Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Macao


__ADS_3

Kedai makan di pinggiran Desa Sandat itu dipenuhi ramai para pengunjung setianya. Berbagai menu hidangan yang disediakan di kedai makan itu memang tergolong cukup murah dan rasanya lezat. Di samping itu pelayanannya juga sangat baik dan memuaskan sehingga tidak heran jika kedai itu dipenuhi banyak pengunjung tiap harinya.


Pada hari itu seperti biasa kedai tersebut sudah dipenuhi pengunjung. Beberapa di antaranya adalah seorang pemuda yang tampaknya bukan penduduk asli pribumi. Ya, wajahnya lonjong dengan hidung mancung dan berkulit putih. Yang paling membuat perbedaan adalah warna rambutnya yang kuning keputih - putihan. Semua orang yang melihatnya pun hanya menggeleng kepala pelan.


"Heran... Wajahnya kelihatan seperti anak muda umur dua puluhan, tapi rambutnya sudah seperti kakek - kakek. Ada ubannya. Hihihi... " terdengar obrolan kecil salah seorang pengunjung yang keheranan melihat penampilan pemuda itu yang terlihat sangat berbeda.


Pemuda berambut aneh itu tidak mempedulikan tatapan heran orang - orang di sekitarnya, dia terus saja menyantap makanannya. Dia tidak menyadari bahwa dari sudut ruangan paling ujung di sebelah kiri sepuluh orang dengan penampilan sangar yang wajah mereka dipenuhi berewok tebal mengamati dirinya dengan tatapan mencurigakan.


Sepuluh orang itu saling berpandangan dan mengangguk setelah melihat pemuda tadi tampak keluar dari ruangan kedai dengan membawa buntalan kain besar untuk bekal perjalanannya. Mereka bergegas menguntit pemuda itu secara hati - hati takut ketahuan.


Sepuluh orang berpenampilan sangar itu terus mengikuti sang pemuda hingga ke tempat yang sedikit sepi. Langkah pemuda itu terhenti melihat sepuluh orang berwajah sangar tiba - tiba keluar dari tempat sepi dan mengepungnya.


"Maaf, siapa tuan - tuan sebenarnya. Dan ada tujuan apa menghadang perjalanan saya?" tanya pemuda aneh itu dengan suara yang terdengar kaku karena tidak terbiasa menggunakan bahasa pribumi.


Orang bertubuh paling besar di antara sepuluh berewok itu maju dan mengacungkan goloknya pada pemuda tersebut.


"Tidak usah bertele - tele, orang asing. Serahkan semua barang bawaanmu atau mati" katanya dengan nada mengancam.


"Saya tidak punya harta benda berharga, kisanak. Sedangkan buntalan yang saya bawa ini isinya hanyalah pakaian biasa saja. Apa untungnya bagi kalian semua?" kilah pemuda itu.


"Banyak bicara, kalau begitu m4mpus saja"


Sepuluh orang tersebut langsung saja merangsek pemuda aneh itu dengan serangan - serangan mematikan.


Pemuda yang dikeroyok itu seketika saja bergerak cepat menghindari serangan - serangan gencar lawannya sembari membaca pola pergerakan barisan keroyokan sepuluh orang tersebut. Gerakan - gerakannya ringan dan tangkas.


Des...


Dada salah seorang pengeroyok tertendang hingga terlempar sejauh lima langkah dalam keadaan tak sadarkan diri. Sembilan orang sisanya tidak juga jera, justru menambah tempo kecepatan serangan mereka.


Pemuda aneh itu yang tidak berniat jahat sama sekali terhadap orang - orang yang menyerangnya tidak menurunkan tangan jahat, melainkan hanya melumpuhkan perlawanan mereka saja hingga dalam waktu sepenanakan nasi pertarungan telah berakhir dengan sepuluh orang pengeroyok yang tumbang tanpa mampu bangun lagi karena menahan rasa mulas di bagian perut yang terkena tendangan maupun tinjuan sang pemuda.


"Kalian benar - benar gentong nasi tidak berguna. Hanya menghadapi seorang asing saja tidak becus... "


Ketika pemuda aneh itu hendak melangkah kan kakinya untuk beranjak dari tempat itu, dia terhenti oleh sebuah suara. Ketika pemuda itu menoleh ke arah asal suara tadi, terlihatlah dua orang yang berada di atas pohon. Potongan rambut keduanya memiliki keunikan tersendiri, yaitu model rambut panjang sebelah.


Pemuda tak dikenal itu melihat mereka sedang ongkang - ongkang kaki pada sebatang ranting kecil yang kering. Anehnya ranting itu jangankan patah, bergoyang pun tidak.


Hal itu merupakan pertanda bahwa dua orang tersebut menguasai ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam tingkat tinggi sehingga pemuda tadi segera memasang wajah waspada.


##


Siapakah sebenarnya dua orang yang baru saja terlihat itu?


