menghadang rombongan mereka adalah ninja, sekelompok pembunuh bayaran yang terkenal kekuatan dan kekejamannya.
"Kenapa berhenti, pak kusir?" bertanya Pangeran Fujihira.
"Anu, Pangeran... Ada sekelompok orang berpakaian hitam menghadang di sana. Dan kita telah dikepung" jawab kusir kereta dengan nada suara bergetar melihat para ninja telah menghunus katana.
Para pengawal berpencaran membentuk lingkaran kecil mengelilingi kereta Pangeran Fujihira dengan ketat.
Para ninja melemparkan puluhan buah Shuriken ke arah kereta yang dikelilingi para pengawal dengan ketat.
Melihat puluhan senjata rahasia mendesing ke arah mereka para pengawal cepat - cepat cabut katana di pinggang dan memutar - mutarnya di depan mereka masing - masing.
"Trang...!!! Trang...!!!" Putaran katana berhasil mematahkan serangan gelap para ninja. Puluhan shuriken itu berpentalan sebagian luruh ke tanah dan sebagian lagi menancap di beberapa batang pohon.
Melihat serangan jarak jauh mereka gagal salah satu dari puluhan ninja itu yang merupakan pemimpin rombongan mereka tampak memberi isyarat untuk menyerang secara langsung.
Setelah para ninja maju dan menyerang bersamaan meluruk lagi sosok ninja yang jumlahnya dua kali lebih banyak dari ninja yang pertama kali menghadang perjalanan.
Pengawal Pangeran Fujihira yang tadinya seimbang dengan jumlah ninja yang pertama kini jadi kelabakan karena harus melayani serangan dari ninja yang kekuatannya menjadi bertambah tiga kali lipat.
Pertarungan antara pengawal dan ninja itu berlangsung belasan jurus. Karena kalah jumlah para pengawal akhirnya bertumbangan satu persatu setelah memasuki jurus ke dua puluh.
__ADS_1
"Para ninja ini tampaknya mengincar pangeran. Entah siapa yang membayar mereka untuk hal ini" kata Hakamaru Nawa. Dia lalu berkata pada kusir kuda di depannya.
"Pak kusir... Aku akan melawan mereka untuk membukakan jalan. Lalu kau bawalah Pangeran kembali ke Perguruan Elang Emas. Biar aku yang menahan mereka bersama pengawal lain"
"Biarkan aku ikut bertarung, paman" kata Pangeran Fujihira menolak meninggalkan pengawal pribadinya demi menyelamatkan nyawa.
"Tapi... Ini sangat berbahaya. Yang mereka incar adalah pangeran. Tentu saja pangeran harus pergi menyelamatkan diri"
"Tidak, paman. Biar pak kusir saja yang pergi meminta bantuan. Kita akan bersama - sama menghadapi mereka"
"Pangeran adalah salah satu calon pewaris tahta kekaisaran. Jika pangeran sampai celaka di sini maka pewaris tahta akan jatuh pada pangeran ke dua atau pangeran ke tiga" bujuk Hakamaru Nawa.
"Paman lihatlah kedepan. Malapetaka berada di hadapan kita. Menelantarkan orang yang sudah dengan setia melindunginya selama bertahun - tahun merupakan tindakan memalukan bagi seorang pemimpin. Jika aku tidak bisa melindungi bawahanku, lalu bagaimana aku akan melindungi para rakyatku nantinya?" kusir kuda yang tadinya gemetar ketakutan seketika bangkit keberaniannya mendengar ucapan Pangeran Fujihira.
Bahkan Hakamaru Nawa terharu dengan tekad Pangeran Fujihira. Dia merasa beruntung bisa mengabdi pada orang yang tepat, tidak seperti kaum bangsawan pada umumnya yang hanya menganggap pengawal itu tidak lebih sebagai perisai saja untuk menyelamatkan nyawa mereka saat dalam keadaan bahaya.
