Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Menemukan Harta Karun


__ADS_3

"Baiklah karena semuanya sudah terkumpul, kalian tentunya tahu mengapa kalian kukumpulkan di sini secara mendadak, bukan?"


Wira Atmaja atau Pendekar Lembah Mayat membuka pertemuan tanpa basa - basi lagi karena dalam aliran hitam memang tidak dikenal yang namanya pembukaan atau segala macam ***** bengeknya seperti kaum persilatan golongan putih.


"Apakah hal itu berkaitan dengan pembunuhan yang dilakukan Penyair Maut, ketua?"


Yang berbicara adalah seorang wanita muda nan cantik rupawan berkulit putih dengan tonjolan besar di bagian dadanya tampak sekal menantang. Bagi orang yang tidak mengetahuinya mungkin akan mengira bahwa wanita itu adalah gadis berumur tiga puluhan tahun.


Tetapi bagi yang sudah mengenal wanita ini mereka mungkin akan merasa jijik karena wanita ini telah berusia enam puluhan tahun. Tetapi ilmu kencana rupa membuat wajah dan penampilannya terlihat awet muda meski usia aslinya dua kali lipat lebih tua dari yang terlihat.


Wanita itu tidak lain adalah Nyai Gendis yang di dunia persilatan terkenal berjuluk Gadis Bala karena di setiap kemunculannya, dia selalu membawa kesialan untuk orang yang ditemuinya. Siapa pun yang bertemu dengannya akan dibunuhnya tanpa ragu demi kesempurnaan ilmu kencana rupa yang membutuhkan banyak darah manusia untuk mempertahankan kemudaan penampilannya.


"Hmm ... Apa di antara kalian ada yang mengetahui penyebabnya? Seingatku misi - misi kita selama ini tidak pernah menyerempet dirinya." tanya Pendekar Lembah Mayat lagi.


"Lapor, ketua. Saya telah menyelidiki kematian orang - orang korban Penyair Maut itu rata - rata adalah orang yang menerima misi untuk menghabisi Panglima Besar Kerajaan Datu Gumi. Dan selain surat berisi Syair Maut itu saya mendapatkan benda berbentuk medali emas ini"


Kini giliran Siluman Cakar Maut yang berbicara. Tokoh satu ini adalah salah satu yang terkuat dari aliansi aliran hitam. Dia berasal Gunung Sanna.


Lelaki separuh baya di sebelah Gadis Bala itu kemudian menunjukkan medali berwarna emas dengan gambar naga di bagian tengahnya. Medali tersebut dihiasi rumbai - rumbai benang merah pinggirannya.


Melihat medali emas itu seketika Wira Atmaja alisnya terjingkat.


"Medali ini... Apa mungkin Penyair Maut adalah salah satu anggota perguruan itu...?" kata Wira Atmaja seperti bergumam pada dirinya sendiri.


"Perguruan itu? Jangan - jangan maksud ketua perguruan yang misterius itu?"


Wakil ketua aliansi aliran hitam, Mandala bertanya. Pendekar aliran hitam berjuluk Golok Kabut Ilusi itu memang sejak dulu selalu penasaran tentang hal - hal yang berkaitan dengan Perguruan Anak Naga yang mereka kenal dengan nama Perguruan Siluman.


Dia banyak mendengar jumlah pendekar yang tumbang di tangan murid - murid mereka sangat banyak, tetapi belum pernah bertemu langsung dengan murid perguruan itu.


"Yaahh ... Dua puluh tahun lalu aku juga menemukan medali ini tergeletak di atas mayat kawan - kawan yang menjadi korban serangan mereka karena rencana kita untuk membuat kacau aliran putih ketahuan oleh mereka" papar Pendekar Lembah Mayat itu dengan wajah penuh dendam.


"Apakah mereka termasuk aliran putih, ketua? Atau jika kita melihat korban yang berjatuhan adalah yang menargetkan Panglima Askar, jangan - jangan mereka itu adalah perguruan bentukan khusus Kerajaan Datu Gumi?"


salah seorang dari bagian belakang menyahut. Orang itu bernama Sahman, julukannya dalam dunia persilatan adalah Pendekar Cakram Kembar.


"Hmm ... Tidak jelas mereka masuk aliran putih atau hitam, karena dulu pernah ada murid dari Perguruan Pedang Intan membuat masalah dengan perguruan misterius itu. Akibatnya dalam waktu semalam puluhan orang terbunuh termasuk penyebab masalahnya dan ratusan anggota mereka terluka parah"

__ADS_1


Pendekar Lembah Mayat menarik nafas dalam.


