Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Ajian Seribu Naga


__ADS_3

Empat bulan sudah Argadana tinggal di dalam gua di Hutan Cendana mempelajari ilmu yang terdapat di dalam kitab seribu naga.


Ternyata kitab tersebut berisikan ilmu - ilmu tingkat tinggi yang digabungkan dengan ilmu sihir. Argadana yang memiliki kekuatan batin sangat besar memang cocok untuk mempelajari ilmu ciptaan Bondan Sejiwan tersebut.


Selama empat bulan ini Argadana telah menguasai hampir seluruh ilmu yang terdapat di dalam kitab seribu naga, juga telah memahami prinsip hukum waktu. Waktu yang sesungguhnya tidak dapat dihentikan dengan cara apapun, karena waktu merupakan milik sang pencipta alam semesta.


Mengendalikan waktu maksudnya adalah mengendalikan seluruh pergerakan yang masuk dalam jangkauan kekuatannya. Jadi ketika ilmu mengendalikan waktu digunakan, selama itu masih dalam jangkauan kekuatan penggunanya maka lawan mana pun akan terhenti pergerakannya. Sedangkan untuk rahasia awet muda dengan ilmu pengendali waktu itu juga tidak lepas dari cara yang sama yaitu mengendalikan wajah agar tidak terpengaruh oleh waktu dan menua.


Kali ini Argadana sedang mencoba menggunakan ilmu pamungkas seribu naga. Peluh keringat membanjiri tubuhnya yang tidak memakai baju mempertontonkan bentuk tubuh indah dengan otot - otot melingkar di lengannya. Kedua tangannya ditangkupkan di depan dada dengan konsentrasi penuh.


Ajian seribu naga


Tubuh Argadana tiba - tiba membelah diri menjadi dua. Lalu kedua tubuh Argadana membelah diri lagi. Begitulah seterusnya. Setelah mencapai jumlah tiga puluh Argadana, tubuh asli Argadana memberi perintah untuk menyerang sasaran masing - masing berupa kayu cendana.


Tiga puluh tubuh tiruan Argadana mengibaskan tangannya dengan tenaga dalam tinggi dan...


Duarrr ....


Terdengar ledakan keras menggelegar merusak hampir sepuluh bagian dari hutan itu karena kekuatan pukulan tubuh tiruan Argadana sama besarnya.


"Ternyata kekuatan bayangan naga sama dengan kekuatan penggunanya. Lalu bagaimana kalau aku kerahkan sampai seribu tiruan? Hiiiiihhh ... Aku tidak tahu akan jadi semengerikan apa nanti jadinya" gumam Argadana berbicara pada dirinya sendiri.


***

__ADS_1


Pertemuan dadakan yang dilakukan aliansi aliran hitam berakhir dengan keputusan yang diambil oleh Wira Atmaja yaitu menarik mundur bantuan kepada Kerajaan Sakra. Pendekar Lembah Mayat itu mengatakan bahwa kerugian yang akan mereka tanggung karena berhadapan langsung dengan Perguruan Siluman tidaklah sepadan dengan keuntungan yang didapat dari membantu Kerajaan Sakra.


Dampak dari hal itu merembet pada mundurnya pasukan Kerajaan Sakra daru rencana yang telah mereka susun matang yaitu menyerbu Kerajaan Datu Gumi setelah Panglima Besar yang ditakuti itu terbunuh oleh orang - orang aliran hitam.


"Jahan4am kau, Wira Atmaja" Raja Durja berteriak geram melampiaskan kemarahannya. Raja Kerajaan Sakra itu tidak bisa menahan kekesalan atas mundurnya pasukan aliansi aliran hitam yang sebelumnya telah menerima misi untuk membunuh panglima yang ditakutinya di Kerajaan Datu Gumi. Biaya yang dikeluarkannya tidaklah sedikit untuk menyewa tenaga mereka, dan kini setelah beberapa orang mereka terbunuh mereka mundur begitu saja. Bagaimana dia tidak geram?


"Ya...yaa.... Yang mulia, tenangkan diri yang mulia. Semuanya pasti ada jalan keluarnya" kata Patih Lawewan mencoba menghibur hati Raja Durja.


"Bagaimana aku bisa tenang, Patih? Biaya yang aku keluarkan untuk membayar mereka sangat besar dan mereka mundur begitu saja karena kematian beberapa orangnya" racau Raja Kerajaan Sakra itu.


"Dan lagi, jalan keluar mana yang kau maksud? Kita sudah puluhan tahun berusaha menyerang Datu Gumi. Tapi apa hasilnya?"