Pemuda aneh bertanya - tanya dalam hatinya.

__ADS_1


Dua orang tersebut adalah pendekar kosen dari aliran hitam. Karena kekejamannya, mereka dijuluki Momok Berhati Iblis. Yang potongan rambutnya pendek sebelah kiri bernama Sukari, sedangkan yang rambutnya pendek sebelah kanan adalah adiknya yang bernama Sukara.


Keduanya adalah kakak beradik dari Bukit Halilintar. Bukit tersebut ditinggali oleh seorang pertapa aliran hitam yang merupakan musuh bebuyutan Pendekar Cambuk Naga pada masa mudanya bernama Bayu Gatra. Permusuhan keduanya tidak pernah bisa didamaikan. Pemicunya adalah tidak lain karena memperebutkan gadis bermama Kasih Pertiwi atau Dewi Obat.


Kebenciannya kian hari semakin bertambah pada Anung Pramana. Terlebih lagi setelah Kasih Pertiwi ternyata lebih memilih untuk menjatuhkan hatinya pada Anung Pramana.


Bayu Gatra baru menyerah dari usahanya mengejar Kasih Pertiwi setelah gadis pujaannya itu menikah dengan Pendekar Cambuk Naga. Dia memutuskan untuk bertapa di tempat kelahirannya di Bukit Halilintar.


Selang beberapa tahun setelah Bayu Gatra memutuskan untuk menghabiskan masa hidupnya dalam pertapaan, dia mendengar kabar bahwa Anung Pramana dan Kasih Pertiwi diberi gelar Sepasang Pendekar Naga setelah berguru pada sepasang tokoh tua tak dikenal dari Lembah Neraka.


Kabar itu didengarnya bersamaan dengan waktu ketika dia turun ke pedesaan dan menculik dua bocah kakak beradik untuk dibawanya bersamanya ke Bukit Halilintar. Kedua bocah itu adalah yang di masa depan mendapat gelar Momok Berhati Iblis. Bayu Gatra membesarkan dan mendidik kedua muridnya dengan semua ilmu kanuragan yang dikuasainya untuk kelak menuntut balas dendam kepada Anung Pramana dan Kasih Pertiwi.


###


Momok Berhati Iblis melayang turun bagai terbang dari ranting kecil tempat mereka hinggap sebelumnya.


Kali ini keduanya menatap tajam pemuda di hadapan mereka.


"Kakang, biar kucoba dulu kemampuan anak ini"


Sukara berkata dengan membusungkan dadanya


"Ayo, anak muda. Katakan, kematian seperti apa yang kamu inginkan?" kata Sukara setengah membentak.


Pemuda yang dibentak hanya tersenyum ringan.


Wajah Sukara mengelam demi mendengar ucapan pemuda aneh di hadapannya.


"Anak muda kurangajar. Bersiaplah untuk m4mpus. Lihat serangan...!!!" teriak Sukara lalu berkelebat menyerang bagian - bagian vital di tubuh lawannya.


Pemuda itu terkejut setengah mati mendapati serangan Sukara ternyata sangat gesit dan cepat sehingga terlambat menghindar ketika cakaran Sukara menggores dadanya.


Crass....


Darah merembes keluar dari luka bekas cakaran Sukara. Rasa gatal dan perih mulai terasa oleh pemuda itu dari luka di dadanya, namun karena lawan tidak hendak berhenti mau tidak mau pemuda itu pun meladeni serangan ganas Sukara.


Jurus raja kobra


Sepasang tangan Sukara yang telah menghitam dan mengepulkan asap berbau amis membuat pemuda itu sedikit gentar. Dia tahu bahwa lawan akan menggunakan ilmu yang mengandung racun ganas segera saja melapisi seluruh tubuhnya dengan tenaga dalam dan menutup jalan pernapasannya agar uap beracun tersebut tidak terhirup.


Tetapi sampai kapan pemuda itu dapat bertahan? Bertarung dengan lawan yang tidak sepadan dalam keadaan menahan napas bukanlah suatu perkara mudah.


Terbukti dalam beberapa jurus saja pemuda itu sudah kewalahan menahan serangan demi serangan yang dilancarkan Sukara. Pemuda itu melihat Sukara membuat sedikit celah segera memasukkan serangan tapaknya dengan pengerahan tenaga dalam penuh menyasar dada. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.


Celah tersebut ternyata merupakan jebakan yang sengaja diperlihatkan oleh Sukara yang memiliki pengalaman bertarung lebih banyak dari lawannya. Ketika pemuda itu melesatkan serangan tapaknya mengincar dada, justru Sukara telah menunggu serangan itu datang. Tepat sejengkal sebelum serangan itu mengenai sasarannya, Sukara tiba - tiba saja merubah gerakannya dengan menggerakkan kaki secepat kilat mengenai ulu hati.

__ADS_1


"Ughhh... "


Pemuda tersebut melenguh. Tubuhnya terlempar sejauh sepuluh batang tombak dan muntah darah.