"Dan tentang dugaanmu yang mengatakan mereka adalah orang bentukan Datu Gumi itu lebih mustahil lagi, sebab jika memang benar perguruan aneh itu merupakan bentukan Datu Gumi, makaKerajaan Sakra sudah lama dihancurkan. Dengan kekuatan perguruan itu tidak mustahil untuk melakukannya. Jadi itu sangat tidak mungkin"


Pendekar Lembah Mayat memandangi semua anggotanya sambil mengelus - elus dagunya yang telah ditumbuhi janggut yang panjang berbuban.


"Menurut perkiraanku, hal itu lebih seperti sebuah bentuk peringatan" katanya kemudian.


"Penyair Maut itu sudah terkenal sejak lama. Dan perguruan itu selalu menutup diri. Jadi jika kali ini dia membunuh begitu banyak orang kuat kita dalam waktu tiga hari saja dan telah menunjukkan identitasnya sebagai anggota dari Perguruan Siluman, itu sudah merupakan peringatan yang cukup jelas agar kita menjauhi urusan dengan Panglima Besar itu. Ini seperti lebih menjelaskan bahwa Panglima Besar itu merupakan kerabat dekat mereka"


"Lalu bagaimana, ketua? Apa kita akan mendiamkan begitu saja kerugian kita ini?" Pendekar Suling Maut bertanya.


"Kita tentu tidak akan tinggal diam. Kita akan membalas Perguruan Siluman itu. Tapi tunggu sampai kekuatan kita cukup besar, kita akan menggulingkan mereka dari dunia persilatan" kata Wira Atmaja mengepalkan tangannya keras - keras.


"Jadi rencana kita ..."


***


Kita tinggalkan dulu para pendekar dari aliansi aliran hitam. Kembali pada pendekar kita, Argadana yang telah sampai di Hutan Cendana mengikuti petunjuk dari peta harta karun. Brajamusti awalnya menawarkan dirinya atau beberapa orang anggota lain untuk mengawal perjalanan ketua besar mereka itu, namun Argadana menolaknya dengan lembut dan lebih menganjurkan agar mereka segera melatih dan menguasai empat buah kitab yang dititipkan oleh mendiang ibunya untuk diberikan kepada mereka.


"Menurut peta ini, setelah mencapai titik ini aku harus berbelok ke arah kiri dan berjalan lima puluh tombak ke depan"


Pemuda itu lalu berbelok ke arah kiri sesuai petunjuk peta harta karun. Setelah mencapai kita - kira lima puluh tombak Argadana mencari tanda yang dimaksud di dalam peta berupa batu besar yang akan mengarahkannya pada tempat di mana harta itu disembunyikan.


Setelah memandang kesana kemari akhirnya terlihatlah olehnya sebuah batu yang cukup besar seukuran induk sapi. Pendekar kita berkeliling memeriksa batu tersebut.


"Apa aku salah mengartikan petunjuk peta ini?" Argadana pesimis setelah mencari di setiap sudut batu tersebut tidak juga ditemukannya petunjuk satu pun.


Cit.. cit...


Argadana menoleh ke arah suara tersebut dan menemukan seekor tikus sedang menjilat - jilat kakinya sebagai bentuk penghormatan mereka. Tanpa sadar mata Argadana melihat beberapa baris tulisan kecil di bagian bawah batu tersebut yang tertutupi semak belukar.


Setelah disibaknya semak belukar tersebut Argadana membaca tulisan yang terukir di batu itu.


"Mana yang kau pilih antara ilmu dan harta? Jika kau pilih harta, geserlah aku ke arah kiri dan jika kau memilih ilmu geser aku ke arah kanan.


Argadana mengerenyitkan dahinya mendapati pertanyaan seperti itu.

__ADS_1


Sebagian besar orang mungkin akan lebih memilih harta untuk mereka bersenang - senang ketimbang memilih ilmu yang tidak jelas. Tetapi Argadana adalah seorang raja, tentu tidak kekurangan uang. Akhirnya Argadana menggeser batu tersebut ke arah kanan memilih ilmu.


Setelah batu berpindah tempat, pohon besar di samping batu itu pun membuka dengan sendiri bagian bawahnya membentuk pintu masuk. Argadana tanpa ragu langsung memasuki pintu pohon tersebut menuruni anak tangga.


Sesampainya di bawah sana Argadana tidak menemukan apa pun selain tengkorak yang telah terlihat sangat lapuk saking tuanya. Lalu didekatinya lah tengkorak itu. Argadana membaca tulisan di depan tengkorak itu.


