Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Dewa Topan Pelahap Jiwa


__ADS_3

"Trak...!!!" katana yang sejengkal lagi menebas putus kepala kusir renta itu terlepas dari tangan sang ninja setelah berbenturan sebuah benda kecil berbentuk panjang panjang yang ternyata merupakan ranting kayu.


Ninja itu membelalakkan matanya melihat ranting tersebut menancap cukup dalam di tanah sedang kusir tua terkejut merasakan tubuhnya yang sedikit nyeri karena terbanting dengan keras di tanah.


Dia keheranan karena tidak merasakan lehernya tertebas. Bukankah tadi ninja itu telah menggerakkan senjata tajamnya ke arah leher? Karena penasaran kusir itu akhirnya mencoba membuka perlahan matanya dan yang pertama di lihatnya adalah sebatang ranting kayu yang menancap di tanah juga katana yang tadi sudah hampir memotong lehernya telah tergeletak di tanah.


Ninja yang marah karena serangannya digagalkan menatap penuh kemarahan ke arah pohon besar tidak jauh dari tempat mereka bertarung. Dia tahu bahwa ranting tersebut baru saja dipatahkan dan asalnya pasti dari pohon besar ritu karena bentuk dan warna kulit pohonnya sama persis.


"Bajingan mana yang berani mati mencampuri urusan orang. Kalau berani keluar, kita beradu sampai seratus jurus...!!!"


Tidak ada jawaban dari atas pohon tapi sekejap kemudian puluhan ranting kayu melesat cepat dari pohon tersebut menyerang ke berbagai arah.


"Crab...!!! Crabb...!!!"


Puluhan orang berpakaian serba hitam dengan penutup wahah berwarna hitam itu tampak kelabakan menghindar dan menangkis ranting - ranting kayu yang mengancam tubuh mereka.


Saking banyaknya serangan dengan ranting kayu terlihat beberapa ninja telah tergeletak di tanah dengan ranting menancap di dahi dan dada kirinya.


Pengawal Pangeran Fujihira selain Hakamaru Nawa kini tersisa hanya sepuluh orang saja sementara yang lainnya telah tewas mengenaskan.


Merasa ada orang membantu target mereka seluruh Ninja yang tersisa sekitar tiga puluhan orang berkumpul dengan sikap waspada memandang ke satu arah yang sama, yaitu pohon besar yang merupakan arah asal datangnya serangan gelap.


"Saudara yang di atas pohon... Kalau berani buat sengketa, berani juga tampakkan diri. Jangan bersikap pengecut seperti maling yang lari setelah maling duit...!!!"


Karena tidak kunjung mendapat jawaban ninja pemimpin ninja itu terpancing juga kemarahannya. Dia lalu merogoh kantong bajunya yang terdapat sepuluh buah shuriken. Dihantamkannya shuriken itu ke arah pohon besar.


Belum sampai shuriken mencapai sasaran segulung angin bagai topan menerpa. Lima orang lagi ninja yang tidak sempat bereaksi terbunuh oleh shuriken yang berbalik arah setelah diterpa segulung angin kencang.


Pemimpin ninja keretakkan rahangnya menahan marah. Ingin maju menyerang takut mendapat serangan gelap seperti tadi. Jelas orang yang melindungi target mereka kali ini bukanlah orang sembarangan sampai bisa membalikkan arah serangan senjata rahasia yang sedang melesat di udara.


Pada saat hening itu terdengar suara serak dari atas pohon yang dpat didengar juga oleh Pangeran Fujihira dan rombongannya.


"Saudara di bawah pohon...!!! Yang merasa bersahabat silakan menjauh, yang merasa bermusuhan silakan bersiap...!!!"


Mendengar kalimat itu mengertilah Pangeran Fujihira bahwa seseorang datang secara khusus untuk membantunya. Dia lalu membawa para bawahannya ke tempat yang sedikit jauh.


Tidak lama kemudian sesosok bayangan putih melesat turun dengan ringannya dari pohon tersebut tanpa menimbulkan suara.


