Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Serangan Ninja Klan Koga


__ADS_3

Sejak menjelang magrib ada tidak kurang dari seribu orang ninja berpakaian serba hitam lengkap dengan penutup kepala mereka mengawasi bangunan megah Perguruan Elang Emas dari kejauhan di suatu tempat tersembunyi.


Mereka berkelompok hinggap di pohon - pohon berdaun rimbun. Mata mereka rata - rata tampak bening namun menyorot tajam. Hal itu membuktikan bahwa mereka memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi.


Di antara ribuan orang itu ada empat orang ninja berpangkat tiga berada cukup jauh dari kelompok lainnya. Mereka adalah para pimpinan ninja itu yang masing - masing dari mereka mengomandoi dua ratus lima puluh ninja tingkat dua.


"Kapan kita akan mulai beraksi, Natsu?" bertanya ninja yang berada di sisi ujung sebelah kanan.


"Iya... Tanganku sudah gatal ingin menggorok batang - batang leher mereka" kata ninja di sebelah kiri orang yang dipanggil Natsu.


"Kita tunggu setelah malam gelap seluruhnya. Kewaspadaan mereka pasti mengendur setelah seharian berlatih. Saat itu kita bisa dengan mudah membantai mereka" kata ninja yang dipanggil Natsu.


Siapakah sebenarnya orang yang dipanggil Natsu? Natsu itu tidak lain adalah Zatou Natsu. Setelah menyatakan kelompoknya bergabung dengan klan Koga ketua klan ninja itu setuju untuk membantunya membalas dendam terhadap orang - orang Perguruan Elang Emas terutama orang asing yang menyebabkan kematian sahabat karibnya.


"Tunggulah kalian, orang - orang asing. Akan aku tumpahkan darah kalian untuk membalas kematian Tokugawa Chirou dan Raja Teluh" Zatou Natsu mengepalkan tangannya penuh dendam.


Sehari sebelum Zatou Natsu memulai keberangkatannya bersama para ninja dari klan Koga Zatou Natsu sempat mengunjungi tempat tinggal Raja Teluh untuk mengajaknya bersama - sama menyerang Perguruan Elang Emas. Tapi malang... Yang ditemui hanya tinggal timbangan pepohonan yang merusak separuh hutan. Gubuk tua Raja Teluh sudah tinggal arang.


Zatou Natsu berusaha mencari Raja Teluh di sekitar pekarangan tempat tinggalnya namun tidak kunjung ditemukan. Setelah menjelang senja, didapatinyalah tubuh Raja Teluh yang telah berubah menjadi arang.


Zatou Natsu amat murka mendapati Raja Teluh juga telah binasa dengan cara yang sangat mengerikan. Karena tiada orang lain yang bisa dia salahkan akhirnya dia membuat kesimpulan sendiri dengan sangat yakin bahwa yang membunuh Raja Teluh pastilah orang asing itu.


Dia beranggapan orang asing tersebut memiliki beberapa cara untuk melacak keberadaan sang pemilik ilmu Hitam yang pernah coba menyerangnya. Dugaan - dugaan itu membuat bara dendam di hatinya semakin berkobar.


***


Malam itu murid - murid Perguruan Elang Emas tertidur pulas karena kelelahan setelah seharian menjalankan serangkaian latihan berat yang amat banyak menguras tenaga apalagi cuaca di malam hari itu terasa sangat dingin mencucuk tulang.

__ADS_1


Semua aktivitas di malam hari itu dihentikan. Namun ada beberapa orang yang masih sibuk mengobrol di bangunan tengah perguruan. Mereka adalah lima ketua pecahan.


"Malam ini aku rasa - rasanya tidak bisa tidur. Seperti ada perasaan tidak enak menggelayuti fikiranku" kata Brajamusti (ketua Penjaga)


"Ehm... Aneh memang. Tapi entah kenapa aku juga merasakan hal yang sama" menyahuti Pancaka Sudra (ketua Pecahan Kelicikan)


"Apa yang kalian bicarakan? Kalaupun ada orang yang berani menyerang ya tinggal kita ladeni saja. Hitung - hitung aku juga ingin meluruskan tulang - tulangku yang sudah kaku kebanyakan tidur" timpal ketua Pecahan Kesombongan yang bernama Yudha Gerhana.


Tidak mau kalah Aksara Buana ketua Pecahan Kelemahan ikut juga menimbrung dalam obrolan.


"Haisss.... Kalian ini orang - orang tua masih saja suka berkelahi. Tapi kalau ada yang berani menyusup, bisa kupastikan mereka akan mengalami kesialan selama tujuh hari tujuh malam."


Mereka terus mengobrol panjang sedang ketua Pecahan Kekuatan yang bernama Soma Ardipura sejak tadi hanya diam menundukkan kepala. Memang dari kelima ketua pecahan hanya dialah yang terkenal paling pendiam, namun kekuatannya tidak diragukan lagi. Dan orang yang satu ini juga memiliki keistimewaan tersendiri yaitu perasaan yang amat peka terhadap bahaya yang mengintai.


"Sialnya murid - murid yang berbakat hampir semua ikut bergabung dengan Manusia Batu. Kami hanya mendapatkan sisa - sisanya saja" gerutu Yudha Gerhana menatap orang yang disebutnya manusia batu sedang Soma Ardipura hanya tetap diam saja tanpa menjawab sedikitpun.


