
Murid - murid Perguruan Elang Emas tampak menyaksikan dengan tegang pertarungan persahabatan antara Argadana melawan Pangeran Fujihira Fukiaezu. Sudah puluhan jurus berlalu namun baik Argadana maupun Pangeran Fujihira belum ada yang berhasil menyarangkan pukulan di tubuh lawan.
Satu - satunya perbedaan yang terlihat saat ini adalah nafas Pangeran Fujihira tampak memburu sedang Argadana masih kelihatan biasa - biasa saja. Berbeda dengan Pangeran Fujihira yang keringatnya membasahi sekujur tubuh Argadana tampak masih belum berkeringat sedikitpun.
"Dia benar - benar tangguh. Teknik bantingan sagara milikku bahkan tidak bekerja sama sekali padanya" membatin Pangeran Fujihira kagum.
Tidak seperti anak bangsawan lain Pangeran Fujihira tidak pernah suka berdiam diri di dalam istana. Dia banyak belajar ilmu - ilmu bela diri dari pendekar - pendekar ternama di Kekaisaran Jepang sehingga kemampuannya baik dalam ilmu tangan kosong maupun berpedang menjadi termasuk di tingkatan atas dalam daftar orang - orang kuat.
Salah satu ilmu tangan kosong andalannya adalah tekhnik gulat yang lebih banyak berfokus pada tekhnik bantingan. Selama ini orang - orang yang dapat menghindari bantingannya bisa dihitung dengan jari. Itu sebabnya Pangeran Fujihira sangat meyakini tekhnik yang selalu diamalkannya selama ini.
Hari ini melihat ada orang yang sanggup mematahkan tekhnik bantingannya membuat putra sulung Shenju Tenno terkejut bukan kepalang.
"Saudara Argadana sungguh mengagumkan. Saya mengaku takjub. Tapi saya masih penasaran dengan ilmu pedang saudara" Pangeran Fujihira Fukiaezu mengambil katana yang disodorkan pengawalnya.
"Srang...!!!" Tampak katana panjang putih berkilat menyilaukan begitu katana dicabut dari sarungnya.
"Silakan gunakan senjatamu, saudara Argadana...!!!" Pangeran Fujihira menyilangkan katana di depan dada.
"Pangeran berbaik hati mengalah tidak menggunakan tenaga penuh. Saya sungguh berterimakasih. Karena pangeran ingin menguji ilmu berpedang saya, maka untuk menghormati pangeran saya terpaksa bertindak lancang mengacungkan pedang pada pangeran" Setelah berkata demikian salah seorang murid datang membawakan sebuah katana biasa.
Pangeran Fujihira mengerutkan dahi ketika melihat Argadana tampak menggenggam katana hanya dengan tangan kanannya saja.
Para pengawal pangeran juga terlihat tidak senang wajahnya melihat gaya berpedang lawan majikan mereka. Hal itu wajar saja karena tekhnik berpedang yang umum dipelajari orang - orang di negeri sakura pada zaman itu adalah tekhnik pedang dua tangan. Tentu saja mereka merasa tersinggung dengan gaya berpedang satu tangan Argadana yang kesannya seperti memandang remeh lawan.
Murid Sepasang Pendekar Naga yang menyadari kekeliruan mereka segera menjelaskan.
"Mohon maafkan, pangeran. Tiap - tiap Pendekar di berbagai belahan negeri memiliki tekhnik dan corak yang berbeda. Dalam hal ini saya menggunakan gaya pedang satu tangan karena tekhnik yang saya pelajari adalah tekhnik ini. Jadi tolong jangan disalah pahami"
__ADS_1
Akhirnya mengertilah pangeran dan para pengawalnya bahwa mereka telah salah paham pada Argadana.
"Ahh... Akulah yang seharusnya meminta maaf, saudara. Aku memiliki wawasan yang sempit tentang dunia luar. Kalau begitu mari kita lanjutkan lagi. Terimalah jurus pembukaku, saudara... Jurus pedang pelebur gunung...!!!"
Argadana cukup terkejut melihat gerakan Pangeran Fujihira yang cukup gesit karena bisa mengimbangi tebasan dengan gerak langkah kaki yang teratur.
"Wukkk...!!!" Kesiur angin tajam mengiringi katana yang diayunkan Pangeran Fujihira dengan gerakan tebasan lurus mendatar.
Argadana menarik kaki kirinya mundur sedikit dan tebasan Pangeran Fujihira gagal. Namun tampaknya Pangeran Fujihira tidak mau berhenti di situ saja.
Begitu Argadana menghindar ke belakang segera tubuh Pangeran Fujihira berputar ke kiri dan melancarkan sikutan ke arah perut.