"Siapapun yang memasuki daerah ini aku minta tolong untuk menguburkan jasadku tepat di bawah tubuhku. Aku kedinginan setiap malam karena seluruh pakaian yang melekat di tubuh tengkorakku telah rusak termakan usia"


"Haiisss ... Rupanya harta karun yang disebut di peta itu tidak benar - benar ada. Ini hanya tempat pertapaan seorang pendekar di zaman yang entah kapan. Bahkan tubuhnya telah berubah menjadi tengkorak lapuk" gumam Argadana.


"Lebih baik aku kuburkan saja dulu. Tidak baik mengabaikan wasiat orang yang sudah mati"


Argadana lalu mulai menggali lubang tepat di bawah tubuh tengkorak tersebut. Karena dia menggunakan tenaga dalam, galiannya dalam waktu singkat saja telah sampai setengah batan tombak. Di situ kembali dia menemukan selembar papan berisi bertuliskan pesan


"Karena kau telah mau merepotkan diri menggali liang lahat untuk persemayaman tubuhku, maka itu artinya kau adalah orang yang baik dan suka menolong. Kalau begitu aku meminta tolong sekali lagi, gali lebih dalam lubang untuk kuburku. Aku khawatir jika terlalu dangkal semut dan rayap akan menggerogoti tulang rapuhku"


Argadana tanpa basa - basi langsung saja melanjutkan menggali hingga dia menemukan lagi sebuah peti yang cukup besar. Argadana lalu berhenti menggali dan membuka peti itu. Di dalamnya terdapat sebuah kitab tebal yang di sampingnya terdapat tulisan lagi.


"Kau benar - benar orang yang baik. Sebagai ucapan terimakasihku, aku akan membayarmu dengan kitab yang merangkum semua ilmu - ilmu yang telah kupelajari dulu saat aku masih muda sampai aku menguasai dunia persilatan selama lima puluh tahun sebelum aku mengundurkan diri dari dunia yang keras itu. Kitab itu kuberi nama Kitab Seribu Naga. Tetapi untuk yang terakhir kalinya, agar tidurku nyaman tolong galikan tanah lebih dalam lagi agar aku tidak mendengar suara - suara bising kicauan burung tiap pagi"


Lagi - lagi Argadana hanya menuruti saja pesan tersebut. Dia kemudian menggali lagi lebih dalam setelah meletakkan kotak peti tadi di tepi lubang yang telah digalinya. Cukup lama juga Argadana menggali sampai akhirnya mencapai kedalaman dua batang tombak, Argadana menemukan lagi sebuah peti dengan ukuran yang lebih besar. Argadana lalu membukanya.


Di dalam peti itu terdapat lagi sebuah kitab yang bentuk dan warnanya sama persis seperti Kitab Seribu Naga. Di samping kitab itu terdapat satu buah berbentuk bulat berwarna ungu dan ada sebuah pesan tertulis


"Selamat, anak muda. Kau telah berhasil melewati cobaan pewaris jurus seribu nagaku"


Argadana melanjutkan membacanya.


Allah pernah bertanya kepada Nabi Sulaiman dulu. Apakah dia memilih harta atau ilmu dana dia memilih ilmu. Maka Allah memberinya ilmu dan harta.


Sebenarnya sejak kau mencapai batu penyegel, itu merupakan ujian pertamamu. Dan kau ternyata melewatinya dengan cepat dan dengan pilihan yang tepat. Jika kau memilih harta dan mengambil kitab seribu naga di galianmu yang ke dua, maka kau akan binasa karena kitab tersebut hanyalah sebuah kitab palsu yang telah kububuhi Racun Warangka Nyawa.


Itu adalah ujianmu yang terakhir dan berhasil kau lewati. Aku ucapkan selamat, kau telah mendapatkan kitab seribu naga yang asli setelah galian ke tiga. Buah di samping kitab itu disebut Buah Waktu, dengan menelannya kau akan mendapatkan kemampuan untuk mengendalikan waktu.


Argadana terkejut mengetahui kalau buah tersebut ternyata adalah buah waktu yang sangat didambakan oleh banyak pendekar kuat di dunia persilatan. Karena dengan memakan buah tersebut orang akan mendapatkan kemampuan untuk mengendalikan waktu, hal itu termasuk cara membuat diri awet muda.


Argadana segera menyimpan buah dan kitab yang asli ke dalam ruang dimensi pedang siluman darahnya kemudian melanjutkan memakamkan jasad tengkorak tersebut yang telah diketahui namanya adalah Bondan Sejiwan dari tulisan terakhir yang dibacanya.

__ADS_1


__ADS_2