"Ehh...??? Bukankah itu si pengawal yang selalu bersama ketua Perguruan Elang Emas?" seru Hakamaru Nawa terkejut.


Sementara Pangeran Fujihira menganggukkan kepalanya membenarkan.


Bagaimana sebenarnya sampai Jendral Thalaba alias Kusir Setan bisa sampai di sana dan menolong Pangeran Fujihira?

__ADS_1


***


Sebenarnya setelah rombongan Pangeran Fujihira berpamit pulang Argadana memerintah Jendral Thalaba untuk melindungi mereka dari jarak jauh karena merasa sesuatu yang buruk bakal menimpa rombongan Pangeran.


"Paman...!!!" panggil Argadana tanpa menoleh ke arah Jendral Thalaba di belakangnya.


"Saya, tuan muda...!!!" jawab Jendral Thalaba.


"Paman tahu apa yang harus paman lakukan, bukan?" tanya Argadana.


"Iya, tuan muda. Kitab pedang matahari akan menyebabkan pertumpahan darah jika informasinya sampai bocor"


"Nah... Paman ikuti mereka dari jarak jauh. Aku mendapat firasat buruk akhir - akhir ini. Jadi untuk berjaga - jaga saja, paman lakukanlah dengan baik"


"Baik, tuan muda...!!!"


Jendral Thalaba segera berlalu dari tempat itu meninggalkan Argadana yang sedang bersiap membuat obat pengumpul tenaga dalam untuk para murid sebelum melanjutkan pelatihan.


***


Begitulah bagaimana Jendral Thalaba bisa sampai di sana dan sempat menolong kusir tua dari lubang maut.


Jendral Thalaba berdiri tegap dengan tangan kanan memegang sebatang pohon sebesar ibu jari kakinya.


Dua puluh lima ninja yang tersisa bergerak serentak menyerang Jendral Thalaba dengan tebasan dan tusukan secara bergantian dengan harapan agar lawan tidak sempat mengatur pernafasannya.


Mereka berfikir pola serangan seperti itu akan membuat lelah Jendral Thalaba dan perlahan - lahan tenaganya pasti akan terkuras habis. Dan di saat itulah mereka baru bisa membunuh lawan.


Akan tetapi perkiraan itu membuat mereka melakukan kesalahan besar karena ternyata Jendral Thalaba memiliki ketahanan tubuh yang amat tinggi.


Jendral Thalaba yang mengetahui taktik licik musuh berusaha mengikuti rencana yang dibuat para ninja itu dengan berpura - pura mengendurkan tenaganya agar lawan mengira bahwa dia telah kehabisan nafas.


Saat itu empat orang membuat kepungan kecil dari depan, belakang, kiri dan kanan Jendral Thalaba lalu menebas leher dan pinggang.


Melihat serangan ganas itu Jendral Thalaba mengempos tenaga dalamnya dan menjejakkan kaki di tanah. Tubuhnya melenting tinggi di udara.


Ninja - ninja yang melihat serangan gagal mendongak ke atas lalu melemparkan shuriken ke arah Jendral Thalaba yang masih melayang di udara.


Tangan Jendral Thalaba yang memegang tongkat kayu bergetar hebat. Lama kelamaan kayu tersbut berubah warna menjadi hitam legam dan tampak keras bagai besi setelah terisi tenaga dalam Jendral Thalaba.


Tongkat kayu hitam diputar - putar di atas kepala menimbulkan angin ribut. Angin tersebut lama kelamaan membentuk sebuah pusaran yang menarik semua benda di sekitarnya termasuk puluhan buah shuriken yang dilemparkan para ninja itu sebelumnya.


"Selama ini kalian terbiasa membunuh orang dengan senjata rahasia beracun. Sekarang kalian akan merasakan sendiri bagaimana rasanya dibunuh dengan keji...!!!" seru Jendral Thalaba.

__ADS_1


Pemimpin ninja yang melihat kehebatan pusaran angin buatan Jendral Thalaba segera merentangkan tangan menahan seluruh anggotanya.