"Ampun, yang mulia. Hamba punya kenalan seorang dari tempat yang sangat jauh. Hamba melihat sendiri dia memiliki tingkat pusaka yang sangat ajaib. Tongkat itu bisa meledak - meledak, yang mulia. Dan batu - batu yang di bawa dari negerinya juga sama, bisa meledak dan membunuh lima orang pendekar sekaligus"


"Benarkah? Kalau begitu bukankah negeri itu adalah gudangnya senjata pusaka? Kenapa tidak sekalian saja kita utus orang untuk pergi ke negeri itu dan beli senjata pusaka sebanyak - banyaknya untuk mempersenjatai pasukan kita?"


Penjelasan sang Patih membuat Raja Kerajaan Sakra itu jadi lemah kembali setelah tadi sedikit ceria terlihat diwajahnya mendengar ceritanya.


"Tetapi dia bilang membawa banyak senjata pusaka seperti itu dari negerinya, yang mulia. Kita bisa membelinya, atau menawarkan dia posisi penting di istana untuk menariknya agar bekerjasama dengan kita"


Raut wajah Raja Durja kembali berubah cerah.


"Hahahaha . . . Kau benar - benar hebat, Patih. Kalau begitu lakukan sesuai keputusanmu" teriaknya bersemangat.

__ADS_1


***


Di kediaman Panglima Besar Askar Wirajaya


Seorang lelaki separuh baya sedang menikmati kopi untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya malam. Kedua mata lelaki itu ditutupi kain tebal berwarna hitam dan seluruh rambutnya telah memutih. Dia adalah Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya.


Sejak berpisah dari kekasih tercinta, Dyah Ayu Pitaloka Panglima Askar menjadi seorang pribadi yang penyendiri dan lebih banyak diam bila tidak ditanya. Menutup kedua mata dengan kain hitam itu adalah bentuk pelaksanaan sumpahnya dulu saat detik - detik terpisahnya dia dengan Dyah Ayu Pitaloka. Waktu itu dia bersumpah akan hidup dalam kegelapan hingga akhir usianya.


"Bagaimana hasil pengamatanmu, Rakai?" tanya Lalu Askar Wirajaya pada lelaki berkerudung hitam yang tengah duduk menghadapnya.


"Tuan, dari penyelidikan saya penyebab mundurnya Kerajaan Sakra adalah karena bantuan besar mereka dari aliran hitam telah ditarik mundur oleh ketua aliansi sesat itu, Pendekar Lembah Mayat. Hal itu terjadi karena aliansi mengalami kerugian besar pasca terbunuhnya dua puluh lima orang anggota mereka oleh Penyair Maut yang tiba - tiba saja berubah jadi sangat agresif melakukan pembunuhan selama tiga hari berturut"


"Hmm ... Baiklah, kau boleh pergi"


"Saya mohon pamit, tuan"


Setelah orang yang dipanggil Rakai itu pergi Panglima Askar menatap keluar jendela kamarnya. Kain berwarna hitam yang menutupi kedua matanya tampak basah, tentu saja oleh air mata.


"Anakku. Kau sekarang pasti sudah jadi anak dewasa. Kapan kau akan kemari menemui ayahmu yang sudah tua ini?" desah Lalu Askar Wirajaya sarat akan kesedihan.


***


Seorang pemuda tampan terlihat keluar dari hutan Cendana menunggangi seekor kuda jantan berwarna putih yang tampak sangat kuat. Lari kuda itu amat kencang membuat debu - debu yang dilaluinya beterbangan. Tetapi ada keanehan yang akan membuat orang - orang kagum bukan main jika melihatnya.

__ADS_1


Ya, kuda yang ditunggangi tidak memiliki pelana dan pemuda itu menunggangi kuda putih tersebut seperti orang duduk biasa tanpa takut akan terjatuh. Rambut pemuda itu juga cukup aneh, yaitu berwarna kuning keemasan.


Pemuda itu pastinya adalah Argadana, murid Sepasang Pendekar Naga. Setelah berhasil melatih ilmu di dalam kitab seribu naga dengan sempurna pendekar kita keluar dari Hutan Cendana menempuh rute terdekat menuju Kerajaan Sampang Daru. Semua binatang baik yang kecil maupun besar menunduk hormat ketika berpapasan dengannya sehingga kuda putih tunggangannya yang terlihat gagah itu semakin angkuh berlari di hadapan binatang buas sekalipun.


__ADS_2