"Mengobrol dengan dia sama seperti mengobrol dengan Batu, dasar manusia batu"


Begitulah dulu ucapan yang tidak sengaja dilontarkan oleh Aksara Buana secara tidak langsung menjadi julukan Soma Ardipura hingga saat ini.


"Benar... Tapi membicarakan para murid - murid itu aku jadi ingat dengan murid yang bernama Ayame itu. Dia sepertinya menyukai ketua kita" kata Aksara Buana senyum - senyum.


"Kelihatannya memang begitu. Setiap dilatih oleh ketua dia selalu menampilkan wajah yang cerah. Sekarang beberapa hari ketua tidak ada, dia kelihatan banyak murungnya" jawab Yudha Gerhana.


"Kalian berdua bisa diam tidak? Tidak ada yang mengatakan kalian bisu hanya karena kalian tidak bicara" teguran Brajamusti menghentikan obrolan mereka.


"Memang dari kita berlima kalian berdua yang paling cerewet. Apa jangan - jangan kalian dulu mau jadi anak perempuan tapi batal?" ejek Pancaka Sudra.

__ADS_1


"Sialan... Jangan asal bica...!!!"


"Kita diserang...!!!"


Belum selesai Aksara Buana mengomeli Pancaka Sudra Soma Ardipura yang sejak tadi hanya duduk diam tiba - tiba saja bersuara. Wajah keempat orang yang lainnya juga ikut menegang.


Mereka menoleh ke kiri dan ke kiri dan ke kanan, sepi. Tidak ada lagi yang bersuara sampai mata Brajamusti yang awas dapat melihat ranting pohon kecil di depan gerbang perguruan tampak bergoyang.


"Wusss....!!! Brajamusti mengibaskan tangannya dan sebuat cahaya putih perak melesat menyambar ranting pohon yang bergoyang tersebut menyebabkan ledakan yang cukup keras.


Suara ledakan itu mengejutkan semua murid yang sedang terlelap tidur. Akhirnya mereka bangun karena mendengar bunyi lonceng tanda bahaya. Buru - buru para murid Perguruan Elang Emas itu meraih senjata andalan mereka masing - masing dan keluar untuk menyambut tamu tak diundang.


"Aaahhkk...!!" sesosok berpakaian hitam tampak terjatuh dari ranting pohon tersebut. Karena sempurnanya tenaga dalam Brajamusti Pukulan Api Salju yang dilesatkannya pohon sebesar pelukan orang dewasa itu sampai terselimuti oleh es bahkan daun - daunnya pun beku dan mengeras.


Soma Ardipura mengangkat kedua tangan terkembang ke atas. Aneh... Dedaunan yang telah membeku tersebut terlepas dari tangkai - tangkainya dan melayan di udara. Ketua Pecahan Kekuatan itu mengibaskan tangan kanannya ke arah kiri.


Daun - daun es itu melesat secepat kilat menyambar ke arah ujung timur dari sudut gerbang yang tampak terlihat sedikit bergoyang di mana tempat itu merupakan tempat persembunyian dua puluh orang ninja yang tengah menunggu perintah untuk menyerang. Maka terdengarlah jerit kematian yang menyayat dari kedua puluh orang tersebut dengan tubuh masing - masing tertembus puluhan daun - daun es.


Beberapa orang yang bersembunyi tidak jauh dari tempat itu terkejut membelalakkan mata. Kawan - kawan mereka yang mengintai di pohon itu mulai membeku, perlahan - lahan berubah menjadi es.


"Celaka.... Anak - anak bodoh itu ketahuan. Tidak bisa bersembunyi lagi... Habisin dulu orang - orang jompo itu. Cecar dengan senjata rahasia!!!"


Puluhan senjata rahasia Shuriken melesat secepat kilat ke arah Brajamusti dan empat ketua pecahan lainnya. Mereka berlima menghindari senjata beracun itu kesana kemari namun naas bagi murid - murid yang berada di belakang mereka. Shuriken - shuriken itu menancap dengan telak memanggang tubuh para murid yang berkelojotan seketika dan mati dengan tubuh membiru.


Wajah Brajamusti kelihatan marah lalu sambil melompat menghindari shuriken dia meraih katana milik salah satu murid yang telah terbunuh. Dia menggunakan katana itu untuk menangkis lesatan - lesatan shuriken. Cara Brajamusti itu juga dilakukan oleh empat ketua pecahan yang lain sehingga selama beberapa jurus berlalu korban yang berjatuhan akibat shuriken tidak terlalu banyak.


"Siapa yang berani membuat kerusuhan malam - malam begini di Perguruan Elang Emas?" geram Surasena yang sedang berjaga di bagian belakang perguruan bersama Nila Sari, istrinya,

__ADS_1


"Siapapun mereka, akan kupastikan akan meretakkan ginjalnya. Ayo, kakang. Kita bantu Brajamusti dan yang lainnya" Nila Sari tanpa menunggu persetujuan suaminya menggamit tangan Surasena . Keduanya lalu berkelebat menuju bangunan depan Perguruan Elang Emas.


__ADS_2