"Hehehe. . . Salahkan dirimu sendiri yang terlalu lemah, anak muda" Sukara terkekeh - kekeh menunjukkan seringai kejamnya.


"Ini pelajaran untukmu. Agar kau tahu bahwa Tuan Alfonso bukanlah orang yang bisa kau singgung. Sekarang kau matilah dengan tenang"


Sukara menyilangkan tangannya di depan perut lalu mengangkat kepalan tinggi sejajar dada. Perlahan - lahan seluruh tangannya dari siku sampai pergelangan berubah warna menjadi hijau.


"Ini adalah pukulan kelabang hijau kebanggaan kami, anak muda. Jadi kau seharusnya merasa terhormat bisa matikan di tangan Momok Berhati Iblis" kata Sukara menyeringai.


"Jika karena perjuangan ini aku harus mati, maka biarlah aku mati dalam tugasku. Setidaknya Tuhan masih mencatatku sebagai seorang pejuang negeri. Tetapi ingatkan pada si tua Alfonso itu, katakan padanya bahwa meskipun aku mati hari ini, masih banyak Macao - Macao yang lain yang kelak akan memburunya" kata Pemuda aneh tersebut yang ternyata namanya adalah Macao.


"Baiklah, kuanggap itu sebagai pesan terakhirmu. Sekarang sudah saatnya kau mati" tutup Sukara lalu melepaskan Pukulan Kelabang Hijau nya.


Wuss.....


Seberkas cahaya berwarna hijau meluncur deras ke arah Macao yang tidak lagi bisa menghindar karena telah kehabisan tenaga bahkan untuk bergerak sedikitpun sudah sulit. Pemuda itu akhirnya hanya bisa pasrah dan menutup matanya menunggu ajal datang menjemput.


Duarrr. . .


"Uarghh. . . "


Terdengar suara keluhan menyusul terpentalnya rubuh seseorang. Anehnya yang terpental bukanlah Macao, melainkan justru Sukara sendiri yang pukulannya berbalik menyerang dirinya, senjata makan tuan.


"Sukara. . .!!!" teriak Sukari sambil melompat menangkap tubuh adiknya yang telah megap - megap nafasnya.


"Siapa yang berani mati mencampuri urusan Momok Berhati Iblis? Cepat keluar tunjukkan diri" teriaknya beringas.


"Sesama kaum Pendekar, kenapa menyerang orang yang sudah tidak sanggup melawan?"


Terdengar suara teguran bergema di segala penjuru seolah - olah yang mengucapkan adalah orang banyak.


"Tidak usah banyak bacot, b4ngsat. Kalau berani keluarlah, jangan hanya bisa main bokong" kata Sukari tidak sabaran. Dia lalu bangun setelah memberi obat penawar racun kelabang hijau pada Sukara.


"Kalau aku berniat membokong, apa kau pikir kau masih bisa hidup sampai sekarang?"


Wajah Sukari yang berubah mendengar suara teguran di belakangnya segera membalikkan badan dan menemukan seorang pemuda berambut emas sedang tersenyum kepadanya. Di dahi pemuda itu terlihat sebuah rajah bergambar pedang berwarna merahmerah bagai hiasan menambah kesan berwibawanya. Di samping pemuda itu berdiri juga dengan gagah seorang gadis yang sangat cantik bak bidadari. Wajahnya bulat telur, berhidung bangir. Rambutnya yang hitam legam lurus panjang menjuntai sampai punggung dikuncir rapi. Pedang berwarna putih kebiruan tersampir di punggungnya memberikan kesan angker tersendiri menurut pandangan Sukari.


Pemuda itu adalah Argadana, Pendekar kita yang berjuluk Ksatria Lembah Neraka. Sedangkan gadis di sampingnya itu sudah pasti adalah Ningrum, tunangannya. Ningrum pergi meninggalkan istana Kerajaan Sampang Daru bersama Argadana usai perayaan hari ulang tahunnya setelah mendapat izin dari Raja Kurawa, menyertai Argadana dalam perjalanannya memburu La Huda juga untuk menemui ayah kandung sangat kekasih.


Dalam hal itu yang paling senang adalah Argadana karena dalam perjalanannya kali ini dia ditemani oleh kekasihnya.


"Siapa kau, berani - beraninya mencampuri urusan Momok Berhati Iblis?"

__ADS_1


Sukari menggertak dengan menyebutkan nama gelarannya dengan tujuan agar kedua anak muda di depannya gentar dan memilih menghindari urusan dengannya. Tetapi yang sama sekali tidak diduganya, justru hal yang terjadi adalah kebalikannya.


"Hmphh... Kalian pikir hanya karena kalian mempunyai kekuatan, kalian bisa seenaknya menindas orang yang lebih lemah? Kalau begitu aku pun bisa melakukannya padamu"


__ADS_2