Karena jaraknya terlalu dekat Argadana tidak sempat menghindar. Maka dipapaklah sikutan Pangeran Fujihira dengan menyatukan lutut kanan dan kedua siku di depan perut.
"Dess...!!!" Tenaga sikutan Pangeran Fujihira membalik mendorong tubuhnya hingga berputar ke arah berlawanan dari gerakannya semula.
Melihat serangan mengancam dada Argadana memutar katana menangkis serangan berbahaya itu dan...
"Trang...!!!"
Kedua katana beradu menimbulkan suara nyaring besi beradu dan tampak percikan api. Dalam adu tenaga barusan tangan Pangeran Fujihira tergetar hebat hingga katana nyaris terlepas dari genggamannya.
Menyadari serangannya gagal Pangeran Fujihira segera bersalto ke belakang untuk menjaga jarak kalau - kalau lawan melakukan serangan balik.
Kedua petarung tampak dalam keadaan waspada penuh dengan katana tersilang di depan dada.
"Kecepatan dan ketangkasannya menunjukkan bahwa dia memang memiliki potensi yang besar untuk menguasai ilmu bela diri" batin Argadana sembari menyiapkan jurus baru.
__ADS_1
"Kali ini giliran saya, Pangeran. Bersiaplah!!! Jurus pembelah matahari...!!!"
Argadana menggebrak ke depan sebat dengan menggunakan ilmu nafas siluman untuk bergerak cepat dan tahu - tahu telah berada di depan Pangeran Fujihira. Katana di tangan Argadana bergerak menusuk ke arah ulu hati.
Pangeran Fujihira tentu saja tidak mau tubuhnya terpanggang oleh katana di tangan lawan. Dia segera membuang tubuh ke samping lalu dari sana mengirimkan serangan balik berupa sapuan kaki.
Argadana yang sudah memperkirakan gerakan lawannya segera melentingkan tubuhnya ke atas setinggi lima batang tombak. Lalu dari atas tubuhnya menukik turun, katana di tangannya mencecar kepala Pangeran Fujihira yang terkejut setengah mati karena tidak menduga serangan dari atas itu sangat cepat.
Dalam pandangan Fujihira Fukiaezu katana di tangan Argadana tampak berubah jadi laksaan banyaknya. Menyadari serangan lawan tidak dapat dipatahkan dengan tangkisan cepat - cepat Pangeran Fujihira melompat ke samping hingga serangan Argadana hanya mengenai tanah kosong yang seketika membentuk kubangan cukup besar.
Mata para pengawal Pangeran Fujihira membelalak lebar menyaksikan kedahsyatan jurus - jurus yang dimainkan Argadana hingga tanpa terasa bulu tengkuk mereka meremang.
"Jika aku berada di posisi pangeran pertama saat itu aku tidak tahu entah berapa potongan jadinya tubuhku karena tercacah oleh serangan anak ini" kata salah satu pengawal bergumam. Pengawal yang lainpun berpikir demikian melihat serangan Argadana dapat membongkar tanah yang begitu padat hingga membentuk sebuah kubangan.
Argadana meluncur turun masih dengan posisi kepala berada di bawah. Pangeran Fujihira melakukan serangan balik dari samping kanan Argadana setelah mengelak dari cecaran Argadana.
"Wukk...!!!" Katana di tangan Pangeran Fujihira berkelebat cepat membabat pinggang Argadana tapi dalam posisi meluncur deras itu Argadana yang sudah dapat membaca gerakan lawan menggerakkan kaki kanan yang terayun ke arah kepala Pangeran Fujihira.
Tidak mau batok kepalanya rengkah pangeran pertama Kekaisaran Jepang itu terpaksa menarik pulang serangannya lalu menjatuhkan diri ke samping kiri dan dari sana mengirimkan lagi serangan balasan dengan telapak tangan kanan yang dialiri tenaga dalam tinggi.
Posisi tubuh yang masih belum memiliki pijakan membuat mustahil untuk Argadana menghindari serangan telapak tangan lawan. Maka ia menusukkan katana ke tanah sebagai pijakan dan tangan kiri menangkis telapak tangan Pangeran Fujihira.
"Plak...!!!"
Setelah tangan keduanya beradu Pangeran Fujihira terdorong ke belakang sekitar tujuh batang tombak sedang Argadana hanya terdorong lima langkah saja membuktikan bahwa tenaga dalam Argadana lebih tinggi darinya.
"Ternyata benar dia memiliki kepandaian tinggi. Seperti yang diharapkan dari seorang Acnologia" kata Pangeran Fujihira dalam hati sambil menyarungkan kembali katana di tangannya. Hal itu juga dilakukan Argadana.
__ADS_1