"Menjauh dari pusaran angin itu...!!!" teriaknya keras dengan nada panik bukan main melihat pohon besar tempat bersembunyinya Jendral Thalaba tadi mulai tercerabut dari akarnya saking kuatnya daya tarik pusaran itu.


"Bersiaplah, para ninja...!!! Ajian Dewa Topan pelahap jiwa...!!!" teriak Jendral Thalaba menyebutkan nama ilmu yang digunakannya.


Para ninja yang melihat pusaran angin bergerak cepat ke arah mereka berusaha sekuat tenaga menghindar dan berlompatan menjauh namun naas...


Tindakan yang mereka lakukan justru merupakan kesalahan besar karena pusaran angin dengan cepat menyambar tubuh tanpa pijakan itu. Dua puluh orang tertarik dan melayang - layang di tengah - tengah pusaran yang di dalamnya terdapat puluhan buah shuriken.


Bisa dibayangkan seberapa mengerikannya hal itu. Lima orang yang lolos dari pusaran itu membeliakkan mata mereka begitu melihat tubuh kawan mereka bagai tercacah setelah pusaran angin terhenti.


Kengerian itu menimbulkan rasa takut di hati mereka berlima yang akhirnya memilih melarikan diri ke arah semak - semak rimbun.


Jendral Thalaba tidak mengejar mereka. Dia hanya membiarkan saja ninja yang tersisa pontang - panting berlarian.


Pangeran Fujihira mendekati Jendral Thalaba dengan tubuh bergetar. Masih terbayang di matanya bagaimana jurus dahsyat orang di depannya itu membunuh puluhan ninja dalam beberapa tarikan nafas saja.


"Ehh... Bukankah tuan adalah pengawal guru?" tanya Pangeran Fujihira pelan.


Jendral Thalaba berbalik dan memperlihatkan wahah keheranan.


"Apanya yang pengawal? Orang tua ini adalah kusir kuda. Kusir terbaik tuanku" kata Jendral Thalaba.


"Apa??? Kusir???" seru terkejut para pengawal berbarengan.


"Kusir kuda? Terbaik? Jangan - jangan, tuan yang belakangan ini disebut si Kusir Setan?" tanya Hakamaru Nawa.


"Hmm... Anak - anak muda zaman sekarang memang tidak ada akhlaknya. Orang tua juga dibilang setan...!!!" kata Jendral Thalaba pelan.


"Apanya yang orang tua??? Bukankah usiamu cuma berbeda sedikit dengan pangeran?" umpat pengawal di belakang Hakamaru Nawa. Umpatan itu tentu hanya dilakukan mereka di dalam hati karena merasa segan terhadap kekuatan Jendral Thalaba, terlebih lagi mereka telah diselamatkan olehnya.


Sementara itu Hakamaru Nawa sendiri mengerenyitkan dahi mendengar jawaban Jendral Thalaba yang secara tidak langsung mengakui bahwa dirinyalah orang yang sering disebut Kusir Setan.


"Jika orang seusiamu saja sudah dibilang tua, lalu apakah orang seusiaku ini sudah termasuk sepuh?" batin Hakamaru Nawa.


"Emm... Maafkan pengawal saya, tuan...!!! Dan saya berterimakasih atas bantuannya" kata Pangeran Fujihira merasa tidak enak.


"Aaa.... Tidak, tidak. Orang tua ini tidak apa - apa. Lagipula ini juga atas perintah tuan muda. Jaga baik - baik benda itu. Kitab pedang matahari akan menimbulkan pertumpahan darah jika keberadaannya diketahui dunia persilatan. Tuan berpesan agar Pangeran menjaga baik - baik kitab itu" kata Jendral Thalaba sebelum melesat lalu menghilang di rerimbunan semak belukar.


"Jika orang sekuat itu hanya memiliki jabatan sebagai kusir kereta saja lalu bagaimana dengan kemampuan majikannya si ketua Perguruan Elang Emas?"


***

__ADS_1


Karena hari ini sedang longgar jadwalnya saya kasi dua yak...!!!


__ADS_2