"Baiklah...!!! Kalau begitu saya juga akan ikut bertarung. Meskipun tulang tua ini tidak punya keahlian bela diri, saya bisa menggunakan cambuk ini untuk melawan para ninja" kata sangat kusir keras berapi - api.
Pada awalnya kusir kereta itu bersikukuh tidak mau pergi dan bertekad mati dalam perang ini, namun setelah dibujuk berkali - kali oleh dia akhirnya luluh juga.
Hakamaru Nawa dan Pangeran Fujihira berkelebat cepat membabat dan menusuk dengan katana di tangan membuka celah agar kereta bisa melarikan diri.
Para ninja yang dapat membaca taktik itu segera menciutkan kepungan. Pangeran Fujihira melayani serangan ganas lima orang ninja yang memiliki gerakan sangat gesit.
Dengan ilmu meringankan tubuhnya pangeran tertua Kekaisaran Jepang itu membabat dan menusuk dengan sebat berusaha memecah konsentrasi kelima musuhnya dengan gerakan kilat yang berubah - ubah arah serangannya.
Hakamaru Nawa melihat majikannya tampak menghadapi lawan yang cukup sulit segera mengarahkan enam orang pengeroyoknya secara diam - diam untuk mendekat ke arah Pangeran Fujihira agar dia dapat dengan mudah melindunginya.
__ADS_1
"Kita terobos barisan tengahnya, pangeran. Di situ inti dari kekuatan barisan mereka" kata Hakamaru Nawa begitu sampai di dekat Pangeran Fujihira.
"Kita lakukan bersama, paman...!!!"
Keduanya menggunakan tenaga dalam tinggi menebaskan pedang ke arah enam orang ninja yang menghadang pergerakan mereka.
Barisan kepungan ninja hancur setelah enak orang tersebut mati dengan dada robek memanjang hingga ke perut dan mengeluarkan darah.
"Sekarang, pak kusir...!!!" teriak Pangeran Fujihira setelah celah terbuka namun sebelum rencana mereka kesampaian enam orang lagi ninja datang membantu dan mengisi kembali celah kosong tadi.
"Sial... Mereka pintar juga" batin Hakamaru Nawa.
Kusir kereta yang sudah menyadari tiada jalan lagi untuk melarikan diri akhirnya turun membantu. Karena tidak menguasai ilmu bela diri makan untuk melawan dia hanya memutar - mutar cambuknya di atas kepala.
"Karena kalian tidak membiarkan kami hidup, maka kalian juga harus mati...!!!" teriak kusir dengan gagah berani.
Dua orang ninja yang mengeroyok Pangeran Fujihira terkena sabetan cambuk sangat kusir karena tidak mewaspadai gerakan kusir yang dianggapnya telah renta dan lemah. Saat itu Pangeran Fujihira tengah menyabetkan katana ke arah dua orang ninja tersebut.
Rasa sakit akibat sabetan cambuk itu membuat mereka lengah. Maka terlepaslah kepala mereka setelah katana Pangeran Fujihira melewati leher keduanya.
"Setan...!!! Mati...!!!" Tiga ninja lain bukannya takut justru mereka semakin beringas menyerang. Dua meluruk ke arah Pangeran Fujihira dan satunya menyerang kusir kereta tua.
Putaran cambuk kusir tua yang dilakukan secara serampangan sempat membuat kerepotan ninja itu. Namun sejurus kemudian dengan sigap ditangkapnya ujung cambuk itu.
Tubuh kusir kuda melayang tertarik ke depan ke arah ninja di depannya begitu ujung cambuk disentakkan dengan keras.
Seolah merasakan kematian semakin dekat dengannya kusir kereta yang gagah berani itu memejamkan matanya tersenyum.
__ADS_1
"Hmph...!!! Ajal sudah di depan hidung masih berani tersenyum. Bodoh...!!!" ejek ninja itu menebaskan katananya.
"Meskipun aku sudah tua dan lemah, setidaknya aku berhasil membantu pangeran dan membawa dua orang menuju akhirat. Aku tidak menyesalinya...!!!" kata kusir tuan dalam hati.